"Rivera aku takut.." Melody memegang tangan Rivera, ternyata disini yang lebih ketakutan adalah Melody ia sampai menutup matanya tak berani melihat sekeliling saat menyadari bahwa hari sudah sangat gelap.
"Bukan lo doang yang takut ody, aku juga." Rivera tersenyum terpaksa, sesuai janjinya tadi ia akan melindungi Melody apapun yang terjadi. Rivera berusaha keras untuk tidak ketakutan walaupun kakinya gemetaran.
"Dy kita harus keluar dari sini, pegang tangan gua." Melody memegang tangan Rivera, ia berada tepat dibelakang Rivera. Melody berusaha susah payah untuk membuka matanya tapi ia takut saat membuka mata tiba tiba ada jumpscare.
Rivera menuntun Melody, perlahan ia membuka pintu uks. Saat ia melihat keluar, bulu kuduknya berdiri. Ruangan sangat sepi sunyi dan gelap. Rivera sempat berfikir untuk masuk lagi kedalam tapi jika ia tak pulang hari ini, ia takut kena marah.
'bjir banget kata gua mah.' Rivera menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya keluar dari uks tersebut.
Ia harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk bisa sampai pada tangga. Lorong yang gelap dan sunyi itu entah kenapa tiba tiba membuatnya sedih, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"Rivera, kamu ga takut?." Pertanyaan tiba tiba dari mulut Melody membuat Rivera terkejut.
"Gila lo dy, kaget anjay."
"Kok kaget? Ada apa?."
"Lo tiba tiba ngomong anjay, siapa yang ga kaget, yang tadinya sunyi tiba tiba ada suara."
"Kaget karena aku berarti?."
"IYAAA ODY, KALAU BUKAN LO SIAPA LAGI? KUNTI BOGEL?."
"Aku cuma tanya, kamu marah ya?."
"OD-."
Sebelum Rivera melanjutkan teriakkan nya karena merasa gregetan terhadap Melody, tiba tiba saja ada suara seperti ada barang keras jatuh yang sangat kencang hingga membuat kedua insan tersebut terdiam seketika. Suara tersebut berada pada lantai satu, kali ini Rivera benar benar ragu untuk turun kebawah tapi ia sudah berada tepat didepan tangga, jika harus memutar balik dan kembali ke uks ia tidak sanggup lagi untuk melihat lorong menakutkan itu.
Disisi lain Melody terjatuh, kakinya sudah tidak tahan untuk menopang tubuhnya. Melody sangat takut dengan kegelapan. Apalagi setelah mendengar suara itu, ia sudah berfikir buruk bahwa dibawah pasti ada hantu yang siap mengganggu nya.
"Raa, kita berhenti disini aja yaaa."
Rivera menoleh kearah Melody, ia melihat badan Melody yang bergetar ketakutan.
"Lo mau tidur disini?." Rivera menghampiri Melody, ia mengelus kedua tangan Melody untuk menenangkannya.
"Gpp ada gua disini, sebelum kita benar benar terjebak disini dan ketahuan satpam lebih baik kita pergi apapun yang terjadi, kalau lo tetap disini dan ketahuan satpam hidup lo bakal berakhir dy." Rivera ingat pada salah satu peraturan di sma ini, siapapun yang masih berada di sekolah pada malam hari mereka akan dipanggil oleh kepala sekolah dan diberikan poin. Rivera juga ingat bahwa Melody adalah anak beasiswa, jika ia dapat poin pelanggaran ia akan langsung dikeluarkan dari sekolah apalagi mengingat banyak anak donatur membenci Melody, masalah ini pasti akan dibesar besarkan oleh Bella dkk.
"Gua bakal lindungi lo, toh ini juga cuma malam ga ada bedanya, yang membuat takut itu cuma pikiran negatif kita." Rivera mengulurkan tangannya untuk membantu Melody berdiri.
Melody sempat ragu, tapi untuk beberapa detik ia mencerna perkataan Rivera. Apa yang dikatakan oleh dirinya itu benar, ia harus berjuang apapun yang terjadi untuk bertahan di sekolah ini sampai lulus ia tidak ingin mengecewakan keluarganya.
"Makasih banyak ya.." Melody menerima uluran tangan dari Rivera, ia tersenyum hangat padanya. Ia tak menyangka bahwa Rivera sangat baik padanya padahal dulu saja Rivera sangat membenci bahkan jijik padanya.
"Siap untuk turun tangga?." Rivera menaikkan salah satu alisnya, ia tersenyum pada Melody. Ia berharap mereka bisa keluar tanpa ada sesuatu dan ia berharap semoga saja dilantai bawah tidak ada apa apa saat ia teringat mendengar suara keras tadi. Dilantai bawah pun tak kalah luas dari lantai 2 bahkan dilantai bawah yang terhubung dengan lobi utama membuatnya harus berjalan sangat jauh untuk menuju pintu keluar belum lagi ia harus melewati halaman depan yang tak kalah luas untuk mencapai gerbang sekolah.
'Semoga aja benar benar ga ada apa apa.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments