"Lalu apa yang harus kita lakukan Pak Cik?" tanya Mirna berusaha setenang mungkin, meskipun sebenarnya tidak.
"Kita harus menumbalkan Amanda," ucap Pak Cik lugas.
Miranti dan Mirna terkejut mendengarnya, mereka sama-sama melotot pada Pak Cik. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Cik.
"Pak Cik... jangan main-main deh." Miranti bertambah kesal pada Pak Cik.
"Lho kok main-main? Ini serius!" tampik Pak Cik tegas.
"Membunuh Amanda, sama saja cari masalah baru! Keluarga Amanda itu bukan orang sembarangan, dia punya keluarga besar yang kaya dan berpendidikan! Keluarganya pasti tidak akan tinggal diam ketika mengetahui Amanda mati dibunuh. Bahkan Pak Cik juga bilang, kan, kalau Amanda mewarisi ilmu dari buyutnya!" Miranti marah dan gusar pada Pak Cik.
"Kita tidak akan membunuhnya, kita hanya butuh energi yang dia miliki itu, setelah itu dia akan mati perlahan, jadi keluarganya tidak akan curiga pada kita" terang Pak Cik menggebu-gebu.
Marah Miranti sedikit redam mendengar penjelasan Pak Cik, meski masih ada rasa jengkel karena harus melibatkan Amanda. "Bagaimana caranya?" desaknya.
"Ritualnya dengan persetubuhan, sama seperti yang kamu lakukan dulu," jawab Pak Cik membuat Miranti terpana.
"A-apa?" Miranti tercekat. Dia teringat kembali pada perbuatan menjijikkan yang dulu terpaksa dilakukan bersama Pak Cik. Semua itu adalah persyaratan yang harus dijalankan dalam ritualnya. Semua demi meraih kekayaan dan kejayaan.
"Tapi bagaimana caranya?" lanjut Miranti putus asa.
Bagi Miranti, menumbalkan orang lain, sama saja dengan menambah masalah. Karena itulah dia bersedia menumbalkan keluarga bahkan dirinya sendiri.
Dulu Pak Cik mengatakan bahwa tidak akan ada tumbal lagi setelah memenuhi semua persyaratan, tetapi ternyata sekarang kenyataan berkata lain. Miranti harus terjebak dalam situasi sulit ini.
"Apa tidak ada pilihan lain, selain Amanda Pak Cik? Kita bisa menggunakan Nina atau pun Meta yang bukan orang sini," tambah Mirna yang juga meragukan usulan Pak Cik.
Pak Cik menggeleng. "Tidak bisa diganti dengan yang lain!" Pak Cik menjawab tegas.
"Lalu bagaimana caranya?" tanya Miranti menyerah.
"Nanti kuberi tahu," ujar laki-laki tua itu. "Owh iya, Miranti. Ini juga sudah waktunya lagi untuk membuat pekasih," tambahnya.
"Oh?" Miranti sedikit mengeluh.
Sebetulnya Miranti merasa kerepotan untuk menjalankan semua ritual, tapi terpaksa harus dijalani karena sudah menjadi konsekuensinya.
☕☕☕
Di Dapur Miranti....
Ketika Miranti dan Mirna pergi ke rumah Pak Cik, Amanda dan Rangga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil pakaian milik Mala dan Mayang.
Mereka bersyukur karena aksi itu berjalan lancar tanpa hambatan, bahkan tidak ada yang mengetahui tindakan mereka tersebut.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Amanda.
"Aku akan minta ijin pada Bu Miranti, terus pulang kampung dan memberikan pakaian ini pada Ayek," terang Rangga.
"Ya. Kamu lekas beritahu aku, apa hasilnya," pinta Amanda.
"Ya, kak. Kita akan tetap berkomunikasi melalui telepon," ujar Rangga.
"Ok," sahut Amanda.
Rangga kemudian menelepon Miranti untuk meminta ijin pulang kampung, dengan alasan bahwa ayahnya sakit parah.
Dan hari itu juga langsung mencari mobil travel yang akan mengantarnya pulang ke kampung dengan perjalanan yang akan memakan waktu sekitar 3 jam.
☕☕☕
Ketika Miranti dan Mirna kembali, restoran sudah tutup, karena dia sengaja meminta karyawan yang ditugaskan untuk pulang lebih cepat.
Malam itu dia akan memasak sup untuk pekasih, seperti yang diperintahkan oleh Pak Cik.
Miranti segera mempersiapkan semua bahan dan perlengkapan yang akan digunakan.
Terlebih dahulu dia masuk ke dalam kamar bayi, tepatnya kamar yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang Putri yang waktu itu pernah dimasuki oleh Amanda tanpa sengaja.
Miranti membakar sebuah dupa, lalu berdoa di depan meja yang dipenuhi oleh pernak pernik pemujaan.
Membaca mantra yang sudah diajarkan oleh Pak Cik, dan memerciki foto Putri dengan air dari dalam bejana yang sudah bercampur bunga dan irisan jeruk kesturi.
Selesai berdoa, Miranti mengambil kotak kayu yang diletakkan dalam box bayi, lalu membawanya ke dapur restoran yang terletak di lantai bawah.
Di dapur sudah ada Mirna yang tengah mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sup daging.
"Sudah beres, Ma?" tanya Miranti seraya menaruh kotak berwarna hitam itu di atas meja. Di atas meja itu juga tergeletak sebuah bungkusan dari kain berwarna putih.
"Ini hampir selesai. Kamu tinggal memasukkan semua bahan ke dalam panci," ujar Mirna yang sibuk mengiris daun bawang.
"Ok," jawab Miranti.
Dia membuka kotak, dengan terlebih dulu kembali membaca mantra selama beberapa detik. Ternyata kotak itu bersisi dua buah tulang manusia yang berukuran sepanjang tangan anak bayi, dan diikat dengan usus yang sudah mengering, sepertinya juga usus manusia.
Lalu Miranti juga membuka bungkusan kain berwarna putih tadi. Ternyata isinya tengkorak kepala manusia, dua buah bola mata, hati serta jantung yang semuanya sudah dalam keadaan kering.
Sesaat Miranti termenung menatap semua anggota tubuh yang sudah dikeringkan itu. Sekelebat bayangan Putri melintas di benaknya. Ya, itu semua adalah milik Putri yang sengaja dikorbankan demi memenuhi ambisinya untuk menjadi kaya raya.
Airmata segera menggenangi pelupuknya, tapi buru-buru diseka agar tidak jatuh.
Mirna segera meninggalkan dapur dan membiarkan Miranti melanjutkan memasaknya.
Miranti mulai memasak sup, lalu memasukkan semua isi kotak dan isi bungkusan kain ke dalamnya, mengaduk sebentar, dan membiarkannya hingga matang.
Selama menunggu, Miranti terus komat kamit membaca mantra, sambil sesekali mengaduk.
Setelah sup mendidih dan matang, terlebih dulu Miranti mengeluarkan tengkorak kepala dan tulang hasta yang masih terikat dengan usus manusia tadi.
Lalu mengaduk-aduk dengan sendok untuk mencari jantung dan hati. Dia mengaduk dengan sangat pelan agar kedua organ itu tidak hancur, karena akan digunakan lagi untuk ritual selanjutnya.
Semua organ itu ditaruh dalam sebuah baki besar yang terbuat dari kaca, di mana di dalamnya sudah terdapat bunga melati dan kenanga.
Miranti menuang sebagian sup itu ke dalam wadah, tujuannya untuk memudahkan mencari kedua bola mata yang masih ada di dalam panci.
Setelah selesai, Miranti membakar kemenyan untuk memulai ritual.
☕☕☕
Langit sudah mulai gelap, ketika Meta tiba di kos-kosan. Meskipun tadi pulang cepat, tapi dirinya tidak langsung pulang ke kosan, tetapi mampir dulu ke kos-kosan Nina.
Ketika membuka jok motor, Meta baru menyadari kalau tasnya tertinggal di dapur restoran. Di dalam tas itu tersimpan kunci kos-kosan, handphone serta dompet. Sekarang, mau tidak mau dia harus kembali ke sana untuk mengambil, agar bisa masuk ke dalam kamar kosnya.
Tadi dia membuatkan minuman untuk Dimas, Rangga, Nina dan Amanda. Karena terburu-buru, dia sampai lupa pada tasnya.
Tanpa menunggu lama, gadis itu bergegas ke parkiran untuk menyalakan motor dan terpaksa kembali ke restoran Dapur Miranti. Meta agak terburu-buru, karena sudah hampir isya, sementara dia belum mandi.
Dia merasa beruntung karena kunci restoran dia yang memegang, dan tersimpan di dalam saku celananya, jadi bisa tetap masuk seandainya Miranti belum pulang.
Meta memarkirkan motor di depan restoran, karena niatnya hanya sebentar, sekedar untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
Meta tidak tahu kalau Miranti sudah pulang, bahkan tengah memasak di dapur.
Meta langsung membuka pintu restoran dengan kunci yang ada padanya. Ruangan restoran itu remang-remang karena yang dinyalakan hanya lampu pojok.
Meta berjalan menuju dapur, dan penciumannya langsung menangkap aroma sup daging.
"Hmmm, nikmat," gumamnya.
Tanpa bersuara, Meta langsung memasuki dapur, dan sungguh terkejut melihat pemandangan yang mengerikan.
☕☕☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
anaknya dimasak?
2024-02-25
0
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
oh jd ini bahaya yang mengancam Amanda
2024-02-25
0
neng ade
ga nyangka klo Miranti sampe sekeji itu sm Putri demi ambisi nya utk jadi kaya raya .. hiiyy.. serem thor.. lalu apa yg akan terjadi sm Meta karena dua udh melihat semua nya
2024-02-14
1