MENDIAMKAN AL

"Aarrgggghhh" Al berteriak tepat saat Fatih keluar dari dalam kamar mandi

"Apaan sih mas, kok gak pake baju gitu." Al mengalihkan pandangannya ke arah lain. Karna Fatih hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawahnya saja

Terlihat sekali betapa indahnya tubuh Fatih yang kokoh, dengan perut kotak-kotak. Al menelan saliva, melihat tubuh atletis Fatih

"Aku tidak membawa baju." Jawab Fatih lalu melirik ke arah kasur, tempat baju ganti yang sudah Al siapkan

Selama ini, Al belum pernah menyiapkan baju untuk Fatih, sehingga Fatih langsung membawa baju ke dalam kamar mandi. Tapi tadi, karna ia masih marah dan segera masuk ke kamar mandi, sampai lupa membawa baju gantinya.

Tanpa basa-basi, Fatih langsung mengambil baju itu dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai nya.

.

.

.

Siang ini Al yang sedang berada di dalam mobil Dijah untuk pulang ke rumahnya, terlihat termenung dan hanya menatap pemandangan di jalan melalui jendela mobil.

Karna sampai sekarang Fatih masih mendiamkan Al. Semalam saat Al mengajak nya untuk makan malam, ternyata Fatih bilang dia sudah makan saat di luar. Dan Fatih langsung tidur tanpa bicara apapun dengan Al. Yang biasanya Fatih selalu memeluk Al saat tidur, tapi semalam dia tidak melakukan itu, dan Al belum berani berbicara apapun juga.

Tadi pagi juga, Fatih tidak sarapan di rumah. Padahal biasanya selalu menyempatkan sarapan, tapi Fatih beralasan bahwa dia ada kelas pagi jadi terburu-buru.

Al memikirkan itu sejak pagu, sehingga di kelas ia tidak konsen sama sekali, mengakibatkan kena tegur oleh dosen saat pelajaran pak Subandi tadi. Al tau bahwa dia sudah salah karna tidak jujur pada suaminya, dan Al tahu bahwa Fatih pasti sangat cemburu, mengingat bahwa Fatih sudah mencintai Al.

"Al, lo jangan sampe mogok ngomong gitu dong gara-gara di diemin Prof Fatih." Ucap Dijah yang melihat sahabatnya itu diam saja selama perjalanan

"Pasti Prof Fatih cuma bentaran doang marahnya mah, ya wajar kan, ngeliat istrinya ditembak sama cowo lain." Sambungnya

"Terus gue harus gimana Jah?"

"Ya lo harus minta maaf lah sama Prof Fatih, udah belum?" Tanya Dijah

"Ah b-belum." Jawab Al pelan

"Yaelah lo, pantes aja. Udah nanti di rumah, lo ajak ngobrol mas Fatih, ceritain semuanya dari yang lo di nyanyiin sama kak Angkasa waktu itu, pokoknya lo jujur aja deh semuanya, terus langsung minta maaf." Saran Dijah pada Al

Memang Al belum sempat mengucapkan maaf dari semalam tentang kejadian yang membuat Fatih diam. Gengsi yang terlalu besar melekat pada tubuh dan sifat Al, sehingga berat sekali untuk mengucapkan maaf.

Al tidak menjawab apapun, tapi ia langsung berpikir, nanti malam akan meminta maaf kepada Fatih, agar dia tidak marah lagi. Jangan sampe orang tua dan mertuanya tau tentang Ak yang ditembak Angkasa.

Sore hari, Fatih belum juga pulang, tapi, Al sudah tahu kemana suaminya itu pergi. Tadi Fatih mengabari bahwa dia langsung ke pesantren untuk mengajar, dan sehabis magrib mungkin baru pulang. Tapi Fatih tidak langsung menghubungi istrinya itu, dia menelpon telepon rumah dan memberitahu Najwa yang mengangkat telepon itu. Kemudian Najwa menyampaikan pada Al tentang pesan dari suaminya.

Karna itu, Al hanya bisa menghela nafas, dan akan menunggu kepulangan suaminya. Bahkan suaminya tidak langsung menghubungi di no hp nya, membuat Al benar-benar bertekad nanti akan minta maaf.

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 20.48. Al masih menunggu di dalam kamarnya sambil bermain ponsel. Fatih sudah pulang setelah magrib tadi, tapi setelah solat isya, Fatih langsung menuju ke dalam ruang kerjanya untuk melakukan beberapa pekerjaan.

Tapi tadi Fatih sempat menyuruh Najwa untuk membawa kan makan malam ke ruang kerjanya, ia masih tidak ingin makan di meja makan. Itu membuat Najwa senang tentunya, entah karna apa. Dan membuat Al kesal di dalam kamar.

"Apaan sih mas Fatih, pake minta anterin makan sama mba Najwa, aku juga kan bisa." Al menggertu sejak tadi, sambil menunggu Fatih masuk kamar

Cklek!! Setelah beberapa saat, dan sudah jam 21.07 Fatih masuk ke dalam kamar, setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Fatih melihat Al yang sedang duduk di bibir ranjang, dan menghadap ke arahnya. Tapi dia tidak menghiraukan dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.

Saat keluar dari kamar mandi, dia masih melihat Al dalam posisi yang sama seperti tadi.

"Mas sini deh, duduk sini. Aku mau ngomong." Ajak Al menepuk kasur agar Fatih duduk di sebelahnya

"Aku mau tidur, ngantuk." Fatih hendak mematikan lampu tapi tidak jadi karna Al...

"Iihhh nanti dulu mas, sebentar aja sini."

"Hm!" Jawab Fatih, karna mendengar Al berbicara sedikit teriak, dia langsung duduk di sebelah Al meski dengan jarak yang agak jauh.

"Mas aku mau minta maaf soal masalah kemarin." Ucap Al to the point, sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap Fatih

"Yang kemarin apa?" Tanya Fatih, yang mungkin pura-pura tidak tahu

"Yang masalah kak Angkasa nembak aku." Ucap Al sangat pelan, takut Fatih tersulut emosi

"T-tapi aku gak nerima dia kok mas, serius deh mas, aku gak suka sama dia." Al mengangkat dua jari nya membentuk V, yang terlihat menggemaskan di mata Fatih.

"Hm!" Hanya itu jawaban Fatih

"Kok gitu doang si, aku kan sudah minta maaf. Oh bentar aku bakal ceritain kejadian saat kak Angkasa nembak di acara makrab itu ya, biar kamu gak salah paham." Ucap Al antusias

Fatih hanya diam dan terus menatap istrinya itu yang sedang cerita semua kejadiannya. Dari awal sampai kejadian terakhir kemarin saat Angkasa meminta jawaban dari Al. Beberapa lama Al menceritakan seluruh nya pada Fatih, dengan sejujur jujurnya.

"Jadi gitu mas ceritanya, aku juga gak ngerasa kalo kak Angkasa deketin aku. Kirain dia suka ngasih ini itu, dan perhatian karna emang dia perhatian sama semua orang, apalagi sama adek kelas gitu, biar akrab. Eh ternyata ada udang di balik bakwan."

"Kamu memberinya harapan sampai dia berani nembak kamu!" Ucap Fatih penuh penekanan.

"A-ah gak gitu mas, aku gak tau kalo tujuannya gitu, jadi aku mah emang ramah tamah pada semua orang. Apalagi di kasih, ya aku ambil atuh."

Cletak! Fatih menyentil dahi Al yang kemudian mengaduh kesakitan.

"Mas kalo marah, mending marah langsung aja deh, ceramahin aku kek, atau kasih hukuman apa, jangan diemin aku kayak gitu. Masa dari semalem di diemin terus sih. Pas aku ngomong kamu kadang gak jawab, kek ngerasa ngomong sama hantu kali ya, kesel." Al mencebikkan bibirnya

"Jangan sampe mas ngadu sama ayah bunda, dan umi abah." Lanjut Al

"Sepertinya boleh juga, biar mereka tau kalo anaknya ini, deket sama cowo lain hm." Fatih menakuti Al

"Iihh jangan gitu dong, ah mainnya ngaduan."

"Aku cemburu Al, aku marah dan gak terima ngeliat istri aku di tembak cowo lain. Apalagi dia tidak jauh dari kamu umurnya. Jadi aku berpikir kamu akan menerima dia." Ucap Fatih serius, dan berpikir bahwa istrinya ini memang masih belum mencintainya, sehingga datang kekhawatiran itu.

Al berpikir Fatih memang marah, sampai memanggilnya dengan nama, karna kalo Fatih memanggilnya dengan sebutan Al, berarti dia sedang marah, dan kalau memanggil dengan Almaira berarti dia sedang ingin berbicara serius. Setelah beberapa lama tinggal dengan Fatih, Ak bisa menyimpulkan itu.

"Iya mas aku minta maaf, maafin ya, ya ,ya." Al memelas sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya

"Boleh, tapi ada syarat." Ucap Fatih sambil tersenyum penuh arti, yang membuat Al mengerutkan keningnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!