“Ndre apa semuanya telah siap?” Tanya Bian ketika Andre masuk ke ruangannya.
“Siap bos, Pak Mardi juga sudah membawa pakaianmu”.
“Apa kita berangkat sekarang?”Andre balik bertanya.
“Ya jika semua telah siap”jawab Bian datar.
Bian memasuki ruang pribadinya untuk berganti pakaian. Tak berapa lama gantian, Bian disusul Andre meninggalkan ruangannya. Mereka menaiki lift dan langsung ke basement. Disana Pak Mardi telah menunggu untuk mengantar mereka menuju bandara.
“Kamu tampak tidak bersemangat Bos, apa karena akan meninggalkan gadis OB beberapa minggu hingga CEO tampan kita ini banyak diam”ledek Andre setelah mereka duduk di pesawat pribadi Bian.
“Apa maksuk kamu? Gadis OB siapa?”jawab Bian berpura - pura.
“Kamu tidak bisa berbohong padaku bos, kita berteman sudah sangat lama jadi segala sesuatu yang ada didirimu aku mengetahuinya”
“Aku tadi melihatmu sedang mengintip gadis itu, dan aku bahkan tahu bahwa kamu sengaja menghukum gadis itu”ucap Andre panjang lebar dan tentu saja dengan senyum khas kemenangannya.
“Aku tidak mengintipnya aku hanya kebetulan lewat. Dan untuk hukuman itu karena gadis itu telah menabrakku itu saja tidak lebih”elak Bian.
“Benarkah cuma itu? Lalu mengapa kamu melarangku untuk memintanya membuatkanku teh?. “Tanya Andre lagi layaknya seorang detektif.
“Hmmmm…itu… anu….”Bian tidak tahu akan menjawab apa.
“Sudahlah Bi, kamu tidak bisa mengelak. Gadis itu memang cantik meskipun cuma OB. Semua orang yang melihatnya pun pasti akan langsung jatuh hati”.
“Apa perlu aku mencari tahu tentang gadis itu?”tanya Andre lagi.
“Tidak usah, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, aku tadi cuma kebetulan lewat lalu gadis itu menabrakku dan aku menghukumnya. Itu saja”jawab Bian masih tetap mengelak.
“Baiklah bos kalau memang kamu tidak mau mengakuinya, sekedar info banyak karyawan yang menyukainya. Aku hanya mengingatkan tapi jangan diambil hati toh kamu tidak menyukainya” Andre tersenyum penuh makna.
Bian hanya diam saja mendengar perkataan Andre. Ia bukannya tidak mau mengakui perasaannya tapi ia belum yakin, lagipula gadis itu hanya seorang OB. Apa kata dunia jika ia berhubungan dengan seorang OB.
Dan di lubuk hatinya yang terdalam Bian masih tidak bisa melupakan Alana. Mantan terindahnya.
“Alana masih tersimpan disini ndre belum ada wanita lain”ucap Bian pelan sambil memegang dadanya.
“Aku akan membantumu melupakan Alana Bi, aku janji. Dan aku tahu saat ini hatimu telah terbagi hanya saja kamu belum menyadarinya. Aku akan membantumu semakin dekat dengan Meshwa sang gadis yang telah menyita perhatianmu”ucap Andre dalam hati.
Setelah perbincangan itu mereka pun tertidur, banyaknya pekerjaan dan perjalanan yang masih sangat panjang membuat mereka memilih untuk merilekskan badan di pesawat.
...****************...
Tita dan Dian telah sampai ke kost. Hari ini mereka cepat pulang dikarenakan pekerjaan mereka yang tidak terlalu banyak. Sebelum pulang tadi mereka menyempatkan ke pasar untuk membeli bekal besok.
Mereksa sedang duduk di teras kamar Tita, setelah sebelumnya makan di warung bu Halimah. Dian melihat temannya itu sedang melamun. Sejak pulang dari pasar Tita memang tiba - tiba menjadi lebih banyak diam dan banyak melamun.
“Ta kamu kenapa? Sejak dari pasar aku melihatmu banyak melamun? Apa yang kamu pikirkan? “Tanya Dian memecah suasana.
“Aku sedang memikirkan ayahku Dian, kamu tahu kan pria yang tadi kita ketemu?”tanya Tita.
Dian mencoba mengingat dan yah ia pun ingat tadi bertemu dengan seorang pria yang Tita kenal dan setelah pertemuan itu Tita menjadi gadis mode silent.
“Yah aku ingat siapa dia?, apa dia yang buat kamu seperti ini?”tanya Dian penasaran.
“Iya Dian. Itu tadi tetanggaku di kampung. Tadi dia bercerita kalau sejak aku kabur ayah ku pun sudah tidak pernah terlihat”
“Kata dia, ayahku diusir oleh ibu tiriku dan rumahku dijual kepada orang yang ingin menikahiku sebagai pengganti diriku”.
“Aku takut terjadi sesuatu dengan ayahku, ayahku susah berjalan dia sedang sakit, akan kemana ayahku jika terusir dari rumah hiks …”jawab Tita menjelaskan dengan derai air mata.
Mendengar cerita Tita, Dian juga ikut bersedih. Ia pun mencoba menenangkan sahabatnya itu.
“Bagaimana jika sabtu nanti kita ke kampungmu mencari ayahmu, nanti kita coba ijin sama bu Nita aku akan menemanimu”ucap Dian.
“Aku takut Dian, aku takut jika nanti aku pulang dan bertemu ibu tiriku, aku pasti akan di tangkap dan kembali dinikahkan. Aku tidak mau masuk ke neraka itu lagi Dian. Aku bingung harus gimana hiks …. Hiks”tangis Tita.
Dian berpikir sejenak, dan kemudian bertanya lagi.
“Apa kamu tidak menyimpan nomor handphone tetanggamu yang lain yang sekarang berada di kampung? Siapa tahu mereka tahu dimana ayahmu”tanya Dian.
Tita terdiam mencoba mengingat.
“Oh iya aku ingat, aku pernah menyimpan nomor telepon temanku di buku diaryku”
Tita segera membongkar lemarinya dan mencari buku diary. Setelah menemukannya ia langsung membuka lembar demi lembar, karena ia ingat jelas pernah meminta nomor telepon temannya, namun karena ia tidak memiliki handphone makanya ia menulisnya di buku.
“Aku menemukannya Dian, ini nomor telepon Siti temanku di kampung”Tita memperlihatkannya kepada Dian.
“Ya sudah coba kamu telepon, nih pake handphone aku dulu”tawar Dian.
Tita memeluk Dian berterima kasih. Ia kemudian menekan nomor yang ia catat dulu. Beberepa detik menunggu akhirnya berdering tanda bahwa nomor itu aktif.
“Halo Assalamu alaikum, ini dengan siapa?”tanya suara di seberang telepon.
“Apa benar ini Siti?”tanya Tita.
“Iya benar, ini siapa ya?”tanya Siti lagi.
“Ini aku Tita”
“Tita anaknya Om Bagaskara, teman kecilku? Ya Allah Tita kamu kemana saja aku mencarimu kemana - mana tapi tidak ketemu”
“Ceritanya panjang Siti, nanti kalau ketemu aku cerita”
“Siti apa aku boleh bertanya? “
“Boleh Ta, kamu mau tanya apa?”.
“Apa kamu tahu kabar ayahku?”tanya Tita pelan.
“Tahu Ta, Om Bagas diusir setelah mama Renata tahu kamu kabur dan Om Bagas yang telah diusir terpaksa meninggalkan rumah dan pergi mencarimu. Aku sempat menawari om Bagas untuk tinggal dirumahku tapi om Bagas menolak dan pergi”jawab Siti.
“Apa kamu tahu ayah perginya kemana?”tanya Tita penuh harap.
“Aku tidak tahu, tapi beberapa hari yang lalu aku bertemu om Bagas di pasar. Ia terlihat lebih sehat, Pakaiannya sangat rapih dan memakai kursi roda”.
“Kami sempat bercerita lumayan lama, kata om Bagas ia ditolong oleh anak muda dan membawanya kerumah orang itu. Om Bagas juga bercerita kalau ia diperlakukan baik, dan dia diijinkan tinggal sampai ketemu kamu”. Terang Siti panjang lebar.
“Terus apa ayah bilang dimana rumah orang yang menolongnya itu?” Tanya Tita lagi.
“Itulah masalahnya Ta, aku tidak sempat bertanya karena om Bagas sedang terburu - buru saat itu”jawab Siti sedih.
“Jadi kamu juga gak tahu yah dimana ayah berada”tanya Tita lemas.
“Maaf yah Ta, aku tidak bisa bantu banyak”.
“Gak apa- apa Siti, ceritamu juga sudah banyak membantu. Setidaknya aku tahu kalau ayahku baik - baik saja dan dia bersama orang baik”jawab Tita berusaha tegar.
“Siti jika nanti kamu bertemu ayahku lagi maukah kamu menanyakan dimana alamat tempat tinggalnya kini dan kamu bisa memberitahuku lewat telepon ini. Ini nomor sahabatku namanya Dian”
“Baik Ta, aku akan lekas memberitahumu jika nanti bertemu om Bagas, nomor teman kamu ini akan aku simpan”.
“Baiklah Siti teleponnya aku tutup yah, gak enak kalau kelamaan, sekali lagi terima kasih yah. Aku akhirnya bisa sedikit tenang setelah menghubungimu, jangan lupa jika ketemu ayahku tolong yah pesanku tadi”
“Dan maaf aku telah merepotkanmu”.
“Kamu tidak pernah merepotkan Tita, kamu adalah sahabat kecilku, aku menganggapmu sebagai sodara. Kamu disana jaga dirimu yah Ta. Semoga kamu sukses dan cepat bertemu dengan om Bagas”.
“Assalamu alaikum Ta”.
“Waalaikum salam Siti” tutup Tita.
Tita menutup teleponnya, ia kini tidak terlalu sedih seperti tadi. Dian yang sedari tadi penasaran dengan pembicaraan Tita di telepon langsung bertnaya.
“Bagaimana apa sudah ada kabar tentang ayahmu?”tanya Dian penasaran.
Tita menceritakan semua pembicaraannya dengan Siti. Dian memepehatikannya dengan seksama layaknya murid yang mendengar gurunya menjelaskan pelajaran.
“Setidaknya kita sekarang tahu kalau ayahmu baik - baik saja, dan kamu jangan sedih lagi. Ayahmu di tempat yang baik bersama orang baik. Semoga nanti ada kabar baik dari Siti dan akhirnya kamu bisa menjemput ayahmu”ucap Dian menenangkan sahabatnya itu.
“Aamin, makasih yah Dian. Aku senang diberi kesempatan kenal dengan teman sebaik kamu. Makasih yah”Tita memeluk Dian.
Mereka berpelukan beberapa saat, Tita sangat bahagia memiliki sahabat seperti Dian. Dian telah banyak membantunya.
“Ini sudah malam, yuk kita istirahat biar besok bisa bangun lebih cepat. Ingat kamu jangan kepikiran lagi yah semangat”ucap Dian.
“Siap bos, makasih yah mimpi yang indah Dian. Sampai ketemu besok”
Dan akhirnya mereka kembali ke kamar masing - masing untuk beristirahat.
“Ya Allah jagalah selalu ayahku dimanapun ia berada , terima kasih telah mempertemukan ayahku dengan orang baik”.
“Berikanlah umur panjang dan kebahagiaan kepada orang yang telah menolong ayahku,lancarkan segala urusannya” Tita menutup doanya kemudian bersiap tidur.
...****************...
Bagaimana menurut teman - teman kisah Tita??
*Semoga kalian menyukainya yah **🥰🥰*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments