Uks

Satu jam telah berlalu Melody tak kunjung bangun, Rivera sudah sangat suntuk menunggunya di uks yang sunyi dan dipenuhi bau obat obatan.

Sebenarnya bisa saja Rivera meninggalkan Melody, tapi ia merasa tidak tega padanya. Rasa bersalah Rivera semakin tinggi saat melihat Melody berbaring tak sadarkan diri dengan muka dan tangan yang penuh lebam lebam. Ia tak menyangka bullying disini sangat mengerikan, padahal sekolah ini bisa dibilang sebagai sekolah bergengsi tapi nyatanya sekolah ini neraka bagi orang orang seperti Melody.

"Maaf, gua bener bener minta maaf." Rivera menghembuskan nafas beratnya, mengingat Rivera asli dulu pernah membully Melody, walaupun bukan dirinya yang membully ia tetap merasa bersalah karena kini jiwanya berada ditubuh Rivera.

"Entah bagaimana caranya agar bisa menghapus rasa sakit lo dy, tapi mulai sekarang gua bakal ngelindungi lo dari para ***** itu." Rivera berusaha sebisa mungkin agar bisa memperbaiki kesalahannya dan memperbaiki namanya yang udah tercoreng buruk. Ternyata semakin ia masuk kedalam kehidupan Rivera semakin banyak kenyataan busuk yang harus ia terima.

"Makasih udah bertahan sampai saat ini, suatu saat nanti lo harus balas mereka, jangan maafin mereka sama sekali dan jika lo gak bisa maafin gua, lo bisa balas perbuatan gua. Lo harus balas ody..." Rivera mengusap kepala Melody dengan lembut, ia tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya Melody menahan sakitnya dibully.

Dibalik dua tirai tempat tidur uks ada seseorang yang sedang beristirahat disana. Uks yang sepi itu membuat suara Rivera terdengar sangat jelas. Seseorang dibalik tirai tersebut terdiam, ia tak menyangka kata kata yang barusan ia dengan keluar dari mulut Rivera. Bagaimana ia bisa tahu jika suara tersebut dari Rivera, karena sudah makanan hari harinya mendengar suara Rivera.

ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi pada Rivera, apakah kecelakaan itu benar benar berdampak pada semua sifatnya, sifat yang sekarang sangat berbeda dari sifatnya dulu. Ia juga heran, kenapa setiap kali melihat Rivera ia merasa Rivera telah tiada, bahkan Rivera sudah tidak pernah lagi menempel kesana kemari dan mencari perhatian kepada teman temannya. Benarkah dia berubah, atau itu hanya untuk sementara.

...----------------...

Bel pulang sekolah berbunyi, kini waktunya semua murid pulang ke rumah masing masing tapi sayangnya Melody tak kunjung bangun juga. Ia sangat bingung tak mungkin ia meninggalkan Melody disini tak mungkin juga ia harus menunggu Melody disini. Ruangan semakin remang remang karena waktu semakin sore, ia sangat ingin meminta bantuan kepada dokter uks tapi entah kenapa sejak merawat Melody tadi ia tidak melihat dokter itu lagi. Mungkin saja dokter tersebut sudah pulang dan kini ia tak tahu harus minta tolong pada siapa.

"ssshh" 10 menit berlalu akhirnya Melody bangun, ia mendesis kesakitan. Kepalanya sangat pusing, saat berusaha untuk duduk ia tak sengaja menyenggol kepala Rivera yang sedang tiduran di samping dengan posisi duduk dan kepala berada di kasur.

"MELODY LO UDAH BANGUN???? AAAAA AKHIRNYA LO BANGUNN." Senggolan dari Melody membuat terbangun dari tidurnya, saat menyadari Melody sudah sadar ia langsung memeluk Melody dengan sangat erat hingga membuat tubuh Melody yang sudah remuk tambah remuk karena pelukannya.

"Eh sakit ya??." Rivera panik melihat Melody seperti menahan sakit dan berkaca kaca, ia lupa dengan kondisi melody saking bahagianya melihat Melody bangun.

"Aduhh maaf maaf, gimana niii. Yang sakit mana? Mana yang sakit?." Rivera membalik balikan badan Melody dengan tujuan mengecek tubuh Melody.

"Gua- Gua gapapa." Melody menarik tangan Rivera agar untuk menghentikannya. Sebenarnya ia masih kebingungan kenapa bisa dia ada disini, ia sekuat tenaga untuk mengingat nya.

"Kamu kenapa disini ra?." Ucapnya dengan lembut dan hati hati, ia masih merasa takut kepada Rivera sangat takut.

"Lo masih nanya! WAHH GILA." Rivera menutup mulutnya dengan kedua tanganya, tak habis pikir Melody menanyakan kata kata itu, apakah Melody sudah lupa bahwa dirinya lah yang menolongnya. Tapi saat melihat ekspresi Melody yang bingung tanpa dibuat buat itu ia akhirnya melunak, ia memaklumi mungkin saja Melody butuh waktu mengingat karena habis pingsan sangat lama.

"Gua yang nolongin saat dibully di kamar mandi tadi, terus gua bawa deh ke uks. Sebenarnya lo mau gua tinggal, tapi sayangnya gua gak tega ngeliat muka melas lo, jadi gua milih nungguin lo bahkan sampai saat ini." Ucap Rivera dengan senyuman paksa, saat ia melihat lihat sekeliling ruangan uks yang sudah mulai gelap, ia panik ia takut terjebak disekolah ini, apalagi sekolah ini penuh dengan gedung gedung tinggi.

"Rivera, makasih banyak yaaa mungkin kalau gak ada kamu aku udah gak ada."

"Heh bogel, jaga omongan lo." Rivera tak habis pikir dengan kata kata yang keluar begitu saja dari mulut Melody.

"Dy, gua minta maaf kalau selama ini gua bikin lo kesiksa, gua gak tau mungkin permintaan maaf ini kurang buat lo, tapi gua berharap lo bisa nerima sifat baru gua. gapapa lo gak maafin gua, gua janji sama lo gua ga akan bully lo lagi. Melody maaf, beribu ribu maaf gak akan buat korban merasa baik, tapi gua bener bener minta maaf Melody. Gua gu-."

Melody menaruh jari telunjuknya kearah mulut Rivera yang sejak tadi berbicara tanpa arah padahal intinya sama saja, dan lebih bikin Melody kaget ia melihat air mata Rivera mengalir. Melody mengerutkan keningnya, ia melihat ketulusan dan rasa bersalah pada mata Rivera.

"Kamu kenapa nangis, aku maafin kamu." Ucapnya sambil mengusap air mata Rivera.

"Hah, semudah it????." Rivera melotot tak percaya, seharusnya adegannya seperti di drama drama. Tampar dulu lah minimal.

"Iya, soalnya kamu lucu kalau nangis."

"Aneh lo anjr." Rivera melongo, ia terkejut dengan tanggapan yang diberikan Melody. Apa katanya, memaafkan karena lucu.

"Aku maafin kamu karena kamu nolongin aku, aku maafin kamu karena dimata kamu aku melihat ketulusan, aku maafin kamu karena kamu menangis atas kesalahan mu." Ucap Melody panjang lebar, ia tersenyum hangat kepada Rivera.

"Kenapa lo gak benci aja gua dy? Kenapa lo malah maafin gua? Seenggaknya lo tampar gua agar rasa sakit dan kesal lo selama ini terbalaskan dy. Kenapa?."

"Walaupun ini sakit, tapi aku gak pernah benci mereka ataupun kamu." Melody menggelengkan kepalanya, kata kata tersebut malah membuat Rivera menangis secara histeris.

"Lo kenapa baik sihhhh." Sekuat tenaga Rivera menghentikan tangisannya, semakin ia mengusap air matanya semakin ia menangis. Rivera tidak bisa jika melihat seseorang yang sudah dijahatin tetap baik. Bahkan ia tersenyum seolah-olah itu bukan masalah besar. Rivera memeluk Melody, ia bertanya tanya pada dirinya sendiri, kenapa orang baik selalu saja bernasib buruk, kenapa dunia tidak ada padanya.

"Mau temenan?." Rivera melepaskan pelukannya dan memberikan tawaran pertemanan kepada Melody.

"Beneran Rivera mau temenan sama aku?." Pertanyaan itu langsung diangguki oleh Rivera.

"Aku mauuu." Melody berharap bahwa ajakan pertemanan itu asli, ia berharap Rivera benar benar akan menjadi temannya. Selama ia bersekolah ia sama sekali tidak mempunyai teman bisa dibilang Rivera adalah orang pertama yang mengajaknya untuk berteman.

"aaa makasih odyyy." Mereka berdua berpelukan satu sama salin, Melody tak menyangka seorang Rivera mau berteman dengan nya. Sedangkan Rivera tak menyangka Melody sangat baik dan dengan mudah memaafkan nya.

"Tunggu dulu." Rivera baru ingat bahwa ia masih berada di uks dan kini hari sudah gelap, ia melihat kearah jam dindin dan ternyata sudah jam 7 malam.

"INI GIMANA KELUARNYA, GELAP BANGET ANJG." Rivera heboh sendiri, ia panik sangat panik. Rivera ingin keluar dari uks tapi ia takut saat mengingat lorong uks sangat panjang, bahkan masih ada di lantai 2 yang membuatnya harus turun tangga dan melewati halaman luas dan gedung gedung sepi.

"Rivera aku takut.."

Terpopuler

Comments

ayi🐣

ayi🐣

waduhh, maaf banget baru update dari sekian lamaa. selamat membacaaa, maag juga jika ada salah kata ataupun kata yang kurang dimengerti 🥰

2023-10-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!