Kamar baru

Mood Rivera yang awalnya excited untuk melihat lihat isi rumah itu tiba tiba hancur seketika. Walau Rivera tidak mengenal mereka, tapi kata kata mereka membuat hati Rivera sakit. Akhirnya Rivera memilih untuk pergi ke kamar saja, kenapa ia sampai tau bahwa itu kamarnya? Karena tadi ada pembantu yang sedang lewat dan akhirnya Rivera bertanya dimana kamarnya.

Rivera membuka pintu, ternyata pintu itu merupakan jenis pintu yang terdapat password, seperti dihotel. Jadi ia harus memasukkan sandi atau sidik jari untuk membuka pintu tersebut.

"Keren juga nih." Cletuk Rivera.

Pintu tersebut akhirnya terbuka dengan modal sidik jari. Pandangan pertama yang Rivera lihat adalah tembok berwarna putih, semuanya putih dari tembok bahkan seprei. Kamar itu memiliki bau lavender yang sangat menenangkan. Meja rias yang penuh dengan make up dan parfum, 2 lemari yang sangat besar dan 1 lemari berukuran sedang.

Rivera dibuat kagum untuk kesekian kalinya, ia sampai tidak bisa berkata kata. Kamar tidur yang hanya ditempati satu orang saja memiliki luas 4× lipat dari rumahnya. Benar benar suatu keberkahan Rivera bisa tinggal dan menjadi salah satu anggota di keluarga ini.

Rivera berjalan menuju meja belajar, meja belajar pun tak kalah besar dari meja rias. Disamping kanan meja belajar terdapat rak buku berbentuk bulat yang menempel disebuah dinding. Semua rak buku itu terisi penuh dengan berbagai macam novel,

'wah dia juga suka novel ternyata' batin Rivera sambil melihat lihat berbagai macam novel tersebut.

Tanpa sengaja mata Rivera tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna coklat yang berada dibawah meja belajar, tanpa ragu ia langsung mengambil kotak tersebut. Kening Rivera mengerut, ia bingung ada beberapa foto dan satu book diary berwarna pink pastel. Dengan hati hati Rivera membuka buku diary itu, ia membaca dengan seksama antara satu halaman dengan halaman lainya.

Jantung Rivera seketika berdebar dengan kencang, ternyata isi dari buku diary itu membuatnya sedikit tau masa lalu dari Rivera yang asli.

"Dia memang jahat, tapi Dia juga memiliki luka yang dalam." Ucap Rivera saat membaca buku diary tersebut, hatinya merasa sakit seperti ada yang meremasnya hingga hancur.

Ia tetap setia membaca buku diary itu, Rivera beranggapan bahwa setiap keluh kesah dari Rivera asli, pasti ia curahkan di buku diary ini. Rivera asli tidak memiliki rumah, bahkan tidak ada yang bisa disebut dengan rumah.

Rivera akhirnya selesai membaca buku diary itu, ia beralih ke beberapa foto yang masih ada di kotak kecil itu. Rivera mengangkat semua fotonya, ia melihat satu persatu tapi ia tidak tau siapa yang ada di foto tersebut. Dalam foto itu terdapat beberapa foto wanita dengan senyuman yang sangat cantik dan dipangkuan nya ada anak kecil mungkin umumnya sekitar 9 tahunan.

Ada hampir 10 foto yang ada wanita dan anak kecil itu, Rivera menganggap bahwa anak kecil itu adalah dirinya saat masih kecil tapi siapa wanita itu, bahkan ia mencari-cari lagi di buku diary tidak disebutkan tentang wanita itu tidak mungkin itu ibunya, sedangkan mukanya saja beda dengan Auretta.

"Apa mungkin suster yang pernah merawatnya dulu ya" tebak Rivera sambil memegang foto tersebut.

Kalau dipikir-pikir, didalam buku diary ini tidak ada satupun menyebut tentang keluarganya, bahkan ayah ibunya. Ia hanya menyebut abangnya itupun masih bersangkutan dengan sekolahan tidak spesifik menceritakan tentang abang abangnya.

Rivera memilih untuk melupakan buku diary dan foto itu, tapi tak bisa dipungkiri buku diary itu sedikit berguna bagi Rivera. Kini berkat buku itu Rivera akhirnya tau, dimana kelasnya dan siapa yang ada di kehidupan nya disekolah mungkin dengan ini, ia bisa lebih berhati hati lagi jika nanti ia masuk sekolah.

Akhirnya Rivera beranjak, ia memilih untuk pergi ke meja rias. Rivera dibuat kagum dengan parfum yang ada atas meja rias itu, sangat banyak dan semuanya brand brand terkenal.

"Banyak sekali make up nya, nih orang mua atau anak sekolah sih." Rivera berkali kali menggelengkan kepalanya, make up dan skincare nya sangat lengkap entah Rivera ingin bersyukur atau tidak. Ia melihat kearah cermin, memperhatikan setiap inci dari rambut sampai badanya. Badan Rivera ini benar benar tipe ideal banget, wajahnya sangat cantik sekali. Mungkin jika Rivera dulu tidak berbuat jahat ia akan disegani oleh semua orang.

Sesaat kemudian ia menghela nafas kasar, ia melupakan warna dari rambutnya, tak habis pikir bisa bisanya Rivera asli mengecat rambut nya dengan warna kuning kecoklatan, seperti jamet saja. Dan apakah dia kesekolah dengan rambut seperti ini? The rill jamet. Bisa bisanya anak orang kaya berpenampilan seperti ini, elegan dikit kek. Kalau diingat ingat juga bi Wati pernah bilang bahwa Rivera dulu saat kesekolah selalu memakai make up yang tebal dan seragam yang ketat, dan itu juga menjadi faktor semua orang jijik kepada Rivera. Bi Wati juga pernah bilang bahwa Rivera pernah dikatain abang sendiri mirip lont* walau begitu bukanya marah Rivera malah senang.

'Stress emang nih anak' batin Rivera membayangkan tingkah laku dari Rivera asli.

"Besok kan hari minggu, gua hitam in aja nih rambut." Rivera sudah tidak tahan dengan warna rambut yang ada di rambutnya, sangat mencolok sekali.

Rivera kemudian berjalan menuju 2 lemari besar yang ada disamping tempat tidur, saat Rivera membuka lemari pertama, ternyata lemari itu berisi berbagai macam tas branded dan sepatu branded. Banyak sekali tas tas dengan design yang elegan dan menarik, tapi Rivera bingung kenapa Rivera yang asli tidak bisa merawat dirinya menjadi lebih elegan dan menarik sedikit saja. Untuk beberapa detik Rivera menoleh kearah meja rias.

"tapi..... Skincare nya banyak banget, gak mungkin dia gak merawat diri kan. Wajahnya aja mulus terawat, seharusnya fia bersyukur punya wajah sebagus ini, tanpa make up aja udah pasti cantik banget." Rivera kembali mengalihkan pandangan nya terhadap lemari berisi tas dan sepatu itu.

Rivera beralih ke lemari berikutnya, ia membuka lemari tersebut. Didalam lemari itu berisi banyak sekali baju baju, bahkan gaun gaun yang sangat elegan. "baju impian gua buset."

Tanpa sengaja, saat melihat lihat baju. Mata Rivera tertuju pada seragam sekolahnya, ia mengambil seragam tersebut. Saat melihat lihat seragam itu, Rivera terkejut. ternyata seketat itu seragam nya, tapi kenapa tidak dirobek robek oleh guru.

Rivera beranggapan mungkin karena pamannya seorang kepala sekolah di sma cendrawasih jadi Rivera bisa terselamatkan walau ia sudah berbuat hal hal yang sudah merugikan orang lain.

"Mending besok gua juga ganti nih seragam, serasa ga pakai baju kalau seketat ini." Putus Rivera sambil menutup lemari tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!