Amanda termenung mendengar cerita Rangga, untuk beberapa saat pikirannya jadi tak menentu. Ada rasa haru dan sedih dalam hatinya.
"Jadi, pakaian di dalam lemari itu...?" tanyanya secara spontan.
"Ya, itu pakaian ibu dan Mayang." Rangga yang paham maksud Amanda, langsung mengiyakan.
Amanda merasakan sesak dalam dadanya. Ada deru emosi yang tertahan, sedih, marah, bingung, bercampur menjadi satu.
"Berarti...Bu Mala benar-benar sudah meninggal?" tanya Amanda nyaris berbisik. Air mata menggenangi pelupuknya. Tangannya buru-buru mengusap, karena tidak ingin membuat Rangga ikut menangis.
Rangga mengangguk-angguk pelan.
"Berarti iya, kak. Aku juga baru yakin sekarang, setelah melihat baju-baju itu." Rangga berucap pilu, seolah sudah tidak ada harapan untuk ibu dan adiknya.
"Jadi, kamu juga baru melihat baju-baju itu?" tanya Amanda kaget.
"Iya, aku belum pernah masuk ke ruangan itu sebelumnya," terang pemuda yang bertubuh tinggi dan gagah itu.
"Ohhhh." Amanda memejamkan matanya sejenak.
"Apa yang sudah dilakukan Miranti?" desah Amanda.
Dia menutupi muka dengan kedua telapak tangan, lalu mengusap kepala dan menarik rambut, sebagai sebuah terapi untuk meringankan rasa berat di kepala.
"Owwh, Ya Allah," rintih Amanda.
Amanda menarik napas dalam-dalam beberapa kali, untuk melegakan sesak yang memenuhi dada.
Rangga terpana melihat reaksi Amanda seperti itu. Dia tidak menyangka, Amanda menjadi terganggu setelah mendengar ceritanya.
"Ada apa dengan keluarga Miranti?" Amanda mengulang pertanyaannya.
"Aku tidak tahu, kak. Hampir satu setengah tahun aku di sana, tapi belum menemukan titik terangnya." Rangga mengungkapkan kekecewaannya.
"Kamu tidak melihat gelagat yang aneh dari mereka?" selidik Amanda.
Rangga menggeleng.
Mereka terdiam untuk beberapa saat, bergulat dengan pikiran masing-masing. Mencoba merangkai kepingan demi kepingan peristiwa seperti sebuah puzzle, agar terbentuk suatu gambaran yang utuh tentang fakta yang masih menjadi misteri.
"Oiya." Amanda memecahkan keheningan.
"Apa kamu pernah mengalami kejadian aneh selama di sana?" tanya Amanda mulai menginterogasi Rangga.
"Kejadian aneh seperti apa, kak?" tanya Rangga.
"Apa saja, ng...misal mimpi ibu atau adikmu, atau pernah mengalami hal-hal gaib seperti yang pernah kualami waktu itu." Amanda terlihat serius dalam mengorek Rangga.
"Kalau mimpi, aku pernah beberapa kali kak. Ibu datang padaku sambil nangis minta tolong, mimpi Mayang juga begitu. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa?" Rangga menampakkan keputusasaan.
"Kalau dari keluarga Miranti sendiri? Ada gelagat aneh ga?" lanjut Amanda yang masih mencoba mengumpulkan kepingan informasi yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan acuan.
Rangga berpikir sejenak. "Aku tidak tahu apakah ini hal aneh, tapi sebagai bahan aja buat kakak, aku akan ceritakan sedikit tenang keluarga itu." Rangga mulai mengingat-ingat semua hal tentang keluarga Miranti.
Amanda memperhatikan Rangga dengan seksama.
"Menurut cerita yang aku dapatkan dari berbagai sumber, sebenarnya Fatur itu memiliki kembaran kak." Rangga yang kebingungan harus mulai dari mana, akhirnya membuka cerita tentang Putri.
"Hmm ya, aku tahu itu," timpal Amanda.
Tiba-tiba ingatan Amanda melayang pada sebuah kamar yang sempat dimasukinya.
"Owh iya. Ngomong-ngomong soal Putri, aku juga ingin memberi tahumu sesuatu," sambung Amanda.
"Hmm?" Rangga tertegun. "Apa kak?" tanyanya.
Lalu Amanda menceritakan tentang sebuah kamar yang ditemukannya waktu itu. Tentang semua hal yang dilihatnya di dalam kamar tersebut.
Rangga terkejut luar biasa mendengar itu, karena selama bekerja di sana dia sama sekali tidak mengetahui.
"Apa tujuannya melakukan itu kak?" tanya Rangga heran.
"Aku juga engga paham," sahut Amanda sambil mengangkat kedua bahu.
"Menurut Nina, Putri meninggal tanpa sakit. Dia dapat cerita dari Bu Min," jelas Amanda.
"Ya kak. Bu Min juga pernah cerita ke aku. Putri meninggal secara mendadak, kalau tidak salah umur 2 tahunan gitu. Sehari sebelum meninggal, Putri masih sehat kata Bu Min. Tahu-tahu besok paginya Putri sudah meninggal." Rangga menyambung cerita Amanda soal Putri. "Dan yang anehnya, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melihat jasad Putri, termasuk Bu Min. Padahal Bu Min datang ke sana sekitar pukul 7 pagi. Ketika tiba di sana, tubuh Putri sudah dibungkus dengan kain kafan. Entah kapan dimandikannya?"
Suatu fakta baru yang didengar Amanda san menambah kejutan baru di hatinya.
"Jadi begitu ceritanya?" Amanda semakin syok dengan cerita terbaru ini.
"Kata Bu Min begitu," sahut Rangga.
"Coba aja kakak tanya sama Bu Ida, pemilik warung depan, dia juga bilang begitu ke aku," tambah Rangga lagi.
Kening Amanda kembali berkerut. Cerita ini menjadi semakin membuat otaknya bertambah ruwet.
"Lalu Pak Arif sendiri, sejak kapan mulai duduk di kursi roda?" Amanda tiba-tiba teringat tentang Pak Arif, suami Miranti.
"Aku tidak tahu, kak. Tapi kata Bu Min, dulu Pak Arif baik-baik saja. Yang jelas, setelah kematian Putri Pak Arif mengalami sakit yang tidak bisa diobati secara medis. Bahkan Fatur pun dulu biasa-biasa saja...."
"Biasa-biasa saja, maksudnya?" potong Amanda.
"Emang kakak ga nyadar gimana tingkah laku Fatur?" Rangga malah balik bertanya.
Amanda menggeleng.
"Sekarang, Fatur itu seperti anak autis kak. Tingkahnya sangat aneh. Tiba-tiba ngamuk. Suka bertindak ekstrim. Sering lari-lari bawa pisau, tiba-tiba berdiri di atas daun jendela, bahkan pernah nyampe di atas atap lantai dua itu kak."
"Hah? Iya?" Lagi-lagi Amanda dibuat kaget dengan cerita Rangga.
"Iya, bener. Ga ada yang tahu bagaimana cara dia naik ke sana," jawab Rangga.
Rangga berhenti sejenak, tangannya meraih bungkus rokok dan korek yang dari tadi dibiarkan tergeletak di atas meja. Karena asyik bercerita, dia sampai lupa untuk membakarnya.
Di saat itu Amanda juga mengambil kesempatan untuk menuangkan teh yang sudah dingin ke dalam gelas.
"Terus ruangan yang berantakan itu karena apa? Apa benar Bu Mirna mengamuk?" tanya Amanda yang masih penasaran soal itu.
"Palingan Fatur yang mengamuk kak," jawab Rangga lugas.
"Apa? Fatur?" Amanda hampir berteria. Dia benar-benar tidak percaya pada apa yang didengar.
"Itu sudah terjadi beberapa kali kak. Fatur kalau sudah ngamuk benar-benar luar biasa," ucap Rangga semakin menambah syok Amanda.
"Bagaimana mungkin seorang bocah bisa memporak-porandakan ruangan, dan membolak-balik barang-barang seberat itu?" Amanda merasa kacau dengan semua penjelasan Rangga.
"Ya aneh sih kak. Awalnya aku juga heran seperti kakak. Tapi, sepertinya Fatur itu dirasuki ketika mengamuk, kak," terang Rangga.
"Owh," pintas Amanda yang mulai paham.
Kekacauan otak Amanda mulai mereda dengan penjelasan terakhir dari Rangga. "Ya, bisa jadi. Pasti ada sesuatu yang merasuki. Cuma, kok bisa Fatur mengalami itu? Pasti ada penyebabnya."
"Dirasuki arwah Putri kali kak," celetuk Rangga sambil tertawa.
"Issh, kamu." Amanda melempar sebuah bantal kursi pada Rangga.
Sebelum berpamitan pulang, Rangga masih menyempatkan menyampaikan keinginannya pada Amanda.
"Kak, aku ingin mengambil baju ibu dan Mayang. Tapi gimana caranya, ya?"
"Nanti lah kita pikirkan caranya," balas Amanda dengan sungguh-sungguh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
neng ade
Ya harus bisa ambil baju bu Maka dan Mayang sesuai perintah Hayek agar bisa di terawang apa yg terjadi sm mereka dan agar semua misteri itu terungkap dngn jelas
2024-02-14
1
Syahrudin Denilo
joss gandos
2024-01-25
1