4.Love vs Blood

"Lovebird …. Lovebird …." Teriakan Bayu dari pelataran samping rumah, menjemur si bayi mungil dibawah terik matahari yang masih berusia beberapa hari.

Sabilla yang lagi riweuh mengurus Elang, anak sulungnya yang berusia 4 tahun baru selesai mandi. Dibuat pening dengan teriakan Bayu tanpa henti.

"Masih pagi teriak-teriak, kebiasaan!" Gumam Sabilla geram.

"Ada apa Bay?" Teriak Sabilla, yang tentunya tidak didengar oleh Bayu. Karena berada di dalam kamar Elang di lantai 2.

Suara Bayu terus menggema. Sabilla dibuat semakin geram. Untung saja pelataran rumah begitu sangat luas dan cukup jauh dari rumah tetangga, jika berdekatan mungkin setiap hari sudah dapat semprotan atau omelan dari para tetangga.

"Sayang, pake baju sendiri ya? mama ke Papa dulu." Perintahnya pada sang buah hati.

"Iya mama." Jawab Elang dengan suara khas anak kecil. Wajahnya begitu manis, paras Sabilla menurun ke anak sulungnya.

Dengan langkah cepat, Sabilla menuruni anak tangga berjalan menuju keberadaan Bayu.

"Ada apa sih teriak - teriak?" Tanya Sabilla berjalan menghampiri, memastikan bayinya ketimbang Bayu suaminya.

"Lihat!" Ucap Bayu pemandangannya mengarah ke kandang burung sambil menunjuk.

"Bay, Shabay masih bayi. Jangan didekatkan sama mereka. Ingat virus, banyak penyakit." Sabilla mendorong bayi mungilnya yang tertidur di stroller, matanya tertutup dengan penutup mata berwarna putih berbentuk awan dengan bordiran hitam, menggambarkan mata yang tertidur.

Bayu tak mempedulikan omongan Sabilla. Masih kekeh dengan perkataannya.

"Lihat, lovebird kita bertelur!" Raut wajah Bayu terlihat senang.

Sabilla masa bodo, dikira ada kejadian yang lebih membuatnya khawatir. Ternyata, ah sudahlah .... Dasar Bayu yang sudah mengilai burung. Berjalan dari lantai 2 ke halaman bukan hal cepat, sangat geram dirasakan oleh Sabilla.

Sabilla pergi mendorong stroller anaknya. Percuma, Bayu lebih bahagia dengan telur-telur itu ketimbang melihat anaknya yang mulai memerah kepanasan.

---

Tania mondar-mandir di ruang kerjanya. Kedua tangannya terlipat di dada, sesekali menggigit jari telunjuk tangan kanannya.

"Apa yang harus aku lakukan lagi?" Batinnya.

Perasaan Tania tidak karuan, memikirkan rencana selanjutnya. Sebelum mendapatkan informasi terbaru dari Arya. Tania hanya bisa menunggu dan berpikir. Tania bukan tipe penyabar, dia grusa-grusu ingin secepatnya selesai. Putra selalu mengingatkan untuk tidak gegabah dalam bertindak dan mengambil keputusan. Tunggu komando dari dirinya dan Arya sebagai team pemantau di belakang layar. Tania mencoba bersabar, teringat kesakitan yang pernah diterimanya, membuat dirinya jadi berantakan. Dendam yang terpendam harus segera dituntaskan.

Telepon kembali berdering, segera dirinya angkat untuk mengetahui siapa yang menghubungi.

"Kamu perlu merencanakan pertemuan selanjutnya dengan Mr. Angkasa untuk membicarakan kerjasama!" Perintah orang dibalik telepon.

"Apa yang perlu dibicarakan? Bukannya setelah pertemuan kemarin semuanya berjalan lancar?" Tanya Tania penasaran.

"Kamu perlu menemui Mr. Angkasa di ruangan kerjanya. Jika perlu kamu ajak untuk berkeliling gedung. Tancapkan semua jarum di penjuru ruangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disana." Jarum yang dimaksud adalah jarum cctv buatan Arya.

"Ada apa sebenarnya?"

"Cukup itu yang kamu lakukan. Karena seperti dugaan ku, Jamie lebih sering mengunjungi tempat itu."

"Oke, segera aku atur jadwal secepatnya." Tania segera menutup panggilan telepon dari Kakak yang tidak lain adalah Putra.

---

'Info terkini belum ditemukan identitas korban.' Sebuah email masuk.

Putra membalas secepatnya

'Tetap cari tahu keberadaan mereka. Bukan hanya di satu negara jika bisa di penjuru dunia.'

'Siap laksanakan!' Tidak butuh waktu lama Putra mendapatkan balasan email-nya. 

"Ada yang tidak beres." Gumam Putra, mencari seseorang hilang tidak pernah serumit ini.

---

"Uncle …." Teriak Arika berjalan menuju kamar Jamie yang berada di belakang, ruangan yang terpisahkan dari rumah. Kolam renang dan jembatan kecil menjadi penghubung untuk ke kamar tidur Jamie.

"Tok …. Tok …. Tok …." Arika mengetuk pintu kamar Jamie tak sabaran.

"Apakah uncle didalam?"

Tak ada bunyi bahkan balasan selain suara ketukan pintu dan suara Arika.

Ruangan itu terlihat sunyi, sepi dan mencekam padahal tanaman yang mengitari kolam terlihat asri dan sejuk. Tubuh Arika merespon ngeri.

"Uncle …." Teriaknya lagi sembari menoleh kesana kemari.

Masih tidak ada Jawaban.

Beberapa menit berlalu. Arika memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar tidur Jamie. Mulai membelokan badan. Langkah kakinya berjalan selangkah.

Krek ….

"Ada apa?" Jamie keluar dari balik pintu.

"Huft …." Arika merasa lega.

"Di dalam kamar mandi." Jawab Jamie sebelum Arika mengeluarkan pertanyaan.

"Aku izin keluar." Kata Arika selanjutnya.

"Hati hati, jangan ngebut!" Jawaban dan perlakuan Jamie tidak seperti biasanya. Tanpa banyak kata Arika mengangguk segera meninggalkan tempat yang membuatnya bergidik.

---

Selamat pagi menjelang siang buat para pendengar. Terpantau cuaca hari ini sangat cerah ceria seperti wajah para pendengar. Lagu pertama dari band legend vocalis seorang lelaki sejati yang tak pernah terlihat tua, humble dan …. 

Suara penyiar radio yang diputar oleh Arika, mengingat nostalgia masa muda. Menelepon dan request lagu untuk para crush-nya menjadi kejahilannya kala itu. Dirinya begitu ingat betapa toxic-nya waktu remaja.

BRAAAAAKKKK

Suara tabrakan menghentikan lamunan Arika. Dilihatnya seorang lelaki sudah berdiri di samping mobil mengetuk kaca mobilnya.

Arika shock, mendadak sesak napas. Pintu kaca mobil terus diketuk tanpa henti. Dengan gemetaran Arika memberanikan diri membuka sedikit kaca pintu mobil.

“KALAU GAK BISA NYETIR GAK USAH BAWA MOBIL!” Bentak seorang laki-laki setengah baya, berkumis tebal sangat garang.

“Sorry, sorry ….” Hanya itu kata yang mampu Arika ucap mengangkat kedua tangannya tanpa berani keluar mobil. Arika masih memikirkan dirinya, jika dirinya keluar ditakutkan mendapatkan serangan dari orang yang menjadi korban kelalaiannya.

Lamunan Arika membuat dirinya tidak menyadari jika lampu lalu lintas sudah berganti warna merah, hingga mengakibatkan dirinya menabrak mobil didepannya.

“KELUAR!” Bentak lelaki itu, membuat pengendara lain mengalihkan atensinya. Jalanan menjadi macet, beberapa orang turut menghampiri ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Arika masih tidak berkutik. Melarikan diri tidak bisa dirinya lakukan, keluar dari mobil menjadi ketakutan. Arika menunduk, mencoba mengambil hp mencari nomor Jamie untuk meminta pertolongan. Sayangnya Jamie tidak juga segera mengangkat panggilan darinya.

Ingin rasanya Arika menangis dan berteriak.

“Ada apa?” Terdengar suara lelaki bertanya kepada orang yang menjadi korban. Lelaki itu menjelaskan duduk perkaranya.

“Saya pengacaranya, hubungi nomor saya untuk ganti rugi.” Putra datang tepat waktu, memberikan kartu namanya ke si korban.

Tanpa basa-basi si korban mengambil kartu nama di tangan Putra dengan kasar dan segera meninggalkan tempat kejadian. Beberapa orang yang melihat juga ikut serta meninggalkan tempat.

“Are you okay?” Tanya Putra.

Arika menggelengkan kepala.

“Tolong buka pintunya!” pinta Putra

Arika menuruti, membuka pintu mobil ,keluar berdiri langsung memeluk tubuh Putra seperti mendapatkan perlindungan.

Tubuh Arika lemas gemetaran. Putra seakan Dejavu. Tangannya sontak melepaskan pelukan Arika.

“Ayo menepi!” Ajaknya.

"Mereka sudah pergi, lain kali bawa supir." Tutur Putra, Arika mengangguk.

Putra mengajaknya masuk ke dalam mobil. Putra beralih duduk di kursi pengemudi mobil Arika. Meninggalkan mobilnya sendiri ditepi jalan. Mengajak Arika ke minimarket yang berada tak jauh dari sana.

Arika masih terdiam, tidak tahu bagaimana jika tidak ada Putra.

“Minum apa?” Tanya Putra

“Water.” Jawab Arika lirih.

Putra pun pergi untuk membeli air mineral dan segera kembali. Membukakan tutup botol, menyerahkan ke Arika, yang segera diminum.

Terdengar helaan napas lega.

“Thanks, aku gak tau apa jadinya kalau gak ada kamu.” Arika masih gemetaran.

“Lain kali hati-hati, pake supir. Bahaya jika kamu sendiri.” Tutur Putra

“Please, don't judge me!”

“Tidak, itu saran.” Putra menatap gadis yang duduk di sampingnya.

Arika menunduk.

Inikah Arika? Arika yang lugu, polos, penakut. Di depannya bukan Arika yang arogan, pecicilan, manja dan semaunya sendiri seperti cerita mereka.

Putra memperhatikan lekat matanya yang sendu masih ketakutan.

“Udah gak paps, orangnya juga udah pergi. Biar nanti aku yang urus.” Tutur Putra kembali.

“Thanks, kirim nomer rekening kamu.” Arika ingin mengganti pertolongan Putra.

“Tidak semuanya tentang uang gilr.” 

“Tapi ini butuh uang buat ganti rugi.”

“Aku Cuma butuh dekat dengan kamu buat gantinya.” Jawaban Putra, membuat Arika terkejut. Tubuh Arika makin melemah, ditatapnya mata Putra yang tajam. Semakin takut dan gemetaran

“Kamu cantik.” Ucap Putra spontan.

Arika hanya diam mendengar pujian yang keluar dari mulut Arika dan mereka masih saling menatap.

---

“Aryaaaaaa ….” Suara centil dan melengking terdengar dari kejauhan.

Arya yang sedang memakan mie ayam di kantin fakultas buru-buru menghabiskan sebelum datang kegaduhan dari pemilik suara.

Ditelannya mie tanpa ampun. Membuat dirinya tersedak, mengambil botol minum segera melarikan diri. Sayang seribu sayang, cewek cantik pemilik suara centil itu sudah datang menghadang.

“Mau pergi kemana lagi kamu?” Merentangkan tangannya bak seorang kiper menunggu bola sampai di gawang.

“Udahlah Clay, aku capek jangan ganggu dulu ya. Please!” Mohon Arya.

“Siapa juga yang mau ganggu? Aku mau kasih ini. Tunggu sebentar!” Cewek bernama Clay membuka totebag-nya mengambil sesuatu.

“Tugas apalagi?” Keluh Arya.

“Bukan tugas, sabar dulu napa.” Celoteh Clay.

Clay mengeluarkan selembar kertas bertuliskan undangan ulang tahun.

“Buat kamu,” ucapnya menyodorkan undangan.

“Awas kalau gak datang!” Ancam Clay pada Arya.

Arya mengelus dada. Clay si tukang lemot yang selalu memburu Arya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Kuliah hanya sebagai formalitas, karena Clay notabennya pewaris tunggal pemilik perusahaan penerbangan. Jabatan atau gelar sarjana apapun sudah tidak penting baginya. Terlahir dari keluarga konglomerat membuatnya tidak takut akan kehabisan uang.

“Gak perlu kasih kado, cukup jasa kamu mengerjakan tugasku sampai lulus!” Tutur Clay sambil tersenyum, membuat Arya terbengong.

“Lebih baik aku ngasih permen lolipop sekarung dari pada harus mengerjakan tugas kamu itu.” Arya gemes melihat kelakuan Clay.

“Awas aja kamu lari dari tanggung jawab!” Ancaman kata 'Awas' menghantui Arya yang dimana sang Papa bekerja sebagai pilot di perusahaan penerbangan milik keluarga Clay.

“Emang yang hamilin kamu siapa? seenak jidat nyuruh tanggung jawab." Canda Arya untuk mengalihkan keseriusan.

“Udah diem, kalau gak mau aku jewer kamu.” Clay menggerakkan ibu jari dan telunjuknya. Memberikan gerakkan siap siap untuk mencubit.

Tanpa pikir panjang Arya berlari sekencang-kencangnya menjauhi Clay.

“ARYA, AWAS KAMU. SIAPA SURUH KABUR?” Teriak Clay dari kejauhan.

Clay mendadak jadi pusat perhatian. Semuanya sudah tidak heran dengan Arya si pintar dan Clay si tukang lemot.

Arya masih terdaftar sebagai mahasiswa disalah satu universitas terbaik di kotanya. Mengambil jurusan hukum sebagai modal tambahan untuk pekerjaan dibelakang layar.

Arya hanya terkenal pintar tapi tidak memperlihatkan kejeniusannya. Yang mereka ketahui Arya pintar dan tukang molor jika sudah berada di kelas.

Jika ditegur dosen alasannya capek bekerja paruh waktu, tapi dosen tidak pernah mempermasalahkan lebih jauh karena Arya selalu memberikan nilai terbaik.

Ponsel Arya bergetar bukan pesan atau telpon masuk melainkan notifikasi salah satu penyadap suara sedang aktif. Segera mengambil earphone, memasangkan di telinga mendengarkan apa yang terjadi di kejauhan.

“BANGSAT.” Umpatnya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Ifa _

Ifa _

makin penasaran, balas dendam seperti apa yang mereka rencanakan

2023-09-17

2

Kiran Kiran

Kiran Kiran

Lanjutin thor, jangan biarkan kami merana menunggu~

2023-08-20

2

Blue Persona

Blue Persona

Habis baca ini, langsung merinding dan gak sabar buat baca lanjutannya! Maising thor, jangan buat kami nervus! 😜

2023-08-20

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!