20.Love vs Blood

Arika merasakan lapar, tidak cukup baginya hanya memakan buah dan makanan ringan. Bukan waktunya untuk diet, liburan tetap harus liburan. Tidak menghitung kalori yang penting dirinya senang dan kenyang.

"Huft …. Aku harus memasak jika tidak aku akan kelaparan." Arika mulai mengobrak-abrik dapur, mengambil bahan yang bisa dimasak. Terlihat ada udang mentah, otaknya langsung muncul ide untuk memasak udang asam manis.

"Daripada hanya digoreng, kamu juga harus memiliki rasa." Arika mulai memakai sarung tangan yang terbuat dari karet, membersihkan udang dengan bersih.

Layaknya chef, Arika meracik bumbu untuk dihaluskan. Tidak kesulitan menemukan bahan-bahan dan bumbu di dapur Putra. Putra seorang perfeksionis ternilai dari caranya menata barang begitu rapi.

"Ok, siap Arika, kamu pasti bisa!" Arika menyemangati dirinya sendiri. Mulai menumis bumbu yang sudah dihaluskan. Aroma semerbak tercium dalam satu ruangan.

Klik ….

Bunyi pintu terbuka yang tidak terdengar oleh Arika.

"Apa yang kamu lakukan?" Putra datang membawa beberapa paper bag berisi kebutuhan Arika.

Arika terkejut dengan suara Putra.

"Astaga, harusnya kamu bisa mengetuk pintu atau membunyikan bell. Kamu membuat aku terkejut." Omel Arika,

"Ini rumahku, kenapa harus menekan bell?" Putra menaruh beberapa paper bag di atas meja makan.

"Oke." Arika cuek dan kembali fokus dengan masakannya.

"Kau bisa masak?" Tanya Putra mendekati, mengintip masakan di dalam penggorengan.

"Tidak usah meremehkan." Arika menutupi dengan tubuhnya, tidak ingin masakannya dilihat oleh Putra. Tubuh Arika yang ramping sangat kalah dengan postur tubuh Putra yang kekar. Sesaat Arika menaruh spatula menunggu air dalam masakannya surut, dengan sigap Putra membalikkan tubuh Arika.

"Aaaahh …."  Teriak Arika,

Putra melihat dan memegang spatula, mencicipi masakan Arika. Arika memukuli punggung Putra.

"Berhenti …. Jangan cicipi!" Arika masih belum percaya dengan rasa masakannya, takut semakin diremehkan.

"Hmmm …." Merasa enak setelah mencicipi sedikit, Putra berlalu.

"Si*lan." Umpat Arika.

"Di atas meja punya kamu, buka kalau tidak sesuai bilang biar aku kembalikan." Putra berbicara sambil berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian.

"What?" Arika mempertanyakan, hanya menoleh melihat beberapa paper bag berada di atas meja.

Memastikan masakannya matang, Arika segera mematikan kompor kemudian mengecek yang ada di dalam tas.

"Kamu serius? Kamu menculik aku atau bagaimana?" Baju, sepatu, alat make up bahkan br* dan cel*na d*lam beberapa macam merek ada di dalam paper bag.

"Gak salah kan ukurannya?" Tanya Putra tiba-tiba datang keluar dari kamar, menggunakan celana pendek dan kaos.

Arika memegang benda berwarna pink, hitam, dan masih ada lainnya.

"Aku melihatmu mandi, kamu lupa mengubah kaca, kamu membiarkan terpampang. Jika bukan aku yang melihat entah kau akan jadi apa?" Dengan enteng Putra berbicara, membawa gelas untuk mengambil air putih.

Refleks Arika menutupi tubuhnya. Lupa jika kamar mandi Putra bukan memakai batasan dinding melainkan kaca yang bisa diubah menjadi buram supaya tidak terlihat orang. Dan Arika lupa jika dirinya berada di rumah orang lain.

"Dasar mes*m. Harusnya kamu tidak melihat." Arika berteriak, sangat kaget karena Putra adalah lelaki pertama yang melihat dirinya tel*nj*ng.

Sebebas apapun di luar negeri, Arika tidak pernah menjalin kasih. Agency-nya memiliki aturan yang begitu ketat, atas pilihan Jamie supaya Arika tidak mudah lepas untuk berkeliaran.

"Ambil piring, aku lapar." Tidak punya rasa bersalah, Putra memerintah Arika.

"Apa kamu tidak bisa mengambil sendiri?" Arika emosi.

"Setidaknya untuk rasa terima kasih sudah ku belikan barang kebutuhan mu." Jawab Putra,

"Aku tidak meminta untuk dibelikan." Arika menolak, mengambil piring, nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.

Arika makan lahap, membiarkan Putra menatapnya. Menahan Arika salah satu cara untuk mengenal dan mengetahui sikap Arika sebenarnya. Karena bagi Putra, tidak dapat menilai seseorang dari cover apalagi omongan orang.

---

Kebodohan yang terjadi di ruang kerja Jamie. Tania menumpahkan segalanya. Begitu liar, mereka saling beradu. Ruangan bising penuh erang*n dan des*han. Di atas sofa Tania dan Jamie tanpa sehelai benang. Bak singa saling menyerang. Sayang, cctv Arya hanya merekam pakaian-pakaian berserakan.

"Anj*nk Tania, Si*lan. Bagaimana jika Putra mengetahui adiknya begitu bin*l?" Arya hanya menyaksikan rekaman Tania dan Jamie saling bertaut sebelum menghilang dari kamera pantauan dan kembali merekam pakaian-pakaian terlempar.

Si pengganggu datang, Arya secepatnya mematikan laptop. Duduk di taman sendirian hal yang sangat menjadi kesukaan Arya, sebelum akhirnya tertidur diiringi sepoi angin memberikan ketenangan.

"Arya, sorry." Ucap Clay yang langsung duduk di samping Arya.

"Buat apa?" Arya jutek.

"Tadi di kelas." Jawab Clay lirih.

"Sudah sana pergi! kamu cuma takut aku gak akan lagi ngerjain tugas mu bukan?" Arya sama sekali tidak menatap, mulai membuka aplikasi permainan dan fokus memainkan.

"Aku beneran minta maaf." Clay berucap lirih.

"Yaudah sana, sekali aja gak ganggu bisa kan?" Tanya Arya.

"Enggak." Jawaban Clay membuat Arya menoleh.

"Terus mau kamu apa?" Tanya Arya.

"Arya, Tolong bantu milih dress mana yang cocok sama aku." Clay menyodorkan ponselnya, men-scroll memperlihatkan beberapa dress dengan model dan warna berbeda.

Arya semakin tidak paham dengan sikap Clay. Dengan ngasal dan gak ingin menjadi panjang, Arya asal pilih dengan menunjuk dress berwarna hitam, lengan sabrina, berpayet dengan potongan selutut.

"Serius pilih yang itu, bukannya warna nude ini lebih lucu." Arya menghela napas, tangannya gatal ingin sekali menjitak kepala Clay.

"Yaudah terserah mau pilih yang mana." Jawab Arya emosi.

"Arya, please jangan emosi. Dinda menyuruh aku pake yang warna ungu tapi kamu pilih hitam, aku bingung." Berulang kali Arya menghela napas, gemas melihat sikap Clay.

"Arya …." Panggil Clay,

"Hmmm …."

"Temenin aku ya, please!" Mohon Clay.

"Apalagi Clay? Apalagi?" Arya begitu geram dibuatnya.

"Yang ngadain pesta anak anggota mobil, aku gak ada teman buat datang." Ujar Clay.

"Gak usah datang!" Jawab Arya langsung.

"Tapi …." Belum selesai perkataan Clay terpotong.

"Tidak ada kata tapi." Arya beranjak, seperti sebelum-sebelumnya, Arya lebih baik pergi meninggalkan Clay daripada panjang urusannya.

"DASAR PENGECUT!" Teriak Clay dari kejauhan.

Arya menoleh tanpa membalas. Mengenal langsung dengan komunitas mobil sama saja dengan masuk ke kandang buaya. Entah selamat atau menjadi may*t.

---

Ruangan gelap gulita tak terlihat secercah cahaya. Matanya masih tertutup dan mulut masih terbungkam, tangannya yang perih merasakan kesakitan karena tembakkan ditahan olehnya.

Guyuran air dingin membasahi tubuhnya, membuat dirinya gelagapan. Kedinginan, haus dan kelaparan. Hanya bau anyir yang tercium, berusaha meronta. Mario masih bernyawa, di ruang gelap gulita tempat dirinya disekap.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!