Pesawat Pribadi Bian telah mendarat sempurna di negara P. Perjalanan panjang selama kurang lebih 16 jam akhirnya telah terlewati. Bian dan Andre memutuskan untuk beristirahat dulu di mansion nanti keesokan harinya baru memutuskan untuk memulai bekerja.
Lincoln sang assisten kepercayaan Tuan Kendrick telah siap menanti tuan mudanya di mansion. Melihat mobil yang ditumpangi Bian memasuki mansion, Lincoln segera menghampiri dan memeluk Bian.
Di mata Lincoln, Bian bukan hanya sebagai anak dari bosnya namun ia sudah menganggap Bian seperti anaknya sendiri. Maklum saat Bian kuliah Lincoln lah yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasai Bian.
“Selamat pagi tuan, bagaimana perjalanan anda?”sapa Lincoln saat menyambut Bian.
“Semua lancar, aku hanya kelelahan dan tentunya sangat lapar. Aku merindukan masakan bibi Emma”senyum Bian.
“Tentu saja tuan, makanan anda telah siap. Silahkan anda mengganti pakaian kemudian sarapanlah “balas Lincoln yang diangguki oleh Bian.
“Pagi tuan Lincoln, apa anda masih mengingatku?”tanya Andre.
“Aku tidak mungkin melupakan teman tuan muda yang sangat jahil namun penyayang ini”jawab Lincoln langsung memeluk Andre.
“Aku merindukanmu paman”
“Aku juga nak, silahkan bergantian aku akan menunggu kalian di ruang makan”kemudian mengantar Bian dan Andre ke kamar masing - masing. Setelah itu barulah Lincoln menuju ke ruang makan.
“Emma apa semua sudah siap”tanya Lincoln kepada Emma istrinya.
“Tentu saja sayang, anak kita telah datang aku tidak akan mungkin melewatkan kesempatan untuk memanjakan lidahnya”jawab Bibi Emma antusias.
Bibi Emma adalah istri Lincoln, mereka dipercayakan oleh tuan Kendrick untuk membantu Bian mengelola perusahaan di negara P dan tinggal di mansion Tuan Kendrick.
Bian dan Andre muncul hampir bersamaan, mereka sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan bibi Emma.
“Apa kabar bibi? Aku sangat merindukanmu”Bian memeluk bibi Emma.
“Seperti yang kau lihat aku baik - baik saja nak”membalas pelukan Bian dengan hangat.
Andre yang tepat berada dibelakang Bian pun langsung memeluk bibi Emma sesaat setelah Bian melepaskan pelukannya.
“anak nakal kamu masih belum berubah”ucap Bibi Emma memukul kepala Andre.
“Aku merindukanmu”Ucap Andre.
“Aku juga nak, ayo kalian makanlah sebelum makanan ini dingin”mempersilahkan Bian dan Andre duduk.
Bibi Emma melayani kedua anaknya itu layaknya seorang ibu yang baru saja kedatangan anaknya setelah sekian lama. Inilah yang sangat disukai Bian ketika berkunjung ke negara ini.
“Makanlah bersama kami”ucap Bian kepada Lincoln dan Bibi Emma.
“Baiklah”jawab keduanya.
Hari ini setelah sekian tahun akhirnya Bian bertemu kembali sama orang tua keduanya itu. Mereka makan sambil bercerita. Tak jarang cerita mereka diselingi oleh keusilan Andre.
Mereka terlihat sangat bahagia.
Setelah sarapan Bian dan Andre diikuti Lincoln menuju ke ruang kerja.
“Apa yang terjadi paman, sampai anda menyuruh kami datang?”tanya Bian.
“Ada sedikit masalah di perusahaan, aku mendapat laporan bahwa direktur perusahaan cabang di kota B sedikit ingin bermain dengan kita”
“Ia menjual informasi kepada Enemy Group, mengakibatkan database rahasia kita terserang virus dan saham kita merosot lumayan tajam”ucap Lincoln menjelaskan.
“Enemy Group? Bukankah itu perusahaan milik Tuan Lucas?”tanya Andre.
“Yah benar”jawab Lincoln.
“Jadi dia ingin bermain denganku rupanya”pikir Bian.
“Jadi apa yang akan kita lakukan Bi” tanya Andre.
“Kumpulkan semua ahli IT terbaik kita untuk mengembalikan data kita, setelah itu segera bereskan penghianat itu”jawab Bian dingin.
“Lalu bagaiman denga Tuan Lucas?”tanya Lincoln.
“Serang database mereka secara diam - diam, dan hancurkan perusahaan itu pelan - pelan. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya jika melihat perusahaannya bangkrut”.
“Ndre cari tahu tentang detail perusahaan tuan Lucas di negara S dan pastikan jika kita bisa mengakuisisi beberapa saham di perusahaan itu”
“Paman aku ingin mengadakan rapat besok pagi, sampaikan kepada semua direktur dan kepala - kepala divisi untuk ikut, aku ingin menyapa mereka satu persatu” perintah Bian.
“Baik tuan”Jawab Andre dan Lincoln bersamaan.
Mereka kemudian melakukan pekerjaan masing - masing. Bian dan Andre memutuskan untuk bekerja dari kamar saja. Sedang Lincoln kembali ke kantor untuk mempersiapkan rapat besok.
...****************...
Di kantor seperti biasa Tita sedang bertugas untuk membersihkan ruangan Bian. Ia membersihkan seluruh ruangan itu hingga tidak ada tempat untuk noda menempel.
Setelah ia memastikan jika semuanya telah bersih, Tita kembali ke pantry untuk membuatkan teh buat Bian sesuai jadwal.
Sesampainya di pantry Tita segera membuat Teh. Ia tidak ingin melakukan kesalahan sampai tiga kali.
“Apa teh itu buat Pak Bian” tanya Jessica.
“Iya bu”jawab Tita senyum.
“Sebaiknya berikan padaku, karena Pak Bian sejak hari ini dan beberapa minggu ke depan tidak akan masuk bekerja”terang Jessica.
“Pak Bian tidak ada?”ucap Tita dalam hati. Entah mengapa mendengar penjelasan Jessica ada separuh hatinya terasa sakit.
“Kamu kenapa diam, ayo sini tehnya daripada mubasir kan”tanya Jessica menyadarkan Tita dari lamunannya.
“Ah iya bu baik”
“Apa ada lagi yang ibu inginkan”tanya Tita balik.
“Apa kamu bisa ke toko kue depan kantor kita, aku tadi lupa sarapan”ucap Jessica.
“Bisa bu, ibu catat saja disini apa yang ibu inginkan nanti biar aku belikan” jawab Tita.
Jessica mencatat di kertas kue apa saja yang ia inginkan kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Tita.
“Baik bu, aku pergi dulu”pamit Tita.
Tita kembali ke pantry untuk membawa nampankemudian segera menuju lift untuk mencari pesanan Jessica.
“Pak Bian tidak aku bisa sedikit bernapas lega karena tidak harus bertemu dengan bos aneh itu”icap Tita senang.
“Tapi kenapa seperti ada yang lain diperasaanku? Bagaimana jika Pak Bian sengaja pergi karena tidak kngin bertemu denganku?”
“Akh sepertiny aaku mulai gak waras, mana mungkin seorang Abian Akan memikirkanku yang hanya seorang OB?”
“Meski kami berciuman sudah dua kali tapi itu pasti tidak akan berarti apa - apa buat Pak Bian. Tita…tita kamu jangan sampai bermimpi terlalu tinggi”ucap Tita menyadarkan dirinya sendiri.
Setelah sampai di lantai bawah, Tita segera menuju ke toko kue yang dimaksud Jessica.
Tak butuh waktu lama Tita kembali dan menaiki lift. Ketika menaiki lift Tita bertemu dengan Pak Gugun kepala bagian HRD.
“Pagi pak”sapa Tita.
“Hai Meshwa, lama yah kita tidak jumpa. Bagaimana kabar kamu?”tanya Pak Gugun basa - basi.
Ia yang memang sedari awal menyukai Tita menganggap ini kesempatan langka bisa berdua dengan Tita di lift.
“Baik pak”jawab Tita singkat.
Lift berjalan ke atas. Setelah sampai di lantai 4 yang setahu Tita adalah lantai ruangan pak Gugun, ternyata pak Gugun tidak keluar juga dari lift.
Tita yang memang sedikit polos tidak mencurigainya, ia berpikir mungkin pak Gugun sedang ingin ke lantai lainnya untuk bertemu seseorang.
“Meshwa ada yang ingin aku bicarakan padamu. Apa kamu bisa ikut aku sebentar?”tanya Pak Gugun.
“memangnya bapak mau bicara apa yah?”tanya Tita penuh selidik. Karena setahu Tita ia tidak memiliki urusan dengan pak Gugun. Atau jangan - jangan Pak Bian yang menyuruh pak Gugun untuk memecatnya.
Seketika Tita merasa sesak dan takut karena berpikir ia akan dipecat.
“Nanti kita bicara. Kamu cukup ikut aku saja”ucap Pak Gugun namun tidak menjawab pertanyaan Tita.
“Tapi aku tidak akan dipecat kan pak?”tanya Tita lagi penuh cemas.
“Tidak kamu tenang saja. Justru aku akan menaikkan jabatanmu. Kamu hanya perlu ikut aku”.
“Baiklah pak” jawab Tita tanpa sedikitpun menaruh curiga.
Sesampainya mereka di lantai 25, pak Gugun mengajak Tita menuju ke bagian belakang lantai itu. Tita jarang kesana karena memang disana hanyalah terdapat gudang dan ruangan terbuka.
Tita tidak berani bertanya ia hanya diam dan mengikuti Pak Gugun.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments