"How are you?" Jamie tidak bisa terlalu lama untuk tidak berkabar dengan Tania. Mengirim pesan atau telepon sudah bukan menjadi solusi.
Jamie harus pergi menemui Tania, perangkap Tania begitu kuat hingga Jamie menjadi terpikat.
"Baik." Jawab Tania cuek, setelah menyelesaikan meeting Tania masuk ke ruang kerjanya.
"Kenapa kamu gak mampir?" Tanya Jamie, mulai mengganggu Tania, m*meluk Tania dari belakang kursi, menyandarkan kepalanya di bahu Tania.
Tania hanya tersenyum smirk dan berkata "Aku kesiangan, sudah ada janji meeting."
Jamie menc*um puncak kepala Tania, Tania masih fokus dengan pekerjaan, menandatangani beberapa berkas.
Tania menggeliat ketika bibir Jamie menc*um leher Tania.
"I miss you." Bisik Jamie yang terlalu bucin pada Tania.
"I miss u too." Terdengar hambar tanpa ekspresi.
"Ok." Mendengar jawaban Tania, Jamie lepaskan tangannya.
"Aku balik dulu." Jamie berjalan melewati Tania,
"Kenapa buru-buru?" Tanya Tania,
Jamie menoleh "Kenapa?" tanyanya balik.
"Iya." Tania menaruh pulpen, menatap Jamie. Tania menunggu jawaban yang keluar dari mulut Jamie.
"Aku kesini kangen kamu, aku di rumah belum sarapan dan mau ngajak kamu makan ternyata kamu cuekin." Tidak disangka kalimat yang terucap dari mulut Jamie.
"Kamu kenapa? Tumben banget?" Tanya Tania, merasa aneh dengan sikap Jamie yang tiba-tiba manja.
"Udah lanjutin tugas kamu." Dihadapan Tania seperti bukan seorang Jamie yang garang, bahkan seperti anak kecil yang ingin diperhatikan.
Pintu Tania ditutup sedikit kasar, yang mengetahui pasti mengira mereka bertengkar. Tania kembali menuntaskan segera pekerjaannya.
"Udah ya kamu istirahat sayang." Bayu benar-benar mendampingi Sabilla, tidak meninggalkan rumah demi menjaga istri dan anaknya.
Sabilla tidak menuruti, dirinya bosan ingin berdiri keluar kamar. Dokter menyarankan untuk tidak meninggalkan Sabilla sendirian.
Depresi atas kejadian, membuat Sabilla bagai hilang kewarasan. Bayu semakin geram, tidak ingin dan tidak mau jika harus kehilangan Sabilla.
Beberapa bawahannya mengirim bukti, semakin banyak bukti, semakin cepat untuk bertindak untuk menghajar dan menghukum Jamie.
Wajah Sabilla tampak cekung dan sayu, Bayu tidak tega melihat paras istrinya.
"Sayang, my lovebird it's ok," ucapnya menggenggam kedua tangan Sabilla.
"Kamu harus sehat, kamu kuat. Coba lihat Elang dan Sabay, mereka butuh kamu. Akupun juga." Mendengar ucapan dari mulut Bayu, tetesan air mata keluar dari mata Sabilla.
Diketahui Sabilla begitu lama menunggu pelayan menghampiri dirinya yang sedang duduk menahan lapar.
Membuat emosi Sabilla naik hingga mengatakan "Hay, aku seorang tamu vvip, tidak adakah yang menawariku untuk memesan makanan." Sabilla sedikit berteriak dan mengangkat tangan. Jika mereka mengetahui siapa Sabilla, entah apa yang akan diperbuat Bayu.
Seorang pelayan khusus tamu vvip menanyakan menu yang ingin dipesan oleh Sabilla, dan Sabilla hanya menjawab "Pasta and orange juice."
Kata 'Pasta' diketahui Bayu dari laporan Arya jika 'Pasta' adalah kode dari menu special vvip. Hanya tamu vvip saja yang mengetahui kode itu.
Arya meretas semua data atas perintah Bayu dan Tania. Anjas adalah orang dibalik pembuat kode 'Pasta'.
Itulah alasan yang membuat Tania mengganti peraturan untuk menjebak orang-orang yang bekerja dibawa Anjas.
"Bro, ini bukti yang kita dapat dari lapangan dan hasil forensik." Seorang Tim Putra memberikan berkas dan beberapa bukti yang sudah tersimpan rapi di dalam kantong plastik.
"Tidak ditemukan sidik jari maupun rekaman cctv di tempat." Ujar salah satu tim yang juga ikut mendalami kasus.
"Oke, akan aku lanjutkan." Putra menerima semuanya, jika Putra langsung memberikan perintah untuk menyelidiki komunitas mobil, tentu akan menjadi kasus besar. Dan Putra masih memikirkan tim firma hukum dan juga si kembar.
Sejenak Putra berpikir untuk mencari cara, kasus yang tidak mudah. Ditutup akan menjadi kesalahan, dilanjutkan akan terbakar. Putra harus butuh persiapan karena kasus pembunuhan yang menyangkut barang haram, bukan kasus kecil yang mudah diremehkan.
Beberapa oknum pasti akan ikut terseret. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya seorang anggota, menghentikan lamunannya.
"Ah tidak, tolong ini simpan di tempat dan terima kasih untuk kerja kerasnya." Putra memberikan berkas dan bukti lagi kepada tim untuk disimpan di tempat yang aman.
"Ah kenapa aku selalu kesepian? Kenapa selalu sendirian?" Gumam Arika masih bermanja di atas ranjang.
"Kenapa aku menuruti lelaki itu untuk tidak keluar apartemen? Siapa dia harus menahan aku disini?" Arika mengeluh, memuk*l bantal sembarangan.
Kabar dari Nando, membuat Putra menahan Arika untuk tidak keluar dari apartemen, apalagi untuk berkeliaran di luar. Putra juga tidak memberi kode pintu supaya Arika tidak bisa keluar.
Banyak persediaan makanan tidak akan membuat Arika kelaparan. Arika masih menggunakan baju Putra yang kebesaran.
"Aku ngapain?" Rintih Arika merasa bosan.
Beranjak dari ranjang, menuju dapur membuka lemari pendingin untuk mencari makanan. Perutnya mulai merasakan lapar.
"Buah dan bahan, lantas aku harus masak?" Arika semakin mengeluh. Tidak ingin melakukan pekerjaan, buah, makanan ringan dan sebotol air mineral diambilnya, dibawa menuju ke sofa sambil menonton film.
"Mereka pasti sudah mengetahui apa yang kita lakukan." Anjas sedikit cemas, berucap berjalan mondar-mandir.
"Tania itu bod*h dia tidak akan tahu tentang ini percayalah." Ujar Sonic meremehkan.
"Tapi feeling ku merasakan aneh." Anjas mulai ketakutan.
Sonic mulai mengeluarkan serbuk putih terbungkus plastik kecil diberikan ke Anjas dan langsung diterima.
"Tenangin diri, masak kamu kalah dengan anak mobil Morpheus.K." Asap vape keluar dari mulut Sonic.
Anjas langsung membuka plastik kecil itu dan cepat-cepat menghirup kenikmatan.
"Anj*nk." Umpat Sonic melihat kelakuan Anjas.
Entah dapat bisikan dari mana, Tania secepatnya menyelesaikan pekerjaan dan buru-buru mendatangi perusahaan Jamie, untuk menemuinya.
Tania sudah berada di depan ruangan Jamie, sang sekretaris menahannya untuk masuk.
"What?" Tania merasa aneh, karena tidak pernah diperlakukan seperti itu.
"Maaf, ini perintah!" Ucap sang sekretaris bernama Dona.
"Are you kidding?" Tania masih tidak percaya, dengan gesit menendang pintu ruang kerja Jamie. Tania bodo amat jika menjadi tontonan.
Jamie berniat balas dendam, rindunya tidak tersampaikan malah mendapatkan sikap cuek.
Di dalam ruangan Jamie mendengar kebisingan, tersenyum senang ketika yang datang adalah Tania, perempuan yang amat dirinya cintai.
Tidak ingin membuat permasalahan panjang, Jamie membuka pintu, menghentikan Tania dan mempersilahkan masuk.
"Kenapa aku dilarang masuk? Apa ada perempuan lain di dalam sini?" Tania celingukan melihat seisi ruangan, mengecek kamar mandi bahkan kolong meja.
Jamie semakin senang, baginya lucu melihat Tania cemburu.
"Ada apa kesini?" Bagai anak remaja puber, Jamie jual mahal, sikap cool dan garangnya terlihat.
"Kenapa tanya?" Tania kini yang emosi.
"Ya, bukannya kau mengusirku baby." Ucap Jamie yang masih berdiri di belakang Tania yang celingukan.
Tania terdiam, emosinya mulai meruak. Menatap tajam wajah Jamie yang beringas. Bagai singa betina, Tania berjalan cepat meluapkan emosinya ******* bib*r Jamie rakus.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments