POV AUTHOR
Siang ini, Al sedang bersiap-siap membereskan pakaiannya, karna nanti sore anak-anak BEM akan berangkat untuk acara makrab.
Al sebenarnya sudah izin dengan Fatih, meski awalnya Fatih sedikit berat untuk mengizinkan. Tapi dia berpikir, tidak mau terlalu mengekang Al, apalagi di usia nya yang memang masih remaja. Fatih hanya ingin membuat kenyamanan dalam pernikahannya.
Saat ini Fatih sedang memperhatikan Al untuk memasukkan beberapa baju, karna mereka akan menginap 1 malam.
"Mas, mending bantuin aku deh, dari pada ngeliatin gitu doang." Gerutu Al
"Ya kan gak banyak yang dibawa sayang, jadi aku bantu doa aja."
"Ih ngeselin banget." Gumam Al
Saat sedang memperhatikan Al, atensi mata Fatih tiba-tiba beralih ke arah ponsel Al yang memang ada di atas kasur, tepat di sampingnya.
Fatih melihat ada notifikasi dari Angkasa, dan dia melihat apa chat yang dikirimkan Angkasa untuk Al.
"Hm itu ada yang ngechat tuh."
"Hah apa mas, siapa?" Al menoleh kebelakang dan langsung mendekat untuk melihat hpnya.
"Yang ngasih kamu bunga mawar waktu itu." Ucap Fatih dengan muka yang tiba-tiba dingin
Al melihat chat yang dikirim Angkasa, tapi tidak berniat membalasnya. Karna mungkin hanya basa basi semata, dan dia tidak mau nanti Fatih mikir yang tidak-tidak.
Tapi saat Al ingin meletakkan hpnya, ada notifikasi panggilan, dan itu dari Angkasa. Dengan terpaksa Al mengangkatnya di dekat Fatih.
"Assalamualaikum, hallo kak Angkasa."
"Waalaikumsallam, hallo Al. Maaf ya ganggu lo engga, soalnya tadi lo cuman baca chat dari gue, jadi gue telpon langsung aja deh."
"Oh gak papa kak, ada apa ya." Jawab Al dengan mata yang melirik ke arah Fatih yang fokus mendengarkan percakapan mereka.
"Gini Al, nanti kan bakal berangkat pakai mini bus untuk semua anak-anak. Tapi anggota kita kan banyak, jadi bakal lumayan sumpek gitu di bus. Gue nanti naik motor aja kesananya, jadi lo mau ngga bareng gue aja naik motor?"
Damn!
Al langsung melirik ke arah Fatih yang mukanya sudah sangat datar dengan kerutan di keningnya.
'Waduh gimana ini, liat tatapan mas Fatih udah tajam begitu. Tapi kayaknya enak naik motor aja, tapi gue takut nanti mas Fatih gak akan izinin.' Al membatin
"H-hah bareng kakak naik motor ya? Hm gimana ya kak, soalnya Dijah kemaren bilang suruh duduk sama dia ntar di mobil, katanya dia pengen ada yang di ceritain ke gue."
"Oh gitu Al, yah padahal gue pengen banget bareng lo, soalnya gak ada temen juga naik motor."
"Ah maaf ya kak gue gak bisa, lo bareng sama kak Husein aja hhe."
"Okelah gakpapa, tapi next time lo gak boleh nolak."
Tuuuuuttttt
Panggilan itu terputus, belum sempat Al menjawab nya. Pinter juga si Angkasa, supaya tidak langsung di tolak lagi jika next time dia mengajak Al.
"Hm enak banget di perhatiin sama cowok begitu ya, biar kamu gak dalam bus yang sumpek." Sindir Fatih pada Al
"Sebenarnya sih enak ya naik motor aja gitu bareng kak Angkasa." Balas Al sengaja membuat Fatih tambah panas
"Apa kamu bilang, mending aku aja yang anterin kamu ke tempatnya kalo begitu."
"Ih ya jangan lah mas, ntar ketahuan yang lain, bilang aja mas cemburu kan hm ngakuuu." Al menggoda Fatih
"E-enggak lah apaan kamu begitu, berani menggoda aku ya."
Sudah pasti itu Fatih cemburu karna Angkasa yang mengajaknya bareng, tapi gengsi Fatih masih terlalu besar untuk mengakuinya.
Sebenarnya sampai sore, Fatih masih merayu Al agar ia saja yang mengantar Al. Tapi tetap di tolak oleh Al, karna bahaya nanti bisa-bisa ketahuan. Dan Fatih juga terlihat ingin mengatakan sesuatu yang sulit untuk di ungkapkan.
"Mas kamu kenapa sih mukanya gitu, kalo ada yang mau di omongin ya cepat ngomong, aku udah mau berangkat nih."
"I-itu nanti malam aku tidur sendiri hm." Ucap Fatih dengan raut wajah yang terlihat sedih
'what, dia bilang apa? Bukannya sebelum nikah juga tidur sendirian' batin Al
"Apaan sih mas, ya terus mau tidur sama siapa? Mau sama mba Najwa hah?"
"Ya bukan gitu sayang, t-tapi kan aku udah biasa tidur sama kamu beberapa minggu ini."
"Ya tahan lah mas, semalam doang kok, manja banget sih. Ayok anterin ke kampus, atau aku naik ojek aja?"
"Yaudah deh iya ayok, tapi aku mau peluk kamu dulu, boleh?" Minta Fatih dengan muka yang terlihat menggemaskan
'apaan sih nih orang, kenapa bisa manja begini, mukanya gemesin gitu lagi, kemana muka datar dan tatapan tajam biasanya. Bisa-bisa aku cepet jatuh cinta kalo gini, aaarrrgghh.' batin Al tidak habis pikir
Fatih memeluk erat tubuh Al, dan mencium kening wanita itu. Sebenarnya Al tidak tahan ingin ngereog. Tapi ditahan oleh Al untuk stay cool, meski jantung nya sudah seperti orgen tunggal, dag-dig-dug jeger. Eh gimana sih, ya begitulah.
Al tidak habis pikir bahwa Fatih akan manja seperti ini, hanya semalam saja ia di tinggal, tapi sudah seperti seminggu atau sebulan.
Emang boleh semanja ini??
Seperti apa yang di bilang umi Fatimah waktu itu sudah mulai muncul, yaitu sifat manja Fatih kepada orang yang disayanginya.
.
.
.
.
"Baiklah semuanya, kita berdoa dulu baru berangkat."
Angkasa dan Husein yang memimpin doa. Ya Angkasa tidak jadi naik motor, entah karna apa alasannya, yang pasti dia memilih naik mobil dan duduk di seberang tempat Al dan Dijah.
"Eh Al, lo udah diizinin Prof Fatih kan berangkat ini?" Tanya Dijah
"Udah Jah, awalnya si engga, cuma gue rayu lah."
"Jangan bilang lo rayu pake itu, ehem-ehem."
"Apaan ehem-ehem?"
"Yaelah, ituloh, bercocok tanam." Ucap Dijah menyeringai
"Bercocok tanam, emang gue petani apa."
"Buset, kelakuan aja bar-bar, tapi otak lo cetek tentang begituan. Atau jangan bilang lo belum itu is?"
"To the point aja maimunah, apaan si?"
"Maimunah nama nenek gue anj*r, nama gue Khadijah."
"Ups lupa. Buruan apaan bambang. Gue tinggal tidur nih."
"Lo belum malam pertama ya Al, ngaku. Lo masih perawan ting-ting?"
"Astagfirullah, lo dari tadi ngomongin itu? Y-ya gue masih perawan lah."
"Hahh!" Ucap Dijah sedikit teriak, sampai teman yang lain mengalihkan perhatian ke mereka berdua
"Gila lo Al, udah 2 mingguan gak si lo nikah, masa belum begituan. Kasian Prof Fatih, pasti nahan banget tuh." Lanjutnya
"Udeh deh diem lu, gue kan belum siap."
"Heh kalian berdua ngomongin apa sih, diem lo Jah, berisik amat mulut lo, liat yang lain pada tidur." Ucap Syila yang duduk di depan mereka bersama Nashwa yang sudah terlelap.
Alhasil, Angkasa yang duduk di seberang Al, selalu mencuri pandangan kepada Al. Husein yang melihat itu, hanya menggelengkan kepalanya. Dia ingin memberitahu sahabatnya, tapi dia juga sudah berjanji untuk tidak memberitahu pada siapa pun.
"Al, nih minum buat lo." Angkasa menyodorkan sebotol mineral
"Ah enggak usah kak, ini gue ada, thanks." Jawab Al sambil tersenyum
"Al kayaknya kak Angkasa itu suka deh sama lo?" Tebak Dijah sambil berbisik
"Gak tau deh gue Jah, gue kan biasa aja, udah punya suami nih."
"Cailah, udah di anggap aja tuh suami."
"Ssstt berisik lo, gue mau tidur."
Sekitar 2 jam lebih perjalanan, mereka sampai di salah satu puncak yang cukup terkenal di Bogor, sebagai tempat mereka melakukan acara.
Karna hari sudah petang, dan magrib sudah lewat beberapa waktu. Mereka semua melakukan sholat di mushola yang ada di puncak itu.
Baru kemudian mereka memasang tenda masing-masing, di tempat yang sedikit jauh masuk ke dalam, tempat yang sepi tanpa pengunjung agar acara makrab ini berlangsung baik.
Setiap tenda, maksimal 5 orang yang tidur di dalamnya. Tapi karna entah bagaimana mereka bicara dengan sang ketua, jadi Al, Khadijah, Nashwa, dan Syila, mereka tidur berempat.
Tepat di samping tenda mereka, adalah tenda milik Sena, Keysa dan lainnya. Sena tadi memang tidak berangkat naik bus, karna dia memilih naik mobil pribadinya bersama Keysa.
Saat mereka berempat sedang berbincang di depan tenda, Sena dan Keysa datang dan ikut duduk diantara mereka.
"Hi girls, gue sama Keysa boleh gabung kan?" Ucap Sena langsung duduk di samping Al
"Dih, lo duduk aja sana sama romobongan kating kak Sen, ngapain sama kita-kita." Balas Dijah
"Iya kak, lo kemaren kan keknya kesel gitu sama Al, ngapain nih duduk samping dia, ntar lo alergi lagi." Lanjut Syila
"Kalian apaan sih, orang kita cuma mau duduk aja, ikut cerita." Kata Keysa yang duduk samping Sena
"Bukan dia guys yang alergi, tapi gue nih, rasanya badan gue ikutan gatel disamping dia." Balas Al
"Hahahaha" mereka bertiga tertawa mendengar ucapan Al
Sena terlihat emosi, tapi ditahan.
"Udah kalian gak boleh gitu, biarin aja kalo kak Sen sama kak Key mau duduk sini." Pungkas Nashwa yang memang terlalu lembut
Mereka cerita-cerita, entah apa saja yang dibicarakan. Tapi Sena terlihat baik, dan menceritakan beberapa pengalaman hidupnya.
"Eh guys btw, gue mau tau dong kalian itu phobia apa sih?"
"Kenapa tanya gitu kak?" Tanya Nashwa
"Ya gakpapa, kita sharing aja biar seru, kalo gue sih phobia ular kali ya." Ucap Sena asal
Mereka memberi tahu phobianya pada Sena, dan terakhir Al.
"Kalo lo phobia apaan Al?" Tanya Keysa
"Gue phobia boneka!"
Mereka semua terkejut mendengar phobia Al. Karna menurut mereka, boneka itu sangat lucu dan menggemaskan, banyak diantara wanita menyukainya. Kecuali Dijah, karna dia memang sudah tahu sejak sma jika sahabatnya itu phobia boneka.
Setelah cerita, Sena dan Keysa berlalu dari sana.
"Kita siapin untuk nanti malam Key." Ujar Sena setelah menjauh
"Iya Sen, tapi gue gak ikutan kalo ketahuan, gue takut anj*r." Balasnya
Entah apa yang akan mereka rencanakan untuk nanti malam, meski sekarang juga sudah malam tapi baru pukul 19.35 WIB.
Sekitar pukul 20.05, mereka berkumpul membentuk sebuah lingkaran, dengan api unggun di tengah. Acara makrab ini mereka akan bermain beberapa game, dan ada sedikit pertunjukan, sambil makan-makan bareng.
Mereka semua sangat antusias, apalagi para anggota baru yang mulai beradaptasi dan mendapatkan keseruan.
Tiba tiba Angkasa sebagai ketua, maju ke tangah dan membawa sebuah gitar miliknya.
"Wih kak Angkasa mau nyanyi tuh." Ucap Dijah di samping Al
Banyak dari mereka berteriak, saat Angkasa menyanyikan lagu dengan wajah yang terlihat sangat tampan.
"Guys, gue mau nyanyi satu lagu lagi, tapi lagu ini gue khususin buat someone. Eeuumm untuk Al, Almaira boleh minta tolong maju kesini?" Ujar Angkasa lembut
Membuat semua anggota melongo, dan membulatkan matanya seketika.
"What, g-gue?" Ucap Al menunjuk dirinya
"Cie Al, lo disuruh maju tuh sama kak Angkasa." Kata Syila menyenggol bahunya
"Iya sana Al, mau dinyanyiin kamu tuh." Lanjut Nashwa pula
"Duh gimana nih Jah, gue maju kaga?" Bisik Al pada Dijah
"Udah maju aja sana Al."
"Tapi kalo Prof Fatih tau, mati gue."
"Cie, yang jagain hati suaminya." Goda Dijah
"Ssstt, mulut lo lebar banget sih, kayak mulut kuda nil, ntar di denger. Bukan gitu maksud gue, tapi tar kalo Prof Fatih tau terus ngadu sama ayah bunda, gue yang kena."
"Ah alesan lo, Al."
"Buruan maju Al, kak Angkasa nungguin woi." Teriak salah satu anggota BEM
"Udah lo maju aja, untuk menghormati kak Angkasa. Kan gak ada Prof Fatih juga disini." Ujar Dijah
Kemudian Al terpaksa maju kedepan, dan duduk tepat berhadapan dengan Angkasa yang tersenyum kepadanya.
Angkasa mulai menyanyikan lagu yang bergenre romantis, dihadapan Al. Al hanya tersenyum canggung tanpa menatap mata Angkasa. Pikiran Al sama sekali bukan pada lagu itu, tapi pada Fatih. Dia takut Fatih mengetahui ini semua ini dan akan memarahinya.
"Heh lo lagi ngebayangin di nyanyiin sama cowo kaya gitu juga kan." Ucap Husein yang tiba-tiba duduk di samping Khadijah.
"Paan si lo kak, jauhan sana, ngapain dempetin gue." Balas Dijah sedikit menggeser posisi duduknya
"Jangan halu lo, bakal di romantisin sama cowo gitu."
"Bilang aja lo mau gituan gue juga, ngaku lo kak, pura-pura segala bilang gue ngehalu.
"Sorry yalaw, gue mending romantisan sama kunti, daripada sama lo."
"Yaudah sana sama mba kun, ngapain juga disini." Dijah mendorong lembut tubuh Husein
"Eh gajadi deng, amit-amit dah gue sama kunti." Ucap Husein lagi
"Kenapa emang?" Tanya Nashwa yang mendengar percakapan mereka dari tadi, karna dia dan Syila duduk di sebelah Dijah.
Meski Syila hanya fokus pada keromantisan Angkasa yang masih menyanyikan lagu untuk Al.
"Ya ntar gak bisa gue *****-***** lah." Jawab Husein
"Astagfirullah." Nashwa mengusap dadanya mendengar ucapan Husein
"Sinting!" Ucap Dijah sedikit teriak, saat Husein langsung berlalu dari sana
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments