Hari minggu 1

Cahaya remang remang masuk melalui celah jendela kamar, suara alarm berbunyi menandakan jam sudah pukul 07:30. Seorang gadis yang sedang tertidur pulas menggeliat karena terganggu tidurnya.

"Selamat pagi dunia tipu tipu." Rivera meregangkan kedua tangan dan badanya. Hari ini adalah hari minggu, seharusnya sesuai dengan tradisi Rivera dimana setiap hari libur ia harus bangun siang. Tapi untuk hari ini ia harus bangun pagi, Rivera akan merubah semuanya. Rivera memiliki sebuah misi yang harus ia selesaikan. Ia harus membuat semua orang menyukai Rivera, tidak lagi ada kata perundungan dan Rivera berjanji senin besok ia akan minta maaf kepada murid yang sudah ia bully. Yaa walaupun tidak tau siapa saja yang sudah dibully.

Rivera beranjak dari tempat tidur, ia berjalan menuju kamar mandi. Bahkan kamar mandi pun tak kalah luas.

60 menit akhirnya berlalu, Rivera telah selesai mandi. Sebenarnya ia tertidur tadi saat sedang berendam di bathtub, untuk saja ia segera bangun dan akhirnya kini Rivera kedinginan karena kelamaan berada di air. Sekarang sudah jam 8 Rivera harus segera bersiap siap, hari ini ia berencana untuk mengubah rambut, dan membeli seragam baru dan juga jalan jalan. Rivera merasa bodo amat dengan anggota keluarganya, kenapa harus mikirin anggota keluarga lain padahal mereka juga gak mikirin Rivera baik saat dirumah sakit ataupun saat pulang rumah sakit. Sekejam itukah mereka, mereka tidak menganggap Rivera ada sama sekali.

Rivera mengenakan kaos cream dan celana hitam selutut dengan sandal jepit hitam dan rambut panjang yang diurai. Rivera keluar menuju ke lift, ia sangat malas jika harus turun menggunakan tangga. Rivera berfikir kalau punya lift kenapa harus pakai tangga, buang buang tenaga saja.

Saat pintu lift itu terbuka, Rivera mengerutkan keningnya ia bingung dengan sosok perempuan yang ada didepanya. Rivera meyakini bahwa perempuan itu seumuran dengan nya, bahkan tinggi nya pun sama. Ia bertanya tanya, apakah dirinya mempunyai saudara lagi, tapi kenapa bi Wati tidak menceritakan tentang nya. Sudahlah Rivera tidak mau memperpanjangnya, mungkin saja bi Wati lupa menceritakannya.

Tapi yang lebih membingungkan nya lagi, kenapa perempuan itu seakan-akan takut dengan dirinya. Bahkan ia menunduk tak berani untuk melihat Rivera.

"V-Vera m-maaf, a-aku ga b-bermaksud b-berpapasan d-d-dengan m-mu." Suara perempuan itu bergetar, kedua tangannya saling saling bertaut meremas baju yang ia pakai, bahkan tubuhnya bergetar ketakutan.

Kedua alis Rivera mengkerut, ia tidak paham apa yang dimaksud dengan perempuan itu. Niat hati ingin senang senang hari ini, malah ketemu orang ga jelas. Tunggu dulu, Rivera tiba tiba berfikir apakah dia salah satu orang yang pernah ia bully. Seperti nya ia harus segera minta maaf dengan perempuan yang ada didepannya itu.

"Jangan minta maaf, dan jangan takut. Aku seharusnya minta maaf, maaf udah bully kamu. Maaf ya, mungkin permintaan maaf ku gak cukup buat sembuhkan luka mu. Tapi aku janji ga bakal bully kamu lagi, oke? maaf maaf dan maaf." Ucap Rivera sambil memegang kedua tangan perempuan itu.

Bukanya lebih baik, perempuan itu malah kebingungan dan semakin takut dengan Rivera. Ia memandang Rivera dengan ekspresi aneh. Bahkan Rivera tidak bisa mengartikannya, ekspresi apa itu, takut?, sedih?, terkejut? Atau malah marah?. Sebelum Rivera berbicara lagi, perempuan itu lari. "Mungkin dipikir gua kesurupan kali ya, tiba tiba minta maaf." Ucap Rivera saat melihat perempuan itu lari, akhirnya ia bisa naik lift untuk menuju ke lantai satu. Terbuang sia sia sudah waktunya.

Sesampainya dilantai satu, pintu lift terbuka secara perlahan. Mata Rivera menelisik setiap sudut mansion itu, lantai satu yang besar nan luas dengan segala ruangan itu kosong semuanya tak ada sedikit pun tanda tanda kehidupan bahkan pembantu.

"Ahh iya karena hari ini minggu kali ya, semua orang pada libur." Rivera teringat, kata bi Wati setiap hari minggu semua pembantu akan keluar dari mansion untuk berlibur tak ada pembantu yang berada di mansion itu mungkin hanya satpam, sopir dan satu pembantu untuk menyiapkan makanan.

...****************...

Rivera menaiki mobil yang disopir pak Wawan, pak Wawan lah satu satunya sopir yang tidak libur. Katanya sih jika libur pun ia tidak tau harus kemana karena hanya di mansion pak Wawan bisa tidur dan makan, jika ia tidak menjadi sopir disana mungkin pak Wawan sudah menjadi gelandangan. Pak Wawan sangat berhutang kepada keluarga Mackenzie karena sudah mau menerima dirinya.

'Kalau dilihat untuk saat ini, keluarga Mackenzie baik. Memanusiakan manusia, sebenarnya yang salah disini siapa.' Batin Rivera, sejak tadi ia mengobrol dengan pak Wawan yang sedang menyetir mobil, belum ada satu hari Rivera sudah sangat akrab dengan pak Wawan, sangat sefrekuensi.

"Non, non tau ga? Bapak baru pertama kali ngobrol sana non." Cletuk pak Wawan tiba tiba.

"Iyakah?masa sih pak baru pertama kali, katanya udah lama di mansion itu." Tanya Rivera tak percaya dengan tuturan pak Wawan.

"Iya non, soalnya dulu non gak pernah mau diantar sama sopir maunya cuma sama abang abang non. Walaupun udah ditolak tapi non tetap nekat ikut."

Mendengar jawaban dari pak Wawan Rivera hanya bisa tersenyum dan menghembuskan nafas kasar. Se kekeh itukah Rivera yang asli mints perhatian ke abang abangnya.

...****************...

Menempuh perjalanan 45 menit dari mansion ke mall, kini akhirnya Rivera sampai. Ia segera turun dari mobil, sebelum ia berjalan menuju mall ia berpesan kepada pak Wawan untuk meninggalkan nya saja dibanding harus menunggu lama sekali, nanti kalau sudah waktunya pulang ia akan menelpon pak Wawan dan akhirnya pak wawan mengiyakannya.

Akhirnya Rivera berjalan masuk ke mall, hal pertama yang ia tuju adalah salon. Ia harus cepat cepat mengganti warna rambutnya, Rivera sangat tidak pd dengan rambut mencolokkannya sampai ia harus memakai masker untuk mengurangi rasa malunya.

Sesampainya di salon, ia berpesan kepada salah satu karyawan salon untuk mewarnai rambutnya menjadi hitam, dan ia juga berpesan untuk memotong rambutnya dengan potongan butterfly. Rivera akan merubah tatanan rambutnya bukan hanya tatanan rambutnya saja tapi tatanan kehidupannya yang berantakan. 'welcome to the new world.' Ucap Rivera dalam hati sambil duduk di kursi salon.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!