Jamie sibuk membereskan ulah Mario. Mencari tahu setiap inci yang harus dimusnahkan. Turun tangan hal yang harus dirinya lakukan. Semalaman Jamie juga tidak pulang, tinggal dengan sang keponakan membuat dirinya harus belajar beradaptasi lagi.
Terlebih semenjak Arika ke luar negeri kehidupan Jamie semakin liar dan berantakan.
Bertopeng untuk menjadi uncle yang menyenangkan dan memanjakan Arika berusaha lagi untuk dilakukan. Bagaimanapun Arika kesayangannya.
"Arika …." Panggilnya, tidak terdengar kebisingan di dalam kamar Arika. Jamie mencoba membuka pintu yang tidak terkunci. Kamar gelap kosong bagai tak berpenghuni. Jamie tidak melihat Arika di kamarnya. Jamie tidak sekhawatir dulu ketika Arika masih sekolah. Tidak mencoba menghubungi, dirasa Arika juga butuh keluar untuk adaptasi lagi.
Jamie meninggalkan kamar Arika, menutup kembali pintunya. Menuruni anak tangga dengan railing tangga minimalis terbuat dari kayu tampak klasik.
Suasana sepi, sunyi dan hening adalah kesukaan Jamie. Menanggalkan bajunya di sofa tengah, memperlihatkan tubuhnya yang kekar, wajahnya masih sama terlihat menawan bak pangeran. Langkah kakinya yang gagah melangkah menuju mini bar membuka lemari pendingin mengambil satu kaleng minuman soda, tetesan air soda mengalir dari celah bibirnya yang menggoda.
---
Bayu memerintah bawahannya untuk bertindak cepat. Bukan penggerebekan yang dilakukan melainkan Bayu dengan tim khusus yang sudah dibentuk oleh Nando menyusun rencana tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali Tania.
Sikap arogan Tania muncul dengan mengadakan sidak dadakan untuk melihat kinerja karyawan. Hal ini tentu diketahui Anjas, karena demi kenyamanan pelanggan dan nama baik restoran. Mereka berdua juga sering melakukan sidak dadakan. Akan tetapi Anjas tidak tahu jika Tania sudah mempersiapkan orang yang nantinya akan dipekerjakan di beberapa bagian.
Tania dan Anjas turun langsung ke dapur dan bagian lain. Melihat kinerja yang tidak ada kemajuan, tanpa pikir panjang Tania memecat dengan tidak hormat.
"Anda …." Tunjuk Tania pada seorang koki.
"Iya." Bapak tua berjalan mendekat menundukkan kepala.
"Anda, saya pecat." Ucap Tania tidak ada rasa kasihan.
"Kamu …." Tunjuk Tania lagi pada seorang pelayan wanita yang sedang membawa gelas.
"Kamu saya pecat." Anjas yang berdiri di samping Tania hanya diam sebelum akhirnya.
"Kamu …." Tania kembali menunjuk seorang laki-laki, postur tubuhnya kurus tinggi.
"Kamu juga saya pecat." Ucap Tania yang langsung dapat penolakan dari Anjas,
"Tan, dia salah satu koki yang masakannya selalu dipuji tamu, apa kamu gak nyesel pecat dia?"
Tania melirik Anjas, berpikir sejenak kemudian berbicara lagi "Kamu tetap di sini!"
Apa yang Anjas tolak, menjadi kunci jawaban bagi Tania.
"Anjas, Tolong persiapkan jadwal untuk mendatangi restoran lain, waktunya kita turun lapangan." Ucap Tania pada Anjas.
Tania yang juga menyimpan data semua karyawan yang bekerja dengan dirinya, tidak akan kesulitan untuk mendapatkan identitas mereka.
"Oke, Tan." Hanya itu jawaban Anjas, Anjas lebih menyukai bekerja di kantor cabang daripada kantor utama.
Beberapa orang dari tim khusus sudah siap untuk menggantikan mereka yang dipecat oleh Tania. Atas perintah dari Tania, Hellen menyeleksi para calon karyawan sebelum bertemu dengan Tania.
Hellen juga tidak punya rasa curiga, karena setiap hari perusahaan menerima cv via email, tinggal lihat data, seleksi dan lanjutkan atau gagal. Memberikan kesempatan atau mereka datang dipatahkan secara tiba-tiba. Bekerja di restoran ternama dan berkelas menjadi impian banyak orang.
---
Arya menemukan beberapa bukti video cctv yang tertinggal lupa untuk dihapus. Kecerobohan anggota Jamie yang sangat fatal. Terlihat dalam video Mario memasuki mobil sedan warna hitam, mobil itu berlalu lalang di jalanan sebelum pada akhirnya menghilang. Karena semua cctv jalanan menuju ke arah Jamie sudah diretas dan dihapus. Akan tetapi cctv Arya masih memantau dengan gagahnya menancap di atas pohon. Mobil sedan berwarna hitam dengan plat nomor yang sama memasuki halaman rumah Jamie. Sayangnya, pagar rumah Jamie yang tinggi menutupi, membuat Arya tidak dapat melihat bagaimana kejadian selanjutnya.
"Tania harus bisa masuk!" Arya berucap seorang diri. Karena di dalam rumah itu semua jawaban akan terpecahkan.
Notifikasi ponsel Arya menyalah, panggilan dari Putra segera diangkat.
"Bukannya semalem mau kesini?" tanya Arya.
"Sorry, emergency." Jawab Putra.
"Apa yang lebih darurat dari kasus ini?" Arya tidak segan bertanya terang-terangan.
Seperti mengetahui sesuatu Putra menjawab "Arika sendirian di mobil."
"Lalu, kamu nemenin?" tanya Arya,
"Jangan bilang Kamu jatuh cinta sama musuhmu sendiri?" Arya bertanya lagi.
"Sialan, Hanya membantu tidak lebih dari itu." Jawab Putra emosi.
"Gak ada brother, seorang lawan menyelamatkan musuh." Tutur Arya.
"Hanya membantu tidak lebih dari itu." Penuturan Putra membuat Arya merasakan gelagat Putra aneh.
"Nikmati Brother, ingat tujuan kita balas dendam bukan bercinta. Bukannya Bagas dan Kinara jauh lebih penting?" Ujar Arya.
Perkataan Arya membuat Putra naik pitam "Dasar bocah sialan." Umpat Putra kemudian menutup sambungan telepon. Niat ingin menyampaikan pesan untuk melakukan pertemuan dibuat emosi dengan mulut bocah ingusan.
Putra seketika ingin sekali membanting ponselnya. Melihat Arika yang sudah menunggu di mobil membuat Putra mengurungkan niatnya. Menahan emosinya, Arika melihat gelagat Putra yang masih berdiri di depan mobil yang masih terparkir.
Putra ingin sekali memukul sesuatu nyatanya sulit dilakukan. Menahan amarah, hanya itu yang bisa dilakukan. Berjalan dengan tatapan marah penuh emosi. Pikirannya dipenuhi kenangan bersama Bagas dan Kinara, sahabat juga cinta pertamanya korban Jamie. Arika lah yang membuat mereka menjadi korban.
Putra membuka dan menutup pintu mobil dengan keras.
"Apa yang terjadi?" Tanya Arika melihat raut wajah Arika yang tidak baik-baik saja.
Putra menatap tajam Arika, tangannya mengepal. Arika merasakan ketakutan melihat tatapan mata Putra yang penuh amarah.
Dengan kasar ditariknya tengkuk leher Arika, diciumnya bib*r ranum itu dengan liar. Tubuh Arika lemas, pasrah antara takut dan menikmati degupan jantung yang tidak biasa berdegup begitu kencang.
---
"Besok malam ada yang ngajak taruhan." Robert salah satu anggota inti menyampaikan informasi sembari menghisap rokok elektrik beraroma vanila.
"Kenapa masih mikirin taruhan sedangkan Mario belum ditemukan?" tanya Riki dengan nada membentak.
"Kalau kita gak turun jalan, komunitas kita dianggap pengecut!" bentak Robert.
"Mario hilang, ketua komunitas hilang, dan kamu mikirin gengsi?" Ardian menimpali.
"Kita gak peduli dianggap pecundang sekalipun, yang penting kita bisa menemukan Mario." Salah satu anggota lain ikut menimpali.
Robert geram, menendang frustasi "Dia berani kasih lebih tinggi kalau kita menang dan kalian pecundang?"
"Anj*nk …. Kalau mau turun jalan silakan! Ambil tuh hadiah, nikmati sendiri kalau menang." Riki kembali membentak.
"Emang kamu tahu apa tentang mobil? Lagaknya kayak bisa menangin." Ardian meremehkan Robert.
"Brengsek …." Robert tidak terima, tinjuan mendarat tepat di pipi kanan Ardian.
"Sialan!" Ardian meringis meludah sedikit darah keluar dari mulutnya.
Robert dan Ardian berkelahi di hadapan Raka, Riki dan anggota lain yang ada di markas. Tidak ada yang memisahkan, mereka hanya menonton hingga akhirnya siapa yang tumbang.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments