16.Love vs Blood

Kebosanan melanda Arika, tidak ada teman untuk bersenda gurau. Bi Wati segera pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Jamie tidak terlihat pulang ke rumah.

Arika berganti pakaian, lebih baik keluar daripada hanya diam di rumah. Tujuannya hanya satu yaitu mall, sudah lama dirinya tidak mengunjungi mall yang digandrungi anak muda kala itu.

Semua tentang nostalgia, kecerobohannya, kenakalannya, semua dirinya hilangkan semenjak kehilangan sosok orang yang pernah dikagumi. T Shirt dan celana jeans biasa menjadi baju yang dia sukai, beralas flat shoes yang terkadang hanya sandal jepit warna pink kesukaannya.

Arika tumbuh menjadi perempuan yang sangat baik, berubah 160°.

"Ayo kita beli es cream …." Arika berbicara kepada dirinya sendiri. Menutup pintu mobil, segera melaju. Seorang lelaki berkaos hitam, bertubuh kekar tak berambut berdiri bak bodyguard di samping pagar menghentikan mobil Arika.

"Kamu siapa? Ada apa?" Tanya Arika tiada takut, dirinya punya Jamie yang selalu melindunginya.

"Tuan Jamie menyuruhku untuk menjaga kamu. Kemana kamu akan pergi?" Tanyanya membuat Arika risih.

"Jaga rumah, aku hanya ke mall." Melihat gerbang yang terbuka menggunakan sensor, mobil segera digas dengan cepat.

---

Berbincang cukup lama bersama tim, dan Bayu yang ikut pertemuan via online karena masih belum bisa meninggalkan Sabilla sendirian. Putra membuka ponselnya, notifikasi gps dari mobil Arika bergerak keluar rumah menuju jalanan besar. Putra memantau pergerakan mobil. Seperti tujuan Arika, mobil masuk ke pekarangan mall.

Putra hanya memantau tidak perlu bergerak untuk mendatangi.

"Arya, apa kau punya gps tubuh?" Yang dimaksud Putra ialah gps yang bisa ditancapkan ke tubuh.

"Buat?" Arya bertanya balik.

"Arika?" Tania ikut penasaran.

"Ini urusanku, aku hanya bertanya jika ada aku minta." Putra tidak ingin mereka ikut rencananya, ada hal yang harus diprivasikan juga.

"Jangan sembarang, Jamie juga bukan orang sembarangan." Pesan Nando.

"Setahun kita bergerak, kita tidak melihat pergerakan Jamie mengetahui musuhnya. Apa dia bodoh atau ada hal lain?" Putra tiba-tiba terpikirkan, begitupun dengan yang lain. Sejenak mereka juga berpikir, dari cctv yang ditancapkan di ruang kerja Jamie tidak ada satupun yang terdeteksi olehnya, tidak ada pembahasan mengenai musuh yang menyerang dirinya. "Atau jangan-jangan dia mengetahui tetapi diam." Ujar Raka.

Mereka saling menatap satu sama lain. "Kurasa tidak, buktinya kita mengetahui tentang barang haram itu," ujar Tania, "Jika dia mengetahui bukannya nyawaku sudah hilang?" Ucap Tania selanjutnya.

Arya membuka loker setelah memasukkan kode, pintu loker terbuka. Arya mengambil sebuah kotak berwarna biru. Arya berjalan ke meja mereka yang masih duduk di sana.

"Ini ada beberapa, jika butuh kalian bisa tancapkan alat ini di lengan atau leher ingat jangan pernah tancapkan di tangan." Arya merasa trauma.

"Kenapa kalau di tangan?" Nando bertanya.

"Gak usah tanya kenapa brother, cukup jalankan perintah!" Ucap Arya tidak ingin membahas.

"Dia trauma melihat orang col*" Dengan enteng Tania berbicara.

"Hai nona, cukup bicaramu." Arya merasa kesal.

"What?" Putra terkejut.

"Alat itu, Mr.Angkasa." Tania masih melanjutkan.

"Brother Putra bolehkan sekiranya tangan ini melakban mulut your sister?" Tanya Arya bercanda dengan nada serius.

"Dengan senang hati." Jawab Putra melihat, membolak-balik alat kecil berbentuk bulat pipi.

Tak segan Arya melakukan gerakan bak ingin menembak bukan melakban, sedangkan Tania pura-pura pingsan.

"Hah saya puas." Ucap Arya, tentu yang lain hanya geleng-geleng kepala terlihat tingkah Arya dan Tania.

---

"Tetap seperti ini sayang, terima kasih atas kerja samanya." Kalimat itu keluar dari mulut seorang lelaki yang tengah bercumbu di ruang kerja yang sepi.

Karyawan sudah meninggalkan perusahaan, baju atasan berwarna marun tergeletak di lantai. Dua orang sedang beradu kenikmatan di atas meja kerja, sayangnya perbuatan itu jauh dari pantauan cctv ruangan.

Suara erangan saling bersahutan, tidak ada satupun orang yang mendengarkan. Bagai tempat pribadi tidak peduli apa yang sedang dilakukan, mencapai puncak kenikmatan adalah tujuan.

---

Mall sangat berbeda dengan waktu dirinya remaja. Kini mall yang dulu sering dikunjungi banyak perubahan, gedung begitu besar dengan aquarium raksasa di tengah lantai dasar, berbentuk tabung keatas menjadi pusat perhatian para pengunjung.

Arika terkesimah pada ruang besar yang sedang mengadakan pertunjukan modeling anak-anak. Arika berdiri menyaksikan pertunjukan sesekali tersenyum dan memberikan tepuk tangan.

Seorang dari kejauhan menatap terpesona dengan kecantikan Arika, segera mendekati tidak segan untuk menyapa.

"Halo Arika, apa kabar?" Tanyanya mengenali.

Arika menoleh memicingkan mata,mencoba mengingat seseorang yang menyapanya.

"Baik, Maaf kamu siapa?" Jawab Arika dengan bertanya balik.

"Apa kamu tidak mengenaliku?" Tanyanya pada Arika tersenyum.

"Maaf." Jawab Arika sopan.

"Kamu sangat berbeda," pujinya, yang membuat Arika bingung.

"Aku Serly, kita dulu satu sekolah." Serly mengingatkan.

"Maaf, Serly." Hanya itu yang keluar dari mulut Arika, jika dirinya mengingat betapa menyedihkan waktu sekolah menjadi murid yang terkenal suka melakukan bully.

"Tidak masalah," Serly berucap sambil tersenyum ramah.

"Aku mendengar sekarang kamu jadi model di luar negeri, sudikah menjadi bintang tamu dadakan di acara ini. Setidaknya memberikan sepatah motivasi untuk mereka." Ujar Serly.

"Ini acara kamu?" tanya Arika,

"Aku tidak pandai berbicara." Ucap Arika selanjutnya.

"Justru maaf jika menyuruhmu dadakan, pasti akan aku bayar." Serly tidak segan berucap.

"Ah tidak, ini bukan tentang uang," Arika menolak.

"Aku akan coba, maafkan aku jika dulu pernah melukaimu." Ucap Arika memegang tangan Serly.

"Itu hanya masa lalu, sudah ku maafkan." Serly kembali tersenyum dan Arika mengindahkan untuk mengisi acara seperti permintaan Serly.

Serly menggandeng tangan Arika, menuju ruangan backstage. Sedikit memberikan polesan make up karena Arika datang tanpa sedikitpun make up. Bibirnya yang ranum tidak terlihat pucat meskipun tanpa menggunakan polesan lipstik.

Terdengar mc mempersilahkan Arika untuk naik ke atas panggung. Dengan sedikit berdebar Arika melangkahkan kaki, menutup acara dengan memberikan sedikit motivasi dan semangat kepada peserta sebelum memberikan pengumuman pemenang.

Arika menatap ke para penonton, nampak terlihat Putra berdiri dengan gagahnya menatap dirinya. Arika cukup terkejut tetapi tidak membuat dirinya merusak acara.

---

Beberapa menit lalu notifikasi grup chat alumni sekolah Nando rame dengan kiriman foto Arika, kiriman dari Serly dengan tulisan 'Siapa yang mau balas dendam dipersilakan? Dia datang, si pembully yang membuat teman-teman kita tersakiti bahkan mati.'

Nando menyampaikan pesan yang sedang ramai menjadi perbincangan di grup chat kepada Putra. Putra melihat gps tempat Arika berada. Tanpa pamit, Putra segera pergi menyusul Arika. Mencari keberadaan Arika yang masih di Mall. Bukan tentang kasian, Arika adalah barang incarannya. Tidak akan membiarkan orang lain menyentuh atau menyakiti. Dirinya yang berhak atas Arika.

Berdiri melihat Arika, memantau setiap gerakan. Putra dengan sigap menggandeng Arika ketika Arika turun dari panggung untuk menjauh dari tempat acara. Serly kehilangan jejak Arika, bukan mengucapkan terima kasih. Serly sudah mempersiapkan hal licik untuk menculik Arika.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!