"Y'ar …." Ucap Putra pura-pura tidak tahu.
"Aku memujimu, kau keren bisa bersembunyi sampai detik ini." Perkataan yang keluar dari mulut Nando bagai petir di sore hari. Hukuman langsung terlintas di depan mata Arya, bagaimana bisa Nando mengetahui nama Y'ar? Karena yang mengetahui nama itu hanya tim bagian dari kerja dia dan Mr.X, seorang pimpinan.
"Apa maksudnya?" tanya Putra.
"Tidak ada maksud, aku hanya menyukai nama itu." Jawab Nando meringis melihat tingkah Arya, terlihat salah tingkah antara takut dan terkejut.
Untuk mengalihkan pembicaraan, Putra menghampiri Arya, menepuk bahu Arya meminta menunjukkan bagaimana kelanjutan bukti yang didapatkan.
"Sampai detik ini belum ada pergerakan. Jamie dan yang lain melakukan aktivitas seperti biasanya." Arya menjelaskan berbelit, suara Nando memanggil namanya terngiang di kepala.
Nando tertawa kecil, mencoba menahan tawanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Putra.
"Tidak …. tidak ada." Kini Nando tertawa terbahak-bahak.
Nando berjalan mendekati Arya,merangkul pundak Arya "Bro, we are a team." Ucap Nando.
Nando merasakan gemetaran di tubuh Arya, yang semakin membuat Nando tertawa terbahak-bahak "Mr.X memasukkan aku ke dalam timnya, dia memberi tahu tentang kamu dan aku cukup kaget." Penjelasan Nando membuat tubuh Arya lemas dan berucap "Siittt …. Aku hanya mikirin nyawa, bagaimana dengan nyawaku andai semuanya bocor? aaah f*ck," umpat Arya.
Putra hanya melihat interaksi mereka berdua, masih pura-pura tidak tahu.
"Harusnya kita bicara tanpa ada dia gak sih." Tunjuk Arya pada Putra.
"No problem, dia ada pada kita." Ujar Nando santai, yang sangat paham Putra tidak akan membahas tentang percakapan mereka ke orang lain. Putra menyimpan senyum, pura-pura tidak mengetahui percakapan mereka dan fokus pada deretan monitor komputer yang menyala.
---
"Helen, aku tinggal dulu. Kalau ada jadwal temu dadakan tolong tunda. Aku masih banyak kerjaan." Pesan Tania pada Helen, memasukkan ponselnya pada tas jinjing berwarna tosca.
"Siap." Jawab Helen, ikut keluar dari ruangan kerja Tania.
Tania berpapasan dengan Anjas yang ingin menemui Tania.
"Mau kemana?" Tanyanya
"Tumben, ada apa?" Tanya Tania, tidak mempersilahkan masuk ke dalam ruangannya.
"Ada acara penting, kalau ada laporan tinggalin di meja Helen!" Pinta Tania,
Anjas berkata "Ingin membahas tentang karyawan baru yang kamu kirim tanpa pemberitahuan."
"Bukannya itu urusanku, dan kamu bilang biar aku yang mengerjakan?" Tania tidak ingin debat di depan Helen.
"Kita bahas besok, hari ini aku ada acara penting." Tania tidak ingin melanjutkan perbincangan, meninggalkan mereka berdua untuk segera pergi ke markas.
Tania turun menggunakan lift untuk mengambil mobilnya di parkiran.
"Stop sayang! buru-buru mau kemana?" Jamie menyanggah pintu mobil Tania dengan tangannya yang kekar.
Tania terkejut dengan kedatangan Jamie di parkiran mobil.
"Aku ada janji temu dengan teman" Jawab Tania.
"Teman siapa?" tanya Jamie sedikit membungkuk karena Tania sudah duduk di kursi pengemudi.
"Teman sekolah." Jamie menatap Tania dari atas hingga bawah. Lengkungan tubuh Tania begitu ketara, body goals dan belahan d*danya sedikit terlihat.
"You look sexy baby." C*uman mendarat di b*bir Tania. Tania tidak bisa menolak, begitu candu ciuman liar Jamie.
Tania mengalungkan kedua tangannya di leher Jamie. Saling bertaut dan beradu, Jamie tidak ingin melepaskan. Dengan sigap, menarik tubuh Tania merubah posisi dirinya yang duduk dan Tania berada diatas tubuhnya dengan pintu mobil yang terbuka.
