Amanda membuka mata perlahan, lalu menyipitkan beberapa kali karena terganggu dengan cahaya yang masuk menyentuh kedua bola matanya.
Kepalanya masih pusing dan terasa berat. Untuk sesaat Amanda belum ingat apa yang telah terjadi. Amanda melihat beberapa orang tengah duduk mengitari sofa tempat dia terbaring. Salah satunya Miranti.
"Amanda, kamu sudah bangun?" Miranti mengusap lembut kepala Amanda.
Amanda kembali memejamkan mata beberapa detik demi menekan rasa sakit di kepala.
Pikiran mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Seorang perempuan muda memijit telapak kaki Amanda dengan minyak kayu putih.
Dan seorang perempuan lainnya memberikan segelas air putih lengkap dengan pipet.
Setelah merasa agak pulih, Amanda berusaha bangun dan dibantu oleh Miranti dan yang lainnya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Miranti kembali. Raut khawatir terpancar dari wajah bos restoran tersebut.
"Sepertinya, aku disapa oleh penghuni restoranmu ini," ujar Amanda lemah.
Miranti tersenyum. "Biasalah, yang begitu di mana-mana suka ada." Miranti mencoba menenangkan Amanda.
"Banyak-banyak istighfar aja, Kak." Perempuan yang tadi memijit kaki Amanda ikut bicara.
"Makasih banyak ya, Vi," ucap Amanda pada perempuan muda itu.
"Ya sudah, Via dan Nia silakan kembali bekerja. Amanda biar aku yang temani." Miranti memberikan instruksi.
"Maafin aku ya Mir. Di hari pertama kerja, aku malah merepotkan semua orang." Amanda sangat bersalah.
"Kenapa minta maaf? Ini kan bukan salahmu," balas Miranti tersenyum.
"Eh, tapi beneran seram lho," lanjut Amanda sembari mengingat kembali sesosok yang tadi menakutinya.
"Sudah, jangan diingat lagi. Lain kali hati-hati aja." Miranti berusaha terus menenangkan Amanda.
☕☕☕
Miranti berdiri di salah satu jendela ruang kerja yang menghadap ke laut. Ruang kerja itu berada di lantai dua restoran. Lantai dua itu, merupakan tempat tinggal Miranti bersama keluarganya.
Demi kenyamanan, ruang kerjanya pun dibuat di sana.
Wajah Miranti tampak cemas, pikirannya berkecamuk, dan hatinya merasa tidak tenang.
Tiba-tiba seorang membuka pintu yang tidak terkunci, Miranti menoleh.
Seorang wanita paruh baya mendekati Miranti.
"Mama baru saja mendengar cerita dari karyawanmu," ujar wanita yang ternyata adalah ibu dari Miranti.
Miranti menatap pias. "Ma, kenapa tiba-tiba dia datang?" tanya Miranti dengan suara bergetar.
"Apa kamu yakin, itu dia?" Mirna sang ibu balik bertanya.
"Dari penuturan Amanda, aku yakin itu dia."
Kali ini, Mirna pun ikut khawatir. "Bukankah jiwanya sudah dipasung oleh Pak Cik?"
"Ya itulah makanya aku khawatir, kenapa sekarang dia tiba-tiba muncul?" Miranti semakin berkecamuk. Karena dia sudah tahu apa yang sedang dihadapi saat ini.
"Ma, aku tidak mau kehilangan apa yang sudah aku dapatkan. Aku sudah bersusah payah membangun restoran ini. Aku sudah berkorban banyak untuk ini." Miranti menangis sesenggukan.
Mirna memeluk tubuh Miranti. "Mama akan bicara pada Pak Cik mu." Mirna mencoba menenangkan Miranti yang kini menjadi anak satu-satunya.
Pembicaraan mereka terhenti oleh kegaduhan di luar ruang kerja. Miranti dan Mirna segera berlari ke sana. Tampak Azka kepanikan mengejar adiknya yang berlari-lari sambil menggenggam sebilah pisau yang sangat tajam.
Miranti dan Mirna syok melihat pemandangan itu. "Ya ampun, Fatur!" jerit Miranti cemas.
Miranti melangkah pelan mendekati Fatur, putra bungsunya yang kini sedang berdiri di atas jendela. Anak laki-laki yang berusia 5 tahun itu tertawa senang sambil mengayun-ayunkan pisau.
"Fatur, turun ya, nak. Itu bahaya." Miranti mencoba membujuk, dia tidak ingin gegabah sehingga bisa mencelakakan Fatur.
Tanpa peduli, Fatur tetap dengan aksi berbahayanya. Bahkan melompat-lompat di atas jendela sambil cekikikan.
"Putri akan datang. Putri akan datang." Fatur mengucapkan kalimat itu berkali-kali dengan nada penuh kebahagiaan.
Miranti melirik pada Mirna begitu mendengar ucapan Fatur. Keduanya saling berpandangan. Ketakutan menghantui ibu dan anak tersebut.
"Fatur. Turun yuk. Biar kakak gendong belakang," bujuk Azka.
"Ga mau. Maunya sama papa." Fatur merengek.
"Iya, nanti kakak gendong ke tempat papa." Azka berusaha mendekati jendela.
"Yuk, turun yuk. Sini pisaunya biar kakak yang pegang," bujuk Azka kembali.
"Gak mau...gak mau. Ini buat Putri. Ini buat ambil jantungnya Putri." Fatur berjingkrak kegirangan.
Mulut Miranti dan Mirna ternganga mendengar perkataan Fatur. Mereka kembali saling berpandangan dengan mata saling melotot.
"Maaa!" jerit Miranti panik.
Mirna mengangguk tak karuan. Wanita paruh baya itu pun tak kalah gusar.
"Fatur, ayok turun! Itu berbahaya!" Mirna mulai berteriak dan kehilangan kesabaran.
Fatur berhenti, lalu menjulurkan lidahnya seolah mencibir papa Mirna. Ekspresinya sekarang berubah menjadi marah.
"Nenek jahat!" Fatur berteriak pada Mirna.
Tubuh Mirna bergetar menahan amarah, tapi berusaha dikendalikan demi menjaga situasi. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam demi bisa menenangkan diri.
"Fatur, kita ke kamar papa yuk." Azka dengan penuh kesabaran terus membujuk adiknya.
Akhirnya Fatur menurut. Ketika akan menjatuhkan tubuh pada punggung Azka, mata Fatur melirik tajam dan bengis pada Mirna lalu bergantian ke arah Miranti.
☕☕☕
"Papaaa." Fatur kegirangan ketika melihat sesosok pria yang tengah duduk bersandar lemah di kursi roda. Dengan rasa tidak sabar Fatur ingin segera melompat dari punggung Azka, namun Azka menahan agar Fatur tidak jatuh.
"Kasih dulu pisaunya sama kakak. Nanti takut melukai papa lho," bujuk Azka.
Tanpa ada perlawanan, Fatur menyerahkan pisau itu kepada Azka. Lalu turun dari punggung Azka dan berlari ke pangkuan papa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Jess
masih meraton dan mulai seru
2024-03-01
0
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
apa yang sdh dilakukan Mirna dan Miranti?
2024-02-24
1
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
wah mencurigakan
2024-02-24
0