Kantin

Bel istirahat berbunyi sangat keras, sesuai janji Rivera tadi. Kini rivera dan Adira sudah berada di kantin, kantin yang sangat luas dan lebar ini bahkan sudah dipenuhi dengan manusia.

"Lo cari duduk aja, gua pesennin."

Adira mengangguk permintaan Rivera, sebenarnya Adira masih ragu terhadap Rivera bahkan ia tak berani untuk berbicara dahulu kepada Rivera.

"Lo mau pesen apa?."

Adira sempat ragu untuk menjawab, lagi dan lagi ia takut jika salah bicara Rivera akan mempermalukannya kantin yang sangat ramai ini.

"Mie ayam." Ucapnya dengan nada pelan, bahkan sampai membuat Rivera tidak mendengarnya. Rivera hanya memperhatikan ucapan mulutnya agar paham apa yang Adira bicarakan.

"Oke, buruan cari kursi kosong sebelum dipenuhi semuanya." Rivera langsung berlari kearah tempat jual mie ayam, bahkan sangat ramai tapi bukannya mengantri mereka hanya berebut dengan berteriak satu sama lain agar bisa cepat di layani.

"BUKK MIE AYAM 2 SAMA ES TEH DUAAAAAAAAAA." Rivera berteriak sekuat tenaga bahkan membuat murid yang ada didepanya menutup telinga nya dan membuat telinga berdenging.

Adira hanya bisa menggeleng melihat tingkah Rivera, mungkin ia harus melupakan sifat Rivera dulu. Adira merasa Rivera benar benar ingin memperbaiki kesalahannya. Adira melupakan sesuatu ia harus mencari bangku kosong, tapi saat melihat lihat bangku tak ada satupun yang kosong. Adira kebingungan sekaligus takut gimana jika Rivera marah, tapi untungnya saat Adira melihat lihat ada satu bangku kosong ditengah tengah paling belakang, dengan cepat Adira langsung saja duduk menempati bangku tersebut.

Beberapa menit telah berlalu, Rivera datang bersama karyawan mie ayam yang berada dibelakang Rivera dengan dua mie ayam dan dua es teh.

"Taruh sini aja kak."

karyawan tersebut menaruh mie ayam dan es teh tersebut.

"Makasih kak." Ucap Rivera dan hanya dijawab senyuman oleh karyawan itu.

"Ayo dimakan, gak usah sungkan sungkan. Gua yang bayar." Kata Rivera sambil mengedipkan sebelah matanya setelah itu tertawa geli melihat tingkah nya sendiri.

"Makasih dan maaf." Ucap Adira yang membuat Rivera mengurungkan niatnya untuk melahap mie ayam yang sudah ada tepat didepan mulutnya.

"Maaf buat apa? seharusnya gua yang minta maaf, maaf beribu beribu pun rasa sakit mu gak akan terhapus."

mendengar kata kata Rivera, Adira dengan cepat menggelengkan kepalanya. Memang benar seharusnya Rivera lah yang minta maaf, tapi kali ini Adira juga merasa bersalah karena telah meragukan ketulusan Rivera.

"Minta maaf karena udah nge raguin permintaan maaf mu."

"Ragu? Gua wajarin kok, seharusnya lo yang gak usah paksain. Pelan pelan aja, kalau belum bisa nerima permintaan maaf gua, gua gapapa dan gua wajarin."

Adira menggelengkan kepalanya tak setuju dengan perkataan Rivera. "Lo baik ra, gua tau lo pengen memperbaiki kesalahan kesalahan lo. Walau lo juga pernah jahat ke gua, tapi lo baik ra."

Mendengar tuturan dari Adira, Rivera tersenyum bahagia sekaligus lega. Ia tak menyangka bahwa Adira akan cepat menerima dan memaafkannya, Adira sebaik itu kenapa Rivera dulu bisa membully nya.

"Jadi gua dimaafin nih?." Adira mengangguk dengan cepat sambil menunjukkan senyum manisnya.

"Berarti kita teman kan?." Rivera mengulur kan tangannya.

"Teman." Adira menerima uluran tangan Rivera sambil tersenyum dan mengangguk.

"Pinjam dulu seratus." Ekspresi Rivera berubah menjadi datar, mukanya memerah melihat ekspresi dari Adira. Akhirnya Rivera tertawa terbahak bahak melihat ekspresi dari Adira yang sangat terkejut.

"Bercandaa tauu." Menurut Rivera ekspresi Adira sangat lucu, dari tersenyum lebar tiba tiba berubah terkejut. Pada akhirnya Adira yang mendengar kata bercanda dan tawaan lepas Rivera ia ikut tertawa juga. 'Ternyata begini rasanya punya teman.'

Dibangku sederet dengan bangku Rivera hanya berjarak 1 bangku panjang terdapat bergerombolan cowok yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, tanpa sepatah katapun. Melihat mereka berdua akur saja membuat segerombolan cowok itu terkejut, apalagi melihat mereka tertawa lepas.

"Gua ga pernah lihat Rivera tertawa." Cletuk Rion tiba tiba.

"Gua lebih kaget lagi ngelihat mereka akur." Timpal David.

"Dia bener bener berubah ga ya."

"Tapi rada ngeri sih liat dia tiba tiba berubah."

Kata demi kata diucapkan oleh mereka, bahkan mereka tak henti henti melihat Rivera yang asing memakan mie ayam dan bergurau ria.

Disisi lain seorang siswi mengepalkan tangannya, ia memandang sinis diam diam kearah Rivera dengan berbagai pikiran untuk menjebak Rivera.

"Sialan."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!