Eps 11.

Bian kembali ke ruangannya, Jessica sang sekretaris langsung menghampirinya.

“Ini berkas dari divisi keuangan untuk bapa periksa”ucap Jessica menyerahkan beberapa berkas yang harus Bian periksa.

“Oke, kamu boleh keluar”balas Bian singkat.

Jessica yang sudah sangat mengenal sifat sang bos mengangguk dan keluar dari ruangan Bian.

Bian memeriksa berkas - berkas itu, namun ia tidak bisa fokus, bayangan gadis OB yang tersenyum masih saja berkelebat di benak Bian. Bian menutup berkas itu dan menghubungi Jessica.

“Jessica tolong suruh OB yang bertugas bersihkan ruanganku untuk buatkan aku 2 teh dan bawa segera dan juga panggil Andre keruanganku”ucap Bian di telepon.

“Baik pak, ada lagi pak”tanya Jessica.

“Tidak itu saja, jangan lupa panggil Andre”

“Baik pak”

Jessica menghubungi pantry dan menyampaikan pesan pak Bian dia juga tak lupa menghubungi Andre, setelah selesai ia pun melanjutkan pekerjaannya.

“Bos masih di ruangan?”tanya Andre membuka pintu.

“Iya bapak langsung saja, bapak sudah ditunggu pak Bian”

“Oke”langsung menuju ruangan Bian.

“Ada apa bos?”tanya Andre.

“Ini berkas dari divisi keuangan tolong kamu periksa, aku lagi tidak bisa fokus”Bian menyodorkan berkas pada Andre.

“Baiklah, apa kamu sedang sakit bos? Sejak pertemuan dengan pak Lee aku lihat ada yang aneh denganmu. Kamu baik - baik saja kan Bi?tanya Andre khawatir.

“Aku baik - baik saja ndre hanya sedang capek saja”jawab Bian malas.

“Baiklah, kamu boleh bicara padaku kapanpun jika kamu sudah siap Bi” Andre tahu ada yang mengganggu pikiran bos sekaligus sahabatnya itu.

Bian tidak menjawabnya, dia hanya diam tanpa ekspresi. Andre pun memeriksa berkas - berkas yang Bian kasih. Saat sedang asyik memeriksa, Tita mngetuk pintu. Setelah dipersilahkan Tita masuk dan membawa teh pesanan Bian.

“Ini tehnya pak”ucap Tita hati - hati lalu meletakkan teh di meja kerja pak Bian dan juga di meja tempat pak Andre.

Bian tidak menjawab, dia hanya fokus menatap Tita. Entah kenapa dia sangat suka menatapnya, seperti ruang kosong di hatinya telah terisi kembali setelah sekian lama.

Andre yang mengetahui gelagat Bian tersenyum lalu meminum tehnya.

“Siapa nama kamu?”tanya Andre pada Tita.

“Aku meshwa pak”jawab Tita.

“Nama yang bagus, kamu yang buat teh ini?”tanya Andre lagi, dia sengaja banyak bertanya untuk melihat ekspresi Bian. Andre curiga bosnya itu sedang terpana pada gadis cantik di depannya ini.

“I..iya pak, apa tehnya tidak enak pak? Biar aku ganti dengan yang baru”

“Ini enak, dan kalau boleh aku ingin dibuatkan teh seperti ini setiap harinya meshwa”ucap Andre melirik Bian.

Mendengar bucara Andre seperti ada api yang membakar tubuh Bian, dia memicingkan matanya dan mengepalkan tangannya.

“Apa maksumu ndre? Dia adalah OB yang bertanggungjawab di ruanganku, jadi dia hanya boleh membuatkan aku teh bukan orang lain termasuk kamu”ucap Bian dengan tatapan membunuhnya.

“Dia memang bertanggung jawab di ruanganmu bos, tapi dia juga bisa membuatkan ku teh setelah membersihkan ruanganmu, benar kan meshwa?”

Tita yang merasa berada di antara hidup dan mati tidak menjawab, ia semakin ketakutan dan terus menunduk tanpa berani menatap dua orang yang sedang berdebat.

“Segala sesuatu yang menjadi milikku tidak boleh menjadi milik orang lain, kecuali jika kamu ingin mati muda ndre”jawab Bian dingin.

“Weis aku bercanda bos, Baiklah aku permisi dulu. Oh yah meshwa yang tadi jangan kau pikirkan aku cuma bercanda”balas Andre dengan senyum kemenangan.

Andre menghampiri Bian dan berbisik”kamu tidak bisa menyembunyikannya Bi”kemudian berlalu meninggalkan Bian yang masih sangat kesal dan Tita yang ketakutan karena ulahnya.

“Kau keluar dari ruanganku, dan bawa teh ini juga keluar, aku sudah tidak mood untuk meminumnya. Besok pagi kau buatkan aku lagi dan ingat jika aku melihatmu membuatkan orang lain teh maka aku akan langsung memecatmu atau mungkin membunuhmu”ancam Bian penuh amarah.

“Ba…baik pak”ucap Tita mengambil teh dan segera berlalu meninggalkan Bian.

Bian berhasil dibuat kesal oleh Andre, bisa - bisanya Andre bersikap begitu. Andre seolah tahu apa yang ada di pikiran Bian.

“Sialan kamu ndre, awas saja kamu. Tapi kenapa aku mesti marah kalau Andre memujinya? Dia kan cuma OB yang kelasnya jauh dibawahku. apa yang terjadi padaku?. Akkhhh” Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

...****************...

Keluar dari ruangan CEO Tita segera menuju pantry, Tita merasa sangat kehausan seolah habis berjalan ratusan kilometer. Menghadapi bos yang sikapnya seperti pak Bian tentu menjadi beban tersendiri buat Tita. Ini hari pertama ia kerja dan harus menerima ancaman pemecatan sampai dua kali. Andai ia tidak sedang punya misi mungkin ia akan dengan senang hati mengundurkan diri.

“Apa yang ada di otak pak Bian, dia yang suruh buat teh dia juga yang suruh bawa balik tanpa meminumnya, mana pake acara ancam mengancam lagi”keluh Tita.

“Ini baru hari pertama dan aku sudah mendapat ancaman dari pimpinan dua kali, Tuhan berilah kesabaran bagi hambamu ini agar bisa lebih kuat menghadapi bos aneh seperti pak Bian”

Ajeng masuk dan melihat Tita sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Kamu kenapa meshwa? Ko kamu bicara sendiri gitu? Lagi ada masalah?” Tanya Ajeng.

“Oh gak mbak, lagi ingat orang tua di kampung saja, “ucap Tita berkelit.

“Oh ya mbak aku boleh tanya gak?”Tita balik bertanya ke Ajeng.

“Boleh, kamu mau tanya apa?”duduk disamping Tita.

“Mbak kan udah lama kerja disini, mbak juga pasti tahu kan dengan sifat orang - orang disini. Aku mau tanya nih apa CEO kita itu rada aneh yah”

“Aneh gimana maksud kamu? Kamu buat kesalahan lagi?”tanya Ajeng antusias.

“Gini mbak, tadi yang mbak suruh aku buat teh buat pak Bian dan pak Andre, aku buatin kan dan aku bawa ke ruangan pak Bian sesuai arahan mbak. Setelah aku bawa bukannya diminum malah disuruh kembalikan lagi tehnya, kata pak Bian sudah tidak mood untuk minum teh. Aku jadi mikir apa tehku yang memang tidak enak atau memang CEO kita itu yang rada aneh. Tapi kalau teh dia kan belum coba, lagian pagi tadi juga pak Bian tidak komplain dengan teh yang aku buat”jelas Tita panjang lebar.

“Mungkin PAk Bian sedang ada masalah kali, atau mungkin pak Bian masih jengkel kamu jatuhin fotonya pagi tadi, tapi sikap pak Bian memang begitu sih. Dingin datar dan terkesan kejam. Aku juga dulu pernah dimarahin hanya karena lupa membersihkan vas bunga di ruangannya untung saja ada pak Andre yang bantuin, itulah kenapa aku minta sama bu Nita untuk pindah ruangan aja heheh. Tapi meskipun begitu pak Bian orangnya baik, kita OB dilantai ini sering dikasih bonus tambahan sama pak Bian”ucap Ajeng menerangkan.

“Saranku kamu sebaiknya kerja lebih hati - hati dan ikutin apapun yang pak Bian mau. Biar gak makin ribet nantinya, ntar juga pasti hilang marahnya si bos. Setidaknya kamu masih sedikit beruntung tidak berhujung dipecat, banyak karyawan disini yang dipecat hanya karena masalah sepele. Jadi kamu lebih waspada yah nanti”pesan Ajeng.

“Iya mbak aku akan lebih waspada, lagipula aku belum mau dipecat dari sini, masa baru sehari kerja sudah dipecat kan gak lucu heheh, aku juga harus kumpulin banyak uang untuk jemput ayahku di kampung”

“Kita memang harus semangat demi keluarga kita hhehe”

“Seru banget nih obrolan, pasti lagi gosipin orang kan? “Dian tiba - tiba muncul.

“Siapa juga yang gosipin orang, nih kita lagi menikmati masa senggang sebelum waktunya pulang”ucap Ajeng menekan hidung Dian.

“Aduh sakit tahu mbak, lagi ada jerawat disitu”merungis kesakitan

“Maaf deh maaf, aku bikinin teh mau?”tawar Ajeng.

“Mau mau, sekalian dengan kuenya dong mbak biar perfect heheheh”

“Huh kamu yah Dian gak berubah dari dulu, tunggu bentar yah tadi aku sempat bawa kue dari rumah”

“Nih makan kuenya”Ajeng menawarkan kepada Dian dan Tita.

“Kalau aku dan pak Mul gak dibuatin mbak”ucap Rian yang baru saja selesai bekerja muncul bersama pak Mul.

“Kamu buat sendiri minumnya sekalian dengan pak Mul, baru kesini kita makan kuenya bersama - sama”

“Buatin sekalian dengan saya yah Rian”ucap bu Nita yang juga baru menyelesaikan pekerjaanya dan mengambil tempat duduk di sebelah Dian.

“Siap bos, di tunggu yah”Rian membuat teh untuk bu Nita dan kopi untuk dirinya dan pak Mul, kemudian bergabung bersama teman - temannya.

“Bagaiman kerja kamu hari ni meshwa, kamu senang gak?”tanya bu Nita.

“Alhamdulillah senang bu, apalagi aku bisa kerja bareng kalian semua senang banget rasanya, gak sabar untuk hari - hari berikutnya”ucap Tita semangat.

“Syukurlah kalau kamu senang, semoga kamu betah yah. Oh iya besok kalian semua jangan lupa bawa bekal untuk besok, pak Mul dan Rian kalian tidak perlu bawa bekal kasian isteri kalian nanti direpotin lagi”ucap bu Nita lagi.

“Baik bos”ucap mereka serentak.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!