Eps 9.

Pagi hari di kediaman Kendrick, suasana riuh terjadi di dapur. Nyonya Anneth sejak subuh sudah berkutat menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Sejak dulu nyonya Anneth lah yang selalu memasak untuk keluarganya. Itu karena jika dirumah Tuan Kendrick hanya ingin makan masakan istrinya.

Nyonya Anneth sangat bersemangat sekali memasak, dimulai dengan membuat ayam goreng original kesukaan Bian kemudian membuat capcay dan udang saos padang kesukaan Tuan Kendrick. Tak lupa ia juga membuat jus kesukaan keluarga.

“Bi tolong ini semua makanan yang sudah siap kamu letakkan ke meja yah, piring gelas sendok dan garpunya juga kamu tata dan jangan lupa di lap dulu”ucap Nyona Anneth kepada Bi Tini.

“Baik nyonya”ucap bu Tini sigap mengerjakan apapun yang diperintah nyonya besarnya itu.

Setelah semua telah tersaji di meja, nyonya Anneth pun mulai teriak mengabsen suami dan anaknya.

“Pi….Bian makan yuk”teriak nyonya Anneth.

“Siap nyonya papi otw sayang”jawab Tuan Kendrick.

Setelah mengabsen nyonya Anneth duduk di meja makan sambil menunggu murid - muridnya alias suami dan anaknya untuk sarapan bersama.

“Wah wangi banget ni makanan, masak apa mi?”tanya Tuan Kendrick menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang.

“Ada udang saos padang dan capcai kesukaan papi juga ayam goreng kesukaan Bian. Ayo duduk dong pi, mami sesak nih dipeluk begini”ucap mami melepas pelukan papi.

“Sesak… sesak tapi semalam pengennya dipeluk terus”goda papi.

“Husss papi masih pagi udah gombal deh, ayo sini duduk kita sarapan”

“Siap sayangku”jawab tuan Kendrick langsung duduk di sebelah nyonya Anneth.

“Anak kesayangan kamu mana mi, tumben belum nongol?”tanya Tuan Kendrick.

“Itu anaknya nongol, ayo Bi kita sarapan bareng”menunjuk Bian yang sedang menuruni tangga dan menghampiri kedua orang tuanya.

Bian kemudian duduk, dan ikut sarapan.

“Makan yang banyak Bi, ni mami sengaja buatnya dari subuh loh”ucap nyonya Anneth mengambilkan Bian makanan di piringnya.

“Iya mi”jawab Bian singkat.

“Papi gak diambilin nih mi, Bian aja gitu?”protes papi.

“Duh papi sama anak sendiri aja protes, nih mami ambilin”ucap nyonya Anneth sewot.

“Gitu dong baru istri solehah”

Bian yang sedari tadi melihat tingkah kedua orang tuanya tersenyum lalu kembali menikmati makanannya. Ayam goreng mami memang tidak pernah mengecewakan bagi Bian, selalu dan selalu enak.

“Bi kamu belum ada niatan untuk menikah nak, apa perlu mami cariin? Teman mami banyak ko yang anaknya cantik - cantik, dan mereka pasti gak akan menolak”tanya nyonya Anneth.

“Mami tahu kan Bian gak suka namanya perjodohan, Bian masih bisa kok cari pasangan sendiri. Hanya saja saat ini Bian masih fokus sama kerjaan Bian dan makanan enak buatan mami”balas Bian.

“Tapi mami kan pengen punya mantu Bi, biar bisa mami ajak ke salon, shopping dan arisan. Lagian usia kamu juga udah pas untuk menikah sayang”ucap nyonya Anneth.

“Kan masih bisa ajak papi mi, banyak keuntungannya bisa sekalian dibayarin juga”ucap Bian asal.

“Hmmm papi mana enak di ajak jalan, palingan juga banyak alasannya”nyonya Anneth sewot.

“Mami tunggu aja, kalau udah waktunya pasti Bian akan menikah dan mami punya menantu yang bisa diajak jalan. Tapi bukan sekarang yah mami”balas Bian tersenyum.

“Baiklah, tapi janji yah mau cariin mami menantu”

“Janji mami sayang, ya udah aku ke kantor dulu. Hari ini ada meeting dengan perusahaan dari negara S. Bye mi”mencium tangan mami dan papinya.

“Hati - hati sayang, kabari mami yah kalau kamu berubah pikiran dan mau mama kenalin sama anak teman mami”ucap nyona Anneth masih berusaha.

“Hmmm”jawab Bian kemudian segera beranjak.

Bian tidak ingin berlama - lama disana, maminya pastilah akan terus menerus menjodohkannya dengan anak temannya. Dan pastinya Bian akhirnya tak akan tega jika maminya terus memohon, jadi daripada semakin panjang mending Bian segera pergi.

“Jalan pak”perintah Bian kepada pak Mardi.

“Baik tuan muda”ucap pak Mardi kemudian melajukan mobil menuju kantor.

“Mi, kamu jangan memaksakan kehendak sama Bian, mami tahu kan gimana Bian. Biarkan Bian menentukan jalan hidupnya, kita sebagai orang tua cukup mendukung apapun keputusan Bian”ucap papi menegur istrinya.

“Iya..iya. Mami kan cuma usaha aja pi, siapa tahu dapat jackpot dan Bian mau heheh”balas mami ketawa.

...****************...

Tita mulai bertugas, setelah perkenalan singkatnya dengan teman - teman kerjanya tadi dan beberapa penjelasan singkat dari mbak Nita, Tita kemudian mengganti seragam dan mulai bekerja. Dia ditugaskan untuk membersihkan ruang kerja pak Bian, bos yang katanya sangat dingin dan kejam (kata teman kerja Tita sih).

Tita memasuki ruangan bosnya itu, hawa dingin mulai menyeruak di ruangan itu, entah karena apa. Tiba - tiba saja Tita merinding disko rasanya.

“Huft orangnya belum datang tapi aura ruangannya sudah terasa dingin dan bikin bulu kudukku merinding disco, gimana kalau si empunya ruangan datang”gumam Tita dalam hati.

Tita sejenak terpana dengan design ruangan pak Bian. Ruangannya sangat besar, bahkan mungkin sama besarnya dengan rumah Tita di kampung. Diruangan itu terdapat meja dan kursi kerja, disampingnya terdapat beberapa lemari dan rak untuk menyimpan buku. Di tengah terdapat sofa dan meja, juga ada kulkas dan beberapa pajangan.

Tita membersihkan semua dengan telaten, ia sangat mengingat pesan mbak Nita, jika pak Bian sangat menyukai kebersihan. Dia tak segan memarahi bahkan memecat siapapun yang mengotori ruangannya. Setelah membersihkan sofa dan meja tamu, Tita kemudian membersihkan meja dan kursi kerja. Saat asyik membersihkan Tita melihat pajangan foto keluarga. Itu tentunya Pak Bian dan kedua orang tuanya. Karena tadi Dian menjelaskan bahwa Pak Bian masih sangat muda.

“Tampan juga bos besar, itu pasti menurun dari ayah dan ibunya, kalau dia jadi pacarku mungkin keren yah”ucap Tita berkhayal.

Saking enaknya memandangi foto itu, Tita tidak menyadari bahwa ada seseorang dengan tatapan tajam sedang memperhatikan dan menunggu untuk memangsanya.

“Ehm…sudah puas kau pandangi fotoku”tegur Bian.

Tita yang ditegur seketika kaget dan tanpa sadar menjatuhkan bingkai foto itu.

“Ma..maaf pak aku tidak sengaja”ucap Tita ketakutan dan langsung beranjak dan bersiap keluar.

“Siapa yang suruh kamu keluar? Kamu sudah dengan seenaknya memandangi fotoku dan setelah ketahuan kamu mau pergi begitu saja? “

“Maaf pak tadi aku cuma membersihkan foto bapak kok gak ada maksud apa - apa”ucap Tita takut.

“Aku tidak peduli kamu sudah merusak moodku dengan menyentuh barang - barangku lebih dari 1 menit dan Kamu harus membayar atas kesalahanmu itu”

Tita yang ketakutan langsung bersujud dan memohon kepada Bian.

“Jangan pecat aku pak, aku mohon. Aku baru saja bekerja disini, dan aku sangat mengharapkan pekerjaan ini. Aku janji tidak akan berani menyentuh barang - barang bapak lagi, asal bapak jangan pecat aku yah”ucap Tita memelas.

Bian yang seperti mendapat mainan barunya tiba - tiba saja ingin mengerjai Tita. Menurutnya gadis itu sangat polos dan tentunya cantik. Cantik? Tanpa Bian sadari ini kali kedua dia memuji kecantikan seorang wanita selain Alana.

“Aku akan pikirkan apa hukumanmu, sekarang keluar dari ruanganku dan buatkan aku secangkir teh, ingat jangan sampai gagal, jika gagal kamu bukan cuma ku pecat tetapi akan ku penjarakan” ancam Bian pura - pura.

“I..iya pak, aku permisi”ucap Tita pamit.

Setelah Tita pergi meledaklah tawa Bian, dia tidak menyangkan akan mendapat hiburan pagi ini. Andre yang mendengar tawa Bian pun sampai masuk ke ruangan Bian, maklum saja Bian jarang tersenyum bahkan ketawa sejak putus dengan Alana.

“Kenapa bos, apa kamu sedang nonton film komedi? “Tanya Andre asal.

“Apa kamu tahu OB yang baru saja keluar dari ruanganku?

“Tidak Bi, aku baru melihatnya sepertinya dia OB baru. Kenapa dengannya. Apa dia melakukan kesalahan?”tanya Andre lagi.

“Dia tidak melakukan kesalahan, dia hanya memandangi fotoku. Dan aku berpura - pura akan memecatnya karena sudah menyentuh fotoku lebih dari 1 menit. Hahahah gadis itu sangat polos dia percaya itu dan langsung bersujud agar tidak kupecat”.

“Aku menyuruhnya membuatkanku teh yang enak kalau dia gagal aku akan memecatnya, dia ketakutan dan langsung keluar hahahahah gadis cantik itu sungguh membuatku merasa ingin terus ketawa”ucap Bian terbahak - bahak.

“Lucu dari mananya? Perasaan itu gak lucu sama sekali deh?”gumam Andre dalam hati.

“Tadi bos bilang gadis itu cantik? Wah ini adalah rekor setelah bertahun - tahun hanya Alana wanita tercantik versi Bian sekarang Abian orang yang terkenal dingin dan datar akhirnya menyebut wanita lain cantik”ucap Andre menepuk tangannya.

“Maksud aku bukan cantik tapi polos ndre kamu salah dengar?”balas Bian berbohong.

“Telingaku masih waras bos dan aku tidak mungkin salah dengar”

“Keluar kamu, aku tidak ingin melihat mukamu”usir Bian.

“Baik bos”Andre keluar dengan tersenyum menang.

“Kamu masih tetap sama Bi, masih gengsian”ucap Andre menggelengkan kepalanya.

“Sialan kenapa aku bisa menyebut gadis itu cantik. akhhh apa yang aku pikirkan”Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Pagi pak, ini teh yang bapak pesan tadi” Tita datang mengetuk pintu membawakan teh untuk bosnya.

“Kamu jangan keluar dulu aku akan mencobanya kalau enak kamu boleh keluar kalau tidak maka habislah riwayatmu”

Tita sangat ketakuta mendengar bosnya itu berbicara. Sungguh apa yang dibicarakan orang - orang bahwa bos besar mereka sangatlah dingin dan datar adalah benar adanya ditambah satu lagi kejam pikir Tita.

Bian menyeruput teh yang Tita buat. Enak itulah rasa yang pertama kali Bian rasakan.

“Siapa nama kamu”tanya Bian.

“Meshwa pak” jawab Tita menunduk.

“Baiklah karena tehmu bisa diterima oleh lidahku maka aku tidak jadi memecatmu, tapi kamu tetap harus dihukum”

“Hukuman kamu adalah setiap harinya setelah selesai membersihkan ruanganku, kamu buatkan aku teh seperti ini. Dan rasanya tidak boleh berubah harus sama seperti sekarang. Jika sedikit pun rasanya berubah maka gajimu akan kupotong 50%. Paham?” Tanya Bian.

“Paham pak, itu saja? Tanya Tita.

“Oh jadi kamu ingin hukuman yang lebih? Baiklah tambahannya kamu harus tetap berada disini sampai tehku habis. Sudah jelaskan, sekarang kamu boleh keluar”

“Ba..baik pak”Tita keluar dari ruangan itu.

Tita menyesal telah salah bicara, akhirnya hukumannya ditambah. Bosnya itu ada - ada saja hukumannya. Tapi setidaknya dia tidak jadi dipecat. Tak apalah harus tiap hari tungguin Pak Bian minum teh sampai habis daripada haris dipecat dan kehilangan pekerjaan, bisa - bisa dia tidak akan pernah bisa menjemput ayahnya.

Tita kembali ke pantry disana terlihat Dian dan Rian yang juga baru selesai mengerjakan tugasnya.

“Gimana meshwa, kerjaan kamu lancar?”tanya Dian.

“Yah gitu deh, aku tadi kena hukuman dari pak Bian karena tidak sengaja menjatuhkan foto pak Bian. Untungnya aku gak dipecat hanya disuruh lebih teliti saja saat kerja”ucap Tita berbohong. (Gak mungkinkan bilang ketahuan memandang foto bos heheheh).

“Ya ampun meshwa pantas saja saya liat kamu tadi terburu - buru buat teh ternyata kamu habis dimarahi yah, lain kali lebih hati - hati yah mesh”ucap Rian.

“Iya aku masih beruntung, aku gak akan ceroboh lagi”

“Santai meshwa namanya juga kamu baru kerja jadi wajar kalau masih kikuk”ujar Rian menyemangati.

“Iya makasih yah Rian”

...****************...

*Tetap dukung Author yah, maaf jika masih terdapat typo sana typo sini, author akan mecoba memperbaiki. Silahkan tinggalkan komentar baik dan like kalian. **🥰🥰🥰*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!