“Maaf Prof, ini taruh dimana ya proyektornya.” Al bertanya kepada Fatih yang sedang duduk dikursi kebesarannya
“Letakkan di ujung sana.” Jawab Fatih sambil menunjuk meja yang terdapat beberapa barang juga.
“Baik Prof.” Balas Al
Ketika Al hendak keluar dari ruangan, Fatih berbicara. “Saya belum menyuruh anda keluar, duduk dulu di sini.” Tunjuk Fatih pada kursi yang ada di hadapannya
‘Duh apaan lagi sih, gue kan laper.’ Batinnya
“Ada apa lagi ya Prof?” Al duduk di kursi
“Sebentar.” Balas Fatih yang masih sibuk dengan laptopnya
“Prof maaf ya, tapi bisa tidak jangan cuek dan dingin banget gitu, saya kan tidak membawa jaket kesini , atau sambil senyum dikit kek, gini nih hmmm.” Al tersenyum sangat manis, dia sangat kesal karna jawaban Fatih sangat singkat.
Fatih tidak menjawab dan tidak menatap ke arah Al, tapi ekor matanya bisa melihat bahwa senyuman itu sangat manis, Fatih tersenyum sangat tipis, sehingga tidak terlihat oleh Al
“Huhh!” Al menghela napas menunggu Fatih yang sedang berkutat dengan laptopnya
“Baik, saya sudah mengirimkan file ke email kamu, nanti langsung bagikan ke grup kelasmu. Dan silahkan suruh temanmu untuk ngeprint file itu. Itu adalah modul matkul saya.” Ucap Fatih menatap ke arah depan tapi tidak menatap mata Al
“Prof coba liat saya, tatap mata saya jika berbicara.” Oceh Al
“Tidak bisa, anda bukan mahram saya.” Balas Fatih
“Ah iya Prof, ayah bunda juga pernah bilang gitu ke Al, jangan menatap mata laki-laki diluar, apalagi dengan tatapan yang membuat orang baper. Hahaha iyalah, ayah bunda pasti tau kan mata aku secantik ini jadi bisa membuat orang terpesona. Tapikan enak kalo bicara sambil menatap matanya, jadi….” Al berhenti mengoceh karna Fatih langsung memotongnya
“Apa kamu mengerti dengan yang saya suruh tadi.?” Ucap Fatih
“I-iya Prof mengerti.” Jawabnya ‘Orang lagi enak ngomong, malah dipotong.” Batin Al kesal
“Silahkan keluar.” Ucap Fatih
“Silihkin kiliir.” Gumam kecil Al meniru ucapan Fatih yang ternyata di dengar oleh Fatih
“Kamu berbicara apa?” Tanyanya
“Ah ti-tidak Prof, kalo begitu saya keluar, Assalamualaikum.” Al langsung berjalan keluar
“Waalaikumsalam. Lucu.” Fatih berbicara pelan sambil tersenyum tipis saat melihat Al yang sudah keluar
Al langsung duduk disamping Dijah saat sampai di kantin, dan langsung menegak minuman yang ada di depannya.
“Buset dah, lama bener lo balikin proyektor doang. Nih makanan lo udah mau dingin” Ucap Khadijah
“Lo gak ngapa-ngapain kan Al sama Prof Fatih?” Tanya Syila curiga
“Idih males banget ngapa-ngapain sama dia, gue gak betah berdua doang di ruangannya, dingin banget kaya kutub.” Balas Al
“Jangan gitu, ntar kamu suka lo. Cewek disini banyak yang suka sama Prof Fatih.” Kata Nashwa sambil memakan makanannya
“Termasuk Gue.” Balas Syila cepat sambil tersenyum
“Gue juga suka sama kegantengan Prof Fatih.” Ceplos Dijah, Al hanya membolakkan matanya malas
“Tau gak sih guys, gue tadi lama karna gue ribut sama kating.” Ucap Al
“Hah kok bisaaa?” Tanya Khadijah kaget
“Biasa aja dong monyet, nyembur nih makanan lo.” Al kesal
“Hehe maaf.” Balas Khadijah sambil nyengir
“Lanjut Al.” Suruh Nashwa. Mereka bertiga mendengarkan cerita Al karna penasaran.
Al menjelaskan kronologi keributannya dengan Sena dan Keysa di depan ruangan Fatih tadi.
“Dih siapa sih tuh orang, penasaran gue.” Tanya Dijah yang di angguki oleh Nashwa
Al membalas. “Tauk deh gue gak kenal, males banget.”
“Coba nanti kalo lo ketemu dia lagi, tunjukin ke gue. Siapa tau gue kenal.” Ucap Syila yang di beri anggukan oleh Al
“Udah ah gue mau makan, cepat lanjutin makan kalian.” Al langsung memakan makanannya, dia sudah sangat lapar
“Astgfirullah, Al coba makannya pelan-pelan. Itu kaki kamu juga turunin, masa cewe makannya gitu.” Ucap Nashwa karna melihat Al makan dengan buru-buru sambil menaikkan salah satu kakinya ke atas kursi
“Tau ah, lo udah kayak gak makan sebulan aja.” Ceplos Dijah melihat sahabatnya itu
“Bodo amat, gue nahan laper gegara kating dan Prof Fatih.” Balas Al
Mereka hanya menggelengkan kepala melihatnya
“Udah cepatan makan biar kita pulang.” Sahut Syila
Ternyata di seberang sana, di meja paling pojok, Angkasa sedang memperhatikan mereka. Lebih tepatnya memperhatikan Almaira.
“Kalo suka bilang aja bro.” Ucap Husein sambil merangkul bahu Angkasa yang berada di samping Angkasa
“Dia itu cantik, pasti banyak yang suka. Lo jangan sampe keduluan.”
“Ya gue tahu, makanya gue suka karna dia menarik, lo liat kan dia makan aja kaga jaim gitu. Tapi gimana gue deketinnya.” Kata Angkasa bingung
“Coba lo deketin waktu nanti ada acara di BEM. Tapi mulai sekarang lo kasih lah perhatian gitu dia.” Balas Husein memberi ide
“Bagus juga ide lo sen.” Angkasa tersenyum, dia akan mulai mendekati Al, karna dia merasa tertarik.
.
.
.
.
Seperti yang sudah diketahui kemarin, hari ini ada acara penyambutan maba yang baru masuk tiga hari. Acara sudah dimulai selama beberapa menit. Al, Dijah, Syila dan Nashwa sudah duduk di kursi paling depan.
“Oke seperti yang sudah saya sebutkan untuk rangakaian acara tadi, maka sekarang saatnya kita dengarkan sambutan dari Dekan Fakultas yaitu Prof.Dr.Mahesa Alfatih Zaidan, M.Kes. Untuk Prof Fatih di silahkan maju ke depan.” Mc acara ini mempersilahkan Fatih
Riuh terdengar tepuk tangan para mahasiswa saat Fatih berdiri di panggung, banyak juga terdengar teriakan dari para fansnya.
“Assalamualaikum wr.wb. Saya akan memberi sambutan untuk para mahasiswa baru kemudian di lanjut saya akan ceramah sedikit untuk kalian semua.” Fatih mulai dengan sambutannya dan juga langsung berceramah.
“Gak sia-sia gue berangkat pagi, duduk di depan gini bisa melihat ketampanan Prof Fatih.” Heboh Syila senang
“Bener banget, yaAllah tampan sekali ciptaanmu.” Seru Dijah
“Eh Prof Fatih kok bisa ceramah gitu, mana pake dalil-dalil Qur’an dan Hadist lagi.” Tanya Nashwa
Syila menjawab. “Kalian gak tau ya kalo Prof Fatih itu anak Kyai yang punya pondok pesantren, wajarlah kalo pinter begituan.
“Hah serius lo syil, tau dari mana? Tanya Al penasaran
“Ya gue kan, ada grup gosip bareng kating jadi apa yang gak gue tau.” Ucapnya
Melihat Fatih yang lancar saat berceramah, bahkan mengucapkan dalil dalam Al-Qur'an mereka merasa kagum. Kalian tidak tahu saja bahwa Fatih adalah seorang hafidz Qur'an dan ustadz yang mengajar di pondok abahnya.
“YaAllah jadi tambah pengen dihalalin nih adek.” Ucap Dijah
“Najis banget gue dengernya.” Umpat Al
“Buat gue aja lah Jah, calon suami gue itu.” Lanjut Syila tak mau kalah
“Bukannya kamu nonis ya Syil.” Ucap Nahswa heran, bisa-bisanya Syila mengatakan calon suami. Mereka tidak akan bisa bersama karna perbedaan agama.
Syila menjawab. “Hehe iya sih, itu sedihnya.” Al dan Dijah terlihat langsung tertawa mendengarnya.
