Sudah seminggu Al dan Fatih tinggal di rumah abah dan umi, hubungan Al dan Fatih pun masih seperti itu saja, tidak tahu apakah sudah ada cinta di hati mereka berdua.
"Al saya ingin bicara sama kamu, coba duduk sini." Fatih menyuruh Al yang sedang tiduran sambil bermain hp
Al sudah duduk di tepi ranjang samping Fatih, ia mengernyitkan dahinya.
"Emm ngomong apa Prof, mau minta malam pertama ya, ihhh saya belum siap." Jawab Al sambil menyilangkan tangannya di depan dada
"Aww." Al memegang dahinya yang di sentil pelan oleh Fatih
"Saya bukan mau bilang itu, tapi kalo kamu mau, boleh." Ucap Fatih tanpa ekspresi apapun pada wajahnya
'Ihh nih kutub beruang mau ambil kesempatan.' batin Al
"Besok kamu ada kelas tidak." Tanya Fatih
"Nggak ada Prof, hem ada sih tapi dosennya ga masuk jadi di kasih tugas doang."
"Kalo gitu kamu tunggu saja di rumah, saya ada kelas sampe siang. Sorenya kita bakal pindah, jadi siapkan barang-barang kita."
"Hah pindah lagi, mau kemana sih Prof, aku udah betah disini tauk." Al mencebikkan bibirnya
"Kita bakal pindah ke rumah kita." Jawab Fatih
"Rumah kita? Prof sudah ada rumah sendiri ya, wah keren. Tapi, Al betah disini bareng umi Prof." Al memasang muka memelas dan itu sangat menggemaskan di mata Fatih
"Aww. Tuhkan tadi nyentil jidat, sekarang cubit pipi Al." Mukanya semakin menggemaskan, Fatih sangat ingin memakannya sekarang
"Siapkan saja besok barangnya. Sudah sekarang tidur udah malem, apa kamu mau mencoba malam pertama dengan saya."
'Nih orang gue seleding gak papa kali ya.' batin Al
Al langsung kabur, membaringkan tubuhnya dan menutupnya hingga kepala. Sampai saat ini Al belum pernah membuka hijabnya di depan Fatih, tapi Fatih belum memintanya juga, karna dia masih memberikan kenyamanan terlebih dahulu pada Al.
Siang ini Al baru saja selesai membereskan barang-barang yang akan dibawa pindah. Mereka berdua sudah membicarakan ini kepada abah dan umi tadi pagi. Dan Fatih masih belum pulang.
"Sudah beres." Ucap Al sambil berkacak pinggang
"Duh mana sih Prof Fatih, katanya sampe siang tapi belom pualng. Dih ngapain juga gue nyariin dia."
Jeng tuk jdarr jeng tuk jdarr!
Bunyi nada dering Al yang sangat tidak estetik, ada yang menelponnya, gegas ia mengangkatnya sambil menuju balkon yang ada di kamar.
"Hallo bro and sis." Ucap Dijah disebrang sana
"Assalamualaikum dulu woi." Jawab Al
"Waalaikumsallam hehe."
"Ngapain lo nelpon gue."
"Santai bestie, lo gak kesel di rumah terus, kita maen yok, keluar gitu. Ehh iya sekarang lo kan udah ada laki, pasti mau ehem-eheman aja di rumah." Ceplos Dijah
"Lo lahir kaga pake bismillah jadi gini, sembarangan mulut lo."
"Beneran gue Al, lo mau gak kita maen ntar sorean biar gak panas-panas amat."
"Gue gak bisa, sibuk." Jawab Al ketus
"Ah sok sibuk lo."
"Gue mau pindahan Jah tar sore, ini lagi nunggu Prof Fatih pulang." jelas Al
"Widih mau pindahan, pasti biar kalo berduaan gak diganggu sama mertua kan."
"Udah deh lo kalo gak penting gue matiin nih."
"Iye-iye udah, jangan lupa kasih tau alamat barunya ya, dan buatin gue keponakan yang lucu ya, bye." Tutttt telpon di matikan
"Kok bisa gue punya bestie laknat gini." Ucap Al sambil membayangkan dia akan mempunyai anak nanti, ihhh buat saja belum, ia bergidik ngeri.
Sebelum masu, Al melihat ke arah bawah dan mendengar percakapan dari santriwati dan orang tuanya. Sepertinya ia akan pulang dan dijemput oleh orangtuanya, tapi seperti ada problem
Al langsung turun dan hendak menemui mereka, tapi sampai di pintu ternyata umi juga keluar mau kesana, jadi mereka bareng menemui santriwati itu.
"Assalamualaikum, Salma ada apa, kamu mau pulang bersama orangtua mu?" Tanya umi pada santriwati tingkat smp
"Waalaikumsallam, iya bu nyai saya sudah izin akan pulang kerumah karna ibu saya besok mau lahiran." Jawab Salma
Al bisa melihat bahwa ibu Salma sedang hamil yang perut nya sudah sangat besar.
"Terus kenapa ibumu menangis seperti itu?"
"Maaf bu nyai, istri saya sepertinya sedang mengidam ingin memakan buah mangga itu." Ucap ayah dari Salma
Memang ada pohon mangga di depan rumah umi, dan banyak sekali buahnya. Abah dan umi sudah mengizinkan siapapun boleh mengambilnya.
"Maaf ya bu nyai, saya sangat ingin memakan buah mangga itu, sepertinya memang bawaan bayi." Jawab ibu itu
"Yasudah kalian ambil saja, Salma bukannya memang sudah saya perbolehkan siapapun mengambilnya."
"Benar bu Nyai, tapi tidak ada yang bisa mengambilnya, ini kaki ayah saya habis keseleo kemarin jadi tidak bisa memanjat." Jawab Salma sambil menunduk
Ternyata itu permasalahannya, ayah Salma mengalami cidera di kakinya sehingga tidak bisa memanjat.
"Oh kalo gitu biar saya aja yang ngambilin mangganya buat ibu." Ucap Al tiba-tiba
Mereka seperti kaget, apalagi umi, karna pohon mangga itu terlihat sangat tinggi untuk mencapai buahnya, jika harus menggunakan bambu untuk mengambilnya pun tidak bisa. Sepertinya pohon mangga yang sudah tua, tapi masih berbuah lebat.
"Jangan sayang, itu tinggi banget ntar jatoh." Kata umi
"Iya dek tidak usah, nanti biar saya belikan mangga di jalan buat istri saya." Balas ayah Salma mengelus puncak kepala istrinya, tapi ibu itu terlihat mencebikkan bibirnya
"Nggak papa saya bisa kok." Al langsung menuju arah mangga dan memanjatnya
Mereka kompak mengikuti Al dan melihat Al dari bawah pohon, tidak membutuhkan waktu lama, Al sudah sampai di atas dan mulai memilih mangga yang matang sempurna
"Ada apa umi?" Tanya Fatih tiba-tiba, yang baru sampai di rumah
"Itu Fatih, Al manjat pohon mangga, lihatlah tinggi banget, gimana nanti mantu umi jatoh." Umi panik dan khawatir melihat Al
"Tidak apa-apa umi, jangan khawatir, Al memang pandai memanjat." Jawab Fatih untuk menenangkan uminya, walau ia juga sedikit khawatir
"Ini aku lempar ya, Prof Fatih tangkep ini." Teriak Al melempar buahnya ke bawah yang langsung di tangkap oleh Fatih
Al sudah turun dari atas, umi langsung lega melihatnya. Banyak sekali buah mangga yang diambil oleh Al, karna dia juga ingin memakannya dan untuk di rumah umi juga.
"Terimakasih dek sudah mengambilkan mangganya buat istri saya."
"Iya terimakasih dek, saya jadi bisa makan mangga dari pohon itu."
"Saya dan istri saya pamit ya, akan membawa Salma pulang."
"Iya pak sama-sama, semoga besok persalinannya lancar ya." Balas Al
Kemudian mereka menaiki mobil dan berlalu dari area pesantren.
"Sudah, sekarang kamu mandi dan solat ashar bareng, terus kita langsung berangkat ke rumah baru." Ucap Fatih sambil mengelus kepala Al singkat kemudian meninggalkan Al dan umi.
"Cieee." Goda umi mencolek dagu Al
Meski Fatih dengan muka datarnya, tetapi berhasil membuat pipi Al merona dan malu.
'ihh jadi pengen gue sosor duluan kalo lagi kayak gini tuh orang, ehh.' batin Al sambil berjalan masuk ke dalam rumah
Tidak sampai satu jam perjalanan, Al dan Fatih sudah sampai di rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar tetapi terkesan mewah dan elegan di sebuah komplek perumahan. Fatih sudah membeli rumah ini sejak beberapa bulan yang lalu, tapi memang belum ditempati, karna tujuannya untuk hadiah istrinya kelak, dan ia memilih rumah ini karna lebih dekat menuju ke kampus.
"Wahh bagus banget Prof rumahnya, ada taman kecil juga di depannya."
Saat Fatih membuka pintu utama, terlihat seseorang yang menyambut mereka berdua.
"Assalamualaikum." Ucap Fatih
"Waalaikumsallam, selamat datang bapak dan ibu di rumahnya." Ucap pembantu yang di pekerjakan Fatih untuk membersihkan rumahnya selama ini
"Hm mba jangan panggil ibu dong, saya kan masih muda, panggil aja Al ya."
"Saya panggil mba Al aja ya, biar sopan mba." Jawab nya
'terserah ni orang deh, tapi kok Prof Fatih memperkerjakan pembantu yang masih muda gini sih, kayaknya umurnya baru 20an.' batin Al
"Al, ini Najwa, dia akan membantu membersihkan rumah ini karna kamu kan juga sibuk kuliah." Ucap Fatih
Al hanya mengangguk, tapi tatapannya seperti menelaah Najwa dari ujung kaki sampe kepala.
"Saya akan ke kamar membawa barang ini, kamu boleh kalau mau keliling dulu." Fatih melenggang ke lantai dua tempat kamarnya bersama Al
"Mari mba Al, saya temani untuk melihat."
Tanpa menjawab, Al berjalan melihat sekeliling, sampai terakhir ia menuju ke pintu belakang.
"Wahh ada kolam ikannya." Mata Al berbinar melihat kolam ikan yang tidak terlalu besar dan di isi oleh ikan hias
"Ikan-ikan ini dibeli oleh pak Fatih setelah saya diperkerjakan disini, dan saya selalu merawat mereka sampai besar seperti ini." Ucap Najwa terlihat membanggakan diri
"Oh gitu, pantes ikannya gede mirip badan mba nya ya." Sindir Al, karna memang badan Najwa cukup berisi ditambah tidak terlalu tinggi
"Ihhh gemes banget sih kalian, makan yang banyak yaa."
Al memberi makan ikan-ikan itu, mereka terlihat berkumpul dan berebut makanan di atas permukaan air.
"Tadi saya sudah memberi mereka makan mba, tidak usah di kasih lagi."
'Nih orang kenapa ya, kok sewot banget sama gue.' Al membatin
"Mba Najwa saya sudah selesai keliling rumahnya, dan saya ingin bermain dulu dengan ikan ini, jadi mba nya silahkan masuk ke dalam, tidak usah mengikuti saya terus." Ucap Al lembut tapi penuh penekanan
"O-oh baik mba." Najwa langsung berlalu dari sana
Setelah selesai, Al juga hendak masuk ke dalam tapi tiba-tiba kaki nya tertusuk duri, karna memang ia tidak memakai sandal saat keluar tadi. Saking excited nya melihat kolam ikan, jadi lupa memakai sandal.
"Awww." Al meringis melihat kakinya berdarah, meski hanya duri dari mawar tapi ada banyak sekali dan lumayan besar
'bukannya tadi gak ada ya batang mawar berduri ini, wah ada yang ingin main-main sama gue.' batin Al
Saat keluar tadi ia sangat sangat kalo tidak ada apapun di tanah menuju kolam ikan, kenapa saat hendak kembali tiba-tiba ada, tidak mungkin kan wewe gombel yang tarok situ.
"Kamu kenapa Al." Fatih langsung berlari dan menuntun Al duduk di kursi yang ada di teras belakang, karna dia tadi memang sedang mencari Al.
"Sebentar ya." Ucapnya, kemudian masuk ke dalam dan kembali membawa kotak p3k
"Aww pelan-pelan Prof." Ringis Al merasakan perih
"Kok bisa kayak gini sih, makanya pakai sandal Al. Duri itu juga berbahaya loh." Fatih mengobati dengan pelan-pelan
"Ciee khawatir ya Prof."
Pletak...
"Kan aku lagi sakit, malah di tambah sakitin sih, kekerasan nih Prof." Al mengusap keningnya karna disentil oleh Fatih
"Saya khawatir karna kamu itu istri saya, dan kamu itu terlalu barbar, suka gak mikirin tubuh kamu sendiri."
Fatih mengobatinya sambil meniup kaki Al yang terluka, mungkin agar tidak terlalu terasa perih.
'uhh manis banget sih dia.' batin Al
"Ayo masuk, udah mau magrib. Siap-siap untuk solat."
"Ihh kaki aku kan masih sakit."
"Terus kamu gak mau solat?"
"Y-ya perih ini."
"Cepat!" Suruh Fatih jelas kemudian meninggalkan Al
"Ihh baru tadi manis gitu, sekarang udah dingin lagi." Gumam Al sambil berjalan masuk ke dalam
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments