"Lo duduk dibangku pojok kanan belakang." Ucap Areksa. Mereka berdua telah sampai dikelas Rivera, Rivera tak menyangka bahwa abangnya ternyata baik padanya. Padahal Rivera kira dulu Areksa lah yang paling menakutkan dan sangat membenci dirinya.
"Makasih abangkuu." Senyuman manis dari Rivera membuat Areksa tersenyum tipis, dulu saja saat Rivera meminta berangkat sekolah bareng saja ia ogah ogah an, baru sekarang ia mau mengantar adiknya itu.
Tanpa pikir panjang Rivera langsung saja masuk kedalam kelasnya itu, kelas yang tadi riuh bahkan dari luar sampai kedengaran tiba tiba terdiam seketika saat melihat Rivera. Mungkin bagi mereka Rivera adalah murid baru dan orang baru, tapi bagi Rivera mereka juga orang baru.
Jantung Rivera berdetak kencang, tangannya tremor, Rivera mengingat kondisi yang ia alami ini mirip saat baru pertama masuk sma maupun pertama masuk smp. Saat perkenalan dengan orang baru, jantungnya akan berdetak dengan cepat bahkan tangannya tremor. Rivera sempat ragu, apakah ia bisa merubah sifat Kimora dulu, menjadi Rivera sekarang dengan sifat yang extrovert dan mempunyai banyak teman bahkan terkenal disekolah ini bukan karena sifat bully nya melainkan kebaikannya atau malah ia akan tetap menjadi Kimora yang nolep lagi. Tapi ia sudah janji bahwa akan merubah pandangan orang orang terhadap Rivera. 'Pelan pelan aja dulu gapapa.'
Rivera menaik nafas perlahan, otaknya sempat ribut tentang hal yang ingin ia utarakan pada semua teman kelasnya yang kini menatapnya dengan tatapan kebingungan. Tidak mungkin jika Rivera memperkenalkan dirinya apalagi dengan perkenalan yang formal seperti saat pertama kali masuk sekolah sedangkan jika teman temanya tahu jika dirinya Rivera tanpa perkenalan pun mereka pasti tau siapa Rivera.
"Eh lo murid baru?Diem bae didepan." Cletuk salah satu murid cowo, lamunan Rivera buyar. 'Pertanyaan bagus.' Rivera merasa tertolong dengan pertanyaan itu, ia tak harus lagi memikirkan apa yang seharusnya ia ucapkan.
"Gua Rivera." Ucap Rivera setenang mungkin walau ia sedikit tremor dan takut.
Mendengar itu membuat semua orang terdiam seribu bahasa, yang awalnya berbisik-bisik satu sama lain kini semuanya terdiam, mereka semua tidak menyangka dengan kata kata yang barusan diucapkan.
"Rivera? Rivera Ellmora Mackenzie?." Tanya salah satu cowo yang duduk di pojok kiri belakang dengan tujuan untuk memastikan agar dirinya tak salah paham dan akhirnya diiyakan dengan anggukan oleh Rivera. Anggukkan dari Rivera membuat semua murid lagi dan lagi terkejut, tidak mungkin siswi yang ada didepannya itu adalah Rivera, mereka berdua adalah dua kubu yang sangat berbeda. Apalagi saat melihat Rivera berdiri didepan dengan keraguan dan gugup menjadi satu. Rivera yang dahulu saja tidak begitu, vibes nya saja sudah sangat berbeda. Rivera yang sekarang lebih seperti siswi yang kalem, pendiam bahkan seperti bukan siswi yang urak urakan atau bersifat buruk.
"gua ingin minta maaf kepada kalian semua, apalagi buat orang yang pernah gua bully dulu. gua minta maaf, jika permintaan maaf ini gak cukup buat nyembuhin luka kalian, gua siap lakuin apapun agar kalian bisa maafin gua." Kedua tangan Rivera saling bertaut meremas seragam sekolahnya, ekspresi gugup terlihat jelas pada wajahnya. Semua orang yang ada di kelas itu sangat terkejut dengan tuturan yang barusan Rivera ucapkan.
"Lo lagi drama?." Tanya seorang siswi yang duduk tepat didepan Rivera berdiri.
Dengan cepat Rivera menggelengkan kepalanya, ia sudah tahu jika semua orang tak akan percaya padanya jika ia berbicara seperti ini. 'Gila gua seperti orang bodoh.'
