Mereka berempat beristirahat sejenak sambil menikmati kopi hitam yang baru saja dibawakan oleh Dimas dan Meta.
Mereka mengobrol santai dalam melepas kepenatan. Sesekali Amanda masih memperhatikan wajah Rangga. Ternyata Rangga sudah terlihat biasa saja.
"Eh, Pak Arif ikut dengan Bu Miranti?" tanya Nina tiba-tiba.
"Engga, dia ada di kamar," jawab Rangga.
"Emang ga makan siang?" lanjut Nina.
"Biasanya kalau ibu pergi, sudah disiapkan di kamarnya," terang Rangga.
Sepertinya Rangga sangat tahu tentang situasi di keluarga Miranti. Memang Amanda melihat kedekatan antara Miranti dan Rangga. Miranti memberikan kepercayaan lebih pada Rangga dibandingkan karyawan yang lain.
Setelah selesai beristirahat mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Berharap, pekerjaan itu selesai sebelum Miranti tiba.
Akhirnya, ruangan itu rapi kembali berkat kerja keras dari mereka berempat. Meski tubuh sudah bermandikan peluh, mereka senang karena tugas telah selesai.
"Aku ke toilet dulu, ya. Mau cuci muka," pamit Amanda.
Dia segera bergegas menuju toilet setelah meminta petunjuk arah pada teman-temannya.
Ketika melewati sebuah ruangan, Amanda berhenti, di depan sebuah pintu yang tidak tertutup rapat. Bukan pintu itu yang menarik perhatian Amanda, tetapi aroma yang tidak sengaja tertangkap oleh hidungnya ketika berada tepat di depan pintu itu.
Amanda penasaran dan mencoba mencari sumber aroma wangi itu, hatinya yakin bahwa aroma itu berasal dari ruangan yang berada di balik pintu.
Amanda mencoba mengintip ke dalam melewati celah pintu yang terbuka, seperti sebuah kamar bayi. Tanpa terasa, tangannya mendorong pintu hingga terbuka lebar. Aroma wangi langsung menyeruak dan menusuk hidungnya.
Amanda semakin penasaran dan masuk ke dalam. Matanya langsung tertuju pada sebuah tempat tidur bayi. Di sampingnya terdapat sebuah meja yang berisikan beberapa barang di atasnya. Seperti beberapa batang dupa yang dibakar, beberapa buah boneka yang disusun rapi, baju bayi perempuan lengkap dengan sepatu dan aksesoris yang disimpan dalam kotak kaca transparan.
Di meja itu juga ada sebuah mangkuk yang terbuat dari bahan keramik. Amanda meneliti isinya yang terdiri dari batu-batu kecil, sebuah bungkusan kecil kain berwarna putih, seperti kain kafan. Dan bungkusan itu ditusuk dengan beberapa jarum.
Lalu ada juga sebuah wadah yang sangat kecil, dan juga berbahan keramik, yang berisikan tanah, dan di atas tanah itu juga ditancapkan beberapa buah jarum.
Terdapat juga sebuah bejana dari kuningan yang berisi air, lengkap dengan bunga-bunga dan irisan buah jeruk.
Sedangkan di dinding tepat di atas meja itu, tergantung foto seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Di pojok bawah foto tertulis nama "PUTRI" dan diikuti oleh tulisan yang tidak dipahami oleh Amanda.
Lalu pandangan Amanda beralih ke dalam box bayi. Ada sebuah peti kecil yang terbuat dari kayu berwarna hitam. Entah apa isinya?
Ada keinginan untuk membukanya, tapi Amanda mengurungkan niat karena tiba-tiba Nina memanggil.
Amanda buru-buru keluar dan menutup pintu.
"Lho kak, ga jadi ke toilet?" tanya Nina yang melihat Amanda masih berantakan seperti tadi.
"Ntar aja di bawah." Amanda bergegas pergi dari tempat itu dengan sekian banyak pertanyaan di benaknya.
☕☕☕
Di halaman belakang masih ada beberapa orang penyidik dari kepolisian tengah melakukan tugasnya. Rangga berbincang dengan salah satu dari penyidik tersebut. Menanyakan perkembangan kasus kematian Sonia.
"Kalau menurut ahli forensik, tidak ada tanda-tanda penganiayaan," jelas penyidik yang bernama Gilang.
"Seingat saya, waktu itu dia duduk sendirian di situ, Pak." Rangga menunjuk tempat yang diduduki oleh Sonia di hari nahas itu.
Gilang menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Rangga.
"Kalau misal ada seseorang yang mendatanginya, lalu ada pertengkaran pasti saya melihat, soalnya waktu itu saya sedang santai karena tamu sudah sepi, dan saya duduk di situ." Rangga beralih menunjukkan tempat dia duduk.
Gilang pun mengalihkan perhatiannya sesuai arahan telunjuk Rangga.
"Berarti, kamu bisa melihat dengan jelas, jika seandainya hari itu ada seseorang yang tiba-tiba datang untuk mencelakai Sonia?" tanya Gilang.
"Iya, Pak," jawab Rangga yakin.
"Tapi, kenapa waktu dia terjatuh ke dalam air, kamu tidak melihatnya?" tanya Gilang kembali.
"Saya hanya melihat ketika Sonia berjalan menuju jembatan. Setelah itu saya masuk ke dalam karena mendapat WA dari Bilal, salah seorang karyawan. Dia meminta saya untuk membantunya." Rangga mencoba mengingat kembali semua aktivitasnya di hari itu.
Perbincangan antara Rangga dan Gilang cukup lama dan hangat, karena Gilang juga sangat ramah dan bersahabat.
Sebelum perbincangan mereka berakhir, tidak lupa Rangga meminta nomor teleponnya.
"Buat jaga-jaga Pak, barangkali nanti saya butuh," celetuk Rangga dan disambut tawa renyah oleh Gilang.
"Tidak usah panggil bapak, panggil abang saja. Saya masih muda kok," balas Gilang.
☕☕☕
Menjelang sore, Miranti telah kembali. Dia membawa serta Pak Cik bersamanya.
Miranti dan Pak Cik ikut bergabung di halaman belakang sambil mengamati petugas kepolisian yang masih bekerja.Tidak lupa Miranti berterima kasih pada Amanda dan yang lainnya karena sudah membantu merapikan kembali rumahnya.
Ketika itu, Amanda sempat merasa risih karena Pak Cik memberikan tatapan yang aneh padanya. Amanda sudah berusaha tersenyum, tapi Pak Cik tidak membalas. Tanpa diduga, Rangga menyaksikan hal tersebut. Ada rasa geram di hatinya melihat sikap tidak sopan dari laki-laki yang notabenenya adalah paman dari Miranti.
Setelah Pak Cik pergi, Rangga berpura-pura mengajak Amanda untuk melanjutkan tugasnya menyelesaikan pencatatan aset. Maksudnya agar bisa mengajak Amanda pergi dari hadapan Miranti.
"Kamu mau bantu aku?" tanya Amanda senang.
"Iya, kan tadi kakak sudah bantu aku juga, jadi sekarang gantian aku yang bantu kakak," ujar Rangga tersenyum.
"Hmmmm, jadi kalau tadi aku ga bantu, kamu ga bakal bantu juga?" Amanda mencibir.
"Dia emang gitu kak. Hitungan." Nina ikut menimpali dengan bahasa yang ketus.
Rangga menoleh pada Nina, lalu mengedipkan mata untuk menggoda gadis yang selalu menampilkan kejudesan tersebut.
"Iih, amit-amit!" balas Nina buru-buru. Wajah jengkelnya tidak bisa disembunyikan.
"Hati-hatiiii, ntar berjodoh lho," seloroh Amanda sambil tertawa.
"Ayoook ah, jangan buang-buang waktu!" Rangga menarik tangan Amanda, dan berlalu dari tempat itu tanpa mempedulikan Nina yang masih ingin cuap-cuap.
Mereka meninggalkan halaman belakang, setelah berpamitan pada Miranti, lalu mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
"Kakak tadi merasa ga diliatin sama Pak Cik?" tanya Rangga langsung pada pokok utama.
"Owh, nama bapak tadi Pak Cik?" Amanda malah balik bertanya dengan nada jengkel.
"Aku ga tau namanya siapa. Tapi Bu Miranti dan semua orang memanggilnya Pak Cik." Rasa geram kembali hadir di hati Rangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Syahrudin Denilo
lanjutkan Thor seru
2024-01-25
1
Anonymous
next
2023-10-21
1