8.Love vs Blood

Suasana hati yang tidak memungkinkan Tania bertemu Arya setelah Bayu menyampaikan jika ada kekacauan.

Mendatangi markas untuk bertemu Arya, sebelum Tania pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Kafe tidak pernah sepi pengunjung, Tania meluangkan waktu sebentar sebelum naik ke atas untuk bertemu Arya.

Banyak kenangan yang pernah terjadi di kafe itu, kenangan suka duka masa muda tersirat di kepalanya.

Ponsel Tania bergetar notifikasi telepon dari Arya mengisyaratkan dirinya diminta untuk secepatnya datang. Tanpa menjawab Tania segera masuk untuk menemui Arya.

"Ada apa?" tanya Tania.

"Ini alat buat ngambil alat yang kamu tancapkan di tangan Mr. Angkasa. Aku gak mau tahu, alat itu harus segera keluar dari tangannya!" Perintah Arya kepada Tania. Tangan Tania menengadah menerima alat berbentuk cincin pipi berwarna perak, terdapat simbol huruf Y kecil yang tentunya simbol dari nama samaran Arya.

"Alat itu seperti magnet. Tinggal kamu jabat tangan orang itu, alat yang tertancap akan keluar sendiri." Arya kembali menjelaskan.

"What's wrong?" Tanya Tania dengan raut muka bingung.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tania lagi.

"Sudah lakukan saja, sudah cukup mendapatkan bukti darinya." Jawab Arya kembali duduk di singgasananya.

"Kata Bayu ada kegaduhan, kegaduhan apa? Apa yang aku lakukan?" Tania berjalan mendekati.

"Apa aku bikin kesalahan?" Tania penasaran dengan kegaduhan yang terjadi.

"Stop membicarakan itu! lakukan saja tugasmu Nona." Perintah Arya tidak peduli jika Tania lebih tua darinya.

"AKU BERHAK TAU APA YANG TERJADI BOCAH." Bentak Tania tepat di telinga Arya, membuat Arya terkejut.

"****." Umpat Arya.

"KATAKAN, APA YANG TERJADI?" Tania kembali berteriak.

"APA KAMU MAU TAU ATAU MUNGKIN MAU NONTON SI TUA BANGKA ANGKASA ITU COL*." Arya pun ikut membalas dengan teriakan.

"BANGSAT, KATAKAN SEJUJURNYA BOCAH!" Teriak Tania emosi atas jawaban Arya.

"ITU SUDAH SANGAT JUJUR TANIA BEGO." Pukulan mendarat tepat di kepala Arya dilayangkan Tania.

"Haaasstttt." Arya meringis memegangi kepalanya.

"Ribut terus ribut terus." Ucap Putra seketika melihat kegaduhan.

"Kenapa masuk lewat pintu itu?" Tanya Tania sembari menunjuk pintu berwarna selaras dengan warna dinding.

"Bukan urusan kamu." Ucap Putra

"Urusan aku juga, disana tempat kerjaku." Tania kembali menunjuk dinding pembatas. Dibalik dinding terdapat ruang kerja Tania disaat mengelola kafe dan sampai saat ini ruangan itu masih sering digunakan untuk mengelabui siapapun. Karena dalam ruangan kerja Tania terdapat pintu rahasia penghubung ruang kerjanya dengan ruang persembunyian Arya.

"Mobilku, ku tinggal di bengkel. Aku mendapatkan info jika Mario dibebaskan, Kenapa kamu tidak bilang?" Tanya Putra ke Arya.

"Kenapa harus bilang? jika sudah bisa ditebak ujungnya." Jawab Arya santai.

"Bukan ujungnya, tetapi awalnya?" Tanya Putra lagi.

"Awalnya?" Arya bingung dengan pertanyaan Putra.

Tania semakin mengerutkan keningnya. Dia benar-benar seperti orang bodoh disana. Hanya mendengarkan dua laki-laki di hadapannya berseteru setelah dirinya. Tania lebih banyak tidak mengetahui persoalah, dia bagai boneka hanya menunggu perintah tanpa tahu sebab akibat, selain dari misi balas dendam.

"Sorry, aku gegabah. Si kembar kasih kabar Mario datang ke ulang tahun Clay membawa barang haram." Tutur Arya pada akhirnya.

Putra tidak habis pikir, karena dari gegabahnya Arya bisa berujung fatal. Jamie tidak akan tinggal diam mencari tahu siapa saja yang terlibat dan siapa saja yang mengetahui kejadian ini.

"Clay?" Tanya Tania

"Teman kampus." Jawab Arya

"Kekasih kamu?" Tanya Tania lagi menatap mengintimidasi Arya.

