Prameswari Pratista Bagaskara atau Tita merupakan anak tunggal dari Bagaskara Wijaya dan Athalia Citra. Tita gadis yang cantik juga cerdas, hatinya mulia penuh kebaikan. Kehidupan Tita bersama ayah dan ibunya sangatlah bahagia saat itu.
Umur 6 tahun Tita harus kehilangan ibunya karena sakit, dan Tita tumbuh besar hanya bersama ayahnya. Ayah Bagas sebenarnya adalah orang yang cukup berada di kotanya, dia merupakan pengusaha yang terbilang sukses. Tetapi, setelah menikah dengan Renata Ellery kehidupan ayah Bagas dan Tita pun berubah sangat drastis.
Mama Renata memiliki seorang anak perempuan bernama Livia Faleia, namun sifat Livia sangatlah mirip dengan mama Renata. Livia tidak pernah menyukai Tita, entah karena apa Livia selalu menganggap kalau Tita adalah saingan yang harus dia singkirkan secepat mungkin.
Hobby mama Renata yang suka berjudi dan berbelanja menjadikan usaha ayah Bagas bangkrut dan menyisakan banyak hutang. Pasca bangkrut ayah Bagas terpaksa harus bekerja serabutan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Hingga suatu ketika terjadi sebuah kecelakaan, ayah Bagas tertimpa material bangunan saat bekerja yang mengakibatkan dirinya susah berjalan dan tidak dapat mencari pekerjaan lagi. Disinilah awal penderitaan Tita.
Kasih sayang yang Tita dapatkan dari mama Renata di awal - awal pernikahannya dengan ayah Bagas kini tidak ada lagi. Mama Renata selalu saja marah kepada Tita, apapun yang Tita lakukan akan selalu salah di mata mama Renata, ditambah Livia yang sering memprovokasi mamanya menjadikan mama Renata menjadi sangat benci kepada Tita.
Mama Renata dan Livia selalu menyiksa Tita setiap ada kesempatan, semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Tita. Tita hanya boleh beristirahat dan makan setelah semua pekerjaan selesai.
“Titaaaaa…bangun kamu, lihat ini sudah jam berapa. Mama belum sarapan, apa kamu mau mama mati karena tidak sarapan ha? “Teriak mama Renata membangunkan Tita.
“Maaf ma, badanku sakit semua sepertinya aku akan demam ma, apa bisa hari ini aku istirahat dulu, nanti setelah badan aku agak enakan aku kembali kerja ma “ucap Tita.
“Apaa? Kamu demam? Kalau kamu sakit siapa yang akan menyiapkan makanan untuk mama dan Livia, siapa yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah? Belum lagi siapa yang akan merawat ayahmu?” Ucap mama Renata dengan mata melotot.
“Kamu kan tahu mama sudah memecat Bibi karena ayah kamu sudah tidak bisa bekerja, lalu kalau kamu sakit siapa yang akan mengerjakan semuanya, siapa?”ucapnya lagi.
“Baik ma, aku akan mengerjakan semua” balas Tita sambil beranjak dari tempat tidurnya.
“Nah gitu dong, bereskan semuanya mama gak suka liat rumah berantakan “ seru mama Renata.
“Hei jelek, nih baju aku di setrika yang rapih yah aku mau keluar awas aja kalau sampai kamu rusakin ni baju mahal tau kamu tidak akan sanggup belinya” ucap Livia tiba - tiba datang melempar bajunya ke arah Tita.
“Ya”ucap Tita singkat sambil berlalu.
“Livia, kamu memangnya mau kemana hari ini. Masih pagi udah mau pergi aja”tanya mama Renata.
“Aku ada klien ma orang kaya, jadi aku harus prepare dengan baik” jawab Livia sambil senyum.
“Wah kamu harus tampil cantik sayang biar klien kamu puas dengan servis kamu, dan jangan lupa bawa uang yang banyak, mama sudah lama gak shopping”
“Sip ma, apa sih yang gak buat mama”ucap Livia memeluk mama Renata.
“Kamu memang anak mama”mencium kening Livia.
Tita melihat keakraban Livia dan mamanya tiba - tiba merindukan ibunya, jika saja ibunya masih hidup mungkin Tita akan mendapatkan pelukan dan kasih sayang juga dari ibunya. Tanpa Tita sadari mama Renata memperhatikan Tita sejak tadi.
“Hey kamu kenapa bengong bukannya kerja”
“Ba..baik ma” ucap Tita sedikit berlari.
Tita langsung menuju dapur untuk membuat sarapan buat keluarganya. Setelah membuat sarapan ia lalu mengambil pakaian kotor memilah - milah pakaian putih dan berwarna lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci. Tita kemudian menyetrika pakaian tak lupa ia membangunkan ayahnya untuk sarapan dan minum obat. Setelah memastikan semua orang sudah sarapan dia kemudian lanjut untuk bersih - bersih rumah dan halaman.
Terkadang jika Tita melupakan satu hal dalam pekerjaannya, dia harus menerima hukuman tambahan dari mama Renata. Entah itu hukuman cambuk atau harus terkurung dalam gudang sehari semalam tanpa makan dan minum. Tapi Tita tetap melakukannya dengan sepenuh hati dengan harapan bahwa suatu hari nanti mama Renata dan Livia akan menyadari kesalahannya dan kehidupan akan berjalan bahagia seperti dulu, meski Tita pun sendiri tidak tahu kapan itu terjadi.
Hari ini pekerjaan Tita terasa berat, itu karena Tita sedang tidak enak badan ditambah pekerjaan yang sepertinya semakin banyak saja setiap harinya. Ayah Bagas yang meihat Tita pun merasa sedih dan iba. Tita yang dulunya berlimpah kasih sayang sekarang harus merasakan pahitnya hidup, di usianya yang seharusnya menikmati indahnya masa perkuliahan dan bergaul bersama teman - temannya harus dia kubur dalam - dalam demi melakukan pekerjaan layaknya pembantu bahkan di rumahnya sendiri. Tak terasa air mata ayah Bagas mengalir di pipinya.
“Nak, kamu istirahat sayang, sejak tadi ayah lihat kamu belum sedikitpun menyentuh makanan”ucap ayah Bagas.
“Eh ayah kenapa ayah bangun? Ayah kan masih sakit? Mari Tita bantu ayah ke kamar”balas Tita kaget.
“Tidak nak, ayah sudah capek tiduran saja. Tita…kamu istirahat lah nak lihat badan kamu sangat panas, kamu bahkan belum minum obat Tita”ucap ayah khawatir.
“Tidak ayah aku masih kuat kok, setelah ini selesai aku akan makan dan minum obat lalu istirahat. Ayah sebaiknya juga ke kamar istirahat” ucap Tita mencoba mengalihkan.
“Tita maafkan ayah nak, karena ayah sakit dan tidak punya penghasilan lagi kamu jadi tidak bisa melanjutkan kuliahmu nak. Ayah juga minta maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik buat kamu, ayah tidak bisa berbuat apa - apa saat mama Renata dan Livia semena - mena terhadapmu, ayah sudah gagal menjaga amanah ibu kamu. Maafkan ayah nak”ucap ayah Bagas dengan berderai air mata.
“Tidak ayah, ini bukan salah ayah. Ini sudah menjadi takdir yang harus Tita jalani. Allah sedang menguji kita tapi aku ikhlas menjalaninya karena aku yakin suatu saat nanti mama Renata akan menyadari kesalahannya dan kembali baik sama kita. Ayah jangan bersedih, aku gak mau ayah sakit karena ayah terlalu banyak pikiran” ucap Tita sambil menyeka air mata ayah dan memapahnya kembali ke kamar.
“Makasih Tita, kamu anak baik semoga kebahagiaan akan segera datang untukmu nak” ucap ayah Bagas memeluk Tita.
“Istirahatlah ayah, aku harus menyelesaikan ini semua sebelum mama Renata atau Livia pulang…cup” mencium kening ayah lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
...****************...
*Semoga kalian suka yah ceritanya **🥰🥰. Jangan lupa tinggalkan komentar baik dan membangun yah agar author lebih semangat nulisnya 😘😘*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments