Sejak di mobil tadi, setelah selesai dari butik. Terlihat Al semakin kesal dan merajuk, entah karna apa. Sampai saat ini, hari sudah malam, Al terlihat masih kesal dengan raut wajah yang di tekuk. Fatih terheran melihatnya, tapi di biarkan dulu oleh Fatih.
"Sayang, kamu udah tidur?" Tanya Fatih saat mereka berdua sudah berbaring di kasur, tapi Al justru membelakangi Fatih
"Sayang, aku mau nanya, kamu udah tidur belum?" Tanya Fatih lagi, karna ia yakin kalau Al belum tidur
"Hm" hanya itu jawaban Al
"Kamu kenapa sayang? Apa aku buat kamu kesal? Sepertinya setelah keluar dari butik tadi, kamu bertambah kesal. Apa karna aku yang udah nyuruh kamu beli gamis ya? Ya sudah sayang kalau kamu tidak mau, nanti biar aku kasihkan ke umi saja ya gamisnya?" Fatih takut jika Al marah karna dia yang memaksanya untuk membeli gamis dan memakainya
"Ihhh jangan dong, aku bukan kesal karna itu. Gak peka banget sih." Rajuk Al yang sudah berubah posisi menjadi telentang menghadap langit langit rumah.
Fatih menggaruk tengkuknya, ia tidak tahu apa yang membuat Al kesal. Tidak peka katanya? Apa itu? Fatih jadi bingung. Dia merasa tidak melakukan kesalahan.
"Terus karna apa sayang, sok di bicarakan coba."
"Kamu gak ngeh apa sih mas kalo mba-mba karyawan di butik tadi deket-deket kamu? Dia pasti suka sama kamu. Kamu pake senyam senyum lagi, huh."
"Ya, Allah sayang, jadi kamu cemburu, hm?"
"Ihh apaan sih, bukannya cemburu, tapi kesel aja liat kamu diem doang pas di deketin."
"Bukan diem aja sayang, aku gak ngerasa kalo mba Amel itu ngedeketin aku. Soalny juga aku sudah sering kesana dan nemenin umi, ya dia emang seperti itu. Dia selalu memberi minum kalau ada pembeli yang nunggu sambil duduk di sofa." Jelas Fatih
"Oh jadi sudah lama kamu kenal sama dia, sampe tau namanya juga, udah lama dia deketin kamu, tapi kamu gak peka banget sih mas. Keliatan banget kalo dia suka sama kamu." Al tambah mencebikkan bibirnya
"Gak sayang, mas beneran gak deket sama dia. Yasudah setelah ini mas gak akan nerima minum atau apapun dari dia ya. Maafin mas ya."
"Mending ganti toko aja, gausah di situ lagi lah, kan banyak butik yang lain."
Fatih menghembuskan nafasnya, lalu tersenyum. Ia senang karna Al sebenarnya pasti sedang cemburu, itu artinya Al sudah memiliki perasaan terhadap Fatih.
"Baik sayang kita cari butik yang lain saja. Tapi kamu ngaku dulu, kalo kamu itu sedang cemburu kan?" Goda Fatih sambil mencolek dagu Al
"Ihhh paan pegang-pegang." Al menepis tangan Fatih
"Ciee sampe begitu mukanya, jadi gemes pengen itu yang."
"Massss!!"
"Hihii sini peluk dong tidurnya, gak baik membelakangi suami." Fatih membuka tangan lebar untuk menyambut Al dalam pelukannya
Al yang sudah malu dan salting, muka yang sudah sangat memerah, langsung saja masuk ke dalam pelukan Fatih dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Fatih. Menghirup aroma segar dari tubuh sang suami, membuatnya merasakan degup jantung yang kuat.
Apakah aku sudah mencintai mas Fatih juga? apakah aku tadi benar-benar cemburu? Itulah pikiran Al saat ini, dia sangat nyaman berada dalam pelukan Fatih.
"Tapi mas, aku belum mau pake gamis ya besok, mulai Minggu depan ajalah." Ucap Al dalam dekapan Fatih
Fatih pun hanya tersenyum dan tangannya mengusap-usap punggung milik istri, sambil sesekali menciumi kepala atas milik Al. Fatih tidak mau terlalu memaksa Al agar ini dan itu, ia akan mengajarkan secara perlahan asal nyaman untuk istrinya tercintanya ini. Ia pun heran, kenapa bisa sesayang ini dengan mahasiswa nya yang dulu sangat tidak menyukainya. Fatih benar-benar sudah jatuh cinta untuk seorang Al.
.
.
Siang ini, tampak Al, Dijah, Syila dan Nashwa sedang berada di cafe deket kampus mereka. Setelah Syila yang tadi mengajak mereka untuk dateng ke cafe yang baru seminggu ini buka. Sudah ada beberapa menu di hadapan mereka berempat.
"Guys cobain deh ini punya gue, sumpa enak banget." Ucap Dijah menawarkan makanan pesenannya
"Gak kecewa kan lo pada, gue ajak makan di cafe baru ini." Imbuh Syila
"Lo tau dari mana nih cafe Syil." Tanya Dijah lagi
"Ini itu cafe punya anak temen bokap gue. Namanya kak Fadil kalo gak salah, gue juga belum pernah ketemu si. Semalem bokap gue recommend suruh kesini."
"Wah iya Syil ini ramennya enak banget, aku belum pernah makan yang seenak ini." Ucap Nashwa yang memang memesan ramen
"Al gimana, enak kan?" Tanya Dijah pada Al yang sibuk makan dari tadi
"Eeeekkkk. Dah habis."
Al bersendawa cukup kuat sehingga beberapa pengunjung disitu fokus melihat ke arah mereka. Al pun menunjukkan mangkuk makanannya yang sudah bersih, bahkan seperti sudah di cuci.
"Bukan temen gue, cup!" Ucap Dijah yang langsung melengoskan wajahnya ke arah jendela, malu mempunya teman seperti Al yang tidak punya malu.
"Iya gue juga bukan."
"Aku juga gamau." Ucap Syila dan Nashwa yang juga malu karna jadi pusat perhatian para pelanggan sekarang.
"Ihh gitu kalian, ya sorry kelepasan tadi." Ucap Al
"Kita orang baru abis setengahnya, lah mangkuk lo udah kinclong aja kaya jendela rumah presiden." Cibir Dijah
"Ya kalian mah ngobrol mulu. Kita itu harus menikmati kalo makan, gak usah sambil ngobrol hm." Jawab Al sok bijak
Syila dan Nashwa hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan sahabatnya ini.
"Guys gue mau ke toilet dulu ya." Ucap Syila lalu beranjak
"Mau ngapain lo?" Tanya Dijah
"Biasalah, kita touch up dulu make up nya." Jawab Syila yang memang dia memiliki sifat sedikit centil sebagai perempuan, dan selalu memikirkan tentang make up.
"Aku ikut juga Syil." Ucap Nashwa
"Ngapain lo, touch up juga?" Tanya Al saat ini
"Ihh engga lah, aku mau pipis."
"Kirain lo mau pake dempul juga siang terik gini." Jawab Al menyindir Syila dan langsung mendapatkan tatapan tajam darinya
Setelah mereka pergi menjauh, Dijah menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Al.
"Al gue gedek banget tau gak, sama cerita lo tadi pagi. Siapa sih yang berani buat lo sampe jatuh ke jurang gitu."
"Lo udah kaya mas Fatih aja sih."
"Cie udah mas nih sekarang." Goda Dijah
"Sama kaya Prof Fatih apa nih?" Lanjut Dijah
"Ya itu, dia kemaren kaya emosi banget pas tau cerita gue. Tapi gue heran Jah, siapa yang tau kalo gue gak suka boneka, apalagi boneka serem gitu?"
Al memikirkan hal itu, dia merasa tidak pernah memberitahukan hal itu pada siapapun sebelumnya, kecuali orang tuanya dan sahabatnya si Khadijah ini.
"Lo gak inget apa, lo pernah ngasih tau siapa lagi gitu?"
"Gatau ah gue gak inget." Jawab Al, sepertinya mereka berdua lupa jika sudah memberi tahu salah satu orang yang memang tidak menyukai Al
"Untung aja lo kaga amnesia, kalo sampe lupa ingatan, pasti lo bakal ngelupain utang lo waktu itu." Ucap Dijah yang membuat Al berpikir dan mengerutkan keningnya
"Astagfirullah, lo teman macam apa, cuma minjem tujuh rebu lima ratus aja pake di tagih." Al menoyor kepala sahabatnya itu
"Hehe itukan duit Al, aelah." Jawab Dijah, Sebenarnya Al tau jika itu hanya jokes seorang Dijah, karna duit jajan Dijah juga besar kali, mana mungkin segitu harus dibayar.
"Btw gimana lo, belum mau jawab soal tembakan kak Angkasa waktu itu?" Tanya Dijah lagi, berubah sedikit serius
"Gue udah mikirin itu sih, ya pasti gue bakal nolak lah."
"Tapi Prof Fatih gak tau Al soal ini?"
"Ya engga lah, jangan sampe. Entar dia marah lagi."
"Tapi lo mau pake alasan apa Al untuk nolak kak Angkasa?"
"Hm gue bakal bawa nama bunda nanti."
"Hah nama bunda Al?" Tanya Dijah tapi tidak dijawab oleh Al, dia hanya tersenyum penuh arti saja.
Entah apa yang akan di beritahukan pada Angkasa, apakah Al bakal jujur kalau dia sudah menikah? Bahkan Fatih tidak tahu akan hal ini, meski begitu bukan maksud Al untuk menyembunyikan ini, ia hanya tidak ingin kalau Fatih marah dan ingin mempublikasikan pernikahan mereka.
"Ayo guys balik." Ajak Syila
saat mereka semua keluar dari cafe, dan ingin menuju mobil, tiba-tiba datang Angkasa dan Husein yang mendekati mereka.
"Hi girls." sapa Husein dengan melambaikan tangannya
"Hi kak Husein." jawab mereka kecuali Dijah yang males menanggapi Husein
"ehem Al, aku mau ngomong sama kamu." ucap Angkasa yang sudah berdiri di hadapan Al
"Ngomong apa ya kak?" tanya Al pura-pura tidak tahu
"Ini tentang yang aku nembak kamu beberapa hari lalu Al. Apa kamu udah bisa jawab sekarang? Apa kamu menerima atau menolak perasaanku??"
Al sudah tidak kaget lagi, ia memang sudah menyiapkan jawaban untuk ini, tapi hanya tidak menyangka jika di saat seperti ini Angkasa akan menagih jawabannya. Mereka ber enam berdiri tepat di depan cafe, memang tempat nya juga cukup bagus.
"Hm akuu...." ucap Al terpotong saat dia melihat ada laki-laki yang memang sangat di hindari nya untuk menjawab tembakan Angkasa ini, tapi ia tidak menyangka jika bakal ketemu disini.
Kira-kira siapa yang datang dan melihat momen Al dan Angkasa itu guys??
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments