Sekitar jam 3 lewat Fatih membuka matanya, melihat jam di dinding kamar Al kemudian beralih menatap ke samping. Al yang masih setia memejamkan matanya dengan tangan sedikit memeluk Fatih, sepertinya ia tidak sadar. Dengan perlahan Fatih beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi, karna dia sudah biasa untuk solat malam.
Tapi Fatih tidak tega untuk membangunkan Al, sehingga saat adzan subuh berkumandang, barulah ia membangunkan Al.
"Almaira, ayo bangun, ini sudah adzan subuh." Dengan lembut ia membangunkan dan menggoyangkan tubuh Al
"Eeeehhh nanti dulu kenapa si bunda, masih ngantuk, bentar." Sepertinya dia lupa kalau sudah menikah
"Ayo bangun Al, saya mau ke masjid dulu ya."
Al tidak bergeming, sehingga Fatih turun dan meminta tolong bunda Alya agar membangunkan Al, karna dia sudah ditunggu ayah mau ke masjid bareng.
Bunda sholat duluan di kamarnya, baru kemudian membangunkan Al di kamarnya.
"Al bangun, ini sudah jam berapa, kamu kebiasaan subuhnya telat terus." Bunda menggoyangkan tubuh Al dengan brutal
"Iya bun, dari tadi bangunin Al terus." Al mencoba membuka mata dan duduk di tepi ranjang
"Kamu lupa kalau sudah menikah hah, dari tadi Fatih yang membangunkan mu. Seharusnya saat suami ingin ke masjid, kamu siapkan bajunya dan salim dengannya. Ini masih molor aja."
"Hah udah nikah ya." Al masih ngebleng
"Astagfirullah iya udah nikah, duh biarin deh bunda, kan emng biasanya aku solat jam segini." Jawab Al
"Kamu itu harus berubah Al, apalagi nanti di tempat mertua, jangan sampe solat telat gini, dengar."
"Iya bun iya." Al beranjak dan memasuki kamar mandi
"Nanti setelah solat langsung turun ke bawah ya, bantuin bunda masak." Ucap bunda sedikit berteriak, agar Al di dalam sana mendengar.
Saat ini mereka berempat sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Bunda dan Al tadi sudah memasak banyak makanan, walaupun Al belum terlalu mahir memasak.
"Gimana Prof Fatih, apa kopi buatan aku enak?" Tanya Al setelah melihat Fatih meminum kopi
"Hm enak." Jawab Fatih
"Gitu doang?" Tanya Al kesal karna jawaban Fatih yang singkat
"Al kamu itu gak sopan, itu nak Fatih udah bilang enak juga. Lagian kamu kok manggilnya masih Prof sih, kalian kan sudah suami istri." Ucap bunda
"Ya mau manggil apa bun, udahlah Prof aja bagus ko. Kan kalo di kampus juga nanti manggilnya Prof, iyakan Prof?"
Fatih hanya memberi anggukan kecil kepada Al
"Astagfirullah Al, kakimu kalo makan kok kayak gitu." Ucap ayah sedikit marah melihat Al menaikkan satu kaki ke kursi, sunggu tidak estetik
"Emang kenapa yah, bisanya juga gini."
"Kamu gak malu sayang, kamu sudah menikah dan itu ada suamimu, sopan sedikit dan lembutlah sedikit jadi cewe." Ucap bunda menjawab
"Iya nanti bakal berubah, tapi ini enak loh yah bun makan sambil kek gini, gak papa ya Prof ya ya ya." Al terlihat menggemaskan di mata Fatih
"Iya gak apa-apa kalau kamu nyaman, tapi lebih bagus kamu dengarkan orangtuamu." Jawab Fatih dengan muka datar
"Baru sehari jadi istri, udah gini aja." gumam Al pelan sambil mencebikkan bibirnya hingga orangtuanya tidak mendengar, tapi Fatih bisa mendengar karna ia di samping Al
Ayah dan bunda hanya menggelengkan kepala, melihat anak mereka yang barbar itu.
Sementara di kampus, Sena mulai dengan aksinya lagi. Ketika melihat Khadijah hendak masuk ke dalam kelas, dengan segera Sena dan Keysa mendatanginya.
"Dijah tunggu." Dijah menoleh karna mendengar namanya di panggil
"Lo kemaren kemana kaga masuk, terus sekarang bestie lo mana, kok belum masuk." Tanya nya
"Emang kenapa kak, wah gue sama Al kan banyak Fans, pantesan baru sehari gak masuk udah di cariin aja."
"Heh Sena itu tanya serius sama lo, tinggal jawab aja sih susah." Ketus Keysa
"Kita berdua kan orang sibuk, ya ada acara lah kemaren." Jawab Dijah sombong sambil memainkan kuku nya yang cantik dengan kutek. Karna Dijah sedang berhalangan makanya memakai kutek.
"Acara apaan, si Al belum masuk hari ini, kemana dia." Sena masih bertanya
"Urusan sama lo apasih kak, lo kangen ya sama Al, ngaku ajah deh."
"Dih pengen muntah gue kangen sama tu orang, gue penasaran aja kok dia gak masuk, biasanya kan suka caper sama Prof Fatih." Jawab Sena
"Jadi kalian ada acara apa kemaren Jah, terus sekarang kemana si Al." Tanya Sena lagi, karna dia tahu dari Keysa bahwa Fatih juga belum masuk hari ini
"Kepo!" Jawab Dijah langsung meninggalkan Sena dan Keysa di depan kelas
Sena kesal dan langsung pergi bersama Keysa, karna dosen terlihat akan masuk ke kelas Dijah.
Saat ini Fatih dan Al baru sampai di rumah pak kyai. Setelah sarapan tadi Fatih langsung meminta izin kepada ayah dan bunda Al untuk membawa Al tinggal di rumah orangtuanya.
Walaupun tadi Al sempat tidak terima karna harus pisah dengan orangtuanya, tapi akhirnya dia nurut juga, walau agak bete.
"Assalamualaikum." Fatih dan Al masuk ke dalam rumah yang langsung disambut umi Fatimah
"Waalaikumsallam, Alhamdulillah kalian sampek juga. Sini sayang duduk dulu." Umi mengajak Al duduk kemudian memeluk Al
"Umi udah kangen aja sama mantu umi ini, padahal baru kemarin kita ketemu." Ucap umi mengelus puncak kepala Al
"Al juga umi, seneng deh dapet mertua kaya umi, baik." Al tersenyum sangat manis, dia merasa beruntung karna umi Fatimah sangat baik
"Ehem, sama Fatih gak kangen umi, sekarang udah ganti ya anaknya." Ucap Fatih dengan raut wajah tetap datar
"Hahaha iya umi udah bosen sama kamu, sekarang ada mantu kecil umi."
"Yeeyy umi lebih sayang Al daripada Prof Fatih." Al kegirangan sambil mengangkat tangannya dan matanya seperti meledek Fatih
"Abah mana umi, kok gak keliatan." Tanya Fatih
"Abahmu masih di pesantren Fatih, tadi ada urusan sama beberapa ustadz. Oh iya kalian mau makan dulu, itu umi sudah masak banyak."
Al dan Fatih sebenarnya sudah sarapan tadi, 2 jam yang lalu sih. Tapi tidak enak jika menolak karna umi sudah memasak banyak. Akhirnya mereka berdua tetap makan untuk menghargai umi.
"Eeekkk, e-eehhh." Al langsung menutup mulutnya karna bersendawa setelah makan
"Alhamdulillah." Ucap umi dan Fatih kompak
"Emm Alhamdulillah, maaf umi jika tidak sopan." Ucap Al malu
"Tidak apa-apa nak, itu termasuk nikmat karna kamu sudah makan. Tapi jangan lupa untuk langsung mengucapkan hamdalah."
"Baik umi. Hm ini masakan enak banget dan banyak begini, umi sendiri yang masak?" Tanya Al
Umi menjawab. "Tidak sayang, umi dibantu sama beberapa santri disini yang memang ditugaskan membantu di dapur setiap hari."
Al hanya manggut-manggut mendengarnya, dia merasa masakan ini sangat enak, dan merasa langsung betah tinggal disini.
.
.
.
.
Keesokan paginya Al dan Fatih sudah siap akan berangkat ke kampus, setelah dua hari mereka tidak masuk. Pelajaran pertama di kelas Al memang di isi oleh Fatih.
"Ayo Al kita berangkat, pamit dulu dengan umi." Ucap Fatih saat di kamar
"Hah apa, berangkat sama Prof Fatih ke kampus, gak salah?"
"Emangnya kenapa, apa yang salah, kita juga satu kampus."
"Nanti orang pada tahu Prof, gimana sih. Saya diserbu fans bapak lagi karna dianter oleh dosen idaman mereka." Al mencebikkan bibirnya
"Tenang saja, nanti kamu akan turun di luar kampus supaya tidak terlihat."
"Enak aja, jauh akunya jalan dari luar sampe gedung."
"Yasudah saya turunkan di parkiran kalau begitu, tidak usah khawatir nanti kamu keluar dengan hati-hati supaya tidak ada orang yang melihat."
"Iihh yaudah deh, ayok berangkat."
Saat ini Sena sedang kalang kabut, dari tadi Keysa sudah menenangkannya. Karna Sena tidak sengaja melihat Al saat akan masuk ke dalam gedung, dan parahnya di belakang Al tidak jauh jaraknya ada Fatih yang juga berjalan hendak masuk gedung.
"Kan kan kan Key, bener kan Al sama Prof Fatih masuknya bareng." Sena emosi sambil tangannya memukul udara
"Lo tenang dulu dong, jangan curiga gitu, itu cuma kebetulan doang."
"Gimana gak curiga, mereka masuknya bareng hari ini, setelah dua hari kemaren gak masuk. Mana dateng ke kampusnya kok bisa pas gitu, Al di depan Prof Fatih di belakang."
"Ya mungkin kebetulan doang itu mah Sen, Prof Fatih kan ngajar kelas B pagi ini." Keysa pusing melihat Sena yang sedang kebakaran jenggot, dan hampir menangis
Fatih baru saja selesai mengajar di kelas B
"Almaira, nanti setelah dzuhur saya minta tolong kamu keruangan saya ya."
'Ihh apaan sih di suruh ke ruangannya segala.' batin Al
"Mau apa ya Prof keruangan anda?" Tanya Al
"hus kamu gak sopan banget sih Al, jangan gitu kalo disuruh dosen." Ucap Nashwa
"Iya, lo kan asdos (asisten dosen) Al." Tambah Syila
"Nanti saya beritahu di ruangan saya." Ucap Fatih
"Baik Prof nanti saya kesana, setelah makan siang ya tapi." Jawab Al sambil nyengir
"Setelah dzuhur langsung ke ruangan saya." Ucap Fatih langsung keluar dari kelas
"Lo jangan gitu Al, itu suami lo pengen makan siang bareng lo kalik." Bisik Dijah agar tidak didengar yang lain
Al hanya mencebikkan bibirnya, melihat sikap Fatih yang menyuruhnya tetapi dengan wajah yang datar
"Dia udah jadi suami gue, tapi masih dingin banget gitu mukanya Jah." Balas Al berbisik
Sore ini setelah pulang dari kampus, Al langsung mandi dan solat ashar, kemudian sekarang menuju ke dapur karna tadi sudah janjian dengan umi akan belajar memasak.
Siang tadi, ternyata Fatih mengajak Al untuk makan siang bersama di ruangannya, tapi Al menolak karna ia ingin makan bersama temannya di kantin.
"Assalamualaikum umi, jadi kan kita masak bareng dan ajarin Al."
"Iya sayang, ini umi baru masak nasi." Jawab umi sambil meletakkan beras yang sudah dicuci ke dalam magicom
"Al mulai dari mana umi?" Tanya Al
"Coba kamu bersihkan ayam itu yang sudah umi potong, bumbui dengan bumbu yang sudah umi haluskan dan goreng."
"Yah umi kok bumbunya udah jadi, tar Al ga tau apa aja bumbunya." Muka Al memelas
"Nanti sambil kamu bumbui, umi akan jelaskan ya, itu hanya 3 macam saja kok."
"Baik umi."
Al mulai mencuci kemudian membalurkan bumbu pada ayam yang akan di goreng. Sedangkan umi lagi mencuci sayuran. Dan beberapa menit kemudian...
"Astagfirullah sayang, kamu kenapa memakai itu?" Umi heran
Al memakai helm dan jaket serta sarung tangan untuk menutupi tubuhnya, sudah seperti ninja warrior.
"hehe ini umi biar kulit Al terselamatkan dari minya panas, liat tuh muncrat-muncrat tauk, ngeriii."
"Hahahaha, kamu ada-ada saja sayang." Umi tertawa melihat menantunya yang barbar itu
Setelah isya, Fatih dan kyai Ali baru pulang, karna memang Fatih juga ada mengajar di pesantren setelah magrib tadi. Mereka sedang menikmati makan malam yang sudah dimasak oleh Al dan umi
"MasyaAllah enak sekali masakan ini umi, tapi kenapa ada ayam goreng yang gosong ini?" Tanya Kyai Ali melihat beberapa potong ayam yang gosong
"Oh itu tadi si Al yang goreng abah, waktu goreng pertama, dia belum terlalu bisa jadi sampai gosong seperti itu. Ini masakan yang buat adalah Al." Ucap umi membanggakan mantunya
"Ihh umi, aku cuman bantuin dikit doang, terus tadi ada yang salah juga." Al tertunduk malu
"Tidak apa-apa sayang. Al ini baru belajar memasak bareng umi, tapi masakannya sudah enak seperti ini, iyakan Fatih." Kata umi
Fatih terlihat lahap memakan masakan itu, walaupun sebenarnya masakan itu dominan dibuat oleh umi.
"Iya umi enak." Ucapnya tanpa melirik siapapun dan tetap fokus makan
'Dih gitu doang, sampe kena minyak nih tangan gue.' gerutu Al dalam hatinya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments