13. Love vs Blood

"Aryaaa …." Suara Ani sang Ibunda membangunkan tidur lelap, nyenyak dan enaknya.

"Hasstt …. Bentar lagi!" Gerutunya dengan mata masih merem.

'Udah siang bangun …." Teriak Ani,

Kreek ….

Membuka gorden jendela lebar-lebar, sinar matahari menyilaukan mata.

"Bun …. Hiissttt …." Arya ingin marah, cairan yang sebentar lagi akan keluar di mimpinya terhentikan oleh suara menggelegar sang bunda.

"Bangun! Katanya ada kelas pagi." Suara bising itu membuat Arya ingin sekali mengusir tetapi takut jadi batu.

"Hmmm …." Sautan suara Arya di balik selimut.

"Tidur mulu kerjanya, gimana mau kejar cita-cita? Ayah kamu sudah di Hongkong, kamu masih aja di kasur." Ani tak kunjung keluar dari kamar Arya, menggerutu sambil membereskan barang-barang yang berantakan.

"Bunda berisik ah …." Batin Arya menarik bantal menutupi telinganya.

"Cepat bangun! Sudah jam berapa ini." Ani merasa geram melihat tingkah anak semata wayangnya. Ani lekas menarik bantal yang menutupi muka Arya.

"Bangun Aryaaa ….!"

"Lihat itu sudah jam berapa?" teriak Ani.

Kebisingan suara dari mulut ibunda membuat Arya semakin menutup telinga.

"Gimana mau kejar cita-cita kerjaan kamu tidur mulu - tidur mulu."

"Gak tau aja anaknya agen BIN." Batin Arya lagi.

Ani menarik selimut Arya dan bantal Arya, Arya hanya memicingkan mata melirik jam weker diatas nakas.

"Astaga punya anak satu gini amat." Ani tak henti mengeluh.

"Apa sih bun? Tiap pagi berisik amat." Keluh Arya pada sang bunda.

"Kalau gak berisik, kamu gak bakalan bangun." Teriak Ani menggelegar

Bunyi ponsel Arya berdering sangat nyaring. Sengaja tidak digetarkan saja ketika dirinya berada di rumah karena jika ada panggilan penting masuk dirinya segera terbangun.

Malas-malas tangan Arya meraba mencari keberadaan hpnya, dengan sigap Ani menemukan dan mengangkat panggilan video call dari ponsel anaknya. Tidak melihat siapa yang menghubungi, lekas mengangkat dengan tujuan supaya Arya bangun.

"Pagi budak, cepat berangkat bawa tugasku!' Cerocos seorang gadis merapikan poninya tanpa menatap layar ponsel.

"Budakmu masih tidur, cepat kesini suruh dia bangun." Jawab Ani

Mendengar suara perempuan yang menjawab membuat Clan gelagapan berucap "Ma ….Maaf tan."

"Bukannya bosnya Arya? Sini bangunin dia, aku sudah tidak tahan membangunkan anak buahmu." Ujar Ani pada Clay.

"Bun, Stop!" Arya mencoba merampas ponsel dari tangan bundanya.

Ani menghindar dengan gesit.

"Cewek cantik gini punya budak kayak kamu,kalau bunda ya sudah dipecat." Ani berucap pada Arya tentu didengar dan dilihat oleh Clay.

Arya merampas ponsel dari tangan bundanya, segera mematikan panggilan video call dan mendorong Ani keluar dari kamarnya 

Bukan bangun segera mandi, lantas Arya mengunci pintu kamar, kembali merebahkan tubuhnya memeluk guling dan sebelum menutup mata menyempatkan diri mengirim pesan 'Tolong absenin! Aku telat.'

---

"Kasus baru belum terpecahkan, datang kasus lagi. Aku yakin ini bagian dari ulah Jamie. Anak kecil itu mengetahui semuanya, hingga di bun"h olehnya." Tutur Putra pada seseorang di telepon.

"Akan ku bantu menyelidiki dalang di balik semuanya," jawab seseorang di balik telpon yang masih tersambung.

"Tentu, kabari jika menemukan kejanggalan." Pesannya pada Putra.

"Siap." Putra menutup sambungan telepon, menerima banyak pesan dari Bayu tentang kasus restoran. Putra lupa jika Tania menyuruhnya untuk mengumpulkan semua tim untuk membahas kasus ini.

"Sial*n …." Umpatnya.

---

"Ini tugas kamu." Arya melemparkan buku di atas meja Clan, Clay sibuk melihat nail art yang baru dipasang.

Clay berbalik badan, menatap Arya yang duduk di belakangnya.

"Sorry, gak tau kalau yang angkat bunda kamu." Ucap Clay memelas.

Arya tidak peduli, dirinya masih merasakan ngantuk karena semalam begadang mencari bukti-bukti. Arya menyandarkan kepalanya di atas meja.

"Arya, aku beneran minta maaf."

"Udah Clay, jangan ganggu aku sebentar saja." Mohon Arya pada Clay.

"Tapi janji gak marah kan?" Clay memastikan, takut jika kehilangan Arya. Bagaimana nantinya jika tidak ada yang membantu mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.

Clay mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Arya, Arya tidak merespon bagai tidak ada tenaga untuk menghadapi gadis di depannya.

"Bukannya tadi chat absen telat?" tanya Zian yang baru datang.

"Gimana bisa telat di spam mulu sama dia, tugasnya dikumpulkan di jam pertama" Tunjuk Arya pada Clay.

"Bukannya udah dikasih tau, jam pertama kosong. Tugas dikumpulkan ke dosen langsung untuk pertemuan selanjutnya." Tutur Zian, Arya menatap Clay emosi.

"Clay ikut aku yuk?" Ajak Arya.

"Kemana?" Tanya Clay balik.

"Ngelemparin kau ke kolam." Jawab Arya emosi. Tentu Clay lebih tahu tentang jam kosong daripada Arya.

Arya berdiri mengambil kasar tas ranselnya.

"Mau kemana?" Tanya Clay.

Yang tidak dijawab oleh Arya, Menggerutu "Dasar betina."

Arya berjalan hendak menuju kantin fakultas, bunyi notifikasi masuk. Segera memasang earphone.

"Ya, Mr!"

"Segera tuntaskan kode 9494, 5 menit dari sekarang!" Perintah dari panggilan.

"Siap!" Panggilan terputus.

Arya mencari tempat tenang dan nyaman, segera membuka laptop mengerjakan perintah dari atasan. Dengan cekatan jari jarinya menekan tombol keyboard membuka kode 9494.

"Hongkong?" Kode 9494 terdeteksi di bandara Hongkong.

Teringat ucapan sang Bunda jika Ayahnya sedang terbang ke Hongkong.

"Apa orang ini mencoba membajak pesawat yang menuju Hongkong? Tapi kenapa tidak dibajak, bahkan sudah mendarat." Batin Arya.

Arya terus bekerja, meretas semua cctv yang ada di Hongkong dan meretas semua data penumpang, tentunya dengan cara mulus tanpa harus diketahui jika komputer sedang diretas.

Mata Arya menelisik, memantau apa yang sedang terjadi disana.

Beberapa orang misterius yang dicurigai oleh Arya. Terpantau seorang misterius bukan berpakaian hitam-hitam layaknya penjahat. Seorang lelaki mengenakan celana pendek dengan atasan kaos, sedangkan suhu di Hongkong lagi dingin-dinginnya. Lelaki dalam pantauan Arya sedang duduk seperti menunggu sesuatu, memainkan ponsel melihat ke kanan dan kiri.

Mata Arya tidak hanya berpusat pada satu orang saja, kini nampak orang lain berdiri di sisi paling kiri seakan menunggu komando.

Arya segera menghubungi "2 orang terpantau, kode 9191." Ucap Arya pada rekannya untuk melanjutkan perintah.

"Jangan kira mudah membodohi aku!" Ucap dengan sombongnya.

"Done." Arya selesai menyampaikan tugas pada atasannya. Tidak ada 5 menit Arya mengantongi identitas seseorang yang dicurigai dan pikirannya tidak henti memikirkan Rio, sang Ayah yang sedang bekerja di sana.

Arya menekan nomor tersambung memanggil nomor telepon sang Ayah. Tak butuh lama Rio mengangkat panggilan dari anaknya.

"Ada apa nak?"

Tanpa basa-basi, Arya berkata "Ayah percaya sama Arya gak?"

Tentu membuat Rio berpikir "Iya, ada apa?" Tanya Rio pada sang anak.

"Tolong lakukan pengecekan ulang sebelum lepas landas!"

"Ngaco kamu, itu bukan tugas Ayah." Rio menolak.

"Ayah, Tolong percaya sama Arya. Demi keselamatan Ayah dan penumpang lain." Arya menegaskan 

Rio nampak berpikir, "Oke,Ayah hubungi mereka."

"Terima kasih Ayah, hati-hati." Arya menutup telepon, melanjutkan tugasnya hingga tuntas sampai mendapatkan kabar baik.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!