"NO." jawab Arya tegas.

"Lalu kenapa gegabah?" Tania balas dendam mengintimidasi.

"Hanya tidak ingin semua terlibat." Jawab Arya. Putra menatapnya tajam.

"Bodoh, bagaimana jika dia mencari orang yang menghubungi polisi?" Ujar Tania, tangannya sudah gatal ingin memukul Arya.

"Stop." Ucap Putra.

"Aku dikatain bodoh dirinya sendiri lebih bodoh," Tunjuk Tania dengan jari telunjuk segera ditepis oleh Arya.

"Dasar Bocah." Tania geram. Ingin sekali memukul Arya, sebenarnya yang bikin geram melihat Arya karena Arya melihat kemesraan, kenakalan dirinya waktu bersama Jamie di ruang kerjanya.

Seperti memberikan tontonan film blue gratis padanya. Tatapan tajam Tania tidak lepas terus mengarah ke arah Arya.

"Stop ngatain Aku bocah nona." Arya membalas, ikut geram.

"KALIAN BERDUA STOP." Teriak Putra, naik pitam.

Arya dan Tania terdiam saling melirik. Putra tidak pernah terlihat semarah ini. Apalagi berkata sambil berteriak wajah memerah.

"Kita harus lebih hati-hati, minta penjagaan untuk si kembar. Selebihnya nanti aku pikirkan lagi." Putra memerintah sebelum meninggalkan markas.

"Jangan lupa hubungi Nando!" Perintah Putra lagi berbicara sambil berjalan.

Tania memukul Arya bagai anak bocah yang sedang berkelahi, memukul kemudian berlari.

"Awas kau Tania bodoh." Teriak Arya, tentu Tania tidak peduli.

---

Tidak perlu menunggu lama, jam itu juga Tania menyuruh Helen untuk membuat janji temu dengan Mr. Angkasa. Seperti perintah Arya, Tania memakai cincin pemberian Arya untuk mengambil alat yang tertanam di telapak tangan Mr. Angkasa.

Tania berjalan elegan, menyembunyikan sikap tegangnya. Perlahan menghembuskan napas sebelum menjabat tangan Mr. Angkasa dalam pertemuan meeting perusahaan.

Mr. Angkasa sedikit meringis seperti tersengat listrik kalah alat penyadap sekaligus cctv ketarik keluar dari telapak tangannya. Refleks Mr. Angkasa mengibaskan tangannya.

"Apa yang terjadi Mr?" Tanya Tania

"Tanganku seakan tersetrum." Jawabnya menekan nekan telapak tangan.

"Periksakan kesehatanmu Mr" Pinta Tania setelahnya berlalu. Memasuki ballroom hotel tempat diadakan sebuah pertemuan para Investor. Sambil berjalan cepat- cepat Tania lepaskan cincin itu dari jari tengahnya.

"How are you Tania?" Anjas menyambut kedatangan Tania, memeluknya singkat.

Tania merasa ingin menampar lelaki gemulai didepannya. Pengkhianatan yang tidak bisa dirinya terima. Tania hanya bisa mengikuti alur permainan sampai selesai.

"Bukannya kita berjumpa di koridor tadi." Tania mengingatkan.

"Astaga, semenit tidak melihatmu rasanya ingin sekali menanyakan kabar tentangmu." Canda Anjas

Tania bermuka jutek, benar-benar ingin sekali melakban mulut Anjas.

"Are you okay Anjas?" Tania kembali bertanya.

"Ku rasa kamu perlu periksa kesehatan supaya tidak bekerja berantakan untuk perusahaan kita." Ucap Tania lirih,sambil duduk di kursi samping Anjas. Sesekali membalas senyuman para investor yang menyapa dirinya.

Tidak semua perusahaan yang Tania miliki bekerja sama dengan Anjas. Hanya restoran berbintang lima yang sudah memiliki ratusan cabang dalam Negeri maupun luar Negeri. Tania memiliki mimpi menjadi seorang chef karena kecintaannya di bidang kuliner atau tata boga. Tania ingin sekali meninggalkan Dunia yang berhubungan dengan orang tuanya, berhubungan dengan masa lalunya untuk memulai hidup baru, tanpa adanya luka. Hidup sederhana, menikmati angin segar tanpa adanya kebisingan. Nyatanya dia harus melakukan misi balas dendam, Tania dan Putra harus melakukan. Menyeret, menghukum mereka yang merampas hak dan kebahagiaannya.

Meeting perusahaan dadakan tentu ada maksud lain dibalik itu, dan atas persetujuan bos besar Bayu pertemuan dadakan itu terlaksana.

Bersambung ….

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!