Pulang

4 hari telah berlalu kini akhirnya Rivera diperbolehkan untuk pulang, Rivera perlahan lahan menerima semuanya. Ia juga sudah diceritakan tentang semuanya, mulai dari keluarga persahabatan dan lainnya oleh bi Wati, satu satunya orang yang menemani nya sejak dirumah sakit.

Bi Wati jugalah yang merawat Rivera saat koma sampai saat ini, sebenarnya Rivera kebingungan kenapa tidak ada satupun orang yang menjenguk nya, walaupun keluarga Rivera membenci Rivera setidaknya menjenguk lah sebentar.

Dari cerita bi Wati Rivera menyimpulkan, bahwa keluarganya membencinya karena sifatnya yang urak urakan, apalagi sampai membully seperti itu. Dengan keadaan menjadi anak di keluarga terpandang perbuatan itu pasti akan berpengaruh buruk bagi reputasi keluarganya.

'Ternyata ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dalam keluarga, pantas saja sudah 4 hari tapi tak ada yang menjenguknya. Dasar keluarga durjana!'

"Non semuanya udah bibi beresin." Ucap bi Wati sambil membawa tas tenteng.

"Wahh makasih banyak bi." Ucap Rivera sambil memakai jaket. Sebenarnya Rivera belum sepenuhnya pulih, tapi ia ngotot untuk cepat pulang, ia sudah benar benar muak dengan rumah sakit.

"Ayo non kita pulang, orang rumah bahagia pasti ngeliat non pulang." Ucap Bi wati sambil menenteng barang barang Rivera.

'Semoga saja.'

...----------------...

Sesampainya digerbang rumah, Rivera melongo terkejut. Ia sudah terkejut dengan mobil yang ia tumpangi ditambah terkejut dengan rumah yang akan ia tempati. Rumah yang sangat besar, atau bahkan bisa dibilang mansion, bergaya klasik dengan cat berwarna putih yang membuat rumah tersebut sangat elegan, gerbang rumah dan tembok yang tinggi. Mansion yang sangat besar, rumahnya yang dulu aja tidak ada apa apanya dengan mansion itu. 'Bau uangnya kecium sampai sini.'

Mobil yang ditumpangi Rivera masuk menuju kedalam mansion itu, lagi dan lagi Rivera dibuat takjub. Halaman nya sangat luas sekali, terdapat air mancur dijalan masuk ke mansion, di kiri dan kanan halaman masuk terdapat taman yang sangat luas.

Mobil yang ditumpangi Rivera terus melaju ke pintu masuk sebuah mansion, di depan pintu yang sangat besar itu terdapat 2 bodyguard yang siap membantu.

"Gila hidup lo udah enak gini, bisa bisanya lo ga bersyukur." Ucap Rivera yang tertuju untuk jiwa Rivera yang asli.

Rivera turun dari mobil, ia langsung berjalan menuju pintu masuk mansion itu. Ia tak henti henti melongo takjub melihat sekitar bahkan ke mansion itu, seperti istana dalam dongen saja. Saat Rivera berdiri tepat didepan pintu masuk, 2 bodyguard tersebut dengan cekat langsung membuka kan pintu untuk Rivera. 'Andaikan gua terlahir kayak gini.' Rivera tersenyum lebar, ia tidak pernah sama sekali merasakan kehidupan seperti itu.

Dulunya saat menjadi Kimora ia hanya terlahir dalam keluarga yang berkecukupan, keluarga mereka juga tidak pernah mempunyai mobil, bahkan disaat anak remaja pada umumnya menikmati masa remaja mereka, ia harus diam dirumah dan memikirkan ekonomi. Tapi kali ini, semuanya berubah 180° dari wajah sampai nasib, semuanya berubah. Rivera tidak menyangka bahwa kehidupan yang ia impikan sejak lama akhirnya tercapai, walau ia harus menggunakan tubuh orang lain.

Saat pintu terbuka hal pertama yang ia lihat adalah sebuah ruangan yang amat besar, disisi kanan ada sebuah kursi dan meja yang sangat banyak, entah Rivera juga tidak tau itu ruangan apa. Ruangan didepan pintu itu sangat besar, sampai sampai Rivera tidak tau cara menggambarkannya seperti apa. Ruangan dengan desain klasik kebarat-baratan menambahkan kesan elegan, setiap langkah Rivera ia melihat berbagai ukiran ukiran dan lukisan lukisan.

Rivera terus berjalan hingga akhirnya ia masuk kesebuah ruangan, ruangan itu dipenuhi dengan furniture furniture milyaran, dari guci, lampu hingga kursi. Tapi Rivera menyimpulkan bahwa ia berada di ruangan keluarga, karena di kanan Rivera terdapat televisi yang sangat besar beserta sofanya, dan di kiri Rivera terdapat dapur yang tak kalah luasnya. Rivera menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir hari ini ia benar-benar dimanjakan dengan kemewahan duniawi, entah sampai kapan ia harus berhenti mengagumi nya. Ia mengakui bahwa kehidupan Rivera yang asli benar benar bernasib sangat baik, dari segi manapun tidak ada kurangnya. Walau minus akhlak dikit.

"Udah pulang?." Rivera tergejolak kaget saat mendengar suara perempuan.

'Dia siapa? Cantik banget, insenyur aku.' Ucapnya saat melihat perempuan tersebut dengan paras yang sangat cantik dan menawan.

'Walaupun aku lebih cantik sih.' Monolog nya sambil senyum senyum sendiri membuat perempuan tersebut mengerutkan keningnya.

"Kamu sudah sembuh total?" tanya kembali perempuan tersebut kepadanya Rivera yang masih setia senyum senyum sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!