12.Love vs Blood

Robert si tukang banyak omong, skill mengemudinya masih sangat jauh dari Raka, Riki dan Ardian. Tubuhnya tergeletak penuh memar dan darah, Ardian menghentikan pukulannya. Jika tidak, dirinya akan melihat mayat temannya atas pukulan tangannya sendiri.

Napas masih berderuh, tidak ada yang takut jika pada akhirnya Robert meninggal di tempat. Tetapi rasa kemanusiaan si Kembar membawa Robert ke rumah sakit.

Ardian menenangkan dirinya sendiri, yang lain hanya mendekati ikut menenangkan.

"Udah tenang!" Seru seorang anggota menepuk bahu Ardian, satu anggota datang membawa kotak P3K.

----

Untuk sementara hanya tiga tempat yang didatangi Tania dan Anjas. Selama perjalanan Tania tidak banyak bicara, dirinya sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa kali Anjas mengajaknya berbicara, Tania hanya menjawab seadanya.

Melihat tingkah Tania yang tidak seperti biasanya, Anjas bertanya "Lagi PMS?"

Tania fokus membaca dengan teliti setiap laporan yang masuk via email. Pura-pura tidak mendengar. 

"Tan, kenapa sih?" Anjas mencolek Tania, Tania melirik "Gak lihat lagi fokus?" Ucap Tania kembali memfokuskan pikirannya untuk membaca setiap laporan yang penuh dengan angka-angka dan laporan yang dipenuhi dengan grafik bagai melihat alat monitor jantung.

"Sejam lagi kita sampai." Anjas mengingatkan.

Tania tidak merespon, Tania fokus pada beberapa hari dan tanggal dimana mengalami kenaikan penjualan yang pesat. Tania segera melihat tanggal dan hari yang terterah pada laporan.

Bukan bersyukur atas meningkatnya penjualan akan tetapi Tania merasakan ada keanehan. Melihat Anjas yang sibuk dengan ponselnya, semakin membuat Tania ingin mencek*k diatas ketinggian. 

---

Sabilla merasa stress tidak bisa menyus*i Sabay setelah Bayu memberitahu kejadian yang menimpa dirinya.

"Aku hanya memesan pasta dan orange juice Bay." Sabilla berulang kali meyakinkan Bayu. Sabilla sangat ingat waktu dirinya lapar dan menunggu cukup lama.

"Aku percaya sama kamu sayang, sudah cukup ya! Ini bukan salah kamu." Kecup Bayu di puncak kepala istrinya.

"Aku benar-benar tidak tau Bay." Sabilla sesenggukan.

"Tenang ya, Aku gak akan tinggal diam. Aku dan tim akan segera mendapatkan buktinya. Tania dan Nando juga sudah bergerak." Ucapan Bayu sedikit menenangkan dirinya.

Karyawan Hotel dan Restoran tidak ada yang tahu jika Bayu dan Sabilla adalah pemilik Hotel. Hanya orang dalam dan mengetahui tentang Bayu, Bayu lakukan demi ketenangan istri dan anaknya. Bayu tidak ingin dampak dari misi mengorbankan istri dan anaknya.

Elang yang belum tahu apa-apa bermain sendirian. Elang memainkan mobil-mobilan,  berbagai macam mobil hot wheels koleksinya kebanyakan kado dari si kembar Raka dan Riki. Sedangkan Sabay tertidur dengan pulas di kasur empuknya.

---

Arika tidak menyangka jika Putra melakukan itu pada dirinya. Arika termenung masih merasakan degupan jantung yang luar biasa masih terasa. Memegangi bibirnya "Ah stupid!" Oloknya pada diri sendiri.

Tubuhnya tergeletak diatas kasur, bayang - bayang tersisa di pikirannya. "Arika please, kamu sudah melakukan kesalahan besar!" Ucapnya lagi sambil mengusap kasar bibirnya.

Arika baru menyadari jika dirinya tidak melihat Jamie. Pintu terkunci tanda Jamie tidak ada di rumah. "Hastt …. Uncle, percuma juga aku liburan kalau ternyata sendiri juga." Arika kini mengubah posisi tidurnya, tengkurap sambil membuka ponsel memeriksa jika ada pesan atau email.

Tidak ada satupun pesan,email maupun telepon masuk. "Kasian amat diri ini." Keluh Arika, mematikan ponsel mulai memejamkan mata.

---

"Kemana saja?" tanya Tania membuka ruang kerjanya. Jamie sudah duduk manis di sofa menunggu Tania.

"Sibuk." Jawab Jamie singkat, memandang Tania terlihat kelelahan.

"Tahu darimana kalau aku mau kesini?" tanya Tania merenggangkan tubuhnya, melepas blazer warna ungu yang sedang dipakainya. Postur tubuh Tania begitu indah dengan crop cami top warna abu yang tertinggal di tubuhnya dengan bawahan celana kain panjang warna senada dengan blazer.

Jamie yang sedang duduk menyilangkan kakinya memperhatikan setiap gerakkan Tania, tidak menjawab pertanyaan Tania sama sekali.

Tania masih sibuk menaruh berkas-berkas yang belum dirinya lihat. Tania tidak peduli dengan kehadiran Jamie, merasakan tubuhnya yang kelelahan.

Tangan Jamie tiba-tiba melingkar di perut Tania, memeluk Tania dari belakang, sontak Tania terkejut.

"Capek banget ya?" Jamie bertanya, menyandarkan kepala di pundak Tania.

"Menurut kamu gimana?" Tania masih sibuk menata berkas.

Dengan cepat Jamie membalikkan tubuh Tania hingga saling menatap.

Tania merasa lelah hanya menatap, tidak punya rasa napsu untuk memulai bercumbu.

"Sudah makan?" Jamie memperhatikan lekat manik mata Tania, tangan kanannya menyelipkan rambut Tania ke belakang telinga.

"Sudah, kamu?" Pertanyaan konyol bagi Tania.

Jamie menggeleng, "Kenapa?" tanya Tania.

"Makan malamku  baru datang, dan terlihat tidak ingin dijadikan santapan." Jawab Jamie, pengertian seperti ini lah yang terkadang membuat Tania merasa diperhatikan.

Tania melingkarkan kedua tangannya pada leher Jamie "Thanks my lovely." K*cup Tania singkat pada bib*r Jamie.

Jamie tersenyum merasa senang, memeluk erat tubuh Tania. Sebagai bentuk terima kasih atas perhatian dan bagian dari drama Tania membalas pelukan erat seorang Jamie yang terlihat sangat merindukan kehadiran Tania.

"Maaf ya, beberapa hari aku sibuk gak sempat kasih kabar." Ucapan Jamie membuat Tania sedikit merinding. Tania hanya mengangguk, merasakan kehangatan di pelukan tubuh kekar seorang Jamie.

---

Setelah mengantarkan Arika, Putra menuju firma hukum tempat dirinya bekerja. Mendapatkan kasus baru yang harus ditangani oleh dirinya.

"Ini berkas dan bukti yang baru saja didapatkan oleh tim penyidik." Salah seorang tim bernama Brian.

Lelaki berkacamata itu menjelaskan pada Putra jika kasus kali yang akan ditangani adalah kasus ditemukan anak kecil meninggal karena overdosis. Putra terkejut ketika melihat foto korban yang ternyata anak kecil dalam foto yang dibawa oleh si kembar, anak kecil yang menjadi juru antar barang haram.

"Orang tuanya bilang, sekali jadi kurir anaknya dapat 100 ribu." Mendengar cerita dari Brian, Putra langsung menoleh. Tidak percaya jika orang tuanya mengetahui tetapi masih membiarkan anaknya.

"Atur jadwal untuk ketemu orang tuanya!" Perintah Putra, yang diindahkan oleh Brian.

"Ini kasus berat, bisa jadi bumerang buat kita," ujar Putra.

"Pikirkan lagi jika kamu ikut atau tidak." Tutur Putra selanjutnya pada Brian.

"Seberat apapun kasusnya, ini tugas kita. Saya siap pak ketua." Brian menjawab dengan tersenyum tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.

Berbeda dengan Putra yang memikirkan timnya, kasus kematian orang tuanya terlintas di pikirannya. Putra tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada timnya. Jadi harus menjadi bumerang, biarkan bumerang itu mengenai dirinya sendiri. Karena Putra sudah mengetahui perjalanan kasus narkotika melawan gembong narkotika kedepannya. Mempertaruhkan nyawa, kesiapan yang sudah dipersiapkan oleh Putra. Resiko untuk misi adalah nyawa. Putra siap jika harus bertaruh dengan nyawa asal tidak menyakiti orang-orang di sekitarnya.

Foto anak kecil mata tertutup, mulut mengeluarkan busah sudah bisa ditebak jika anak kecil ini di bun*h.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!