9.Love vs Blood

Bayu terlihat sangat geram ketika menghadiri pertemuan para investor, karena Bayu juga salah satu dari pemegang saham di perusahaan yang semalam beritanya tersebar membuat saham turun drastis. Itulah alasan Bayu mempersetujui diadakannya meeting dadakan.

Bayu sudah mengetahui sebelumnya berita perihal ditangkapnya seorang anak pengusaha, tetapi Bayu tidak menyangka jika efeknya sampai seperti ini. Meskipun kehilangan saham disalah satu perusahaan tidak membuat dirinya jatuh miskin tetapi profesional dalam bekerja sama tetap harus dipikirkan. Bukan untuk sesaat, melainkan untuk jangka panjang.

"Bay." Suara Tania menghentikan langkah kaki Bayu buru-buru meninggalkan ruangan pertemuan.

"Iya Tan." Jawab Bayu singkat.

"Minta waktunya sebentar." Ucap Tania.

Bayu melihat jam yang bertengger di tangan kirinya. "Okay, sebentar ya. Sabilla dan anak-anak udah nunggu," ucapnya

"Ada yang mau disampaikan?" Tanya Bayu, raut wajah Tania celingukan memastikan sudah tidak ada orang selain mereka berdua.

"Anjas." Jawab Tania lirih

"Kenapa dengan dia?" Bayu mengernyitkan dahinya.

"Apa kamu tidak melihat gelagat dia ketika meeting tadi?" Tania berharap Bayu paham dengan perkataannya.

Bayu mencoba berpikir. Jika dirinya lebih fokus dengan pembahasan bukan fokus memantau gelagat setiap orang.

"Ada apa dengan dia?" Bayu balik bertanya.

"Dia seperti gelisah, cemas. Aku perhatikan dia seperti orang anxiety tapi aku sangat yakin dia bukan penderita anxiety." Tania menjelaskan, raut wajahnya sangat serius.

"Lalu apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bayu lagi.

"Dia juga pemakai, bukan hanya pengedar." Tanpa banyak kata Bayu mengetahui apa yang dimaksud Tania.

Bayu segera memerintah Tania untuk mencari keberadaan Anjas. Untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan. Meskipun Bayu sudah siap menjadi pengganti Tania, bukan berarti Bayu siap mendengarkan perusahaan kacau dadakan dengan masalah yang sama dan karena ulah orang lain.

Bayu meninggalkan hotel segera meluncur ke play ground tempat Sabilla dan anak-anaknya menunggu.

Playground hanya berjarak 2 km dari tempat Bayu mendatangi meeting. Kedatangannya segera di sambut Elang anak sulungnya.

"Papa …." Elang berlari meminta untuk digendong.

Bayu memposisikan dirinya membungkuk untuk menggendong anak sulungnya.

"Anak papa udah besar, Papa udah gak kuat gendongnya." Ucap Bayu dengan nada bicara yang dibuat buat seperti nada suara seorang lansia.

Elang menepuk jidatnya "Papa masih muda, masih keren. Papa belum tua harus kuat dong."

"Wah Papa terlihat masih muda kah?" Wajah Bayu sumringah. Matanya kini saling menatap dengan mata si Elang.

"Yes papa, papa ganteng gak ada duanya." Puji Elang menciumi wajah Bayu.

Sabilla tersenyum senang melihat interaksi suami dan anaknya. Sikap Bayu membuatnya hanyut berkali-kali, ya meskipun sikap reseknya kadang-kadang bikin gedek juga.

---

Di sebuah ruang gelap seorang laki-laki dengan kaki, tangan terikat dan lakban menutupi mulutnya. Melihat kesana kemari, untuk mengenali tempat keberadaannya. Tercium bau anyir, darah yang keluar dari pelipisnya mengering. Dadanya sesak, masih sulit dicerna, dirinya tidak tahu dimana sekarang berada.

Mario mencoba berontak, sulit sekali rasanya untuk melepaskan temali yang begitu erat mengikat kedua kaki dan tangannya. Matanya memerah, menerawang ke segala penjuru ruangan. Tidak menemukan satu barang. Hanya sebuah ruangan usang, remang dan berbau tidak sedap. Pikirannya buyar, inilah konsekuensi yang didapatkan. Jamie tidak akan tinggal diam.

Terdengar langkah kaki perlahan semakin mendekat. Jamie dengan celana panjang tanpa atasan memperlihatkan tubuh kekarnya, senapan menggantung manja di punggung layaknya si pemburu siap menerjang hewan liar.

Keringat dingin mulai bercucuran, air bening mengalir dari kelopak mata yang mulai memerah, rasa takut, cemas, bersalah semua beradu. Mario hanya bisa berontak tanpa bisa berteriak. Ketika Jamie berdiri tidak cukup jauh dari dirinya duduk berontak, siap dengan peluru yang akan menerjang.

Doooorrrr ....

Jamie tidak pernah main-main dengan permainannya.

---

Lautan biru dengan pasir putih yang bersih nan halus. Sepoi angin tertiup cukup kencang membuat topi Sabilla hampir melayang. Berjalan kaki di bibir pantai, kaki basah tersapuh ombak kecil berkejaran. Bayu mengendong bayi mungilnya, Elang berjalan bergandeng tangan dengan Sabilla. Mengasingkan diri di pulau pribadi untuk menikmati libur yang sudah lama tertunda dilakukan.

Karena selama dalam kehamilan Sabay, Sabilla selalu mengalami mabuk perjalanan dan sekarang setiap perjalanan selalu mengeluh kelaparan karena Sabay meminum asi begitu banyak dari perkiraan.

"Bay, lapar." Rintih Sabilla, bahkan sebelum mendarat dari jet pribadinya Sabilla sudah menghabiskan banyak makanan, yang membuat Sabilla beruntung sebanyak apapun makanan yang dilahap berat badan tubuhnya masih dalam tahap normal.

"Oke Lovebird, kita ke restoran yang di hotel ya!" Ajak Bayu.

Hotel miliknya sendiri sedangkan restoran milik dari Tania dan Anjas. Keberadaan hotel mereka hanya berjarak 500 meter dari pantai.

Setibanya di hotel, melihat Sabay dan Elang lelah Bayu membiarkan Sabilla mengunjungi restoran sendiri.

Bayu menuju kamar untuk menidurkan dua anak mereka dan membiarkan Sabilla untuk me time.

---

"Anjas, are you Okay?" tanya Tania berkaca pinggang, mencari keberadaan Anjas hingga menemukannya di dapur restoran. Pertanyaan Tania tidak dihiraukan, Anjas sedang melahap pasta, makanan yang paling Anjas sukai.

"Kamu lapar?" tanya Tania lagi. Tania masih memperhatikan Anjas, sedang Anjas tidak menghiraukan perkataan Tania.

"Anjas …." Panggil Tania, beberapa pegawai di dapur memperhatikan.

"****," Umpat Tania, berlalu meninggalkan Anjas. Tidak peduli yang penting Tania sudah melihat jika Anjas masih baik-baik saja.

---

Cukup lama Sabilla bersantai sendirian, menikmati hidangan yang disuguhkan. Merasa puas dan kenyang, Sabilla memutuskan meninggalkan restoran untuk ke kamar tempatnya menginap. Sabilla berjalan sempoyongan, bicaranya ngelantur, matanya sayup buram.

Bayu terkejut melihat kondisi istrinya yang tidak biasa saat membukakan pintu.

"Kamu kenapa lovebird?" Bayu menuntun Sabilla berjalan.

"Apa kau mabuk?" Tubuh Sabilla menggelayut manja di pelukan Bayu.

Bayu mengendus mencoba mencari bau alkohol di sekujur tubuh istrinya. Bayu tidak menemukan itu, hanya bau pasta dan orange juice yang tercium.

Dengan keras Sabilla menarik tengkuk kepala Bayu, mencium bibir Bayu dengan liar.

Pikiran Bayu banyak sekali pertanyaan "Apa yang sudah dilakukan Sabilla?" tetapi pikiran itu dirinya kesampingkan. Menuruti maunya Sabilla harus dia lakukan. Membalas mencium Sabilla dengan liar. Tubuh Sabilla semakin panas, dengan kasar membuka kancing kemeja yang dikenakan Bayu, mendorong tubuh Bayu ke dinding.

Bayu sangat kaget dengan yang dilakukan istrinya, Sabilla sangat tidak seperti biasanya. Bayu pun ikut membalas, membuka paksa dress bermotif bunga berwarna orange yang Sabilla kenakan. Melucuti hingga tidak ada satu benang yang tersisa di tubuhnya. Tanpa perintah Sabilla melakukan hal yang amat sangat disukai Bayu sebelum permainan dimulai. Erangan Bayu semakin membuat dirinya panas. Sabilla berjongkok di depannya, tangannya mengelus kepala Sabilla manja, sedangkan pikirannya kacau merasakan kenikmatan yang diberikan istrinya.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!