Di tempat lain Rio berpikir jika melakukan pengecekan ulang akan memakan waktu, membuat penerbangan tertunda dan tidak ada alasan logis juga untuk menyampaikan saran hanya karena perintah dari Arya.
Rio mencoba berpikir positif, mengalihkan apa yang telah disampaikan anaknya.
Arya bukan orang yang mudah percaya meskipun itu orang tuanya sendiri. Arya menekan kode hitam tanda darurat, untuk tim segera bertindak.
Perintah diterima, Mr. menanggapi permintaan Arya karena menyangkut banyak nyawa. Beberapa anggota yang sudah siap siaga berada di bandara masuk ke dalam pesawat. Sebelum pesawat lepas landas, seorang misterius yang dicurigai Arya seorang perempuan mengenakan dress berwarna putih bermotif bunga Cempasuchil, menggunakan topi baret warna senada dengan gambar bunga yakni kuning berhasil diringkus. Aksinya digagalkan sebelum melakukan bunuh diri dengan bom yang sudah menempel di tubuhnya. Tim gegana berhasil menjinakkan sebelum bom disetel meledak. Para penumpang ketakutan, wanita yang tertangkap menangis menjerit. Seorang Aviation Security juga tertangkap yang sudah membantu meloloskan wanita itu untuk melakukan aksinya.
Wanita itu terus menangis, melakukan aksinya karena dalam satu pesawat yang sama terdapat kekasihnya seorang menteri yang sudah mencampakkan dirinya.
"Huft …. Sungguh cinta itu ribet." Ujar Arya setelah mendapatkan info tugasnya berhasil.
Rio merasa bersalah "Thanks Bro, maafkan ayah." Ucapnya sebelum menerbangkan kapal terbang.
+++
Bayu dan tim sudah mengantongi banyak bukti. Bukti tidak cukup untuk mengusut tuntas kejadian yang menimpa Sabila, jika tercium oleh Anjas dan orang dibelakangnya mereka akan segera mengubah taktik untuk menghilangkan bukti atau bahkan lari ke luar negeri.
Bayu tidak takut jika pun mereka ke luar negeri untuk melarikan diri. Bayu masih mempunyai Reza yang memiliki kekuasaan untuk meringkus. Reza sahabatnya, kepala penyidik mafia terutama gembong narkoba. Reza juga salah satu agen rahasia yang di luar negeri.
Beberapa orang pilihan sudah memasuki bagian masing-masing yang sudah ditentukan oleh Tania, dan Nando yang menginstruksi mereka untuk bekerja menjadi penyidik mencari bukti-bukti untuk menjerumuskan Jamie.
Yah, Jamie adalah tujuan mereka untuk melaksanakan misi. Menangkap Jamie adalah misi balas dendam mereka. Tania
sudah tidak peduli jika misinya menjadi bumerang yang terpenting adalah Jamie mendapatkan hukuman yang setimpal.
---
Mimpi buruk kembali dirasakan oleh Arika, keringat dingin membasahi tubuhnya.
Napasnya tersengal ngos-ngosan rasa ketakutan tubuhnya gemetaran.
"Mom …. Dad …. Where are you?" Tanyanya pada diri sendiri menangis yang sesenggukan.
Arika kembali ke negaranya bertujuan untuk liburan bukan merasakan kesedihan teringat orang tuanya. Rasa rindu menggerogoti relung hatinya, terus mempertanyakan keberadaan orang tuanya yang hilang tidak berkabar.
Menguncir rambutnya yang panjang, mengambil air minum, turun ke dapur dengan tubuhnya yang masih lemas.
Masih tidak terlihat wujud Jamie, rumah tampak sunyi sepi.
Arika datang Jamie pergi, Arika pergi Jamie datang. Berhari-hari sudah dirasakan oleh Arika.
Bunyi bell berbunyi, Arika membukakan pintu. Seorang wanita setengah baya dengan baju sangat sederhana tampak tersenyum "Nona Arika?" tanyanya pada Arika.
"Iya, ibu siapa?" Tanya Arika.
"Bibi yang bersihkan rumah ini, Tuan Jamie sudah memberitahu jika keponakannya akan datang," tuturnya
"Perkenalkan nama saya Wati, panggil bi Wati saja." Ucapnya lagi pada Arika.
Arika tersenyum, silakan masuk bi Wati. Merasa menemukan teman, Arika duduk di ruang tengah, menikmati kopi buatannya sembari memperhatikan bi Wati bersih-bersih.
"Bibi sudah lama kerja disini?" Tanya Arika penasaran.
"Sudah non, dari non Arika berangkat ke luar negeri." Jawab bi Wati tanpa melihat Arika.
"Terus bi Susi kemana?" Tanya Arika spontan.
"Bibi yang sebelumnya keluar non." Jawab bi Wati lagi.
"Bi, apa uncle jarang di rumah?" Tanya Arika, yang kini duduk di mini bar melihat bi Wati bersih-bersih dapur. Mini bar terletak di samping dapur.
"Bibi sangat jarang bertemu tuan Jamie, biasanya bibi datang kalau dapat izin dari security baru bibi masuk non." Tuturnya, Arika fokus mendengarkan.
"Security?"
"Iya, Pak Darman. Sekarang orangnya lagi cuti, istrinya sakit non." Penjelasan itu cukup dipahami oleh Arika.
"Bibi mau setiap hari kesini atau tinggal di sini saja, biar Arika yang bilang ke Uncle." Pinta Arika yang langsung ditolak oleh bi Wati.
"Maaf non, bibi tidak bisa. Perjanjian hanya dua hari sekali. Bibi juga punya anak kecil." Penuturannya membuat Arika penasaran, suaranya yang tertatih seperti ketakutan tidak bisa disembunyikan. Arika memicingkan matanya, menelisik.
"Its oke bi." Jawab Arika, masih melihat setiap pergerakan bi Wati yang melakukan tugasnya.
Arika terpanah pada sebuah lukisan besar yang menempel di dinding. Lukisan sosok lelaki tua mengenakan jas dengan dasi kupu-kupu di kerah bajunya. Arika berjalan menghampiri, berdiri tepat di depan lukisan itu. Tubuhnya yang tinggi hanya membuat kepalanya sedikit menengadah. Arika melipat kedua tangannya di dada, mencoba mengingat kenangan bersama lelaki tua yang ada di lukisan, tidak lain adalah sang Kakek. Arika tersenyum tipis, Arika tidak pernah memiliki kenangan intens bersama sang Kakek. Hanya barang-barang, mainan yang dikasih saat ulang tahun. Sang Kakek, yang dirinya ketahui seorang pekerja keras. Kini ditiru oleh kedua orang tuanya.
Tangan Arika mencoba menyentuh lukisan itu hanya beberapa inci jarak dengan lukisan bi Wati berteriak "JANGAN DISENTUH NON, TUAN JAMIE PASTI AKAN MARAH!"
Arika terkejut dengan suara teriakan bi Wati, membuat dirinya mengurungkan untuk menyentuh tetapi menanyakan "Kenapa bi?"
"Bibi tidak tau alasannya, tetapi itu larangan dan perintah dari tuan Jamie." Ujar bi Wati, keringat dingin terlihat menetes dari pelipisnya.
Arika semakin penasaran, membuat dirinya bertanya-tanya 'ada apakah gerangan?'
---
"Mario masih tidak ditemukan, bahkan semua anggota kepolisian digerakkan." Nando datang ke Markas, Putra berada disana menunggu kedatangan Arya.
"Kita tunggu Arya, ada kasus baru tentang kematian bocah yang kau kirim fotonya." Tutur Putra, tangannya sibuk membolak-balikkan jam pasir.
"Sudah kuduga mereka akan melakukan itu." Ucap Nando.
"Tania meminta untuk ketemuan, apa ada masalah serius?" Tanya Putra yang belum mengetahui kejadian yang menimpa Sabilla.
"Kau kakaknya tapi tidak mengetahui kejadian yang dialami adikmu. Kakak macam apa?" Nando berkata, mengambil kursi untuk duduk di samping Putra.
"Restoran Tania tidak baik-baik saja, Bayu ngomel karena ada yang memasukkan narkoba entah di makanan atau minuman Sabila." Tampak raut wajah Putra terkejut.
"Sekarang gimana?" Tanyanya pada Nando.
"Semua tim sudah bergerak, menyamar sesuai perintah." Ucap Nando.
Pintu terbuka, Arya datang berjalan sambil makan burger.
"Sorry telat." Ucapnya.
"Barusan ada kasus, tahu gak?" Tanya Nando tiba-tiba, membuat Arya tersedak.
"Kasus apa?" Putra mencoba mengalihkan.
"Kasus wanita hampir bun*h diri* di pesawat." Jawab Nando, melihat gerak-gerik Arya.
Jika penyamaran Arya diketahui banyak orang, siap-siap Arya dilenyapkan.
"Baru selesai kelas terus kesini, belum sempet buka berita." Jawab Arya, sembari menekan tombol membuat semua layar monitor menyala.
"Y'ar!" panggil Nando.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments