Amanda melihat kerumunan orang-orang di halaman restoran, dia segera memarkir mobil di salah satu tempat, dan segera berlari ke dalam.
Amanda melihat beberapa orang petugas membawa sebuah kantung jenazah untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Amanda pun terkejut ketika melihat Miranti berjalan terpincang-pincang, dan di lehernya ada beberapa lebam dan luka goresan.
"Kamu kenapa?" tanya Amanda khawatir.
Miranti hanya menggeleng lemah. Wajahnya menunjukkan kesedihan. Amanda dan Miranti mengikuti beberapa orang polisi yang naik ke lantai dua, tempat tinggal mereka.
Di sana ada beberapa orang karyawan yang sedang membereskan ruangan sisa kejadian semalam.
"Apa yang terjadi?" tanya Amanda heran melihat ruangan yang berantakan.
Miranti masih enggan untuk bicara, hanya sebuah gelengan lemah untuk menjawab pertanyaan Amanda.
Entah karena mencurigai Miranti, atau hanya sekedar mencari barang bukti, polisi memeriksa setiap ruangan yang ada di lantai dua tersebut, hingga ke dalam kamar.
Ketika itulah Amanda mengetahui, jika Arif, suami Miranti tengah mengalami sakit dan hanya duduk di kursi roda.
"Mir," bisik Amanda sedih penuh rasa haru.
"Kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku?" ujar Amanda penuh haru. Dia tidak mengetahui kalau sahabatnya menyimpan sebuah rahasia menyedihkan selama ini.
Miranti meneteskan air mata, tapi tetap diam seribu bahasa. Meskipun ingin mencurahkan isi hatinya, tapi tetap ditahan.
Amanda mengelus lembut punggung sahabatnya. "Jika kamu ingin bercerita, cerita saja. Aku siap mendengarkan."
Polisi mulai meminta beberapa keterangan pada Miranti, terkait dengan kematian Sonia, hingga meminta penjelasan soal ruangan rumah yang berantakan.
Miranti hanya menjelaskan bahwa telah terjadi pertengkaran antara dia dan mamanya tadi malam. Dia mengatakan, mamanya menjadi tidak terkendali jika sudah mengamuk. Miranti berusaha menutupi kejadian yang sesungguhnya.
☕☕☕
Polisi meminta agar restoran ditutup untuk sementara waktu, demi kelancaran penyelidikan atas kematian Sonia.
Karyawan pun terpaksa diliburkan. Miranti masih meminta beberapa orang tetap masuk untuk beberapa pekerjaan. Dan Amanda pun diminta untuk terus melanjutkan pekerjaannya mengidentifikasi semua aset, karena masalah perpajakan perusahaan sudah sangat mendesak.
Kesempatan itu pun tidak disia-siakan oleh Amanda untuk mengorek informasi dari Bu Min terkait Bu Mala dan putrinya.
"Bu Min tahu di mana alamat rumah Bu Mala?" Pertanyaan Amanda membuat Bu Min kaget.
"Kamu tahu dari mana soal Mala?" tanya wanita yang berusia sekitar 50 tahunan, dengan postur tubuh gemuk dan pendek itu.
Amanda sedikit ragu. "Ng... kebetulan aku pernah belanja ke warung depan, dan Bu Ida bercerita kalau dulu ada tukang bersih-bersih yang bernama Bu Mala. Beliau kerja di sini dengan putrinya. Tapi tiba-tiba ibu itu berhenti dan pulang kampung...Ng... aku hanya ingin memberikan sedikit bantuan untuk beliau, barangkali bisa bermanfaat untuk beliau." Amanda memberikan alasan.
Bu Min mengangguk-angguk.
"Nama putri Bu Mala itu siapa ya Bu?" tanya Amanda lagi.
"Namanya Mayang," jawab Bu Min tanpa mencurigai maksud Amanda.
Amanda terkesiap, tapi berusaha untuk tetap tenang.
"Mayang?" desisnya.
Bu Min menatap Amanda. "Ya. Mayang. Kenapa?" tanya Bu Min.
"Oh, tidak apa-apa." Amanda berusaha mengelak.
Pikiran Amanda bergulir pada peristiwa yang dialami pada malam itu, ketika dia bertemu dengan seorang perempuan muda yang bernama Mayang.
"Berarti semua peristiwa ini bukanlah suatu kebetulan belaka, benar kata Datuk." ujarnya dalam hati.
"Ibu tidak tahu di mana tempat tinggal Mala, yang ibu tahu dia berasal dari daerah selatan," ungkap Bu Min.
Amanda menautkan alisnya, ada sedikit kekecewaan untuk jawaban itu.
"Lalu, kenapa Bu Mala tiba-tiba berhenti, Bu? Apa ada masalah?" selidik Amanda.
Bu Min yang tengah mencabuti rumput yang tumbuh dalam sebuah pot, berhenti sesaat.
"Itu yang ibu bingung. Dia berhenti tiba-tiba, dan pulangnya pun ga pamit sama ibu. Padahal sehari sebelumnya dia masih bekerja, ga ada bahas rencana mau berhenti atau pun mau pulang," jelas Bu Min.
"Tapi selama bekerja di sini, Bu Mala ga pernah ada masalah, kan?" desak Amanda.
"Setau ibu, ga ada. Mereka bekerja seperti biasa aja. Setiap hari kami ngobrol. Mayang pun sangat rajin. Ga pernah membantah jika dimintain tolong." Bu Min terlihat nelangsa, air mukanya berubah sedih. Sinar matanya memancarkan kesenduan.
"Ibu juga ga nyangka, Mala pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan ibu. Padahal kami sudah seperti saudara. Selama setahun kami menghabiskan waktu di sini, kami tidak pernah bertengkar," kenang Bu Min.
Amanda mengelus pundak Bu Min. "Ibu yang sabar, ya.
Bu Min mengusap kedua kelopak matanya secara bergantian, seolah berusaha menahan aliran air mata yang akan menetes.
"Kalau Nak Amanda berhasil ketemu Mala, tolong sampaikan pesan ibu, bilang kalau ibu kangen." Suara Bu Min berubah parau, membuat Amanda ikut terenyuh.
Amanda mengangguk untuk mengiyakan.
☕☕☕
Rangga masih berkutat dengan ruangan yang berserakan. Ternyata cukup menguras tenaga dan memakan waktu untuk merapikan ruangan itu kembali. Karena sangat banyak barang berbahan kaca serta perabotan yang tertata di tempat itu, sebelumnya, sehingga banyak pecahan kaca yang harus dibersihkan sekarang.
Sebagian besar furniturenya terbuat dari kayu jati, dan memiliki massa yang sangat besar, sehingga sangat menyulitkan untuk ditaruh kembali ke tempat semula, karena sangat berat untuk diangkat.
Entah kenapa Miranti tidak menyewa orang untuk membantu membereskan itu semua, tetapi malah menyuruh Rangga dan Dimas.
Amanda dan Nina mendatangi Rangga dan Dimas yang mendapatkan tugas itu. Sebagai orang yang dipercaya dan dimintai tolong oleh Miranti untuk mengawasi, tentunya Amanda merasa bertanggung jawab atas perkembangan kerja yang dilakukan oleh Rangga dan Dimas tersebut. Karena hari itu Miranti dan Mirna berpamitan akan pergi ke rumah Pak Cik.
"Dimas kemana?" tanya Amanda begitu melihat Rangga hanya sendirian.
"Bikin kopi katanya, kak," sahut Rangga.
Keringat bercucuran membasahi wajah dan baju Rangga. Amanda merasa kasihan, hingga berinisiatif untuk membantu.
Akhirnya mereka bertiga bergotong-royong untuk membuat ruangan itu rapi kembali. Ada beberapa barang yang terpaksa harus diungsikan karena sudah tidak layak lagi untuk dipajang di situ.
☕☕☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Pak muh Hadi
masih mnjadi misteri
2024-03-10
0
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
aku lanjut aja
2024-02-25
0
neng ade
semoga semua misteri nya cepat terungkap ..
2024-02-09
1