Bertemu keluarga

"Kamu sudah sembuh total?" tanya perempuan yang ada dihadapannya, Rivera menebak bahwa wanita tersebut berumur sekitar 50 an, walau begitu tak bisa dipungkiri ia masih memiliki kulit yang sangat mulut dan indah bahkan muka yang sangat cantik bak seorang bule.'Apakah dia ibu gua ya.'

Sebenarnya Rivera kebingungan siapa seseorang yang ada didepanya, ia tidak bisa meminta bantuan kepada bi Wati karena tidak ada disampingnya. Ia harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa, atau malah wanita yang ada didepanya adalah ibunya.

Dengan ragu Rivera menjawab pertanyaan wanita itu dengan anggukan kepala. Melihat respon dari Rivera, wanita itu mengerutkan keningnya. Ia bingung tidak biasanya Rivera bersikap seperti itu.

Dengan sigap wanita itu merangkul Rivera dengan sangat erat seperti sedang merindukan dirinya, Rivera ragu untuk membalas pelukannya karena rasa terkejutnya yang masih menghantui pikiranya, ia menuntun Rivera menuju meja makan. 'Kalau dia ibuku, kok gak mirip ya.' Batin Rivera sambil melihat sekilas dirinya pada jendela hitam.

"Kamu pasti belum makan, ayo makan." Ucapnya sambil menyuruh Rivera duduk pada meja makan.

Rivera terbelalak kaget saat melihat banyak sekali aneka makanan di meja makan yang luas itu, makanan yang sangat enak bahkan Rivera belum pernah memakan nya. Ada berbagai jenis daging, mulai ikan hingga sapi. Saat melihat makanan tersebut dengan cepat Rivera berlari menuju meja makan. Rivera tidak bisa melihat makanan sebanyak dan seenak ini, ia harus cepat menghabiskan nya.

"Ini buat aku semuanya?" Tanya Rivera, matanya berbinar bahagia ketika mendapati makanan kesukaan nya berada dimeja makan tersebut.

"Iya, makan yang banyak" jawab wanita tersebut sambil mengelus lembut pucuk kepala Rivera.

Dengan senyuman lebar tanpa ragu Rivera langsung makan dengan cepat, bahkan pembantu yang melihat nya terbelalak kaget cara makan nya seperti orang yang gak pernah makan selama setahun saja. Ada apa dengan putri majikannya yang satu ini, kenapa ia berubah. Dulu saja putri majikannya sangat menjaga pola makannya tapi sekarang tanpa ragu memakan semuanya, apakah efek tak makan makanan enak dan hanya makan bubur saja dirumah sakit.

Wanita yang tadi merangkul Rivera menghampiri Rivera, ia duduk di samping Rivera dan mengusap rambutnya dengan lembut ia bahkan tersenyum sangat lembut kepada Rivera. Untuk sesaat Rivera melupakan semua, bahkan melupakan jika keluarga Rivera membenci Rivera.

"Bi wati udah cerita tadi, katanya kamu amnesia. Makan yang banyak biar cepat sembuh." Ucapnya dengan nada yang lembut sambil mengelus rambut Rivera.

"Maafin mamah ya, mamah ga sempet jenguk vera. Mamah aja baru pulang dari luar negeri, mamah nyesel gak ngerawat Rivera saat sakit."

Rivera menghentikan kegiatan makanya, 'Mamah? Jadi benarkan dia mamahnya Rivera? Jadi dia Auretta Mackenzie?.' Rivera kemudian menoleh kearah wanita atau bisa disebut dengan mamahnya saat ini. "Gapapa mah, lagian Rivera juga udah sembuh." Ucap Rivera sambil tersenyum, sekitar mulut Rivera belepotan hal itu membuat mamahnya terkekeh geli.

Auretta mengusap lembut sekitaran bibir Rivera yang belepotan, ia beranggapan bahwa anak ini telah berubah tidak seperti Rivera yang dulu. Auretta tersenyum bahagia melihat anaknya yang sudah berubah walau Rivera harus kehilangan ingatannya setidaknya sifat Rivera telah berubah.

"Hati hati, nanti kesedak." Peringat Auretta kepada Rivera, ia kewalahan melihat Rivera sangat cepat saat memakan makanannya.

Deg...Kata kata yang diucapkan mamahnya barusan membuat jantung Rivera berhenti sedetik, kata kata itu mengingatkan nya kepada ibunda nya. Kata kata terakhir sang ibunda yang Rivera ingat sebelum akhirnya ia menghembuskan nafasnya. Rivera menjatuhkan sendok yang sempat ia pegang, ia merindukan ibunda nya, ia merasa sangat bersalah kepada ibunda nya. Bagaimana tidak, Rivera berfikir disana ibunda nya sedang dilanda kesedihan yang amat dalam tapi disini ia malah makan enak bahkan akan tinggal dirumah yang sangat besar.

Rivera susah payah untuk tidak menangis, tapi sayangnya tanpa ia sadari dadanya terasa sangat sesak hingga ia mengeluarkan air mata. Ia berusaha keras untuk mengusap air matanya, tapi setiap air mata yang ia usap, ingatan terhadap keluarganya bermunculan.

Auretta yang melihat anaknya tiba tiba menangis, ia terkejut. Bahkan seumur umur ia tidak pernah melihat anaknya mengeluarkan air mata, tapi sekarang didepan matanya langsung ia melihat anaknya menangis bahkan sekarang menangis sesenggukan.

"Hey ada apa? kenapa?." Auretta bertanya khawatir kepada Rivera, siapa sih yang gak terkejut melihat orang yang tadinya baik baik saja sekarang malah menangis sesenggukan. Ia segera memeluk Rivera, ia menepuk pelan pundak Rivera untuk menenangkannya.

Setelah beberapa menit akhirnya Rivera bisa tenang, ia melepaskan pelukannya mamahnya. Rivera mengusap kedua air matanya. Ia masih sesenggukan tapi setidaknya ia sudah tidak menangis lagi.

"Kenapa sayang?hm?." Tanya Auretta sambil mengelus kepala Rivera, ia penasaran kenapa anaknya tiba tiba menangis.

Rivera hanya menjawab dengan gelengan kepala, tidak mungkin ia akan menceritakan nya. Melihat jawaban dari Rivera, Auretta memahami situasi nya, ia harus mengerti bahwa Rivera telah mengalami hal yang menyakitkan. Ia harus memberinya waktu untuk Rivera menenangkan diri.

2 jam Rivera berada di ruang makan dan bergurau dengan mamahnya, kini ia memutuskan untuk ke kamarnya. Ia menaiki sebuah lift menuju ke lantai 3, ia suda tau dimana letak kamarnya ia sempat bertanya tanya tentang mansion ini kepada mamahnya tadi.

Pintu lift terbuka, Rivera sudah sampai di lantai 3. Lantai 3 pun tak kalah luas, Rivera membutuhkan effort yang besar untuk mencari kamarnya. Dilantai tiga ini mungkin semuanya berisi kamar dan ruangan santai, terlihat ada satu kamar berisi tempat untuk gym.

'rumahnya lengkap ya, ada tempat gym, bahkan ada tempat khusus buat billiard.' Rivera menggeleng kagum, ia tidak habis pikir ternyata rumah sebesar ini ada berbagai macam kegunaan yang berbeda-beda, bukan hanya ruangan biasa aja.

Sudah 10 menit Rivera berjalan keliling tapi ia belum juga menemukan kamarnya, dengan bodoh nya tadi ia hanya tanya dimana letak kamarnya bukan tanya dimana jalan menuju kamarnya juga.

Tepat didepannya sebelah kiri, Rivera menemukan sebuah ruangan yang lebih besar dari ruangan ruangan lainya, Rivera menyadari bahwa diruangan itu pintunya berbera dari ruangan lainya, dimana disetiap ruangan terdapat pintu yang sangat besar dan memiliki dua sisi untuk membuka nya tapi diruangan ini pintunya berbeda.

ia hanya memiliki satu sisi saja dan pintu nya sama sekali tidak besar dengan warna abu abu yang memiliki corak abstrak. Rivera penasaran dengan ruangan tersebut, kenapa terlihat berbeda, apakah itu juga ruang santai.

Ia berjalan menuju ke ruangan tersebut, saat ia hendak masuk keruangan itu ia samar samar mendengar suara yang sangat berisik. Rivera beranggapan mungkin keluarganya yang lain berada diruangan tersebut, dan siapa tau ia bisa berkenalan.

Rivera berdiri tepat didepan pintu, ia ragu untuk membukanya. Ia hanya takut jika ia masuk keruangan yang tidak boleh dimasuki orang lain.

"Kalau dipikir pikir nih pintu lucu ih, ruangannya sih gede, tapi pintu seuprit. Comel nyee." Rivera berlagak seperti mencubit pintu seakan-akan itu adalah pipinya pintu.

Rivera membuka pintu perlahan, ia masuk keruangan tersebut. Saat ia berhasil masuk keruangan itu mata Rivera membelalak kaget, sekujur tubuh nya membeku.

'Mampus gua.'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!