Sma cendrawasih

Sebuah mobil yang ditumpangi oleh Rivera telah tiba didepan gerbang sma cendrawasih. Semua mata tertuju pada Rivera saat ia keluar dari mobil.

"Itu siapa coy? Murid baru kah? Cakep bener uy."

"Gila cakep bener."

"Andai dia pacargua, udah gua ajakin ke KUA kali ya."

"Andai muka gua kayak dia, tiap detik gua foto terus."

Dan masih banyak lagi celotehan murid murid Sma cendrawasih saat melihat Rivera keluar dari mobil, kini Rivera memasuki gerbang sekolah. Rivera dibuat takjub oleh sekolah itu, gedung gedung yang besar dan luas seperti sekolah di luar negeri. "Ga nyangka gua bisa sekolah disini."

Hal yang paling ditakuti Rivera kini telah tiba, bodohnya ia lupa dimana letak kelasnya. Ia hanya tahu bahwa ia kelas 11 MIPA 1. Sekarang ia kebingungan harus bertanya kepada siapa, gak mungkin dia tanya ke murid lainnya.

Disisi lain, disebuah tempat santai dipojok aula utama. Ada sekelompok murid laki laki sedang memperhatikan Rivera.

"EH ADA MURID BARU, CAKEP WOII." Ucap Gheo si cowo kribo

"Iya cuy, putih kinclong. Natural lagi, aduh kesemsem abang neng." Ucap David sambil memegang dadanya.

"ALAYY." Ucap secara serentak 10 murid yang ada disana, mereka sudah tahu bahwa sifat temanya ini sangat playboy alay.

"Tapi kok kayak gak asing sih."

Ada sekitar 10 murid yang berada ditempat santai itu, benar mereka adalah untoksik. Sudah menjadi tradisi mereka sebelum bel masuk, mereka akan nongkrong di ruang santai terbuka itu.

Saat sedang kebingungan, mata Rivera tak sengaja tertuju pada geng untosik yang dimana juga memperhatikan Rivera dari kejauhan. Tanpa berfikir panjang, Rivera menghampiri mereka. Bukan dengan tujuan caper, melainkan tanya dimana kelasnya. Kan ga ada salahnya jika rivera harus bertanya kepada abang atau kembaranya yang juga berada disana bukan.

"Tuhkan belum apa apa, si eneng udah tertarik sama abang." Kata David sambil memukul pelan dadanya untuk menunjukkan kesombongannya.

"Najis goblk." Karel menggeplak kepala David, karel bergidik ngeri melihat kepedean teman satu bangkunya itu yang tak kunjung hilang juga.

Sesampainya ditempat itu, Rivera langsung menarik seragam River tanpa pikir panjang.

"Tunjukin kelas gua cepet." Ucap Rivera sambil menarik seragam River, sebenarnya tak sampai ketarik banget hanya saja seperti mencubit seragam sekolah nya.

"Apaan sih lo." River menempis kasar tangan Rivera hingga membuatnya tersentak.

"Lo budeg? Gua lupa kelas gua." Ucapnya dengan ekspresi kesal.

"Lo bisa tanya temen lo."

"Elah bang, ada cewe cantik minta dianterin kok gak mau sih." Cletuk Rion memotong pembicaraan Rivera dengan River.

"Kalau gua tau, gua juga ogah ogahan minta tolong lo asuu."

"Caper lo?." Tanya River sambil mengangkat salah satu alisnya. Ia tahu siapa cewek yang ada dihadapannya itu karema tadi pagi ia sudah bertemu dengan nya. Walau kembaranya itu sudah berubah dari penampilan. Rivera tetaplah Rivera, bahkan River berfikir bahwa Rivera mengubah penampilan dan berpura pura lupa ingatan pasti karena ingin caper.

"Ohh jancok tenan cah iki kon." Rivera benar benar gemas dengan kembarannya itu, sudah ia berburu buru ingin segera ke kelas malah dikatain caper.

"Rivera." Tegur Areksa, nadanya yang mengintimidasi membuat Rivera diam seketika.

Saat Areksa menyebut cewek itu dengan nama Rivera, semua orang yang sedari tadi menyaksikan percekcokan antara River dan Rivera seketika shock berat, Cewek yang ada didepannya Rivera? Cewek yang selalu berpakaian ketat bahkan make up tebal sekarang berubah 100°?. Semua cowo yang ada diruang santai itu memandang satu sama lain, bahkan Karel dan David melongo sambil melotot karena tak percaya dengan kenyataan yang barusan ia terima. Hanya dengan satu kata membuat semua orang terdiam, benarkah ia Rivera yang mereka kenal dulu, apakah dampak jatuh dari gedung sekolah sehebat ini. Kalau diingat ingat, kalau benar cewek itu Rivera, kenapa ia enggan untuk menempel dengan Alastar seperti dahulu kala.

"Iler lo netes." Ucap Rivera sambil menunjuk kearah Karel dan David yang tak kunjung menutup mulutnya.

"Kenapa?." Kini Rivera beralih ke Areksa abang kandungnya.

"Gua anterin."

"NAHH GITU DONG, ELAH LAMA BANGET PAKEK DRAMA SEGALA." Seru Rivera sambil memukul punggung Areksa, saking senangnya ia yak nyadar bahwa pukulannya sangat keras sampai berbunyi. Sang empu yang dipukul tersebut hanya bisa menatap Rivera dengan tatapan tajam, tapi sang pelaku hanya cengengesan tak berdosa.

"Ayo bangg. abang baik ih gak kayak kutu kadal ini." Ajak Rivera sambil melirik kearah River pada kata kata terakhir nya dengan niat menyindirnya.

Saat Areksa dan Rivera sudah jauh dari ruang santai, semua orang yang ada disana akhirnya bisa menetralkan pikiran mereka masing masing. Mereka sedari tadi menatap Rivera dengan pandangan dan reaksi yang berbeda beda.

"Seriusan itu Rivera?." Tanya Rion pada River dan hanya dijawab dengan deheman saja, menandakan peng-iyaan dari River dan membuat semua orang lagi dan lagi terkejut karena kepastian kenyataan dari kembaran Rivera sendiri.

"Buset, dia benet bener berubah anj."

"Sifatnya berubah juga gak ya, percuma kalau berubah penampilan tapi sifat kagak."

"Kalau gua lihat, tetep busuk sih." Timpal River dengan entengnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!