Amanda dan Nina memindahkan beberapa barang ke dalam sebuah ruangan yang dijadikan sebagai gudang.
"Gelap kak," ucap Nina.
Amanda mencoba mencari saklar lampu, dan menemukan di belakang lemari yang berada di dekat pintu masuk.
Ternyata ruangan itu cukup rapi, meskipun di dalamnya terdapat barang yang tidak terpakai. Nina masuk dan langsung menuju pojok ruangan untuk menaruh kotak yang berisi beberapa barang yang telah rusak.
Amanda membuka lemari untuk mencari tempat menyimpan lukisan yang telah robek karena amukan Fatur.
Ada baju-baju yang tersusun rapi di sana, dan tersusun dalam dua tumpukan. Tidak terlalu banyak, dan jika baju-baju itu ditumpuk menjadi satu tumpukan saja, maka akan ada ruangan yang tersisa dan bisa dijadikan untuk menaruh lukisan yang sudah dilipat oleh Amanda.
Amanda mengamati sejenak pakaian yang tersusun itu. Ada perasaan aneh di benak Amanda, karena pakaian itu tidak seperti pakaian milik Miranti atau pun mamanya. Pakaian itu lebih layak jika dipakai oleh seorang pembantu.
"Ngapain kak?" tanya Nina mengagetkan Amanda.
"Ih kamu, ngagetin aja," gerutu Amanda.
" Lukisannya mau disimpan di situ?" tanya Nina sembari ikut memperhatikan isi lemari.
"Iya," jawab Amanda singkat.
Tanpa diminta, Nina langsung menyusun ulang baju-baju tersebut, agar Amanda bisa menyimpan lukisannya di situ.
Tanpa diberi instruksi, ternyata Nina satu pemikiran dengan Amanda. Baju-baju itu ditumpuk dalam sisi saja, sehingga sisi sebelahnya kosong dan bisa digunakan untuk menaruh beberapa lukisan yang sudah terlipat dengan rapi.
"Ini baju siapa, kak?" tanya Nina.
"Ngga tau," jawab Amanda.
"Masa ini baju bekas Bu Miranti sih, kak?" Nina terus bertanya.
"Ngga tau juga, iya kali," jawab Amanda asal.
"Tapi masa Bu Miranti pakai baju kayak ini, kak. Bahan jelek gini, kayak baju murah gitu," celetuk Nina.
"Hus, kamu!" Amanda menyenggol lengan Nina.
Mereka menutup lemari setelah selesai menyimpan lukisannya. Tapi, Nina yang masih penasaran membuka pintu lemari berikutnya.
Tampak baju-baju yang tergantung dengan hanger. Nina semakin heran melihat pemandangan di depannya.
"Kak, kok ini ada seragam restoran?" tanyanya.
Perasaan Amanda mulai tidak karuan mendengar pertanyaan Nina. Amanda mencoba melihat isi lemari itu, dan jantungnya berdegup kencang ketika melihat pakaian yang tergantung di situ.
Jelas itu adalah pakaian seorang gadis muda, jika dilihat dari model dan ukurannya. Ada dua buah tas selempang yang biasa dipakai oleh gadis-gadis remaja untuk melengkapi gayanya. Dan itu bukanlah tas yang berharga mahal.
Di bagian bawah lemari, terdapat 3 tiga pasang sendal yang cocok untuk gaya anak remaja, dengan merek yang tidak terkenal.
Sekelebat bayangan Mayang hadir di kepala Amanda. "Apakah ini milik Mayang?" tanyanya dalam hati.
"Ngapain sih?" tiba-tiba Rangga mengejutkan mereka berdua. Bahkan Amanda hampir menjerit.
"Iiih, Rangga! Ngagetin aja sih!" Nina memukul bahu Rangga untuk melepaskan kekesalannya.
Rangga tertawa. "Habis lama banget, dari tadi gak keluar-keluar, kirain pada hilang," seloroh Rangga.
"Isssh." Nina mencubit Rangga dengan perasaan jengkel.
"Kak Manda, ngopi dulu. Itu Dimas dan Meta bawain kopi." Rangga mengalihkan fokus Nina dan Amanda.
Rangga membantu Amanda untuk menutup lemari. Namun, matanya terpaku pada pakaian yang bergelantungan di situ. Sesaat tubuh Rangga membeku, lalu menelan ludah.
Kemudian Rangga membuka lemari di sebelahnya, dan mengamati pakaian yang tersusun rapi di situ. Tanpa sadar, tangannya menyentuh dan mengelus helai demi helainya, dengan tatapan yang tak lepas dari baju-baju itu.
"Kenapa?" tanya Amanda yang memperhatikan gelagat Rangga.
Lagi-lagi Rangga menelan ludah tanpa menjawab tanya Amanda.
Amanda menyadari perubahan raut muka Rangga, tetapi berusaha untuk tidak bertanya, karena waktunya tidak tepat.
☕☕☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Dewi Andarini
Jangan2... itu baju pacar nya Rangga
2025-01-29
0
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
oke mulai banyak petunjuk
2024-02-25
0
Anonymous
mayang dan ibunya apakah dijadikan tumbal?
2023-10-21
1