Seorang gadis yang tengah membuka matanya perlahan didalam kamar rumah sakit, matanya menyipit saat cahaya masuk ke kornea matanya. Ruangan serba putih dan bau obat dimana mana, badanya sangat lemas.
'Gua selamat?.' Ucap Kimora dalam hati, ia masih sangat lemas untuk berbicara langsung, perlahan ia membuka alat bantu pernafasan. Dengan gerakan perlahan ia duduk, mata Kimora tak henti henti melihat disekitar. Ruangan yang besar dan luas itu membuatnya mengernyit kebingungan, ia tampaknya sangat asing dengan ruangan ini.
'Gua dimana?, masa iya gua dipindahin ke rumah sakit luar kota?.' tanya nya pada dirinya sendiri, ia tidak pernah melihat ruangan rumah sakit ini, apalagi hanya ditempati 1 tempat tidur tapi ruangannya sangat besar, di kota Kimora tidak ada rumah sakit sebesar ini dan yang lebih membingungkan tidak mungkin keluarga nya bisa membayar rumah sakit sebesar ini, apalagi.
'ini ruangan vvip?.' Kimora membelalakkan mata terkejut saat membaca tulisan vvip didekat pintu masuk, tidak mungkin orang tuanya mampu membayar nya tidak mungkin, orang tua Kimora aja sudah kesulitan untuk membayar pengobatan Kimora apalagi membayar ruangan vvip dan rumah sakit ini.
'Dan...kok bisa selamat?.' Tiba tiba kepala Kimora terasa sangat sakit sekali, kepala kimora serasa ingin pecah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, tapi saat ia sedang memegang kepalanya ia terkejut lagi dan lagi, ia tidak pernah mendapatkan perban di kepala tapi kali ini, ada perban di kepalanya. Bukankah terakhir kali Kimora sakit karena penyakitnya bukan kecelakaan, tapi ini apa? apa jangan jangan ia bermimpi.
Kimora mencubit tangannya dengan keras, ia meringis kesakitan. 'ini bukan mimpi.' Kimora berusaha mencerna apa yang terjadi padanya dan penyebab ia diperban, tapi bukanya ingat kepalanya malah tambah sakit.
Saat Kimora berusaha untuk mengingat apa yang terjadi, tiba tiba seorang wanita paruh baya membuat pintu. Wanita dengan pakaian yang sederhana dan rambut yang digelung, wanita itu menghampiri Kimora dengan cepat. Ia tersenyum lebar, bahkan meneteskan airmata nya. Kimora bingung dengan siapa yang ada di depannya itu, tapi belum sempat Kimora bertanya wanita itu sudah dulu memeluk Kimora dengan sangat erat.
"Akhirnya non bangun lagi." Ucapnya sambil nangis tersedu-sedu, ia semakin mempererat kan pelukannya pada Kimora. Kini Kimora semakin kebingungan 'non?' sejak kapan ia punya pembantu?. 'Gak mungkin kan, ibu tiba tiba jual ginjal ku?'.
Wanita tersebut melepaskan pelukannya, ia menatap Kimora dengan sangat dalam bahkan Kimora tau, wanita itu sangat sayang dan rindu pada dirinya.
"Non, Akhirnya non bangun, Setelah 3 bulan non koma-" Wanita itu menjeda kalimat nya, wanita itu sesenggukan. Kimora sangat tau apa yang ada didalam hati wanita itu, bahkan ia sampai ingin ikutan nangis. 'Lama banget gua ngebo.' Ucap Kimora saat mendengar ia telah koma selama 3 bulan.
"Bahkan dokter aja sudah tidak bisa apa apa lagi untuk bantu non Rivera." Lanjut wanita itu sambil mengusap air matanya. Saat mendengar nama Rivera kimora langsung membelalakkan matanya. Siapa Rivera, namanya Kimora bukan Rivera. Kimora sempat mengira wanita ini salah orang, tapi Kimora juga tiba tiba berfikir ibunya telah melakukan sesuatu yang sangat besar selama ia koma. 'Buset dah, ibu udah ngelakuin banyak hal mana tiba tiba kaya, terus namaku diganti lagi. Keren dah ibunda ku ini." Ucap kimora dalam hati.
"Maaf, Rivera siapa ya?." Kimora memberanikan dirinya untuk bertanya kepada wanita yang ada disampingnya itu, sejak tadi wanita itu menangis tanpa henti. Dibanding ada kesalahan pahaman, Kimora memutuskan untuk bertanya, siapa tau wanita itu benar benar salah orang.
"Non? Ada apa dengan non?, udah jelas jelas itu nama non Rivera. Rivera Ellmora Mackenzie, itu nama non, masa non lupa dengan nama sendiri?." Ucap wanita itu dengan nada sangat khawatir, ia khawatir putri majikannya itu kenapa kenapa.
"HAH??." Kimora kini duduk dengan tegap, ia menghempas rasa sakit dan lemas yang ada di badannya. "Bentar bentar, apa maksudnya?."
"Nama anda adalah Rivera Ellmora Mackenzie, keluarga dari Mackenzie. Non Rivera kenapa? Non mana yang sakit?, non Rivera amnesia? saya panggilkan dokter dulu non."
"Bentar." Ucap Kimora sambil memegang pergelangan tangan wanita itu, ia mencekal lengan wanita itu agat tidak memanggil dokter.
"kaca."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Sarah
Kebayang terus!
2023-08-24
0