“Liat deh guys, masa lagi ceramah mukanya datar begitu, dingin banget, rasanya pengen gue cairin tuh biar anget dikit.” Ucap Al memperhatikan Fatih yang sedang berceramah.
Dijah langsung membalas. “Cie mau di cairin gak tuh.” Godanya
“Paan sih lu, udah diem.” Sinis Al
Dia gak tau bisa-bisanya berbicara seperti itu, malu banget ga tuh pengen menghangatkan Fatih yang dingin, hihi.
Selama beberapa jam acara berlangsung, ada mahasiswa yang bernyanyi, juga ada yang menampilkan tarian. Saat ini tinggal acara terakhir. Al merasa bosan dan lelah.
“Duh gue haus banget lagi, lo ada minum gak Jah.” Ucap Al pada Dijah
“Ya gak ada lah, gue juga haus kalik.”
Tiba-tiba ada yang menyodorkan air mineral kepada Al dari arah belakang. “Nih minum, katanya haus. Tenang aja, belum gue minum kok.” Ya itu adalah Angkasa
“Eh buset kaget gue.” Dijah mengelus dadanya
“Eh kak Angkasa, beneran buat gue. Makasih.” Ucap Al kaget tapi langsung mengambil dan meminum air itu
“Ya sama-sama.” Balas Angkasa dengan senyumannya
“Loh kak, sejak kapan kak Angkasa sama kak Husein di belakang kita?” Tanya Syila
Angkasa membalas. “Baru aja kok, terus gak sengaja denger si Al haus.”
“Hm kak Husein, gue juga haus banget, itu minum buat aku kan.” Dijah menatap air mineral ditangan Husein dan hendak mengambilnya
Husein langsung menyingkirkan airnya. “Enak aja, ini punya gue. Gue aja belum minum, lu udah mau ngerebut.”
“Is pelit banget sih lo kak.” Dijah mencebikkan bibirnya
“Eh btw inikan acara udah selesai, kalian bertiga mau gak bantuin kita. Kalian kan udah jadi anggota BEM walau belum peresmian.” Ucap Angkasa melihat MC yang sudah menutup acara
Mereka memang bertiga, karna Nashwa pulang duluan tadi, setelah abinya menelpon. Karna ada acara juga di rumahnya, entah acara apa.
“Hm bantuin apa dulu nih kak, kita-kita pada laper.” Ucap Al memelas memegang perutnya
“Tenang adik-adik, setelah kerjaan beres kalian bakal dapet makan gratis kok bareng anak-nak BEM.” Kata Husein
“Wah boleh nih kalo ada makan garatisnya.” Ucap Syila yang langsung mendapatkan anggukan setuju oleh Al dan Dijah
“Sip, kalo gitu, Dijah sama Syila bantuin beresin tempat bekas acara ini, tenang aja, gue sama Husein dan ada 15 orang anak BEM yang beresin. Nah untuk Al, tolong anterin makanan untuk para dosen, nanti ambil makanannya bareng gue di ruang BEM.” Mereka mendengarkan intrupsi dari Angkasa
“Ayok sekarang kita kerjain guys.” Ajak Husein
Mereka mulai membersihkan tempat acara, mulai dari menyusun kursi dan dikembalikan ke gudang, melepasi banner dan hiasan lain, menyapu dan mengepel semua lantai.
Gedung aula ini memang sangat luas, tapi karna di lakukan oleh banyak anggota BEM juga jadi tidak terlalu berat.
Al pun sudah mengantarkan makan siang untuk para dosen, tersisa satu kotak nasi lagi. Al saat ini berada di depan ruangan Fatih, ya kotak nasi terakhir itu memang punya Fatih.
“Haduh males banget gue mau ketemu dia lagi.” Ucap Al di depan pintu
“Ehem, Assalamualaikum, Prof apa saya boleh masuk.”
Fatih menjawab dari dalam. “Silahkan.”
Al masuk, dan melihat Fatih yang sedang memeriksa seperti kertas yang berisi berkas penting, ah entahlah apa Al pun tidak peduli.
“Prof ini makan siang buat anda, saya disuruh mengantarkan untuk para dosen.” Ucap Al meletakkan kotak nasi itu di hadapan Fatih
“Ya terimakasih.” Singkat Fatih tanpa menoleh sedikitpun
“’Dih sombong amat.” Ucap Al kesal, kemudian dia hendak langsung pergi begitu saja.
Sebelum Al sampai di pintu, Fatih memanggil. “Tunggu, saya ingin meminta tolong.”
Dengan terpaksa Al kembali. “Ya ada apa Prof?”
“Kamu sepertinnya anggota BEM ya, saya minta tolong sampaikan kepada Husein, nanti setelah pulang langsung suruh dia untuk datang ke rumah saya, Abah ingin bertemu. Apakah kamu kenal?” Kata Fatih
“Oh kak Husein, baik Prof nanti saya sampaikan.” Balas Al
“Oke silahkan keluar.” Ucapnya
Dengan cepat Al melangkah keluar dari ruangan itu sambil menghentakkan kakinya.
“Kenapa sih dia itu gak bisa senyum dikit, gak bilang terimakasih lagi udah minta tolong gini, huhh.” Kesal Al mencebikkan bibirnya.
Di ruangan BEM mereka sedang menikmati makan siang bersama. Karna kelelahan setelah berberes, semua anggota terlihat dengan lahap menyantap makanan itu.
“Kak Husein aaku mau menyampaikan, tadi aku di suruh Prof Fatih bilang ke kakak, katanya sehabis pulang kakak disuruh kerumahnya, abah ingin bertemu, gitu.” Al menyampaikan pada Husei yang duduk di sebelah Angkasa, sedangkan Angkasa duduk tepat di depan Al.
“Kapan lo disuruh sama Prof Fatih?” Tanya Syila
“Ya kan tadi gue nganter makanan ke ruang Prof Fatih.”
Husein menbalas Al. “Oh gitu Al, oke thankyou Al udah di sampein.”
“Kok lo bisa kenal Prof Fatih sih kak, sampe abahnya mau nemuin lo.” Tanya Dijah heran
“Ya bisalah, orang gue sepupunya bang Fatih, eh Prof Fatih maksudnya.” Ucap Husein yang berhasil membuat mereka cengo sampai membulatkan matanya, kecualli Angkasa.
“Lo becanda kak, gak mungkin banget, masa kakak humble gini sedangkan beliau itu dingin kaya kulkas 12 pintu.” Al tidak percaya
“Iya kak jangan maen-maen dong.” Lanjut Syila
“Husein Alhasan Zaidan, nama belakangnya sama kan, itu nama kakek mereka.” Kata Angkasa yang sudah tahu karna dia sahabatnya
“MasyaAllah, kenapa gak bilang dari kemaren sih kak kalo lo sepupunya Prof Fatih.” Ucap Dijah
“Ya ngapain juga gue ngomong sama lo bambang.” Balasnya
“Ya biar gue bisa minta comblangin sama Prof Fatih gitu.”
“Gue juga mau dong, comblangin sama gue aja lah kak Husein.” Syila tak mau kalah
Al membolakkan matanya malas mendengar sahabatnya rebutan Fatih. “Kalian apaan sih, kok mau sama dosen dingin itu.”
“Heh lo gak tau aja Al, kalo bang Fatih itu manja ke orang yang dia sayang. Apalagi kalau udah bucin sama istrinya nanti.” Ucap Husein memberitahu
Mana kita tahu ya kalau Fatih itu nanti bisa bucin, seperti yang Al rasakan dan lihat bahwa Fatih memang cowo dingin yang sangat cuek. Bisa kita lihat kalau bicara hanya seadaanya, dan jarang tersenyum. Al malah merinding mendengar penuturan Husein.
Setelah makan dan sholat dzuhur, mereka bertiga akan pulang, tapi saat di parkiran Al melihat kating yang sempat ribut dengannya kemarin.
“Eh guys coba liat di sana, dia yang gue bilang kemaren.” Ucap Al menunjuk Sena yang baru keluar dari mobil bareng Keysa
“Serius lo Al? Dia mah kak Sena sama kak Keysa, Kak Sena itu salah satu fansnya Prof Fatih, dia suka banget caper gitu kata yang lain.” Jawab Syila
“Wah pantes aja, dia pasti cemburu sama Al yang cantik begini, mau gue samperin gak tuh si Sena.” Dijah hendak berjalan ke arah Sena tetapi ditahan oleh Al
“Lo sok berani banget sih Jah, udahlah ayok pulang.” Ajak Al menarik Khadijah masuk ke dalam mobil
Saat perjalanan, Al berpikir, pantas saja Sena kemarin menghalanginya buat masuk kedalam ruangan Fatih, karna pasti Sena takut Fatih akan terpesona dengan Al. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih mulus, apalagi badan Al bisa dibilang bodygoal sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments