MALAM PERTAMA ADA APA

MASIH POV AL

Saat kata sah dari para saksi terdengar, air mata langsung mengalir di pipiku, dan Dijah langsung memelukku. Aku masih tidak menyangka sekarang sudah benar-benar menjadi istri dari dosen yang tidak ku senangi. YaAllah semoga ini yang terbaik buatku.

"Akhirnya bestie gue resmi jadi istri di usia muda, sama Prof Fatih lagi." Ucap Dijah sambil memelukku

"Jangan nangis sayang, nanti make up nya luntur." ucap bunda yang menemani ku di kamar bersama Dijah

"Iya Al, nanti ketemu suami muka jadi kayak badut, mau lo." Dijah mengelap pipiku dengan tisu

Bagaimana tidak menangis, mereka saja mengeluarkan air mata, huhh.

Saat ini aku dituntun bunda dan Dijah di sampingku untuk menemui suamiku, ih aku sangat geli memanggilnya suamiku.

"Al, senyum dikit dong lu, masa mau ketemu suami muka nya bete gitu."

"Iya sayang ayo tersenyum."

Aku tersenyum ke arah mereka semua yang sedang menatapku

"Wah cantik banget tuh istrinya ustadz Fatih."

"Pantas saja ustadz Fatih langsung menerima dijodohkan kyai dan bu nyai."

"Ah masih cantikan aku, sholehah lagi, dia kayaknya cuma anak biasa."

"Ssstt kamu jangan bilang gitu, nanti di denger lagi."

Ya aku mendengar beberapa santri di pesantren kyai Ali berbicara seperti itu, bisa-bisanya mengakui dirinya sendiri sholehah, mana muka pas-pasan juga. Aku ingin tertawa sambil jungkir balik rasanya, tapi aku haru jaga image.

Saat aku sudah duduk di depan Prof Fatih, dia menatapku tanpa berkedip, baru kali ini dia mau menatapku, sepertinya dia terpesona dengan kecantik istrinya ini, uhuy.

Tidak bisa dipungkiri, dia juga terlihat sangat tampan sekarang, hatiku berdetak saat mata kami bertemu.

"Silahkan istrinya salim tangan suaminya." Ucap salah satu saksi

Tanganku tiba-tiba tremor saat menyentuh tangannya yang sangat dingin, sepertinya dia juga gugup.

"Nah sekarang giliran suaminya mencium kening istri."

Waduh apa-apaan ini, aku harus apa, menunduk kah

"Saya izin mencium keningku yaa."

MasyaAllah dia izin dulu dengaku, kirain bakal langsung nyosor. Aku hanya mengangguk pelan

Cup, terasa ada benda kenyal dan basah menyentuh keningku, hatiku terasa tidak baik-baik saja, aku ingin salto rasanya aaaaaarrghhh.

"MasyaAllah" Ucap orang-orang disini

"Aaarrghh baper gue Al, omg lu dicium seorang Prof Fatih." Lebay Dijah sambil memegang dadanya

"Diem deh lo Jah, apa mau gue cium juga kening lo." Ucap kak Husein yang duduk di samping Dijah

Kak Husein juga tidak masuk kelas, karna ikut orang tuanya sebagai adik dari kyai Ali, hadir diacara ini.

POV AUTHOR

Berbeda dengan Sena, sekarang dia dan Keysa masuk ke dalam kelas B.

"Heh Syila, Nashwa gue mau tanya, mana sahabat kalian itu si Al dan Khadijah?" Tanya Sena

"Ngapain lo kak nanya-nanya si Al, biasanya juga ngajak ribut." Ucap Syila, memang mereka tahu kalau Sena tidak menyukai Al

"Ssst Syil, mereka gak berangkat kak, katanya sih ada urusan atau acara gitu, tapi gak tau apa." Jawab Nashwa sopan, karna dia memang wanita yang lembut dan ingin menghormati saja sih

"Urusan apaan, masa bisa kalian temennya gak tau." Ucap Keysa

"Udah lah Key, ayok cabut."

"Aneh" Ucap Syila, Nashwa hanya mengedikkan bahunya

Sena dan Keysa duduk di kursi yang ada di taman kampus.

"Bener kan Key, si Al gak masuk bareng Dijah, dan Prof Fatih sama Husein juga gak berangkat, kok bisa sih barengan gitu." Emosi Sena

"Lo sabar Sen jangan emosi gini dong."

"Gimana gue gak emosi, tadi gue tanya anak BEM, si Husein gak berangkat karna ada acara juga, aaarrgh."

"Bisa aja emang kebetulan Sen, kita kan gak tahu. Lo sabar aja tar kalo mereka masuk, kita tanya sama Al kemaren kenapa gak masuk." Keysa menenangkan, menepuk pundak Sena pelan.

Saat ini Fatih dan Al duduk di pelaminan yang di dekorasi di dalam rumah. Karna memang undangan tidak banyak, hanya mengundang beberapa orang saja sebagai saksi, karna memang Al tidak mau sampai pernikahan ini didengar oleh orang kampus.

"Al, apa kamu lapar, mau makan tidak?" Tanya Fatih menatap Al di sampingnya yang terlihat lelah setelah sesi foto tadi

"Hm iya Prof, saya sedikit lapar." Jawab Al sambil menunjukkan deretan giginya

"Lapar banyak juga gak papa, saya ambilkan dulu."

Wajah Al langsung memerah mendengar itu

Fatih sudah duduk kembali membawa nasi sepiring dan air minum ditangannya

"Loh Prof itu kok cuma satu nasinya, Prof gak makan ya, apa tidak lapar?"

"Kamu tidak usah khawatir saya tidak makan, kita akan makan sepiring berdua. Saya sengaja mengambil banyak nasi dan lauknya."

"A-apa sepiring berdua? Kayak gak ada piring lain aja sih, terus tadi apa, saya khawatir? Bodo amat ya kalo Prof gak makan juga sampe besok." Al mencebikkan bibirnya

"Udah ayo makan, aaaa." Fatih menyuapkan sendok ke arah Al, tentu Al kaget

'Duh pake disuapin lagi, gak papa lah gue udah laper banget mana sendok cuma satu' Batinnya

"Uhhh kenyangnya." Al bersendawa sambil mengelus perutnya yang terasa sangat kenyang. Sungguh tidak estetik, di depan suami yang baru saja malah menunjukkan ketidak anggunannya.

"Ucapkan Alhamdulillah."

"Eeeh iya lupa, Alhamdulillah."

"Ciee udah suap-suapan aja nih pengantin baru."

"Wah setelah suap-suapan apalagi nih."

Dijah dan Husein mendatangi mereka di pelaminan

"Apasih, resek!" Al membolakkan matanya malas

"Kalian berdua sudah makan atau belum?" Tanya Fatih

"Sudah bang, si Dijah udah abis dua piring tuh. Gila perut apa karung beras."

"Heh lo juga abis makan nasi, makan soto sama bakso 2 mangkok is." Balas Dijah ke Husein

"Udah deh, gue mau ngomong. Dijah, kak Husein gue minta tolong jangan bilang siapa-siapa ya tentang pernikahan ini, gue belum mau di publik, jadi tutup mulut."

"Iye Al, tar kalo anak kampus tau, lo di labrak sama fans nya Prof Fatih, apalagi si Sena tuh."

"Oke Al, semoga kaga keceplosan."

Terlihat Fatih hanya diam saja, sebenarnya ia sangat ingin pernikahannya ini di publikasikan, cuma karna Al belum siap maka ia harus menunggu waktu yang tepat.

Malam hari, ba'da isya Fatih baru saja pulang dan ingin masuk ke dalam kamar Al. Acara sudah selesai sejak sebelum Dzuhur tadi, Fatih langsung pergi ke masjid dan mengobrol bersama ayah, kyai Ali dan beberapa warga tetangga yang masih stay di rumah. Dan setelah ashar Fatih pulang untuk mandi, tapi tidak bertemu Al karna Al tidak tahu kemana, seperti menyibukkan diri beberes rumah untuk menghindari Fatih. Magrib sampai isya Fatih juga di masjid dan sekarang baru akan masuk kamar.

"Assalamualaikum." Ucap Fatih sambil membuka pintu, terlihat Al sedang melipat mukena setelah sholat Isya

Al terlonjak kaget. "W-waalaikumsalam. Kok udah pulang sih."

"Loh, apakah saya tidak boleh pulang menemui istri saya." Ujar Fatih yang sukses membuat pipi istrinya memerah

"Ya itu lebih baik."

Fatih tidak menghiraukan Al, dia langsung mengganti bajunya dengan kaos di depan Al.

"Ihhh kok buka baju disini sih." Al menutup matanya

'Aduh gue tadi ngeliat perutnya sekilas, belum keliatan banget lagi apa kotak-kotak kayak roti sobek kah.' batinnya

"Memangnya kenapa hm." Saat ini Fatih duduk di samping Al di pinggir ranjang. Al otomatis langsung mundur tetapi Fatih terus menggeser tubuhnya agar dekat dengan Al

"Prof apaan sih kok deket-deket aku."

"Oh sekarang sudah ganti jadi aku, oke saya juga ubah deh. Kita sekarang panggilnya aku kamu ya Al." Fatih semakin dekat dengan Al yang sudah mentok di dinding

"Mau tidak hm." Lanjut Fatih

Sekarang Al merasa tidak bisa bernafas, jantungnya berdegup kencang karna gugup.

"O-oke Prof, iya aku kamu. Udah kamu kesanaan deh, ngapain nempel gini."

Fatih malah semakin mendekatkan wajahnya

"Assalamualaikum. Al, Fatih ayo turun dulu makan malam." Suara bunda memanggil

Fatih langsung menjauhkan tubuhnya, dan Al langsung bisa bernapas sekarang.

'huhh tuh orang hampir buat napas gue berhenti, untung ada bunda.' batin Al

Mereka makan malam bersama ayah dan bunda, karna umi dan kyai Ali sudah pulang sejak sore tadi.

"Al itu suaminya di ambilin lah nasinya, masa langsung makan gitu." Ucap bunda, melihat Al yang sudah akan menyuapkan nasi kemulutnya

"Dia kan bisa ngambil sendiri bunda, Prof silahkan ambil." Kata Al melihat Fatih yang masih terdiam

"Gak papa bunda biar Fatih ambil sendiri." Saat Fatih hendak mengambil nasinya

"Al, apa kamu tidak pernah di ajarin ayah kemarin, untuk menghormati suami dan melayaninya." Ucap ayah menajamkan mata pada Al yang sibuk makan duluan

"Eehh iya Prof biar saya ambilkan." Al langsung merebut piring Fatih yang baru terisi nasi putih

"Nah, silahkan dimakan suamiku." Ucap Al sopan lalu kembali duduk sambil membolakkan mata malas, karna tadi dia menyebut suamiku.

Fatih tersenyum mendengar keterpaksaan Al di depan orang tuanya.

Setelah makan, Al langsung ngacir ke kamar tanpa membantu bundanya membereskan bekas makan.

"Aduh gue harus apa nih, gue gak mau malam pertama sama dia, gue belum siap. Langsung tidur kali ya mumpung si dosen masih ngobrol sama ayah. Eeh cuci muka dulu."

Al mondar mandir di dalam kamar, kemudian bersih-bersih di kamar mandi. Setelah keluar kamar mandi, dia langsung mematikan lampu, menaiki ranjangnya dan menutupi semua tubuhnya.

"Gue gak bisa tidur lagi." Gumamnya

Cklek, pintu di buka, dan Al langsung menutup kepalanya, pura-pura sudah tidur untuk menghindari malam pertama.

"Assalamualaikum. Kamu sudah tidur Al?" Tanya Fatih bingung saat masuk lampu kamar sudah mati

Kemudian Fatih langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu.

Setelah keluar, Fatih langsung menaiki ranjang di samping Al yang membelakanginya.

"Al apa kamu sudah tidur?" Krik krik krik tidak ada jawaban dari Al

"Kamu tidak engap atau gerahkah kalo tidur seperti itu, nanti susah bernafas." Ucap Fatih melihat Al menutup kepalanya dengan selimut

'Iye gue engap banget ini aduh, buruan kek lo tidur biar gue buka ni selimut.' batin Al yang sudah sangat sesak di dalam selimut

Al memakai piyama lengan panjang dan masih menggunakan hijabnya, bagaimana tidak panas.

"Baiklah jika betah seperti itu, selamat tidur istriku." Ucap Fatih langsung memejamkan matanya, karna dia juga sangat lelah, setelah acara tadi belum istirahat sama sekali.

'Malam pertama pengantin baru yang sangat biasa saja, Alhamdulillah dia gak ngapa-ngapain aku.' batin Al sambil cekikikan. Kemudian sedikit membuka selimutnya agar hidungnya bisa mendapatkan oksigen

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!