7

Amanda mulai melaksanakan tugas yang diberikan oleh Miranti. Setelah mempelajari beberapa berkas, sekarang Amanda akan melakukan identifikasi pada setiap aset yang dimiliki oleh Restoran Dapur Miranti.

Amanda mengajak Nina untuk menyelesaikan tugasnya. Selain untuk menyelesaikan tugas, ada hal lain yang ingin dicari dari Nina.

Ketika rehat sejenak, Amanda mengajak Nina duduk di salah satu pojok restoran di halaman belakang. Ketika itu pengunjung sangat ramai. Dan pojokan itu adalah tempat yang tepat untuk bercerita.

Amanda menceritakan peristiwa tadi pada gadis yang terpaut beberapa tahun di bawah usia Amanda. Tetapi, Nina sangat dewasa dan nyaman untuk diajak bicara. Meskipun gadis itu sedikit emosional, tetapi hatinya sangat baik.

"Kak, berarti benar ada yang tidak beres di sini," ujar Nina setelah mendengar cerita Amanda.

"Kamu pernah ketemu yang aneh-aneh juga ga di sini?" Amanda balik menanyai Nina.

"Alhamdulillah aku ga pernah kak, tapi teman-teman yang lain katanya pernah. Malah pernah ketemu seorang ibu-ibu yang memakai baju putih," terang Nina.

"Siapa yang ketemu?" tanya Amanda antusias.

"Rangga, kak. Waktu itu Rangga shift malam. Ketika mau mengambil sesuatu di gudang, di sana."

Nina mengusap-usap kedua tangannya, lalu melanjutkan. "Awalnya dikira Rangga itu Bu Mel, disapanya, tapi ga nyahut. Pas didekati ternyata bukan, kak. Hiiii, serem deh."

Nina mulai ketakutan.

"Ternyata siapa?" tanya Amanda mulai tegang.

"Kata Rangga, wajahnya seram kak, hancur gitu." Nina semakin sering mengusap kedua tangannya.

"Tarus Miranti tahu soal ini?" tanya Amanda lagi.

"Bu Miranti tahunya dari Lia. Tapi Bu Miranti tidak terlalu menanggapi. Katanya itu hal yang biasa, namanya juga di pinggir laut." Nina tampak menggerutu.

"Oiya, kata Bu Min, tukang bersih-bersih, dulu ada ibu-ibu lain yang bekerja di sini. Dia seumuran dengan Bu Min. Namanya..." Nina mencoba mengingat, tapi ternyata gagal.

"Ah, aku lupa. Pokoknya ibu itu barengan kerjanya sama Bu Min," lanjut Nina.

"Terus ke mana dia sekarang?" tanya Amanda semakin penasaran.

"Kata Bu Min, ibu itu dan anaknya pulang ke kampungnya tiba-tiba. Malahan ga sempat pamit sama Bu Min."

Amanda mengangkat mengerutkan kedua bibirnya sebagai bentuk kecamuk pikiran.

"Maksudnya, ibu itu bekerja di sini bersama anaknya?" lanjut Amanda ingin tahu.

"Ya, sepertinya begitu. Coba aja kakak tanya sama Bu Min." Nina mengusulkan.

"Lalu Putri meninggal kenapa?" lanjut Amanda semakin penasaran.

"Kalau kata Bu Min, Putri dan Fatur itu kembar kak. Umur dua tahun, Putri meninggal mendadak tanpa sakit." Amanda hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Nina.

Pikiran Amanda mulai terganggu dengan semua cerita yang didengar, tapi dia masih menganggap itu hal yang biasa. Tidak ada yang aneh.

☕☕☕

Sebelum pulang, Amanda menyempatkan diri mampir di warung seberang jalan. Dia berpura-pura membeli tisu.

"Adek karyawan baru ya, di sana?" tanya ibu pemilik warung.

"Iya, Bu," sahut Amanda sambil memilih beberapa makanan ringan.

"Oiya Bu. Kenalkan aku Amanda." Amanda menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Ternyata ibu pemilik warung yang bernama Ida, sangat ramah dan suka bicara. Setelah saling berkenalan, mereka mulai bicara ke hal yang lain.

"Dulu, katanya bangunan restoran itu sudah lama kosong ya, Bu?" tanya Amanda mengambil kesempatan.

"Iya. Tapi meskipun kosong, biasa-biasa aja," kata Bu Ida memancing pertanyaan di benak Amanda.

"Biasa-biasa aja, maksudnya Bu?" selidik Amanda.

"Iya, justru setelah dijadikan restoran malah jadi serem. Hiiii." Raut muka Bu Ida tampak kesal.

"Mana rumah saya berhadapan banget dengan restoran itu. Kan jadi takut saya nya juga." Jelas ada nada dongkol dari Ibu Ida.

"Memangnya suka ada kejadian aneh, Bu?" desak Amanda.

"Kalau tengah malam, lampu depan itu suka mati sendiri. Soalnya pernah saya tanyakan sama Bu Miranti, katanya ngga pernah dimatikan. Terus beberapa kali pintu rumah saya diketuk, pas dibuka ga ada siapa-siapa." Cerita Bu Ida semakin mengarah pada cerita horor. Amanda mulai tidak nyaman mendengarnya. Tapi Bu Ida tetap saja tidak mau berhenti bercerita.

"Suami saya juga beberapa kali ketemu perempuan yang mukanya hancur dan nangis-nangis minta tolong," lanjut Bu Ida seperti tidak mau berhenti.

"Malahan kata Pak Gafur, itu tuh arwah Mala, bekas pekerja di situ, dulu." Bu Ida semakin bersemangat.

Kening Amanda berkerut. "Mala? Bekas pekerja situ?"

"Iya, Mala itu dulu tukang bersih-bersih. Dia dan anak gadisnya bekerja di situ. Saya juga kenal dengannya."

Tanpa disadari, mulut Amanda ternganga. Dia ingat akan cerita Nina tadi siang. "Bukan kah ibu itu pulang kampung?" tanpa sadar Amanda berucap.

"Kalau kata Bu Miranti sih iya, tapi Pak Gafur bilangnya kalau Mala dan anaknya itu sudah meninggal," jelas Bu Ida.

Amanda mulai bingung dan merasa aneh. "Oiya, Pak Gafur siapa?"

"Pak Gafur itu orang sini. Dia agak bisa gitu melihat yang gaib," jawab Bu Ida.

Terpopuler

Comments

🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ

🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ

mendadak jd detektif dia

2024-02-25

1

neng ade

neng ade

Amanda harus menemui pak Gafur

2024-02-09

0

Syahrudin Denilo

Syahrudin Denilo

wah tambah serem nih

2024-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!