Eps 10.

Waktu menunjukkan pukul 12.00, waktunya untuk berehat. Tita kembali ke pantry untuk makan siang. Di pantry sudah nampak bu Nita dan mbak Ajeng. Mereka juga telah kembali ke pantry dan bersiap makan siang.

“Kamu udah makan siang meshwa?”tanya mbak Ajeng ketika melihat Tita memasuki pantry.

“Belum mbak, ini baru mau makan siang”jawab Tita.

“Ya udah kita ke kantin bareng yuk, mumpung belum ada panggilan lagi”ajak mbak Ajeng yang disetujui bu Nita.

“Makasih mbak sebelumnya tapi tadi aku bawa bekal dikasih sama ibu kost, mungkin lain kali yah mbak, bu”tolak Tita halus.

“Oke deh, kalau gitu kami ke kantin dulu yah meshwa”ucap bu Nita dan mbak Ajeng bersamaan.

Setelah bu Nita dan mbak Ajeng pergi, Tita kemudian mengambil bekal yang diberi bu Halimah tadi dan bersiap makan, tak lupa ia membaca doa makan biar makanannya lebih berkah.

“Wah makanannya enak banget ni dan banyak pula, bu Halimah emang the best lah, jadi makin sayang sama bu Halimah”ucap Tita membuka kotak bekalnya.

“Hmmm kok sepi, yang lain kemana ta”panggil Dian.

Ajeng melihat ke arah suara yang menegurnya, ternyata Dian.

“Bu Nita dan mbak Ajeng ke kantin, kalau pak Mul dan bang Rian aku juga belum liat. Kamu udah makan belum yuk makan bareng”balas Tita.

“Yuk…aku ambil bekalku dulu yah”ucap Dian lalu mengambil bekal dan duduk disamping Tita.

Tak berapa lama pak Mul dan Rian muncul disusul oleh bu Nita dan mbak Ajeng.

“Wah enaknya yang bawa bekal jadi gak perlu ngantri di bawah”tegur pak Mul.

“Hehehe iyya pak ini tadi dibuatin bekal sama ibu kost kami”jawab Dian.

“Jadi pengen ngekost di tempat kalian biar dapat bekal heheh”ucap Rian yang langsung duduk di depan Tita.

“Sudah - sudah jangan banyak bicara ayo kita makan”ucap bu Nita yang diangguki oleh semua orang.

Mereka pun makan bersama diselingi cerita - cerita seputar kehidupan masing - masing. Yah mereka hanya bisa bercanda begini saat jam istirahat saja. Tita sangat bersyukur bertemu dengan teman- teman yang sangat baik.

“Bagaimana kalau mulai besok kita bawa bekal saja masing - masing dari rumah, terus nanti kita satuin bekalnya dan makan bareng. Disini kan ada rice cooker jadi kita bisa masak nasi disini”ucap bu Nita memberi ide.

“Wah aku setuju banget itu bu, jadi kita gak perlu lagi antri di bawah”ucap Rian setuju.

“Betul tuh, mana kalau ngantri kita harus mengalah sama karyawan lain maklum strata kita kan terendah disini heheh”ujar mbak Ajeng.

“Iya iya saya juga setuju, kalau kita bawa bekal masing - masing dan makan bareng disini kan kita jadi gak repot dan bisa standby kalau lagi dibutuhkan”ucap Dian diangguki oleh pak Mul dan Tita.

“Kalau semua setuju, mari kita patungan 50 ribu setiap orangnya untuk membeli beras. Nanti biar Pak mul yang beli sama Rian”ucap bu Nita.

“Baik bos”ucap semua.

Dibalik pintu tanpa mereka sadari Bian tengah melihat dan mendengar perbincangan mereka.

“Kenapa senyum gadis itu sangat indah”puji Bian.

...****************...

“Terima kasih atas waktunya, kami merasa terhormat CEO dari Aditama Group bersedia menerima kami dan menanam investasi. Semoga kerja sama kita akan terus berlanjut, aku akan menantikan kedatangan Pak Bian ke negara S untuk melihat langsung proyek pembangunannya”ucap Tuan Lee.

“Tentu saja Tuan Lee, aku pasti akan berkunjung kesana dan terima kasih atas waktunya. Maaf jika ada yang tidak berkenan, kami permisi. Selamat siang”balas Bian menyalami tuan Lee lalu beranjak pergi.

“Permisi Tuan”ucap Andre turut menyalami.

Bian dan Andre memasuki mobil dan bergerak kembali menuju kantor.

“Ndre apa masih ada agenda ku hari ini?”tanya Bian.

“Tidak bos pertemuan tadi yang terakhir”jawab Andre.

“Baiklah kita ke kantor saja masih banyak pekerjaan yang menanti kita untuk di eksekusi”merekahkan senyuman dinginnya.

“Ndre apa kamu sudah mencari tahu keberadaan anak dari pak Bagas?”tanya Bian lagi.

“Belum bos, tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari pak Bagas, pak Bagas hanya menyampaikan bahwa anaknya berumur 20 tahun berkulit putih, cantik dan bernama Tita. Itu saja, foto dan yang informasi lainnya tidak ada, tapi bos tenang saja aku akan tetap menyelidikinya”

“Ya carilah sampai ketemu, hanya kecuali anak itu telah tiada baru mungkin kita tidak akan menemukannya, selagi dia masih hidup pasti akan ada jalan untuk menemukannya”tukas Andre.

“Siap bos”

“Oh iya bos, tadi aku mendapat telepon dari pak Lucas beliau mengajak bertemu. Sepertinya beliau masih penasaran ingin menjadikanmu mantu”

“Hmmmmm….kalau dia menelpon lagi bilang aku tidak ada waktu”

“Baik bos perintah dilaksanakan”

Mobil Bian terus melaju, tak terasa mereka telah sampai ke kantor. Bian dan Andre berjalan beriringan. Sudah menjadi kebiasaan di kantor ini jika CEO mereka dan asistennya lewat mereka dengan senang hati memandang dan memuji ketampanan mereka, tak jarang banyak wanita yang bahkan sampai berpura - pura terjatuh di depan mereka. Namun tentu saja Bian tak pernah menanggapinya, ia malah memberikan senyuman dinginnya yang seperti akan membunuh siapapun yang mengganggu jalannya. Karyawan yang diberikan tatapan dingin itu seketika bergidik ngeri seakan malaikat maut sedang menatapnya untuk menjemputnya.

“Tampan sih tapi menakutkan”bisik - bisik para karyawan.

“Iya apa dia tidak pernah senyum yah, tapi emang gantengnya kebangetan sih. Aku mau deh walau dijadikan simpanannya”ucap yabg lainnya.

“Husssst apa kamu gak takut kalau pak Bian dengar, kita bisa saja kehilangan pekerjaan.”.

Andre dan Bian yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan berlalu menuju lift.

“Kau akan selalu menjadi idola bos”ledek Andre.

“Hmmmm”ucap Bian tanpa ekspressi.

Sesampainya di lantai 25 Bian yang awalnya ingin segera masuk ke ruangannya, tiba - tiba mengingat gadis OB itu. Bian pun berpura - pura kebelet pipis agar Andre tidak curiga.

“Ndre aku ke toilet dulu yah aku kebelet”ucap Bian berbohong.

“Tapi kan di ruangan kamu juga ada bos? Ucap Andre heran.

“Aku sudah kebelet kalau aku ke ruanganku mungkin aku akan mengeluarkannya sebelum sampai di toilet”Bian bergaya seperti sedang kebelet.

“Oh baiklah bos aku tidak ingin menjadi luapan amarahmu karena kau membuang sembarang airmu, aku ke ruanganku dulu”pamit Andre meninggalkan Bian.

“Huft untung saja Andre gak curiga”lega Bian.

Bian menuju toilet umum di lantai 25, sebelum sampai di toilet Bian berhenti di depan pantry. Yah disinilah tujuan sebenarnya Bian, toilet dan kebelet hanyalah pemanis.

Bian melihat gadis itu sedang makan siang bersama, Bian yang memang sangat kepo hanya memantau dibalik pintu. Entah kenapa seperti ada magnet yang membuat Bian ingin selalu melihat gadis itu.

“Kenapa senyum gadis itu sangat indah”puji Bian.

Sesaat Bian mengagumi kecantikan Tita, gadis itu sangat sempurna dengan kulitnya yang putih mulus, rambutnya yang panjang dan tentunya senyumnya yang menambah kecantikannya menjadi paripurna. Bian yang sedang asyik mengagumi wajah OB yang menurutnya lebih cocok jadi model tiba - tiba tersadar.

“Ah kenapa aku memujinya dia kan cuma OB, apa kata orang kalau melihatku memuji seorang OB, mungkin otakku sudah bergeser dari tempatnya”Bian menyudahi kegiatannya dan bergegas pergi. Dia tak mau ada karyawan yang melihatnya sedang menguping, bisa turun elektabilitas yang sudah Bian bangun selama ini jika ia ketahuan.

Bu Nita tak sengaja melihat sosok Bian. Tapi ia tidak yakin karena tidak mungkin seorang CEO akan berada di tempat seperti itu. Tita yang melihat bu Nita kebingungan kemudian bertanya.

“Bu Nita kenapa melihat ke arah pintu? Tanya Tita.

“Oh itu tadi saya seperti melihat pak Bian sedang berada di balik pintu, tapi saya gak yakin”jawab Bu Nita.

“Gak mungkin pak Bian bu mungkin itu karyawan yang kebetulan sedang lewat dan ingin ke toilet”ucap Dian tak percaya.

“Iya juga sih seorang Abian Jazuan Kendrick CEO ADITAMA GROUP gak mungkin akan berada disini”ucap bu Nita lagi.

Mereka pun kembali bercerita, ketika sedang asyik telepon di pantry berbunyi. Ajeng segera mengangkatnya.

“Halo pantry disini, ada yang bisa saya bantu?, oh baik bu,saya akan menyampaikannya, makasih bu”. Ajeng menutup teleponnya dan menghampiri Tita.

“Meshwa Pak Bian menyuruh mu membuatkan segelas teh sekarang dan segera bawa ke ruangannya”

“Aku?”tanya Tita.

“Iya meshwa kamu, kan kamu yang bertanggung jawab di ruangan Pak Bian” lanjut Ajeng.

“Baiklah” ucap Tita segera bangkit.

Entah kenapa persaan Tita sedikit tidak enak, semoga saja ini bukan bagian dari hukuman dan bukan akhir dari pekerjaanya.

...****************...

*Author ucapkan banyak terima kasih kepada teman - teman yang telah membaca, semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar baik kalian yah agar author lebih bersemangat. **🥰🥰*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!