Tania berjalan dengan elegan, menenteng tas branded berwarna putih, tanpa Helen asistennya ataupun sekretaris pribadi Tania. Tania datang seorang diri untuk menemui seseorang yang sudah dan akan diajak bekerja sama lagi.
Setelah dipersilahkan masuk oleh seorang sekretaris, Tania duduk anggun menyilangkan kaki.
"Apa yang perlu dibicarakan, sehingga Anda sampai mendatangi ruangan kerja saya tanpa adanya perjanjian?" Tanya lelaki paru baya duduk dibalik meja kerja pembatas antara mereka.
"Saya ingin mengajak anda bekerja sama lagi. Bukan hanya sebagai investor melainkan juga distributor." Tania berucap dengan senyuman menantang.
"Kita bisa bicarakan dulu. Membuat jadwal pertemuan seperti biasanya bukan, Nona muda? Bukan langsung datang menemui saya tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu." Mr. Angkasa merasa terganggu.
"Saya datang kesini sekalian memastikan kelayakan, saya juga ingin mengetahui bagaimana kinerja di perusahaan ini." Tutur Tania tidak ada rasa takut.
"Apa anda tidak mempercayai saya? Atau anda tidak tahu bagaimana semua perusahaan di bidang makanan bahkan rumah sakit besar mempercayai saya. Mengajak perusahaan saya untuk bekerja sama." Mr. Angkasa paling tidak bisa mendengarkan ucapan seakan diremehkan.
"Oh bukan. Tidak ada salahnya bukan jika saya ingin mengetahui langsung, melihat langsung tentang tempat ini memproduksi semua bahan makanan yang akan anda distribusikan ke perusahaan kami."
"Silahkan jika anda ingin mengetahuinya" Mr. Angkasa berdiri, mempersilahkan Tania untuk berdiri mengikuti arah langkah Mr. Angkasa
Keluar ruangan, berjalan menuju ruangan produksi.
Ruang produksi cukup jauh dari ruangan Mr. Angkasa. Tania sengaja berjalan dibelakang Mr. Angkasa mengikuti setiap langkahnya.
Disepanjang jalan tanpa sepengetahuan Mr. Angkasa, Tania menancapkan beberapa jarum cctv di berbagai tempat yang mudah untuk ditancapkan dan tempat yang bisa memantau banyak orang.
Di ruangan kebesaran Arya, semua notifikasi dari cctv yang ditancapkan Tania langsung terhubung ke komputer kerjanya.
"Apa yang anda lakukan disana?" Suara Mr. Angkasa mengagetkan Tania yang sedang bersandar di dinding.
"Hanya bersandar, perusahaan anda terlalu luas membuat saya lelah untuk berjalan." Alibi Tania tidak masuk diakal oleh seorang Mr. Angkasa.
Mr. Angkasa berjalan mendekati dengan raut wajah yang tenang tetapi mengintimidasi. Mendorong Tania ke dinding, menekan kedua bahunya.
"Anda salah jika masuk ke tempat saya hanya untuk mengelabui. Urusan anda dengan Jamie jangan pernah libatkan saya. Kita bekerja sama untuk perusahaan bukan tentang yang lain, jika anda datang kesini hanya untuk mengetahui siapa Jamie, jangan libatkan saya. Saya tidak punya waktu untuk itu."
Damn
Tania kikuk. Mr.Angkasa seakan sudah mengetahui semuanya.
"Kita tetap lanjutkan kerja sama atau sudahi sampai disini. Karena saya benar-benar mengajak bekerja sama dengan keuntungan masing-masing."
Tania bersusah payah menelan salivanya, Mr. Angkasa seakan mengetahui tujuan Tania. Disisi lain Mr. Angkasa adalah orang yang hebat, jujur dalam bekerja sama. Siapapun yang diajak bekerja sama olehnya tidak pernah dibuat rugi.
Tania mengangguk.
Mr. Angkasa melepaskan tangannya.
"Saya benar-benar memastikan, kerjasama ini tidak ada hubungannya dengan Jamie." Jawab Tania berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Saya tidak akan mengecewakan anda Nona muda."
---
Bukan pulang ke rumah untuk menikmati tidur lelapnya. Sepulang dari acara ulang tahun Clay, Arya melajukan motornya menuju markas. Membuka ruangan yang sama sekali tidak berubah. Ruangan yang terisi dengan alat - alat musik band. Setelah menutup pintu, Arya menekan tombol kecil yang hampir tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna wallpaper dinding. Tombol kecil itu bersembunyi dibalik bingkai foto enam anak manusia Bagas, Kinara, Putra, Bayu, Reza dan Adam.
Pintu terbuka dan menutup otomatis ketika Arya sudah masuk kedalam ruangan kebesarannya. Ruangan itu tidak luas, cukup untuk kenyamanan Arya menghadapi hiruk-pikuk pekerjaannya. Tempat itu dijadikan markas atas usulan Putra.
Semua alat kerja dinyalakan. Notifikasi GPS, penyadap suara, layar komputer yang merekam semua kegiatan dari cctv yang diselundupkan. Mata Arya melihat pergerakan cctv dan GPS sebelum telinganya mendadak penasaran dengan bunyi yang dihasilkan dari salah satu penyadap suara. Dilihat notifikasi itu berasal dari salah satu orang yang jadi sasaran intaian. Rekaman cctv yang menancap di sana terlihat hitam buram, sedangkan notifikasi dari penyadap merekam suara aneh tetapi tidak asing untuk dirinya. Telinganya benar - benar dibuat fokus. Pikirannya melalang buana ditakutkan ada kegagalan dari alat yang dibuatnya. Tenang, fokus, konsentrasi hingga akhirnya terdengar kata-kata yang keluar dari suara seorang lelaki.
"****, TANIA BEGO." Cctv berfungsi jika tangan membuka dan hanya alat penyadap yang berfungsi jika tangan menutup.
"ANJING, BANGSAT," umpat Arya.
"Dosa apa denger orang col*."
"TANIAAAA …." Teriak Arya, pastinya tidak ada yang bisa mendengarkan karena ruangan kedap suara.
---
"Untuk ketiga kalinya kita tidak sengaja bertemu." Ucap Putra. Mendapati Arika memilih kue di sebuah kafe.
"Hei, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Arika kaget mendengar suara Putra tepat di telinganya.
"Beli sayur." Canda Putra yang membuat Arika tertawa.
"Lagi lewat saja, tiba-tiba ingin mampir. Disini kuenya enak." Ucap Putra
"Oh ya, tolong kasih rekomendasi kue mana yang enak?" Arika kembali melihat kue yang tertata rapi di balik etalase kaca.
Tunjuk Putra pada dua kue.
"Brownies almond dan Cheesecake strawberry."
"Cheese, I like it." Ucap Arika menggemaskan.
Brownies almond, kue kesukaan Inara. Pikiran Putra mulai teringat masa lalu segera ditepisnya.
"Cheesecake one." Ucap Arika ke pramusaji lalu kamu?" Arika menunjuk Putra untuk menanyakan kue yang akan dipesan.
"Sama."
"Cheesecake two, cappuccino latte one and you?" Tanya Arika lagi
"Sama."
"Ice or hot." Arika memberikan pilihan.
"Hot." Tatapan mata Putra membuat Arika sedikit freeze
"Ok, ice one and hot one."
Pramusaji mengucap ulang pesanan Arika, dan Arika membalas "Yes, thank you."
Putra segera membuka dompet, mengeluarkan card memberikannya ke kasir.
"No, biar aku saja." Ucap Arika
"Lain kali kamu." Jawab Putra
"Lain kali?" Batin Arika menggelengkan kepala.
Arika dan Putra duduk berhadapan. Di kursi yang terletak sebelah dinding. Nuansa kafe begitu tenang, beberapa bunga di pot diletakkan di sudut kafe menambah kesejukan.
"Kantor kamu dekat sini?" Tanya Arika memulai obrolan.
"Masih cukup jauh, selesai bertemu klien." Putra menyeruput minumannya yang sudah datang.
"Oooo …."
"OOO …." Ulang Putra. Arika tersenyum.
Bagaimana tidak tahu keberadaan Arika, jika Putra sendiri sudah meletakkan alat pelacak di mobil Arika secara diam-diam.
Cctv pun juga sudah terpantau di luar rumah yang ditempati Arika. Putra cerdas dengan caranya.
Obrolan-obrolan kecil menjadi selingan mereka menemani menikmati kue yang sudah dipesan. Putra masih tidak percaya dengan perempuan yang duduk di hadapannya. Benar-benar teramat sangat berbeda dari cerita-cerita mereka yang memberikan informasi siapa seorang Arika. Si pembully, arogan bahkan semua label buruk melekat padanya.
"Apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Putra tiba-tiba.
Arika tersedak cheesecake yang sedang dilahap olehnya. Putra menyodorkan gelas cappucino latte milih Arika.
"Aku tidak menyembunyikan apapun." Jawab Arika setelah kondisinya lebih tenang.
"Jangan bohong."
"Kenapa sok tahu?"
"Dari matamu, aku melihatnya." Putra menatap lekat mata Arika. Seketika Arika menunduk.
Helaan napas Arika membuatnya tidak bisa berbohong.
"Kamu punya Indra ke 6?" Tanya Arika berusaha mengalihkan.
"Jangan bercanda." Putra nampak serius.
"Kita baru kenal dan kamu mengintimidasi ku dengan pertanyaan seperti itu."
"Aku tidak ingin melihat perempuan yang duduk di depan ku menyimpan beban." Ucap Putra tatapannya begitu tajam dan serius.
Arika terdiam. Bukan blussing, melainkan ucapan Putra membuat dirinya menegang.
Putra sosok lelaki yang paham tanpa harus dijelaskan. Sosok lelaki yang mengerti tanpa harus melalui perdebatan.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Ifa _
penasaran alat penyadap yang ditempelin ke tangan. dibuat mandi emang gak bisa ilang atau rusak?
2023-09-17
2