Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Rivera, akhirnya ia akan masuk sekolah lagi. Tapi kini bukan sebagai Kimora melainkan Rivera. Sebenarnya Rivera sedikit gelisah dengan reputasi buruk yang dimiliki Rivera ini, bagaimana jika ia kesusahan untuk beradaptasi dan memperbaiki reputasi nya, apalagi saat menjadi Kimora dulu ia tidak pernah berkenalan dengan murid luar kelasnya bahkan dulu saja jika ia tidak diajak berkenalan dulu, mungkin di kelas ia juga tidak akan memiliki seorang teman.
"Se nolep itu gua dulu buset." Ucap Rivera sambil memandang dirinya yang sudah memakai seragam barunya didepan sebuah kaca meja rias.
Kini Rivera berniat untuk turun ke lantai satu, ia ingin menuju ke dapur utama untuk melaksanakan sarapan. Sebenarnya ada dapur juga di lantai 3 tapi entah kenapa keluarga Mackenzie membuat peraturan bahwa baik sarapan ataupun makan malam hanya disediakan di dapur utama, dan dapur di lantai 2 itu hanya digunakan untuk mengisi makanan makanan ringan saja selebihnya ada di lantai 1 atau dapur utama.
Pintu lift terbuka, Rivera sudah berada dilantai satu tepatnya didepan ruang keluarga. Ia harus berjalan lagi untuk menuju kearah dapur makan. 2 menit ia berjalan Rivera akhirnya sampai di dapur. Rivera tersenyum melihat pemandangan yang ada di meja makan itu. Ada mamahnya, papahnya, Abangnya dan kembarannya.
'Eh tunggu dulu, siapa dia? bukankah dia yang berpapasan di lift kemarin? Kok bisa semeja?.' Rivera memicingkan matanya saat melihat ada seseorang gadis yang sempat ia temui kemarin, gadis yang seakan merasa takut dengan Rivera. Dan yang membuat Rivera lebih bingung lagi gadis itu duduk tepat disamping kiri Auretta.
"Eh Rivera sudah bangun, duduk sini. Kita makan bersama." Lamunan Rivera buyar saat Auretta sang mamah mengajaknya untuk sarapan bersama.
Tanpa ragu dan dengan senyuman Rivera langsung saja mematuhi perintah dari Auretta. Dengan ekspresi yang gembira Rivera langsung duduk disamping kanan Auretta. Semua orang yang menyaksikan itu memandang aneh Rivera kecuali Auretta. River sebagai kembarannya pun merasa aneh dengan tingkah Rivera, se berubah itukah dia.
Areksa dan River saling pandang satu sama lain, bukan hanya sikapnya yang berubah tapi pakaian, rambut bahkan riasannya berubah. Kini Rivera terlihat seperti murid asli tanpa riasan dan potongan rambut barunya membuatnya semakin fresh seperti orang yang berbeda. Mereka berdua tak menyangka ternyata dampak dari amnesia sebesar ini untuk Rivera.
Kini Rivera diam diam memandangi gadis yang ada disamping mamahnya itu, bahkan untuk saat ini saja saat Rivera mendekati meja makan gadis itu menunduk. Sebenarnya apa yang Rivera perbuat dulu sampai gadis itu ketakutan padanya.
Auretta melihat Rivera yang sedang mencuri pandang terhadap gadis yang ada disampingnya, ia sedikit bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Rivera.
"Vera kenalin ini Evelyn Auretania Mackenzie." Ucap Auretta sambil sedikit memundurkan badanya dan memegang bahu Evelyn.
"Dia adalah anakku." Lanjutnya dengan nada keraguan pada kata terakhirnya.
Dengan polosnya Rivera mengiyakannya, Rivera berpikir mungkin saja ia mempunyai adek lagi karena di buku diary nya tidak menyebutkan tentang kehidupan keluarganya bahkan bi Wati tidak cerita 100% tentang kehidupannya.
"Haii aku Riveraa." Ucap Rivera dengan girang sambil menyodorkan tanganya untuk salaman dengan Evelyn.
Rivera melihat keraguan dari Evelyn, ia melihat Evelyn sempat memandang Auretta beberapa detik sebelum membalas jabatan tanganya.
"Aku Evelyn."
Kini pandangan Rivera beralih kepada pria yang sedari tadi asik makan makanannya tanpa mengalihkan sedikit pandanganya kepada Rivera.
"Kamu pasti papah ku." Kata Rivera sambil tersenyum lebar, tapi tak sedikit pun pria itu memandang Rivera.
"Papah?." Panggil Rivera.
Sang empu yang dipanggil dengan sebutan papah itu menghentikan aksi makannya, ia melihat kearah Rivera dengan tatapan terkejut sekaligus lega saat melihat penampilan baru dari Rivera. Pria itu adalah Andara Mackenzie, ayah kandung Rivera.
Andara jarang sekali pulang ke rumah karena urusan pekerjaan nya itu, bukan hanya kakak kakaknya saja yang membenci Rivera tetapi papahnya juga membenci Rivera, menurut informasi dari bi Wati Rivera sering dipukul habis habisan oleh papahnya itu. Kini Rivera harus menjadi anak baik baik, dan merubah pandangan sang papahnya.
Tanpa menjawab panggilan dari Rivera Andara langsung melanjutkan kegiatan makannya. 'Eh buset gua dikacangi.' Rivera mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesal karena dicuekin oleh papahnya sendiri.
"Vera, nanti berangkat sekolah Vera bareng Abang Reksa aja ya?."
"Kok Reksa mah? Reksa gak mau, kan Reksa udah sama Evelyn."
"Yaudah sama River, maukan Rivera berangkat sekolah bareng River?."
"Ga bisa."
Rivera mendapatkan penolakan secara langsung oleh Abang dan kembarannya. Entah kenapa hati Rivera merasa pengap mendengar penolakan itu padahal Rivera tidak apa apa, toh ia juga tidak ada niatan buat berangkat sekolah dengan mereka.
"Yaudah sih wir, lagian gua juga mau diantar pak Wawan." Putus Rivera sambil mengusap mulutnya menggunakan tisu.
Rivera beranjak dari tempat duduknya sambil memakai tas sekolahnya. Rivera meminta salim kepada Auretta. Pemandangan itu membuat semua orang sangat terkejut termasuk pembantu pembantu yang tidak sengaja melihatnya. Lebih mengejutkan lagi saat Rivera meminta salim kepada Diandra. Semua orang dibuat melongo dengan perilaku dari Rivera.
Rivera merasa dicuekin oleh papahnya ia kesal, tapi tak sampai disitu ia akhirnya merebut paksa tangan papahnya dan dicium. Tubuh diandra membeku melihat tingkah laku dari putrinya itu, apa tadi, ia sama sekali tidak pernah bersalaman dengan anak anaknya.
"Aku berangkat dulu yaaa." Rivera berteriak sambil berlari kearah pintu keluar menuju ke mobil yang sudah disiapkan oleh pak Wawan.
'Paan dah diliatin aja, orang kaya gak pernah salim kah.'
Masih diruang makan, semua orang saling diam dengan keterkejutan masing masing. Bahkan Andara tak bisa berkata apa-apa lagi melihat tingkah laku Rivera. Entahlah dia harus bersyukur atau sedih, mau sejahat apapun ia terhadap Rivera, Rivera tetaplah anak kandung nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments