"Pak Cik itu siapa?" tanya Amanda.
"Dia adiknya Bu Mirna, kak. Dia suka ke sini...." Rangga berkisah.
"Sering?" potong Amanda cepat.
"Engga tahu juga," jawab Rangga. "Tapi kadang tiba-tiba aja ada sini," tambah Rangga.
"Dia tadi ngeliatin kakak dengan tatapan yang aneh gitu." Amanda mengadukan kejadian menjijikkan yang baru saja dialaminya kepada Rangga.
"Iya, aku lihat kok," aku Rangga.
"Oh, jadi kamu lihat juga? Menurut kamu, itu aneh ga? Apa perasaan kakak aja?" Amanda meminta pendapat Rangga.
"Memang aneh kak. Makanya kuajak kakak pergi dari sana." Rangga mulai mengutarakan alasannya kenapa sampai mengajak Amanda pergi dari tempat itu.
"Owh," desis Amanda. Dia baru sadar ternyata Rangga sedang berusaha menyelamatkan dirinya. Seikat rasa terima kasih yang teramat sangat terucap dalam hatinya untuk laki-laki muda yang sudah dianggap sebagai adik.
Amanda merasa tersanjung mendapatkan perhatian dan kebaikan dari Rangga. Seketika hati Amanda merasa yakin, bahwa Rangga bisa dijadikan sebagai tempat untuk menceritakan semua beban yang sedang memenuhi kepalanya saat ini.
Amanda butuh teman yang bisa dipercaya untuk membagi semua kebingungan yang menderanya. Harus orang yang paham dengan cerita seperti ini, karena jika tidak, dirinya bisa dianggap gila oleh orang nantinya. Karena, cerita ini seperti tidak masuk akal dan hubungannya dengan makhluk tak kasat mata.
"Oiya, kok dia ngeliatinnya gitu banget, ya?" Amanda kembali mengulang pertanyaan.
"Hati-hati kak, dia orang...." Rangga tidak melanjutkan, takut mengganggu pikiran Amanda.
"Orang apa?" desak Amanda.
Rangga tersenyum tipis.
"Apa?" Amanda terus memaksa.
"Kayaknya dia ada ilmu gitu, kak," lanjut Rangga hati-hati dan sangat pelan.
Amanda mengerutkan kening. "Maksud kamu, pandai dalam urusan magic gitu?" Amanda ikut berbisik.
Rangga mengangguk. "Ya."
"Kamu tahu dari mana?" Amanda masih kurang yakin.
Sesaat Rangga mengedarkan pandangan ke sekeliling, takut jika ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
"Kurang aman bicara di sini. Aku boleh ke rumah kakak ga ntar malam? Ada yang ingin kubahas. Penting," ujar Rangga semakin membingungkan Amanda.
☕☕☕
Pak Cik meneliti setiap sudut ruangan di rumah Miranti. Ternyata, kepergian Miranti dan Mirna ke rumah Pak Cik siang tadi adalah untuk membahas soal kejadian malam di mana Fatur mengamuk.
Pak Cik menaburkan bubuk, yang entah bubuk apa, di setiap sudut ruangan dan beberapa tempat. Termasuk di kamar Putri.
"Bagaimana?" tanya Mirna gelisah.
"Aku merasakan, ada sebuah energi yang membuat mereka terbangun. Jadi, mantra yang sudah kutanam tidak bisa lagi mengurung ruh mereka. Energi itu malah membuat mereka menjadi kuat dan berani melawan kita," ungkap Pak Cik gelisah. Wajahnya tampak tegang seperti memendam kecemasan.
"Energi macam apa?" tanya Mirna dengan dada berdebar.
"Sepertinya ada seseorang yang punya energi lain di sini," ujar Pak Cik dengan nada khawatir.
"Pak Cik, aku tidak ingin kehilangan semua yang kubangun dengan susah payah. Aku sudah berkorban banyak untuk membangun usaha ini. Anakku, suamiku, bahkan diriku sendiri." Miranti mengungkapkan ketidak relaannya jika kehidupannya diganggu.
Pak Cik dan Mirna menatap Miranti yang didera kekalutan.
Pak Cik menarik napas dalam sambil terus berpikir keras. Orang itu seperti merasa buntu saat ini.
"Oiya, bagaimana penjelasan dari polisi?" tanya Mirna lagi.
"Polisi tidak menemukan tanda-tanda kalau gadis itu dibunuh oleh seorang," terang Pak Cik.
Mirna tertegun. "Lantas?" burunya. Dia ingin segera tahu jawaban dari Pak Cik.
"Aku juga merasa itu bukan akibat manusia." Jawaban Pak Cik membuat jantung Miranti dan Mirna nyaris berhenti. Terasa aliran panas mengaliri tubuh Mirna dan Miranti.
"Maksud Pak Cik, gadis itu bunuh diri atau terjatuh?" Miranti terus memburu Pak Cik dengan pertanyaan demi pertanyaan. Kegelisahan benar-benar menyerangnya.
"Tapi kalau terjatuh, rasanya tidak mungkin. Pagarnya cukup tinggi, dan tidak ada yang rusak." Mirna memotong ucapan Miranti.
Pak Cik menggeleng. Dari sorot matanya, tampak dia tengah berpikir keras.
"Sepertinya, ini ulah makhluk lain," ujar Pak Cik.
"Hah?" Miranti dan Mirna serentak kaget.
Mata Miranti terbelalak, mulutnya terbuka lebar. Nyaris tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Siapa?" Miranti berteriak marah, berharap akan segera mendapatkan jawaban. "Dan...kenapa di malam itu Fatur juga mengamuk seperti kerasukan?" lanjutnya.
"Sepertinya kedua peristiwa ini saling berkaitan," timpal Pak Cik.
"Apakah...itu ulah mereka?" tanya Mirna terbata.
"Bisa jadi," jawab Pak Cik lemah.
Miranti terpana, tidak bisa berucap apa pun. Pikirannya berkecamuk.
"Lalu apa tindakan kita sekarang?" desak Mirna penuh harap.
Miranti dan Mirna menatap lekat ke wajah Pak Cik, menunggu jawaban yang bisa menenangkan hati mereka.
Pak Cik kembali menarik napas. "Aku akan bersemedi dulu untuk mencari jalan keluarnya."
"Tapi aku khawatir, Pak Cik! Bagaimana kalau terjadi lagi hal-hal aneh di sini! Bahkan lebih parah dari ini! Aku takut nanti polisi atau warga malah curiga, dan menyelidiki semuanya!" Miranti histeris. Pengusaha itu mulai tidak mampu mengendalikan diri. Dadanya naik turun menahan gejolak.
Mirna memeluk Miranti, berusaha menenangkan, meskipun sebenarnya dia tidak kalah panik dari anaknya.
"Aku tidak ingin kehilangan semua hasil kerja kerasku, ma! Apa lagi kalau sampai ada orang yang berniat membangunkan MEREKA, hanya untuk menggangguku, aku tidak terima! Aku sudah berkorban banyak untuk ini!" Miranti benar-benar meradang. Tubuhnya bergetar karena sudah dikuasai amarah.
"Kamu tenang dulu. Untuk sementara, saya sudah mengikat ruh mereka kembali. Sambil bersemedi, saya akan tetap pantau dari jauh. Mereka tidak akan mengganggu lagi." Pak Cik berusaha meyakinkan.
"Pak Cik, aku sudah berkorban banyak untuk ini! Pak Cik harus membantuku! Jika ini sampai gagal, Pak Cik harus bertanggung jawab! Kerena aku sudah menuruti semua yang Pak Cik perintahkan!" Miranti menunjuk-nunjuk Pak Cik penuh kemarahan. Matanya melototi Pak Cik dengan garang.
Pak Cik tampak ketakutan. "I-iya, kamu tenang saja, aku pasti akan membantu, aku akan...usir mereka dari sini." Pak Cik mulai gelagapan. Tanpa disengaja, kedua bola matanya membesar ketika bicara pada Miranti.
☕☕☕
Malam itu, Rangga datang ke rumah Amanda. Mereka duduk di teras samping rumah Amanda.
Seperti yang sudah dikatakan Rangga tadi siang, dia datang untuk membicarakan sesuatu yang penting.
☕☕☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
mungkin bisa bekerja sama dengan Rangga
2024-02-25
0
Syahrudin Denilo
masih menjadi teka teki
2024-01-25
1
Anonymous
kok blm update😭😭
2023-10-24
1