"Duh mati gue, ada kak Sena lagi." Gumam Al
Saat ini Al sedang berjalan sambil mengendap, menuju parkiran dosen, dimana Fatih sudah menunggu di dalam mobil. Tadi Fatih mengirim pesan untuk Al, agar langsung ke parkiran dosen. Karna kasihan jika istrinya itu harus berjalan ke depan untuk menaiki mobilnya.
Tapi saat ia baru ingin menuju parkiran, Sena sudah lebih dulu melihat Al dan mendatanginya.
"Lo ngapain ke parkiran dosen, sambil ngendap-ngendap gitu lagi." Ucap Sena bersama bestienya, siapa lagi jika buka Keysa
"Iya, jangan-jangan lo mau nyuri ya. Di dalam mobil para dosen yang bagus-bagus ini hm?" Tuduh Keysa
"Ihh apaan sih kak, sembarangan kalo ngomong. Gue masih mampu buat beli apapun, gak perlu ngotorin tangan gue ini. Lagian bukan urusan kalian gue mau ngapain juga, udah sana pergi!"
"Lo mencurigakan banget deh, mau ngapain ha ngaku lo!" Ucap Sena sambil sedikit mendorong bahu Al
"Bukan urusan lo!" Ucap Al sambil balik mendorong bahu Sena
"Oh berani lo ya sama gue, dasar adik tingkat gak tau diri lo. Ayok Key!" Sena mengambil ancang-ancang ingin berkelahi dengan Al, Keysa pun menganggukan kepalanya.
Al juga sudah mulai berancang-ancang, siapa yang takut di suruh kelahi begini, meski mereka dua orang, Al sama sekali tidak takut. Apalagi wanita biasanya jika berkelahi, akan tarik-tarikan rambut.
Sebelum mereka benar-benar menarik rambut satu sama lain. Fatih langsung datang, dan menengahi mereka.
"Apa apaan ini ha. Kalian kenapa sampai ingin berkelahi seperti ini, ini ada di area parkiran dosen, berani sekali kalian."
Mereka semua tertunduk takut, karna terlihat jelas raut wajah Fatih yang marah dan tatapan tajamnya. Membuat semua orang tidak berani menatap jika sudah seperti itu.
"I-itu Prof, si Al mencurigakan sekali, kenapa dia ada di parkiran dosen sambil mengendap-endap. Jadi saya hanya ingin bertanya, tapi dia malah tidak ingin jawab dan mendorong saya, jadi saya sedikit emosi." Dusta Sena di hadapan Fatih, dengan tetap menunduk. Belum berani menatap mata tajam Fatih
"Benar begitu Keysa?" Tanya Fatih pada Keysa yang masih setia menunduk juga.
"B-benar Prof."
"Cih!" Al berdecak mendengar kebohongan mereka
"Oke kalau begitu, biar saya kasih tau. Saya yang menyuruh Al untuk kesini, karna ada beberapa hal penting yang harus saya bicarakan dengannya. Jadi tidak perlu curiga dengan Al." Jelas Fatih
Sena dan Keysa langsung sama-sama mendongakkan kepalanya, ia kaget karna ternyata Fatih yang mengajak Al ke parkiran ini.
"T-tapi Prof, hal penting apa yang perlu Prof bicarakan, kenapa di parkiran segala." Sangkal Sena tidak terima
"Apa itu urusan kamu? Saya rasa kamu tidak perlu tau, karna kamu tidak ada hubungannya dengan ini!" Telak Fatih tanpa menatap wajah Sena
Skakmat! Sena langsung merasa marah sekaligus malu, karna memang itu adalah privasi dan siapapun tidak perlu tahu, apalagi Sena bukan siapa-siapa. Tapi Fatih masih menggunakan kata yang halus.
"Silahkan kalian berdua pergi dari sini, karna saya mau berbicara dengan Al, tanpa ada yang mendengar!" Fatih memajukan tangannya mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam lagi
Sena dan Keysa pun mau tak mau berjalan meninggalkan mereka, dengan menatap tajam ke arah Al seperti berbicara 'awas aja lo, gue bakal kasih pelajaran.'
Sedangkan Al, sedang bersedekap dada sambil menyunggingkan senyum mengejek ke arah Sena. Ia senang karna Fatih sudah membelanya. Untung tadi Fatih datang untuk menyelamatkan nya. Hampir saja ia ketahuan ingin masuk ke dalam mobil Fatih.
Setelah berhasil masuk mobil tanpa ada yang melihat, Fatih langsung menjalankan mobilnya dengan cepat.
"Mas aku jadi males kan bareng sama kamu, aku sama Dijah aja deh ya besok-besok." Ucap Dijah di dalam mobil
"Gak usah, biar sama aku aja.!"
"Ihh" Al mencebikkan bibirnya dan menghadap ke jendela
"Kamu tau gak si mas kalo kak Sena tadi udah bohong, masa dia jadi ngebalikin fakta, fitnah aku yang dorong dia duluan." Tanpa menoleh ke arah Fatih
"Aku tau dia bohong!" Al langsung kembali menghadap Fatih yang serius menatap ke depan
"Hah! Serius? Kok bisa tau sih?"
"Aku tadi liat mereka nyamperin kamu, jadi aku kepo, aku jalan ke arah sana, sebelum aku sampek, aku pengen denger dulu omongan kalian, jadi aku dengerin di balik tembok." Jelas Fatih
"Terus kenapa gak dimarahi mas, kamu malah iya iya aja iss."
"Gak perlu di marahi, biarkan saja dulu. Kalau dia terus begitu baru aku kasih hukuman."
"Tapikan paling ga kamu bilang depan dia tadi, kalo dia sudah memfitnah ku, ceramahi kek kalo itu tu dosa, peringati kek, atau apalah."
"Yasudah, nanti aku ingetin ya kalau dia begitu lagi."
"Kok nanti sih, aku butuhnya waktu tadi ya!" Al langsung melengoskan pandangannya ke arah jendela
"Kan sudah lewat sayang, maaf ya."
Tapi Al diam saja tidak membalas ucapan Fatih, dan dia sibuk menatap ke arah luar jendela sambil bersedekap dada.
"Mereka harus mas hukum apa sayang?" Tanya Fatih lembut agar Al tidak ngambek lagi
Fatih bisa melihat Al yang sedang kesal dan marah padanya, tapi Al masih saja tidak menjawab ucapannya. Fatih pun kembali fokus menyetir mobilnya, menyusuri perjalanan yang tidak macet sama sekali sore ini, sangat tumben sekali.
Al merasa aneh, karna dia yang tadi terlalu fokus melihat-lihat keluar, jadilah sekarang baru sadar jika Fatih memberhentikan mobilnya tepat di salah satu toko.
"Mas kok berhenti disini, ayo pulang ih. Ini toko apa"
"Itu kamu bisa lihat, kita ke dalam dulu ya." Ucap Fatih sambil menunjuk plang nama toko itu (Butik Andini)
"Kamu mau beli baju mas?" Tanya Al
"Kamu sayang, aku mau beliin kamu. Disini butik yang biasanya aku suka anter umi buat beli gamis."
"Hah gamis? Nggak lah mas, aku pake nya ginian aja udah, baju sama celana aku banyak di rumah."
Al memang selalu menggunakan hijab, tapi dia masih sering memakai celana, paling sesekali memakai rok, itupun bukan rok yang longgar.
Seperti saat ini, dia menggunakan celana jeans yang tipe kulot, agak melebar bukan ngepres. Kemudian menggunakan kemeja yang tidak panjang, jadi tidak menutupi area bokongnya, dan juga memakai hijab yang di naikkan sebelah ke pundaknya. Ya itulah ootd yang sering di pakai oleh Al untuk kesehariannya.
"Ayo kita masuk dulu, kamu harus belajar memakai gamis dan dress gitu ya. Bukannya kata bunda harus menuruti apa kata suami selagi itu baik, ini baik kan buat kamu hm? Mau ya sayang?" Fatih menggenggam tangan Al sambil mengusapnya pelan
'pake bawa-bawa bunda segala, mana jadi lembut gitu. Udahlah turuti aja.' batin Al
"Yasudah ayo."
Fatih langsung tersenyum, kemudian keluar dari mobil duluan dan membukakan pintu mobil untuk Al. Tumben sekali pikir Al, Fatih tambah hari, tambah perhatian dan bucin dengannya.
"Assalamualaikum, siang pak Fatih." Sambut wanita yang mungkin seumuran dengan umi Fatimah, dan sepertinya pemilik dari butik ini.
"Waalaikumsallam, buk Ratna." Salam Fatih diikuti oleh Al yang berdiri di belakangnya
"Wah udah lama sekali tidak kesini, mana umi Fatimah, apa dia sehat? Terus ini siapa, apa adik sepupu mu?" Tunjuk buk Ratna pada Al yang terlihat asing
Dia kira itu adalah adik sepupunya, karna buk Ratna tahu kalau Fatih tidak memiliki saudara kandung. Dan memang pernikahan Fatih dan Al kemarin di adakan secara privat saja.
"Alhamdulillah umi sehat di rumah buk, dan ini adalah istri saya." Fatih menggandeng tangan Al sambil membawa berdiri di samping nya.
"I-istri? Pak Fatih sudah menikah? Seriusan?" Tanya salah satu karyawan disana yang memang selalu melihat Fatih mengantar umi Fatimah saat membeli baju.
"Iya mba, ini istri saya, sudah hampir sebulan kami menikah. Memang acaranya privat, tidak banyak orang yang di undang, mohon doanya saja ya buk." Fatih meminta doa dari buk Ratna dan juga yang lain untuk pernikahannya
"MasyaAllah, semoga pernikahan kalian selalu di berkahi sampai ke Jannah, dan cepat di beri momongan ya." Doa buk Ratna dengan senyuman tulus
'momongan dia bilang? Belum juga ngapa-ngapain.' batin Al yang sejak tadi hanya tersenyum kikuk
"Oh ya siapa nama kamu, sepertinya istri Fatih ini masih muda sekali umurnya?"
"Ah uhm saya Almaira buk, panggil aja Al, iya buk saya baru 18 tahun. Eh malah di suruh nikah sama om om...." Ucap Al tepotong karna Al tiba-tiba melihat tatapan tajam dari Fatih yang berada di sampingnya
"Hahaha kalian lucu banget, ini mba Al cantik banget. Kalian masyaAllah cocok sekali."
"Terimakasih buk Ratna. Jadi saya minta tolong, pilihin beberapa gamis buat istri saya ya buk." Ujar Fatih
"Oh kalo begitu ayo ikut sama ibuk mba Al, kebetulan tadi pagi barang baru sampe, jadi banyak yang bagus." Ajak buk Ratna
"Mas harus banget ya??" Tanya Al sedikit berbisik dihadapan Fatih
Al masih bertanya, siapa tahu suaminya berubah pikiran dan tidak jadi menyuruhnya membeli gamis. Jujur saja jika Al belum siap dan belum mau memakai pakaian seperti itu, karna menurutnya itu sangat ribet untuk dia yang memiliki sifat barbar.
Al berpikir, mengapa Fatih hari ini sangat menyebalkan dan selalu membuatnya kesal. Al saat ini sedang bad mood karna juga bawaan dia yang sedang datang bulan, tapi Fatih malah membuatnya kesal, bukan sesuatu yang bisa mengembalikan moodnya.
"hmm!" Jawab Fatih singkat sambil menganggukan kepalanya
"Ikut sama buk Ratna ya, aku tunggu di sofa itu." Fatih menunjuk sofa yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk.
"Yasudah ayo mba Al kita kesana!" Buk Ratna menggandeng tangan Al menuju ke dalam sana, untuk memilih dan mencoba gamis.
Dengan berat hati, Al mengikuti langkah buk Ratna yang membawa nya. Ia berpikir jika sudah begini, maka setiap hari ia akan mengenakan gamis untuk kuliah.
"Gak ada lagi kesempatan, untuk aku deketin Prof Fatih." Ucap karyawan wanita tadi, tampak lesu
"Sudahlah Mel, kan masih banyak laki-laki lain juga." Ucap temennya, yang juga karyawan disana.
"Huhhh!" Helaan nafas dari Amel, yang memang tertarik pada Fatih, sejak awal Fatih mengantar umi Fatimah untuk berbelanja di butik itu.
Siapa yang tidak akan tertarik pada Fatih, meski Fatih memiliki wajah datar dan sangat dingin, tapi tidak dapat di pungkiri bahwa ia sangat tampan, dan memiliki badan tegap dan gagah yang dapat membuat semua wanita terpesona dengannya. Hanya saja ada beberapa wanita yang jatuh cinta sampai nekat untuk mendekatinya. Dan ada juga wanita yang tertarik pada Fatih, tapi masih berpikir logika dan lebih sadar diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Siti Puji Mul Yani
lanjut thor
2023-09-30
0