"Maaf." Rivera menundukkan kepalanya, ia tahu bahwa yang ia lakukan seperti seorang cupu yang sedang meminta maaf. Tapi bodo amat, Rivera hanya ingin reputasi nya membaik, itu saja.
Sebenarnya melihat tingkah laku Rivera saat ini, ada beberapa murid yang bergidik ngeri. Tak biasanya bahkan tak pernah mereka melihat tingkah laku Rivera saat ini, ia lebih ngeri lagi jika Rivera seperti ini ia akan berbuat lebih tak senonoh lagi.
"Lo seriusan ver?."
"Iyaa, pasti kalian gak maafin." Anggukannya disertai dengan kedua jari yang sembari tadi meremas seragam sekolahnya.
"Kita maafin kok ver, kita cuma takut aja lo bakal bertingkah lagi."
"BENERAN? GUA JANJI GAK BAKAL NGEBULLY KALIAN LAGI." Kini Rivera menegakkan kepalanya dengan mata yang berbinar binar bahagia, ia berseru bahagia karena temannya mau memaafkan walau mungkin dalan hati mereka masih ada keraguan.
"Sebenarnya gua lupa ingatan, jadi lupa nama nama kalian." Rivera berharap mereka mengerti dengan sedikit penjelasan dari Rivera agar mereka memperkenalkan dirinya.
"Gua Xavier, ketua kelas disini." Tanpa aba aba dan pertanyaan lainya Xavier langsung saja memperkenalkan dirinya dan diikuti oleh murid lainnya.
"Gua vernando."
"Gua Velincia-"
Semua orang memperkenalkan dirinya masing masing, kini Rivera tahu nama mereka walaupun tidak ingat, tapi suatu saat pasti hafal dengan nama mereka masing masing. Dan Rivera merasa senang jika semua orang menerimanya dengan hangat.
"Gua boleh duduk didepan sana ga." Rivera menunjuk ke bangku kedua depan kanan.
"Lo mau duduk sini? Seriusan? Boleh banget woi, sebenarnya itu bangku gua yang lo rebut dulu."
"Hehehe maaf." Akhirnya Rivera bisa duduk ditempat yang ia mau, sebenarnya ia suka suka aja dengan bangku belakang, cuma jika guru menjelaskan ia pasti akan ketiduran.
"Namamu tadi siapa?." Tanya Rivera pada teman sebangku nya itu.
"Gua Adira." Jawabnya, Adira merupakan salah satu korban dari bullyan Rivera, setiap hari Rivera selalu memalak Adira. Saat Rivera memutuskan duduk sebangku dengan nya, ia merasa sedikit takut walaupun tadi ia mendengar sendiri bahwa Rivera meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
"Lo kenapa?." Rivera bertanya kepada teman sebangku nya itu, tapi yang ditanya hanya menggeleng sambil menunduk. Rivera tahu pasti Adira takut dengannya, Rivera hanya bisa menghela nafas lelah. Separah inikah Rivera yang asli sampai membuat orang gemetaran jika berdekatan dengannya.
"Dir nanti ke kantin yok, tunjukkin kantinnya aku lupa. Kamu mau ga?." Ajak Rivera kepada Adira. Adira yang merasa diajak pun menoleh kepada Rivera tak menyangka bahwa Rivera mengajak dirinya. Akan tetapi pikirannya tiba tiba mengatakan bahwa mungkin saja ia akan dipalak saat tiba di kantin tadi, atau malah ia akan dipermalukan di kantin seperti dahulu kala.
"Tenang gua traktir." Putus Rivera saat melihat keraguan pada wajah Adira, Rivera bahkan sesekali melihat kedua tangan Adira yang saling menggenggam dan bergerak gelisah. 'Maafin gua Adira, walaupun bukan gua yang bully lo. Tapi si Rivera sialan ini, pasti lo tersiksa ya selama ini.' Rivera tahu pasti bagaimana perasaan Adira, dahulu kala saat sd bahkan sampai smp ia juga pernah dibully alasannya hanya satu karena ia terlalu pendiam dan takut untuk membalas, maka dari itu Rivera sangat tahu pasti bagaimana rasanya diposisi korban.
Adira secara reflek menoleh kearah Rivera, ia tak salah dengar. Tak mungkin seorang Rivera seperti ini. Dengan ragu Adira mengangguk kan kepalanya, seenggaknya pikiran buruk tentang akan dipalak oleh Rivera sedikit mereda. 'Dia benar benar berubah?'
"Nanti istirahat langsung ke kantin!." Rivera tersenyum lebar, akhirnya Adira mengiyakan ajakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments