Hari ini Al sudah boleh pulang kerumah. Meskipun besok seharusnya adalah jadwal Al baru bisa keluar rumah sakit, tapi setelah dua hari berada di rumah sakit, Al merasa bosan dan ingin segera pulang. Karna memang dia adalah tipe orang yang tidak bisa diam, apalagi hanya tiduran saja.
Al memaksa Fatih untuk menuruti keinginannya. Dengan terpaksa Fatih pun berbicara kepada dokter agar mengizinkan Al untuk pulang.
Dijah pun sudah tidak menginap di sana, ia hanya menemani saat malam itu saja. Keesokannya, teman-teman Al datang, yaitu Syila, Nashwa, Angkasa, dan Husein. Dan saat mereka pulang, Dijah juga ikut pulang bersama mereka.
Saat ini Fatih dan Al sudah sampai di depan rumah mereka. Fatih langsung turun dan berjalan ke arah pintu Al di samping sana, ia membuka pintu mobil, kemudian tiba-tiba menggendong Al ala bridal style.
"Eh, mas kok gendong aku sih, udah turunin!" Ucap Al memukul pelan pundak Fatih
"Udah diem, katanya kaki kamu masih lemas."
"Ihh malu mas, aku bisa jalan sendiri."
Tapi tidak di hiraukan oleh Fatih, ia langsung membawa Al ke lantai atas. Dengan sedikit cepat Fatih berjalan, sehingga membuat Al langsung memeluk leher suaminya itu, karna takut terjatuh.
Dengan posisi seperti ini, Al melihat dari bawah, ketampanan yang dimiliki suaminya itu sungguh membuat hatinya berdegup kencang, meski dengan wajah datar, tapi tidak menghilangkan kadar ketampanan Fatih. Wajah mereka sangat dekat, dan membuat Al menatap tanpa berkedip.
'Bweh laki gue kok tampan banget ya, di liat dari bawah gini' Al membatin
Fatih langsung membaringkan tubuh Al di kasur, setelah sampai di kamar mereka.
"Ehem, udah natapnya, aku tau kalo aku ganteng." Ucap Fatih yang langsung membuyarkan lamunan Al yang masih setia menatap suaminya.
"Apaan sih." Al memalingkan wajahnya membelakangi Fatih
Fatih hanya tersenyum melihatnya, ia tahu bahwa pipi sang istri sudah memerah karna malu atau mungkin salting.
"Kamu istirahat aja dulu ya, nanti sore aku bangunin."
"Iya." Balas Al singkat, kemudian ia langsung memejamkan mata dan memasuki alam mimpinya.
Sedangkan Fatih, bergegas ke dapur untuk menyuruh mba Najwa memasak, untuk makan Al nanti setelah bangun.
Keesokan harinya, Al belum di izinkan untuk masuk kuliah oleh Fatih, karna ia masih khawatir dengan kondisi Al yang masih sedikit lemas.
"Mas apaan sih, aku kan pengen kuliah. Liat nih aku udah bisa tegak dengan kuat, udah gak lemes lagi kok." Ucap Al sambil berdiri di hadapan Fatih yang duduk di meja kerjanya
"Iya aku tau, tapi kamu belum boleh kuliah dulu. Liat muka mu masih pucat gitu, biar hari ini istirahat, baru besok kuliah."
"Terus kamu kenapa gak masuk juga mas, ada kelas kan?" Tanya Al, karna Fatih juga meliburkan dirinya
"Aku pengen jagain dan ngerawat kamu aja hari ini."
Saat Al di rumah sakit, Fatih tetap masuk untuk mengajar di kampus, karna takut banyak yang curiga kalau dia tetap di rumah sakit. Lagian ada orang tua Al yang menemaninya di rumah sakit.
"Aku udh gak sakit juga, ih nyebelin." Gumam Al kemudian berjalan sambil menghentakkan kakinya ke arah kamar mereka.
Fyi, ruang kerja dan kamar mereka berdua itu bersebelahan.
Fatih yang melihat istrinya kesal, langsung mengikutinya ke dalam kamar. Ia hanya khawatir jika Al kuliah dan terlalu capek beraktivitas hari ini, karna memang anjuran dokter harus 3 hari beristirahat. Sedangkan kemarin, baru 2 hari di rumah sakit.
"Sayang?" Fatih memanggil Al yang sedang duduk di balkon dengan memegang ponselnya
"Apa?!" Judes Al tanpa melirik ke arah Fatih
Sebenarnya setiap Fatih memanggilnya sayang, jantungnya langsung degdegan tidak karuan, seperti ada sengatan listrik mengalir. Mungkin karna belum terbiasa dengan panggilan itu. Tapi dia pura-pura cool di depan Fatih.
"Kamu mau istirahat ya?"
"Ihhhhhhhh nyebelin. Kamu ngelarang aku kaya gini, aku bosan tau mas." Al menggoyangkan tubuhnya sambil sedikit berteriak dan mengerucutkan bibirnya
Fatih gemas sendiri melihat istri barbar nya, yang memang tidak betah untuk diam di dalam rumah saja. Kemudian ia duduk di samping Al dan mendempetkan tubuhnya pada Al.
"Sayang dengar, tidak beh membantah perkataan suami, jika itu baik maka dengarkan dan laksanakan. Wanita juga lebih baik di dalam rumah bukan dari pada harus keluyuran. Aku disini hanya ingin kamu beristirahat sehari ini saja, besok baru boleh masuk dan belajar di kampus." Ucap Fatih dengan lembut kemudian mengelus gemas puncak kepala Al.
Al tampak menghela nafas sebentar. "Hm i-iya mas maafin aku ya, bunda juga pernah bilang begitu si. Cuman akunya belum kebiasaan aja kali kalo dirumah gini, udh dari 3 hari kmren istirahat mulu. Maaf ya mas!"
Al memasang wajah memelas, ia merasa bersalah karna sudah kesal dengan Fatih dan melawan perkataan Fatih.
" Gak di maafin." Fatih melengoskan wajahnya ke sebelah sana, pura-pura marah
"Ihh ayolah mas, maafin Al ya hm." Al menusuk-nusuk lengan bagian atas Fatih menggunakan telunjuknya
"Oke, tapi ini dulu." Fatih menunjuk pipinya di hadapan Al
"Eh?" Al melongo
'apaan nih, minta cium kah? Modus segala ni om-om!' batin Al
"Ih ambil kesempatan dalam kesempitan ya." Ucap Al
"Ya ngga lah, kan minta cium istri sendiri, masa gak boleh." Fatih mengerucutkan bibirnya
'dia apa-apaan kaya gitu, kalo gemes gini mana bisa nolak. Cium seluruh muka juga gue jabanin' ucap Al dalam hati
Cup!! Al mengecup pipi Fatih, sehingga sang empu langsung tersenyum.
"Udah ya, udah di maafin kan."
"Iya di maafin. Ayok kita ke taman belakang, cari udara segar pagi ini hm?" Ajak Fatih
"Wah iya, ayok mas." Al langsung turun dari kasur, dan mau keluar ke arah pintu tapi tangan nya di tahan oleh Fatih.
"Kenapa mas, ayok!"
Cup!! Fatih melayangkan bibirnya pada bibir Al, dia gemas dari tadi ingin mencium bibir merah muda yang menggodanya.
"Udah ayok jalan!" Fatih menarik tangan Al yang masih terdiam karna ciuman Fatih yang tiba-tiba.
Suka sekali Fatih menyerang Al secara tiba-tiba seperti itu. Sampai di taman belakang Al masih saja terdiam, entah memikirkan kecupan tadi atau apa.
Fatih yang tadi kembali ke dapur, sekarang sudah duduk di samping Al dengan membawa beberapa potong buah.
Fyi, di belakang juga ada taman ya. Tapi tidak sebesar taman di depan. Ini hanya sepetak tempat menanam bunga atau yang lainnya, dan ada kolam ikan yang tidak terlalu besar juga.
Mereka duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari pintu. Menikmati potongan buah, sambil Al menyandarkan kepalanya di pundak kokoh milik Fatih.
"Sekarang aku mau mendengar cerita dari kamu, bagaimana bisa kamu terjatuh ke jurang itu!?" Ucap Fatih
Dia memang menunggu istrinya menceritakan kejadian itu, karna sangat penasaran penyebab istrinya menjadi terluka. Luka yang ada di dahi Al, sampai sekarang masih di perban karna belum kering.
"Ah hm i-itu..."
"Ayo cepat ceritakan, kemaren katanya mau cerita kalo udah keluar dari rumah sakit."
"Jadi, sebenarnya....."
*Flashback on
Malam itu Al membuka kotak yang entah dari siapa, dan membuatnya berteriak. Ternyata isinya adalah boneka seram. Boneka yang wajahnya banyak berlumur darah buatan, dan mata yang copot satu. Al memang phobia terhadap boneka, apalagi sampai boneka itu terlihat seram, itulah yang membuatnya berteriak dan langsung melempar kotak itu.
Kotak itu terjatuh bersama bonekanya ke bawah jurang sana. Al pun hampir saja ikut terpeleset ke bawah, tapi untungnya masih bisa menahan tubuhnya.
Al melihat ke bawah, ternyata ada surat dari dalam kotak tadi, tapi tidak ikut jatuh ke jurang. Al pun mengambilnya dan membaca surat yang di tulis dengan tinta merah.
[Jangan berani mendekati Prof Fatih lagi!]
Seperti itulah isi surat itu, sehingga membuat Al membulatkan matanya dan berpikir jika itu pasti dari salah satu fans berat Fatih yang marah melihat kedekatannya dengan Fatih sebelumnya.
Al pun tidak menghiraukan itu semua, dia membuang surat itu ke arah jurang itu juga. Al masih berpikir positif dan tidak takut sama sekali berada di situ sendirian. Dia membuka hp karna tiba-tiba flash nya mati, sehingga keadaan nya gelap. Tapi tak sengaja hp nya terjatuh di bawah, kemudian Al menunduk ingin mencari hp nya.
Memang tidak gelap sempurna, karna masih ada beberapa cahaya dari lampu-lampu tempat yang lain, termasuk mushola yang lumayan jauh tapi masih memberikan sinar sedikit. Tapi jika ingin berjalan memang harus menggunakan flash. Al meraba kesana kemari untuk mencari hp nya.
Sebelum dia menemukan hpnya, dia merasa ada yang mendorongnya dari belakang, sehingga ia masuk ke jurang dan berguling disana sampai kepala nya menabrak sebuah batu yang cukup besar. Setelah itu ia tidak sadarkan diri.
*Flashback off
Al menceritakan kepada Fatih mulai dari ia yang susah tidur dan berniat keluar untuk mencari udara segar, sampai kejadian itu terjadi.
"Gitu ceritanya." Ucap Al menunduk
Terlihat wajah Fatih yang memerah dengan tatapan tajam nya, ia seperti menahan marah mendengar cerita itu. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mungkin itu salah satu fans mu yang tidak suka karna beberapa kali melihat aku dekat dengan mas." Ucap Al lagi
"Aku sangat marah sayang, bagaimana bisa mereka mencelakai kamu seperti itu. Alhamdulillah Allah masih memberimu kesempatan, kalau tidak aku juga rasa tidak bisa hidup."
"Ihh maksud kamu aku mati gitu." Al mencebikkan bibirnya
"Sayang apa nggak sebaiknya kita publik aja hubungan kita, aku takut kamu terluka lagi jika begini."
"Eh jangan dong mas, aku kan masih ingin kuliah seperti biasanya, gamau nanti tambah di benci sama fans mu itu."
"Tapi sayang, kalau seperti ini, aku jadi tidak bebas untuk melindungi mu."
Al hanya terdiam, ia belum mau kalau orang-orang tau bahwa dia sudah menikah. Apalagi di umurnya yang masih muda, dia masih ingin seperti anak lainnya yang bisa belajar dengan semestinya. Dia juga males jika harus berurusan dengan para fans Fatih.
"Nanti aja ya mas, tunggu sebentar lagi."
Al sadar jika suaminya mengkhawatirkan dia, dan itu membuat hatinya menghangat.
Fatih hanya bisa menghela nafas panjang, ia tahu kecemasan Al jika semua orang tau pernikahan mereka.
"Maaf pak, mbak. Ini minuman segarnya." Najwa memberikan minuman itu dan menaruhnya di meja.
Tapi ia tidak sengaja menumpahkan minuman itu ke lengan Fatih yang memang berada di meja, ia tenggerkan tangannya di meja itu. Karna mejanya berada di samping tempat duduknya.
"Eh maaf, maaf pak." Najwa langsung ingin memegang tangan Fatih untuk membersihkan nya dengan tisu, tapi Fatih menarik lengannya. Karna dia tidak ingin bersentuhan dengan yang bukan mahram.
"Biar saya bersihkan pak." Najwa ingin mengelap tangan Fatih lagi
"Eh biar saya aja mba Najwa, mba boleh masuk ke dalam lagi, biar saya yang mengelap tangan suami saya." Ucap Al dengan penuh penekanan pada kata suami saya
Najwa pun langsung masuk dengan raut wajah sedikit kesal. Al tau jika Najwa mungkin saja hanya modus, untungnya Fatih langsung menarik tangannya, sehingga tidak bersentuhan dengan tangan Najwa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments