Alarm berbunyi nyaring, membangunkan Arya. Dilihat jam sudah pukul 8 pagi, mengusap matanya, merenggangkan tubuhnya. Mengambil ponsel yang ditaruh di atas meja, yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Banyak pesan spam dan panggilan telepon tidak terjawab. Arya menutup lagi ponselnya setelah tahu siapa yang menghubungi.
Arya berencana untuk pulang, sebelum berangkat ke kampus. Setelah kejadian teror bom, Arya belum berjumpa dengan Ayahnya.
Antara males pulang tetapi tugas Clay ada di rumah.
Merasa aneh sebelum meninggalkan tempat, Arya mengecek ruang sebelah. Dibukanya pintu yang berwarna sama dengan dinding, tampak Tania tertidur di sofa ruang kerjanya.
"Heee bangun …." Arya membangunkan Tania, menepuk pelan bahu Tania.
Perlahan tubuh Tania bergerak, begitupun matanya. Refleks "Ngapain kesini?" tanya Tania pada Arya.
"Hilih, kau yang ngapain tidur sini?" Arya kembali bertanya.
Baru menyadari, sudah tidak heran jika Arya yang menginap di markas tetapi tidak dengan Tania "Aku ketiduran, malas banget untuk pulang." Jawab Tania yang kini duduk.
"Sudah jam 8, gak kerja?" Tanya Arya juga mengingatkan.
"Astaga …. Ok thanks Arya." Tania buru-buru mengambil tas dan keluar dari ruangan. Arya geleng-geleng kepala, ikut keluar ruangan dari pintu yang berbeda.
---
"Arika …." Jamie memanggil, beberapa hari tidak melihat keponakan kesayangannya.
"Arika …." Panggilnya lagi.
Jamie menuju kamar Arika yang tampak kosong. Lekas menghubungi via telepon, foto suasana autumn pohon dengan daun-daun warna kuning berserakan dijadikan foto profil aplikasi berkirim pesan oleh Arika. Foto yang diketahui Jamie, foto terakhir Arika dan orang tuanya berlibur.
Berulang kali Jamie menghubungi tidak ada tanda diterima. Jamie segera mengutus bawahannya untuk melacak keberadaan Arika.
Sebelum menekan nomor bawahannya, notifikasi telepon dari Arika berbunyi.
Jamie segera mengangkat panggilan masuk, "Kamu dimana?" Tanya Jamie.
"Arika lagi di rumah teman, Uncle beberapa hari gak pulang, jadi Arika nginep." Jawab Arika berbohong.
"Segera pulang! kita makan bareng." Pintah Jamie.
"Uncle gak ke kantor, Arika telat pulang. Arika baru bangun tidur." Putra keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih basah dan hanya berbalut handuk berwarna navy.
Arika menelan saliva, melihat pahatan tubuh Putra membuat dirinya tidak fokus.
"Uncle, maaf Arika tutup." Arika tidak menunggu jawaban dari Jamie, segera menutup telepon.
"Siapa yang telpon?" Tanya Putra mengeringkan rambutnya.
Arika berusaha untuk mengalihkan pandangan, matanya bermain games yang ada di ponsel sambil menjawab "Uncle."
Seakan tidak tahu, Putra kembali bertanya "Kamu tinggal sama Uncle? Orang tua?"
Arika menghentikan permainannya, "Aku tidak tahu keberadaan mereka, orang tuaku tiba-tiba menghilang." Raut wajah sedih tampak terlihat di pantulan kaca, tubuh Putra membelakangi Arika yang masih rebahan diatas kasur.
Putra menoleh, "Kenapa seperti itu? Apa ada masalah atau pesan terakhir dari mereka?" Tanya Putra menghentikan aktivitasnya, berjalan mendekati Arika.
"Tidak ada, Aku juga bingung harus mencari kemana. Uncle hanya bilang mungkin mereka sibuk." Putra berniat menawarkan diri untuk membantu Arika. Seakan Arika membaca pikiran Putra.
"Bukannya kamu seorang pengacara, dan pasti bisa membantuku untuk mencari Mom and Dad. Please! Sewa siapapun or Detektif Conan sekalipun untuk mencari orang tuaku. Tapi tolong jangan bertemu Uncle untuk membahas ini. Aku tidak ingin merepotkan dia yang sudah banyak kerjaan. Please!" Bagai mendapatkan jackpot, dalam hatinya Putra tersenyum.
Putra menatap wajah Arika, yang masih memohon menunggu jawaban Putra.
"Please, aku akan bayar berapapun!" Arika menggoyang tangan Putra,masih menunggu jawaban.
Putra dengan cepat menci*um bib*r Arika lagi. Refleks, Arika terdiam. "Yes, akan aku lakukan buat kamu." Jawab Putra berlalu meninggalkan Arika yang masih terbengong. Masuk ke ruang ganti baju, untuk persiapan pergi ke kantor.
Arika memegangi bibirnya "Sial …." Umpat Arika.
---
"Maafin ayah tidak percaya sama kamu." Ucap Rio pada Arya anaknya.
Arya mengunyah roti berlapis dengan isian selai markisa.
"Ini buat kamu." Rio memberikan sebuah hadiah yang tidak diminati oleh Arya, miniatur pesawat. Rio berharap sang anak mengikuti jejak dirinya.
"Kapan sih ayah dengar perkataan Arya? Arya gak mau yah." Arya menolak, bukan hanya sekali memberikan hadiah miniatur pesawat terbang dengan berbagai jenis, tetapi berulang kali hingga Ani membeli lemari besar untuk tempat miniatur.
"Biarkan anakmu meraih impiannya sendiri, bisa jadi dia lebih baik dari kamu." Ani mendukung Arya. Ani menyiapkan sarapan ayam goreng dengan sambal tidak lupa lalapan kesukaan Rio.
Rio terdiam, memang bukan perkara mudah menuntut anak untuk menjadi seperti dirinya.
"Ayah sudah cerita tentang kejadian di Hongkong. Cuma bunda bingung, kamu kok bisa tau?" Tanya Ani yang duduk di kursi samping Arya mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Teman Arya kebetulan ada disana, langsung masuk berita ada teror bom." Arya menjelaskan sambil buru-buru tidak ingin mendengar pertanyaan lain.
"Arya berangkat, sudah telat." Arya hanya mencium pipi Ani tanpa bersalaman dengan Rio.
"Dasar, biasanya juga telat." Ucap Ani.
"Aku selalu curiga sama Arya, dia selalu mengetahui berita sebelum berita itu dipublikasikan di media." Tutur Rio,
"Anak kita kan hebat, pintar pasti dia update tentang perkembangan berita." Jawab Ani, mulai mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
Rio tidak ingin meneruskan pembicaraannya, menikmati hidangan sebelum kembali terbang.
---
Tania tidak mampir ke kantor Jamie, ngebut mengejar waktu untuk melakukan pertemuan perihal restoran. Helen sudah menunggu di depan ruang meeting membawa berkas yang sudah disiapkan.
"Oh thanks Helen." Ucap Tania, mengambil berkas yang ada di tangan Helen.
Tania memasuki ruangan, begitupun dengan Helen yang ikut masuk ke ruangan untuk menemani Tania.
Beberapa karyawan baru pilihan Tania turut hadir. Membahas setiap bagian dan memberikan peraturan baru. Tania sengaja mengubah peraturan dan hanya diketahui mereka yang datang untuk meeting, Tania ingin menjebak dengan cara seperti itu.
---
"Tahu kan berapa kali aku telepon dan kirim pesan ke kamu tapi kamu gak ada respon." Celoteh Clay pada Arya yang baru saja tiba. Arya hanya diam sudah lelah menghadapi sikap Clay. Sikap Clay salah satu alasan Arya malas untuk mencari pacar. Banyak yang menyukai dan mengagumi Arya tetapi Arya sangat cuek perihal percintaan. Bagi Arya percintaan, pacaran adalah hal yang lebih rumit ketimbang meretas.
Arya lebih milih disuruh meretas, melakukan pekerjaan serumit apapun itu daripada menghadapi seorang perempuan. Apalagi satu perempuan seperti Clay.
"Ambil sendiri di tas, aku capek. Tolong jangan diganggu!" Pinta Arya.
Clay semakin ceriwis yang membuat Arya emosi, tidak betah berada di kelas.
"Bisa diem gak?" Tanya Arya pada Clay.
"Gak bisa, Semalaman aku gak bisa tidur mikirin tugas." Keluh Clay pada Arya.
Arya semakin emosi, memilih pergi daripada menatap wajah Clay. Entah, jika Clay laki-laki mungkin sudah dih*ntam bertubi-tubi.
"Kebiasaan, gak bisa nenangin yang ada ninggalin." Clay tampak sedih.
"Kalian pacaran?" Tanya Karina teman Clay.
"Siapa yang mau pacaran sama orang tukang ngilang?" Clay ikut emosi, ucapan Clay yang keras masih terdengar oleh Arya yang masih di ambang pintu.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments