chapter 15 : exodus

Pada malam panen akhirnya aku mengunggkapkan rencanaku pada orang-orang. Lagipula dari skill analyst-ku, kupikir tidak ada mata-mata di antara kita. Jadi kupikir akan aman untuk menyampaikan rencana kabur kita. Sepertinya Marko secara sekilas juga memahami maksudku. Ekspresinya mengatakan seakan menunjukan pengertian akan apa yang akan aku sampaikan.

“Baiklah teman-teman dan kamerad sekalian, aku memiliki suatu yang ingin aku bagikan pada kalian,” kataku pada semua orang di sana.

Aku menjelaskan mengenai rencanaku untuk pergi dari kekaisaran Aryan karena dianggap terlalu berbahaya. Wilayah kumuh yang terlalu cepat berkembang, pelarian para budak, dan panen raya dengan banyak buah dan sayur kualitas unggul akan menimbulkan kecurigaan. Mengingat hal ini terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa bulan. Tentu saja aku tidak menjelaskan misiku sebagai assassin yang membunuh para orang penting untuk membebaskan mereka. Tetapi aku akan menyinggung sedikit tentang produk ramuan rahasiaku (sabun & shampoo).

Aku menjelaskan tentang skema pelarian kita. Dimana mereka akan berperan sebagai pedagang dan petualang akan menyeberang keluar perbatasan kekaisaran Aryan menuju hutan Elfrida. Di sana Marko memiliki koneksi ke kepala suku elf yang siap menyambut kita disana.

Ngomong-ngomong, kupikir Marko akan menjadi pemimpin kelompok pengungsi itu. Lagi pula dialah yang memiliki koneksi dengan kepala suku. Sepertinya gadis kelinci bernama Usagi itu bisa membantunya. Tapi bagaimanapun aku butuh dukungan Irina dan guild petualang agar pasukan kekaisaran tetap membuka perbatasan dan juga memberikan orang-orang kartu petualangannya.

Kemungkinan guild juga akan menyediakan rute pelarian yang aman lewat jalur perdagangan yang umum dipakai. Aku bisa memanfaatkan koneksiku di guild padagang untuk menyediakan petanya. Kita juga bisa memanfaatkan hasil panen kita sebagai penyamaran untuk berdagang sekaligus sebagai bekal kita.

"Yah, namun tetap saja kita masih tetap bermasalah dalam hal penyamaran. Jarang sekali terlihat para pedagang selain dari ras manusia di izinkan lewat tanpa dicurigai," ucapku pada mereka.

"Serahkan itu pada kami Kamerad. Kupikir para elf punya sihir rahasia yang bisa mengubah penampilan kita menjadi mirip manusia. Jika hanya untuk mengubah telinga dan ekor itu merupakan suatu hal yang mudah layaknya cara bernafas," jawab Marko.

"Namun jika melihat bentuk tubuh kalian, bukanya harusnya akan jadi masalah untuk manusia setengah hewan seperti kelinci dan kucing. Karena kupikir kalian punya letak telinga yang berbeda. Juga ekor itu," tanyaku pada Marko.

Mendengar pertanyaanku beberapa manusia binatang mulai berbisik-bisik membicarakan hal itu. Tapi Marko menjawabnya dengan santai.

"Tentu saja tidak masalah. Kita para elf bisa melakukannya untuk kalian," ucap marko

"Wow keren"

"Woah, terima kasih Kamerad Marko." ucap Usagi dan oyen.

"Lagi pula sepertinya kapasitas sihir kita meningkat akhir-akhir ini. Jadi harusnya tidak masalah," ujar Marko.

Sepertinya omongan Marko ada benarnya. Kapasitas sihir para elf banyak mengalami peningkatan. Dari skill analyst-ku Aku mendapatkan informasi bahwa sepertinya bangsa elf adalah ras dengan kekuatan sihir yang tinggi. Namun sepertinya kapasitas sihir mereka tergantung pada persatuan dan keyakinan pada sosok yang mereka anggap sebagai pemimpin. Sehingga ketika mereka menjadi budak mungkin mereka kehilangan sebagian kekuatan sihir mereka. Jujur aku tidak tahu apa yang terjadi pada bangsa mereka tapi sepertinya perbudakan dan kehilangan sosok pemimpin memperlemah mereka.

"Mungkinkah? Mungkinkah mereka menganggapku sebagai pemimpin mereka? Rasanya mustahil," ucapku dalam lamunan ketika mendapatkan alasan kenapa para elf bertambah kuat. Rasanya memang akhir-akhir ini aku memang banyak membantu mereka. Tapi bukankah berlebihan untuk menganggapku sebagai pemimpin mereka? Bahkan aku bukan termasuk bangsa elf loh.

Sepertinya menurut keterangan Marko, sepanjang jalan kita juga akan bertemu dengan para budak yang memilih lari setelah aku bebaskan. Namun sepertinya aku tidak bisa mengambil resiko untuk menolong mereka dan membuka identitas kita. Setidaknya itu pendapatku. Aku berharap mereka bisa memberi solusi atau pendapat lain. Bagaimanapun aku bukan diktator kau tahu.

"Aku yakin kita bisa membantu mereka, semakin banyak orang kita akan semakin kuat," ucap Oyen si manusia kucing dengan penuh semangat.

"Iya namun seperti kata tuan Leon, itu tidak akan mudah. Selain lebih banyak mulut untuk diberi makan, semakin banyak orang juga semakin mencolok. Lagi pula bisakah para elf cukup tenaga untuk mengubah telinga mereka juga?" Sela salah satu pemuda dari kalangan petani.

"Tentu saja tidak masalah, itu hal sepele bagi kami," jawab Marko.

"Baiklah kalo begitu, tapi itu berarti setidaknya kita butuh 1 rombongan lagi agar rombongan kita tidak terlihat begitu besar," ucap pemuda petani itu.

"Baiklah, tapi siapa lagi yang akan memimpin? Mengingat aku akan menjadi orang terakhir disini untuk memastikan semuanya aman," jawabku.

"Tenang saja biar aku yang memimpin?" Ucap pemuda itu.

"Tidak masalah kah? Itu berarti kau akan ikut dengan kita," Jawabku.

"Tidak masalah, lagi pula anda telah banyak membantu kami jadi kami akan senantiasa mengikuti anda. Yah tidak semua sih, tapi aku senang bisa membantu." Ucapnya.

Sepertinya ia tidak berbohong dan aku melihat dia tidak punya keinginan tersembunyi dari kekuatan skill analyst-ku. Jadi kupikir aku bisa mempercayainya. Sebenernya aku cukup waspada akan pengkhianat, tapi kupikir dia cukup aman. Tapi apa maksudnya dengan kami?

"Kami? Memang ada berapa orang kalangan petani yang akan ikut?" Tanyaku kepada mereka dan mereka mengangkat tangan. Sepertinya kebanyakan pemuda kalangan petani ingin ikut bergabung untuk berpetualang.

"Ngomong-ngomong, nama saya Karna, aku siap membantu kalian," ucap pemuda tadi.

"Hmm baiklah, dengan begitu kurasa sekarang kita perlu membahas bagaiaman pembagian kelompok, jadwal dan siapa yang memimpin. Tapi kurasa apapun itu yang pasti Marko akan menjadi pemimpin untuk bagian yang pertama kali pergi untuk membuka jalan dan aku akan jadi yang terakhir untuk memastikan keamanan kalian dan para petani yang masih tinggal disini," kataku dengan yakin.

"Baiklah Kamerad, jadi kurasa kita mulai saja pembagiannya. Ngomong-ngomong aku akan membaginya seperti ini," ucap Marko. Karna, Usagi, dan Oyen pun juga menanggapinya dengan ide mereka masing.

"Baiklah, jadi begini mungkin pembagiannya," kataku menyimpulkan diskusi mereka.

Aku membagi mereka menjadi 3 gelombang yang nantinya 1 gelombang akan dibagi menjadi beberapa kelompok petualang dan pedagang kecil. Kelompok pertama akan dipimpin oleh Marko dengan penyamaran sebagian besar adalah petualang. Kelompok kedua dipimpin oleh Oyen dan Usagi. Dengan penyamaran sebagai pedagang budak, pedagang ramuan ajaib, dan pedagang buah dan sayur. Sementara kelompok terakhir akan dipimpin oleh aku dan karna. Aku akan berangkat di rombongan paling akhir untuk memastikan semua orang telah aman.

Kita akan keluar dari kota sebelum matahari terbit dan selanjutnya sangat tiap rombongan dalam satu kelompok akan memiliki jeda setidaknya 2 jam tiap berangkat .

"Baiklah, aku mengerti."

"Sepakat."

"Dimengerti."

"Setuju," ucap masing-masing mereka.

Lalu akhirnya kitapun memulai rencana kabur keesokan harinya.

...*** ...

Akhirnya giliranku untuk berangkat menemani mereka yang lari. Di desa sekarang hanya menyisakan beberapa para petani yang tinggal di wilayah pertanian mereka sendiri. Sementara perkampungan budak sudah sepi tanpa penghuni.

Beberapa budak yang aku bebaskan dan lari ke kota lain sepertinya juga mengikuti. Namun aku tidak bisa ambil resiko sehingga aku menangkapnya dan menjadikan penyamaran sebagai pedagang budak. Mereka sebenarnya panik, namun para warga elf dan manusia kucing lainya berhasil meyakinkan mereka.

Aku berhasil melewati ibu kota sampai pada akhirnya aku melihat kepulan asap berasal dari tempat pemmukiman dimana kita berangkat. "Sepertinya itu berasal dari wilayah kita," ucapku dengan menunjuk kepulan asap tadi.

"Mungkinkah?" Tanya karna dengan wajah kaget namun bingung.

"Iya, tentara kekaisaran telah bergerak," aku mengangguk pada Karna.

Muka Karna semakin panik namun aku berhasil meyakinkan ya untuk tetap berjalan. Sementara aku akan kembali untuk memastikan warga yang selamat. sehingga saat itu aku kembali lagi ke desa untuk melihat apa yang terjadi sebelum semuanya terlambat. Setidaknya aku ingin memastikan tidak ada yang terbunuh.

“Berhenti, sepertinya disana terlalu berbahaya. Aku akan ikut bersamamu,” ucap Karna.

“Lalu siapa yang akan memimpin mereka?” Tanyaku.

“tidak masalah tuan, olaf akan bersama mereka menggantikan-ku,” jawab Karna.

Dan dengan aku, karna dan beberapa pemuda kembali ke desa untuk menolong mereka dan mencari tahu apa yang terjadi. Lagi pula aku tidak bisa begitu saja pergi ketika mereka yang masih tiggal disana mendapatkan penyiksaan karena ulahku. Sehingga akupun berlari kembali menuju tempat semula.

...*** ...

Episodes
Episodes

Updated 35 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!