KEPERGOK FATIH

"Ada apa ini, kok rame-rame di depan cafe?"

Damn!!

"Eh ada pak Gibran dan Prof Fatih." Ucap Dijah yang kaget akan kedatangan Fatih yang tiba-tiba. Ia pura-pura menyapa dengan ramah, meski ia juga takut kalau Al bakal ketahuan.

"Siang pak, Prof." Ucap mereka semua kepada pak Gibran dan Fatih

Kecuali Al, dia hanya diam saja, bingung harus berbuat apa. Bisa-bisanya kepergok Fatih disini, dan merasa seperti tertangkap basah dengan kondisi Angkasa yang berlutut di hadapan Al.

Ternyata pak Gibran dan Fatih ingin memesan makan siang di cafe itu juga, tapi ternyata malah bertemu dengan segerombolan anak muda itu, yang tidak lain adalah Al dan temannya.

"Loh Angkasa, ngapain kamu berlutut begitu depan Al?" Tanya pak Gibran, sedangkan Fatih hanya memperhatikan istrinya itu, dengan tatapan yang sangat dingin

"Ah ini lo pak, kak Angkasa tadi hanya ingin men...." Ucap Dijah terpotong oleh Syila yang membuka suara

"Menjawab tembakan kak Angkasa waktu itu pak, Prof." Jawab Syila dengan senyum yang antusias.

Al, Dijah dan Angkasa langsung menepuk jidat masing-masing. Bagaimana bisa Syila malah jujur seperti ini dihadapan Fatih. Tapi jika dipikir, Syila juga tidak tahu tentang hubungan Al dan Fatih.

"Gimana nih kak, kasian si Al. Liat tuh tatapan Prof Fatih udah serem gitu, iihhh." Gumam Dijah berbisik dengan Husein yang berada tepat di sampingnya

"Mana gue tau, temen lo itu ember banget mulutnya." Balas Husein juga setengah berbisik

"Wah hebat kamu Angkasa, kamu sudah nunggu berapa lama jawaban dari Al?" Tanya pak Gibran juga terlihat antusias, melihat dua anak muda yang sedang jatuh cinta. Padahal nyatanya....

"Dari waktu acara makrab anak BEM pak." Jawab Angkasa tersenyum kikuk

"Terus gimana si Al, udah jawab belum. Di terima gak nih?"

"Ah uhm ituu...." Al terlihat takut, karena melihat tatapan tajam Fatih, meski Fatih tidak sedang menatapnya

"Ayo pak Gibran kita pesen makan siangnya. Tidak perlu berurusan dengan anak muda begini!" Ucap Fatih penuh penekanan, dan langsung pergi begitu saja

"Iya Prof. Semangat Angkasa." Ucap pak Gibran menepuk pundak Angkasa dan langsung berlalu dari sana menyusul Fatih

'duh mati gue, alamat bakal di ceramahi di rumah nanti.' Al membatin, melihat kepergian Fatih bersama pak Gibran, masuk ke dalam cafe.

Karna masalah ini, Al pun langsung tegas menjawab tembakan Angkasa. Tentu saja ia menolak, dengan menggunakan alasan, bahwa bunda dan ayahnya tidak pernah mengizinkan untuk berpacaran. Dan Al sendiri pun bilang bahwa dia ingin fokus saja untuk belajar dan kegiatan kampus.

Meski merasakan sakit, tapi Angkasa tetap tersenyum dan menerima keputusan Al. Dia juga minta, agar Al tetap mau berteman dengannya. Setelah kejadian ini, Angkasa berharap mereka tetap berteman dan tidak canggung kedepannya. Mungkin saja, Angkasa akan lebih berusaha lagi untuk mendapatkan hati Al.

Al sudah mengatakan bahwa dia mau tetap berteman, tapi Al menegaskan pula bahwa Al tidak ingin memberi harapan terhadap Angkasa, jadi ia meminta Angkasa untuk tidak berharap lagi.

Setelah semuanya selesai, mereka semua langsung pulang kerumah masing-masing. Meski Syila sempat kaget karna menolak Angkasa, tapi dengan alasan Al, sebagai teman dia juga pasti mengerti.

Al pulang diantar oleh Dijah kerumahnya dan Fatih. Saat ini mereka sudah sampai di depan rumah itu, tapi sebelum Aku membuka pintu mobilnya, Dijah menahan tangan Al.

"Ada apa?" Tanya Al

"Gue doain buat sahabat gue, semoga ntar lo selamet dari amarah Prof Fatih." Ucapnya, membuat Al tambah bergidik ngeri

"Masa si mas Fatih sampe marah banget gitu Jah?"

"Lo gak liat, mukanya tadi memerah, saat dia tau lo di tembak kak Angkasa?"

"Ihhh paling dia mah nyeramahin gue aja kali. Udah ah gue mau masuk, thanks ya, bye." Al langsung berlari masuk ke dalam rumahnya

"Kasian banget tuh anak, tapi enak juga. Di sukain sama 2 cowo sekaligus. Cowo yang banyak fans nya juga." Gumam Dijah, kemudian membelokkan mobilnya dan keluar dari pekarangan rumah Al dan Fatih

Al pun tidak tahu akan seperti apa, nasib nya nanti setelah Fatih pulang. Tapi sangat di sayangkan, sampai menjelang isya ini, Fatih belum juga pulang. Al mondar mandir di kamarnya, ia takut Fatih terjadi apa-apa.

"Kok belum pulang sih, mas Fatih." Al mengecek ponselnya, ingin menelpon Fatih tapi ia takut.

Al tahu bahwa Fatih hanya akan ada kelas sampai jam 4 sore. Tapi sampai waktu sudah menunjukkan pukul 7, Fatih masih belum pulang. Al pun berini siatif menelpon umi Fatimah, siapa tahu Fatih ada disana. Karna Fatih juga memang sering mengajar di pesantren, saat sore.

Tuut tuuutt

"Assalamualaikum Al, ada apa sayang?" Tanya umi di seberang sana setelah mengangkat telepon dari Al

"Uhm itu umi, apa mas Fatih ada di pesantren?" Tanya Al penuh hati-hati

"Hahh, Fatih tidak ada disini sayang. Hari ini tidak ada jadwal Fatih mengajar." Jawab umi

"Oh ga ada ya umi."

"Kenapa Al, apa Fatih belum pulang?"

"Iya umi?" Al sebenarnya takut kalau sampai umi tau tentang kejadian siang tadi, tapi ia juga harus menanyakan keberadaan Fatih

"Kamu tenang saja sayang, mungkin Fatih ada kerjaan di luar. Kamu tunggu saja ya, nanti juga pulang. Atau kamu hubungin langsung saja dia, udah belum?"

"Hhehh belum umi, nanti Al hubungin deh mas Fatihnya."

"Yasudah kalau begitu, umi tutup ya, Assalamualaikum."

"Waalaikumsallam."

Al langsung melemparkan ponselnya di kasur. Ia tidak tahu apa benar yang di bicarakan umi, kalau Fatih mungkin sedang ada kerjaan di luar, tapi apa? Tidak seperti biasanya dia begini.

Al terus memikirkan suaminya itu yang belum pulang juga. Ia ingin menjelaskan semuanya kepada Fatih, sudah pasti Al merasa bersalah sudah membuat kesalah pahaman ini. Fatih sangat terlihat cemburu tadi saat di cafe, dengan wajah merah dan tatapan tajamnya melihat kejadian itu.

Saat jam menunjukkan pukul 20.04 malam, tiba tiba Al mendengar suara deru mobil Fatih. Kemudian dia langsung melihat dari balkon dan ternyata benar, Fatih sudah turun dari mobil dan menuju pintu utama. Saat Fatih membuka pintu kamar, Al memasang wajah tersenyum sambil berdiri menyambut suaminya itu. Ia pun tidak tahu mengapa seperti ini, padahal sebelumnya ia sangat acuh terhadap Fatih. Tapi kali ini ia merasa bersalah atas kejadian itu.

"Assalamualaikum." Ucap Fatih, tetap mengucapkan salam, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.

"Waalaikumsallam, mas. Kamu sudah pulang. Tadi ada kerjaan ya, kok tumben baru pulang??" Tanya Al setelah mengalami tangan suaminya yang terasa dingin

"Iya." Jawab Fatih singkat

"Hm mas..."

Cklek, Fatih membuka pintu kamar mandi dan langsung menutupnya setelah masuk, sehingga ucapan Al terpotong.

"Huftt." Al menghela nafas

"Ah aku kan tadi masak, abis ini aku bakal ajak mas Fatih makan malem, hihi." Al bergumam sendiri, sembari menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu

Sebelum ini, Al belum pernah sama sekali menyiapkan pakaian untuk suaminya ini, paling hanya sesekali memasak. Tapi saat ini ada gerakan dari hatinya yang ingin menyiapkan pakaian ganti, dan mengambil jas yang tadi Fatih pakai, kemudian di masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor. Dan merapikan tas, yang di lempar begitu saja oleh Fatih di atas sofa tadi.

Setelah beberapa kaos dan celana tidur Al siapkan, Fatih keluar dari kamar mandi.

Cklek!! Pintu terbuka dan Al langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu tepat suaminya keluar.

"Aaarrghhh"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!