Hanyut dalam kenikmatan membuat keduanya tidak memperdulikan keadaan sekitar. Beruntung basement tampak sepi, membuat mereka saling beradu. Tangan kekar Jamie mengangkat ****** Tania, Tania refleks melepaskan pagutannya.
"Please, aku terlambat." Kesadaran Tania datang, tidak ingin melakukan lebih dari c*uman.
"Come on sayang. Apa yang salah?" Jamie merasa terganggu dengan sikap Tania. Tania bangun dari pangkuan Jamie.
"Please, aku butuh bertemu temanku" Tania melihat raut wajah kekecewaan.
"Sorry, mengertilah!" Ucap Tania.
"Kamu ngusir aku?" Tanya Jamie yang masih duduk di kursi pengemudi.
"Sorry!" Ucap Tania lagi yang berdiri memegangi pintu, berharap Jamie segera keluar dari mobilnya.
"Fine." Dengan marah Jamie keluar, tanpa berpamitan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Tania, lekas mengemudi dengan cepat.
"Oh my God." Tania tidak tahu lagi bagaimana jika kesadarannya hilang. Tidak dipungkiri raut wajah bak pangeran itu begitu menggoda meskipun usia Tania dan Jamie terpaut lumayan jauh.
Tidak peduli Tania juga segera masuk ke dalam mobilnya, menuju ke markas dengan cepat.
---
Liburan yang ditunggu-tunggu, gagal tidak sesuai rencana. Bayu dan Sabilla lebih memilih balik ke rumah pribadinya. Sepanjang perjalanan hingga sampai kediamannya Sabilla murung, sedikit-sedikit menangis merasa bersalah.
Meskipun hasil terakhir sudah menunjukkan normal, Sabilla masih ketakutan untuk menyusui bayi mungilnya.
"Semua akan baik-baik saja lovebird." Pelukan hangat dari Bayu membuat Sabilla merasa tenang.
Bukan lagi merasakan baby blues, Sabilla merasa depresi atas kejadian yang menimpa dirinya. Dengan terpaksa Bayu mencari baby sitter untuk menjaga Elang dan Sabay, karena selama menikah dan punya anak, Sabilla dengan kekeh tidak mau anaknya diasuh oleh orang lain. Sabilla ingin merasakan jadi seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya tanpa bantuan orang lain selain suaminya.
"Istirahat ya!" Tubuh Sabilla meringkuk di atas kasur. Bayu memberikan selimut hangat, dalam hatinya Bayu merasa tersakiti melihat kondisi istrinya. Tidak pernah terima dan akan memberi balasan pada orang yang sudah menyentuh istrinya.
---
"Setidaknya lipstik dibenerin dulu sebelum sampai kesini." Tentu perkataan itu keluar dari mulut Arya ketika melihat Tania datang.
"Abis mesum?" Tanpa ragu Arya bertanya pada Tania.
"Anj*nk …" Umpat Tania, mengusap kasar bibirnya. Tidak terpikirkan untuk berkaca.
Si kembar, Nando, Putra, Arya sudah duduk di tempat meeting.
"Ada apa kau minta kita kumpul?" Tanya Putra.
"Restoran, Anjas dan aku belum mengetahui siapa lagi yang ada di belakang untuk membantu Anjas. Mr. Angkasa tidak pernah ikut campur tentang urusan Jamie." Tania berucap, mendaratkan bok*ngnya pada kursi.
"Lantas?" Nando bertanya.
"Apa kau tidak mencurigai seseorang?" Tanya Putra.
"Aku tidak tahu, tidak ada yang bisa dipercaya." Ujar Tania.
"Satu orang yang aku curigai, tapi aku tidak punya bukti untuk mengatakan." Arya berucap.
"Siapa?" tanya Nando, Putra dan Tania barengan. Si kembar saling menatap, si kembar datang untuk memberikan bukti tentang Mario dan komunitas mobilnya. Tidak semudah itu buat mereka mengucap nama jika tidak ada bukti kuat, "Akan ku buktikan, jika benar orang itu. Enyah sudah di tanganku." Arya tersenyum smirk.
"Untuk kasus narkotika, ada orang yang memb*nuh anak kecil itu. Dia melihat saat Mario dibawa dan dimasukkan mobil." Riki berujar,
"Dari mana kamu tau?" Tanya Putra,
"Seorang anggota mengetahuinya, jika dia memberitahu tamatlah riwayatnya. Kepadaku dia keceplosan." Tutur Riki.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments