chapter 3 : penemu shampoo dan petualangan bersama Aisyah

Dua minggu berlalu sekarang dan kupikir sekarang aku cukup berpengalaman untuk menggunakan tanto jika aku menggunakan istilah Jepang. Ini seperti pisau dengan panjang kira-kira 30cm. Aku masih memakai pisau berburuku untuk mengambil tanaman dan keperluan bertahan hidup di hutan lainya tetapi dengan tanto aku bisa bertarung lebih baik dengan monster. Sehingga aku bisa banyak mendapat bayaran dari membasmi monster kecil di sekitar ladang.

“Kupikir aku semakin dekat dengan karir arena kolosium-ku.” Pikirku.

Sepertinya aku juga melihat Aisyah di guild petualang juga dan ternyata dia juga lumayan kuat. Dia memiliki posisi sebagai swordman atau mungkin swordwoman sejujurnya aku tidak tahu apakah istilahnya sama saja bagi wanita. Tetapi sepertinya dia adalah petualang yang berpengalaman.

Rupanya dia juga lumayan baik, dia kadang juga mengizinkanku untuk menemaninya melakukan misi. Biasanya ia memilih monster berukuran sedang atau besar yang sering kali dianggap mengancam penduduk. Bahkan beberapa orang mulai menjulukinya pelindung misterius.

Dalam 2 minggu ini juga sepertinya aku juga sibuk dalam misi pembasmian monster dan kadang aku juga menemani aisyah juga dalam membasmi monster besar. Aku disana sebagai anggota kelompoknya.

Dalam misi pembasmian itu terkadang aku bingung, siapa yang membantu siapa. Sebenarnya aku adalah orang yang menawari bantuan untuk membantunya. Namun sepertinya aku hanyalah orang yang mengumpulkan poin pengalaman dari seorang senior. Dia masih misterius namun cantik dan sering kali membantu diam-diam tanpa kusadari.

Aku akhir-akhir ini juga jarang melihat aisyah sebagai pedagang. Mungkin itu juga karena efek perjalanan karirku sebagai pedagang atau penemu belum di mulai. Karena sabun dan ramuan yang belum sempat aku buat. Tapi sepertinya Aisyah tertarik dalam konsep membuat sabun dan shampoo.

Namun sepertinya untuk obat penyembuh itu hal yang sepertinya kurang menarik namun dibutuhkan bagi petualang. Sedangkan kertas kemungkinan membutuhkan industri besar dan koneksi dengan para bangsawan agar laku. Lagi pula rumornya negara lain sepertinya sudah memiliki teknologi kertas walaupun disini masih menggunakan perkamen kulit hewan. Jadi sepertinya kertas merupakan barang bagus namun butuh usaha ekstra untuk menjualnya.

***

Pagi ini kupikir aku akan memulai rencanaku. Aku memulai dengan mencari bahan-bahan tanaman obat yang mengandung anti bakteri, tanaman yang mempercepat regenarasi kulit, serta tanaman yang dapat menghentikan pendarahan. Tapi karena ini tanaman rahasia aku tidak bisa menyebutkan apa nama tanaman ini. Namun kuharap ini tidak terlalu mahal untuk dibuat atau dijual, karena sepertinya para petualang tidak sekaya para prajurit kerajaan. Para prajuritpun sudah mendapatkan peralatan lengkap dari kerajaan sehingga menjual secara pribadi kepada mereka akan sia-sia.

Sementara sabun aku akan mencampur antara minyak kelapa atau minyak zaitun dengan aroma bunga dan beberapa tanaman anti bakteri. Aku akan ********** menjadi satu lalu mencampurkanya ke dalam minyak sabun dan mencetaknya. Sementara shampoo kira-kira akan mirip sabun hanya saja campuranya akan lebih banyak air.

“Hmm, menarik. Bahan-bahan yang kau gunakan cukup cerdas Leon-kun. Ini bahan yang jarang digunakan namun banyak ditemui di manapun. Selama tidak ada yang mengetahui resepnya kecuali kita ini pasti akan membuat usaha kita untung,” Aisyah berkomentar panjang lebar mengenai bahan-bahan ramuan sabunku.

“Kau pikir sabun akan laku dijual? Kupikir aku akan membutuhkan sesuatu untuk bisa membersihkan diriku yang bisa dicampur dengan air. Namun aku tidak mengira orang lain akan membutuhkanya,” aku sedikit menjawab komentar Aisyah.

Namun aku agak heran, darimana dia kepikiran tentang kata “-kun” itu? Itu mengingatkan aku akan panggilan perempuan kepada lelaki yang sangat dekat dengannya di Jepang. Namun bukanya kebiasaan seperti itu tidak ada pada bahasa dunia ini? Mungkin aku akan memikirkannya lain kali.

“Ini adalah sesuatu yang baru sepertinya disini, namun sepertinya akan cocok jika digunakan oleh para pengolahan kotoran manusia,” jawab Aisyah.

Namun kupikir ada benarnya juga. Orang disini masih belum peduli akan kebersihan. Sehingga menjualnya untuk produk kebersihan sehari-hari akan sulit. Lagi pula hanya orang dengan akses sihir air atau air sungai dan sumur saja yang bisa menggunakan sabun.

Biaya juga akan mahal bagi orang miskin untuk sekedar membersihkan dirinya. Sehingga sepertinya ini akan sulit dijual sebagai kebutuhan sehari-hari.

Namun jika digunakan oleh orang yang benar-benar merasakan kotoran. Sabun akan benar-benar terasa manfaatnya. Orang-orang akan merasakan manfaatnya ketika bau tidak sedap yang mereka hidup berubah menjadi bau wangi. Itu juga artinya mereka bisa makan sesegera mungkin setelah bekerja tanpa takut merasa kotor.

Lagipula pengolahan kotoran merupakan industri penting yang menghubungkan perkotaan dengan pertanian. Mungkin beberapa di desa akan menggunakan kotoran hewan sebagai pupuk. Namun mengingat masalah pengolahan limbah di kota.

Banyak bangsawan yang memaksa para petani mengutamakan produk kotoran manusia. Lagi pula produk ini lebih murah bagi orang-orang yang tidak memiliki ternak besar seperti sapi atau kuda.

Aku sepertinya terlalu banyak merenung mengenai kegunaan sabun sampai-sampai aisyah menegurku.

“Leon-kun, kok diem? Memikirkan sesuatu? Kau tampaknya sangat serius,” Aisyah dengan senyum ramah menegurku. Sepertinya dia nampak sedikit khawatir pada lamunanku.

“Gak apa-apa, aku hanya berfikir bagaimana produk ini akan dijual dan hubungannya dengan petani di desa dan pengolah limbah di kota,” jawabku.

“Wah keren,” Aisyah sedikit memujiku dengan pipi kemerahan.

“By the way,  bukanya kamu agak sedikit terlalu perhatian kepadaku untuk ukuran orang yang baru kamu kenal?” Aku bertanya pada Aisyah.

“Ehh, nggak kok,” Aisyah menjawab pelan dengan pipi merah.

“Hmm, baiklah terima kasih untuk semuanya Ai-chan,” aku menjawabnya sambil tersenyum. tanpa sadar sepertinya memberinya julukan imut.

Pipi Aisyah terlihat semakin merah dengan wajah menunduk. ia mengucapkan pamit karena ada urusan dan pergi terlebih dahulu.

“Eh, maaf-maaf,” aku dengan panik mencoba meminta maaf kepada Aisyah yang perlahan pergi. Kupikir aku juga salah tingkah di hadapannya.

“Apakah aku salah bicara yah? Semoga dia tidak marah padaku” gumamku.

Setelah perginya Aisyah aku pun selesai mengolah shampoo dan sabun. Langka selanjutnya tinggal mencetak dan membiarkan sabun mengering.

Aku juga belum sempat mendiskusikan masalah shampoo sebagai produk kecantikan lebih lanjut. Jadi aku memutuskan hanya akan membuat 1 produk hari ini. Untuk kuberikan pada Aisyah. Mungkin aku juga sekalian akan meminta maaf padanya jika memungkinkan. Jadi aku memutuskan untuk menyimpan bahan-bahan shampoo sampai pertemuanku dengannya. Namun untuk tanaman penyembuh kupikir aku bisa melakukan di dalam penginapanku. Jadi aku memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pembuatan obat pemulihan tingkat rendah.

...*** ...

Terpopuler

Comments

Ajna dillah

Ajna dillah

nyimak

2024-01-24

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 35 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!